"Mereka siapa?" tanya Cyrene seraya menaikan kemejanya untuk menutupi bahunya yang sebelumnya terbuka selama proses pengobatan.
Namun dua orang yang terlihat asing bagi Cyrene sempat melihat luka bekas peluru di dekat tulang selangka Cyrene kembali melebarkan kedua mata mereka.
"Mereka siapa? Dan sejak kapan kalian berdua berada di sini?" tanya Cyrene menatap Barny dan Kenzo bergantian.
Mereka yang mendengar pertanyaan Cyrene tertawa pelan sembari menepuk dahi mereka masing-masing termasuk Glen yang kini telah berada di belakangnya.
"Jahat sekali, bisa-bisanya kau tidak lagi mengenali mereka," sambut Barny tergelak.
"Aku tidak pernah melihat mereka latihan bersama kita sebelumnya," sanggah Cyrene.
"Atau aku yang telah salah mengingat di sini?" imbuhnya bertanya.
"Kamu pernah berlatih bersama mereka, hanya saja saat itu berada di bawah pengawasanku," ucap Barny.
"Bukankah itu sudah cukup lama? Aku juga tidak pernah melihat mereka berdua lagi selama beberapa bulan," sambut Cyrene.
"Mereka baru saja kembali dari misi yang ku berikan," sela Carlo.
"Lalu, kenapa mereka ada di sini sekarang?" tanya Cyrene.
"Mereka hanya penasaran kenapa kau sering sekali ke ruang medis bersama Carlo," jawab Barny.
"Haa,,,?" sambut Cyrene mengerjap bingung.
"Aku berada di sini bukan karena ingin," sambut Cyrene.
"Jika aku bisa memilih, aku tidak mau ke ruangan ini," tambahnya memasang ekspresi keberatan.
"Kalau begitu, berhentilah bersikap keras kepala dan istirahatlah sampai lukamu mengering," balas Carlo.
"Errr,,,," Cyrene memutar bola matanya sebelum kembali bersuara.
"Terlalu berat," jawabnya.
"Bagaimana jika kau berikan saja misi ringan untuk mereka berdua dan Ren ikut bersama mereka?" sela Glen memberi saran seraya menunjuk Paul dan temannya.
"Misi ringan seperti apa tepatnya?" tanya Cyrene.
"Menangkap orang yang selalu melakukan pelecehan melalui foto,"
"Polisi tidak bisa bertindak karena tidak memiliki cukup bukti, jadi kita bisa membantu mereka menangkap orang ini," ungkap Carlo.
"Bukankah itu misi pelatihan dasar? Dan aku sudah menyelesaikan empat misi seperti itu sebelumnya?" sambut Cyrene bertanya.
"Memang benar," jawab Carlo menaikan bahunya.
"Tapi, apa salahnya kita membantu mereka? Anggaplah kita juga membantu para wanita yang di lecehkan oleh si bren*gsek ini," sambungnya.
"Apakah aku juga boleh memukul wajah si mesum ini?" tanya Cyrene.
"Tidak!" tegas Carlo.
"Cih,,,!" cibir Cyrene.
"Padahal orang sepertinya lebih pantas memiliki wajah tak berbentuk," imbuhnya.
"Hanya jika dia tidak melecehkanmu. Tapi, jika dia sampai melecehkanmu, terserah padamu ingin kau apakan dia. Pastikan saja dia tetap hidup," sambung Carlo.
"Bagus! Itu melegakan untuk di dengar," jawab Cyrene.
"Berhentilah kalian berdua!" erang Glen.
"Kenapa sekarang Ren juga menjadi sadis sepertimu, Carlo? Apa sebenarnya yang kau ajarkan padanya?" tambahnya bertanya.
"Aku hanya bercanda, dan dia juga tahu itu," sambut Carlo tertawa.
"Jadi, apakah kau mau menerima misinya?" tanya Carlo.
"Dan kabar baiknya, itu ada di kota tempat tinggal asalmu," timpal Glen.
"Kenapa aku?" keluh Cyrene.
"Karena aku memintamu untuk istirahat tapi kau terus menolak," jawab Carlo.
"Perbedaannya di sini adalah, aku bisa memberimu tugas lain selama kamu berada di sana tanpa perlu kembali ke Camp,"
"Tentu saja mereka berdua akan membantumu, dan jika mereka berdua tidak cukup aku akan mengirim Barny atau Kenzo untuk menyusul,"
"Termasuk Brandon jika itu di perlukan," papar Carlo.
Cyrene terdiam dengan pandangan terus tertuju pada Carlo yang telah menjadi pelatihnya sejak kedatangannya ke Camp.
'Apakah kemampuanku sudah cukup jika aku kembali sekarang? Aku merasa aku masih belum cukup kuat, aku bahkan belum bisa mengalahkan kak Carlo,' batin Cyrene.
'Dan cepat atau lambat, mereka akan kembali mencariku lagi,'
'Aku yang sekarang memang bisa melawan mereka, tapi sampai kapan aku bisa bertahan? Satu-satunya cara agar semua berhenti adalah aku harus menyeret akar utamanya, dan dia bukan orang yang bisa di hadapi dengan mudah,'
"Aku akan menerima misinya, tapi hanya setelah kak Carlo mengabulkan satu permintaanku," jawab Cyrene pada akhirnya.
"Apa itu?" sambut Carlo.
"Sebelum itu, bisakah kakak menjanjikannya terlebih dulu untuk mengabulkan permintaanku?' pinta Cyrene.
Carlo mengerutkan keningnya, menatap kedalam mata Cyrene untuk mencari jawaban, akan tetapi tidak bisa menemukan ataupun menebak apa permintaan yang akan di sebutkan Cyrene.
"Asalkan kamu benar-benar mau mengistirahatkan tubuhmu selama menjalani misi ini, akan ku kabulkan," jawab Carlo.
"Kakak tidak bisa menarik lagi ucapan kakak," sambut Cyrene tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan bilang kalau kau mau_,,,"
"Latih tanding bersamaku sekali saja," jawab Cyrene.
"Kau gila atau memang kau tidak menyayangi nyawamu?" protes Glen.
"Nekat," timpal Barny.
'Dia gila menantang pelatih Carlo dengan percaya diri seperti itu,' batin Paul.
"Haahh,,," desah Carlo.
"Baiklah, satu kali saja dan kita lakukan minggu depan,"
"Atau aku tidak akan serius melawanmu dalam keadaan terluka seperti itu," tambahnya.
"Dengan senang hati," sambut Cyrene tersenyum lebar.
"Setidaknya dalam satu minggu jahitan ini sudah di lepas," imbuhnya.
"Aku tidak tau harus bagaimana mengahadapi ini," sela Kenzo menepuk dahinya.
"Dia hanya menjadikanku sebagai kelinci percobaan untuk mengukur sejauh mana kemampuannya berkembang," cetus Carlo melipat kedua tangannya.
"Ah,,, ternyata kakak mengenalku dengan sangat baik," sambut Cyrene menepuk tangannya dengan senyum lebar terbentuk di bibirnya.
"Kembalilah ke kamarmu!" perintah Carlo.
"Kita bicarakan tentang misi ini nanti," imbuhnya.
"Baik," jawab Cyrene.
Cyrene menurut kembali ke kamarnya dengan meninggalkan mereka yang masih tidak bisa mengerti dengan jalan pikirannya.
...%%%%%%%%...
"Hai tampan,"
Suara lembut seorang wanita yang berdiri di belakang Bernardo sontak membuat ia menoleh dan mendapati wanita dengan tatapan menggoda menghampiri dirinya, lalu duduk di sampingnya begitu saja.
Bernardo meneguk minuman dari gelas di tangannya dan meminta bartender untuk mengisi lagi gelasnya yang telah kosong.
"Bolehkah aku menemanimu minum?" tanya wanita itu tersenyum.
"Tidak!" jawab Bernardo tanpa menoleh.
"Bukankah sendiri itu tidak menyenangkan? Kau juga terlihat kesepian. Aku bersedia menemaimu," ujar si wanita.
"Kau bersedia, tapi aku tidak, enyahlah!" sambut Bernardo dingin.
"Jangan begitu," jawab si wanita mengulurkan satu tangannya dan mendarat di atas tangan Bernardo.
"Jauhkan tanganmu dariku jika kau masih ingin memiliki tangan itu!" dengus Bernardo menoleh ke arah si wanita dengan tatapan tajam.
Wanita itu segera menarik tangannya dan bergidik ngeri melihat wajah Bernardo.
"Enyahlah!" usir Bernardo dengan suara dingin.
Wanita itu bangun dari duduknya dan melangkah mundur. Ia bisa merasakan tatapan dingin itu bukanlah sebuah ancaman belaka.
Bernardo menghembuskan nafas kasar, kembali meneguk minumannya dan meletakkan beberapa lembar uang di bawah gelasnya sebelum pergi meninggalkan night club yang sering ia datangi.
Ia kembali ke apartemen Cyrene yang telah kosong sejak beberapa tahun terakhir, membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari meletakkan satu tangan menutupi wajahnya.
"Aku sangat merindukan suaranya," gumamnya pelan.
"Hahhh,,,,"
Sekali lagi ia mendesah pelan, bangun dari berbaringnya dan berniat untuk membersihkan diri ketika kakinya tidak sengaja meyentuh sesuatu di bawah tempat tidur.
Bernardo segera berjongkok dan memeriksa bawah tempat tidur. Keningnya seketika berkerut saat melihat sebuah kotak ukuran sedang berada di sana dan segera mengeluarkan kotak itu.
"Kotak ini,,,," gumamnya sembari berusaha mengingat sesuatu.
Bernardo merasa tidak asing dengan kotak itu, namun ia juga gagal untuk mengingat sesuatu yang telah ia lupakan. Perlahan ia membuka kotak itu untuk melihat isinya.
Segera setelah melihat isinya, wajahnya berubah muram. Tertawa mencemooh dirinya sendiri sembari mengusap wajahnya.
Beberapa barang yang pernah ia berikan kepada Cyrene terkumpul menjadi satu di sana. Gelang, ikat rambut, dan beberapa benda lainnya. Benda yang terlihat sederhana namun ia bisa mengingat jelas wajah bahagia Cyrene ketika menerima pemberian darinya.
Hal terakhir yang menarik perhatiannya adalah sebuah bingkai foto yang di letakkan dalam keadaan terbalik. Dengan penasaran, ia mengeluarkan bingkai itu dan membaliknya.
Tubuhnya terduduk lemas setelah melihat foto di tangannya. Cyrene yang mengenakan gaun pengantin sederhana dan dirinya yang mengenakan setelan tuksedo di ambil setelah mereka berdua mengucapkan sumpah pernikahan mereka.
Bernardo menyapukan jarinya di atas foto itu, memandangi wajah Cyrene yang terlihat bahagia meski pernikahan yang mereka jalani di lakukan dengan sangat sederhana dan secara diam-diam. Mereka bahkan tidak memiliki tamu undangan selain teman dan sahabat mereka masing-masing.
Seketika tubuhnya tersentak seolah mengingat sesuatu. Bernardo membalik kotak itu dan mencari sesuatu. Beberapa saat mencari, namun ia tidak bisa menemukan benda yang ia cari.
"Kenapa itu tidak ada di sini? Seharusnya benda itu juga ada di sini jika semua barang yang aku berikan padanya di kumpulkan di kotak ini,"
"Tapi, dimana? Kenapa tidak ada?"
"Mungkinkah dia membuangnya?"
Bernardo kembali mendesah pelan, membereskan lagi kotak itu dan kembali mendorong kotak itu ke bawah tempat tidur dengan meninggalkan bingkai foto di tangannya.
Wajah lelanya memandangi foto Cyrene, membuat dirinya teringat kembali saat dimana hubungan mereka menjadi lebih dekat sejak cafe Cyrene baru saja di rusak seseorang dan beberapakali aparteman Cyrene di datangi oleh orang yang akan mencelakainya. Membuat Cyrene terpaksa tidur di cafe selama beberapa hari di bawah pengawasan dirinya.
...%%%%%%%%...
- - - - Flashback 7 tahun yang lalu - - - - -
. . . .
. . . .
To be continued,,,,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Birru
bern dan ren sudah menikah?
2024-06-15
1
Jumli
iklan-iklan meluncur untuk mu Thor semangat trus 💪
2024-05-08
1
Jumli
di bawa sama dia.
2024-05-08
1