### Keesoakan harinya....
Cyrene terbangun ketika aroma masakan memenuhi indra penciumannya yang membuat ia segera bangun karena rasa penasarannya.
Setibanya di dapur, Cyrene tertegun melihat Bernardo tengah memasak sesuatu. Gesturnya saat memasak sungguh kontras dengan penampilannya yang terlihat garang dan tegas.
"Selamat pagi!" sapa Bernardo saat menyadari Cyrene memandanginya.
"Pagi," balas Cyrene canggung.
"Aku sempat berpikir kamu sudah pergi tanpa pamit lagi," sindir Cyrene tersenyum.
"Apakah kamu mengusirku?" balas Bernardo.
"Entahlah, kamu terlihat seperti orang yang tidak mudah untuk di usir," jawab Cyrene.
Bernardo tertawa ringan dan kembali fokus pada apa yang ada di tangannya.
"Aku ingin menyiapkan sarapan untukmu, kuharap kamu tidak keberatan," papar Bernardo.
"Sama sekali tidak," jawab Cyrene.
Cyrene terus memandangi Bernardo yang tengah sibuk menumis sesuatu. Tangan besarnya justru membuat peralatan masak yang di miliki Cyrene terasa seperti mainan baginya.
'Aku penasaran berapa tingginya? Apakah dia juga suka Gym? Bagaimana bisa dia memiliki tubuh kekar begitu? Otot-ototnya semakin terlihat jelas jika dia memakai kaos pendek seperti sekarang,'
"Apakah ada sesuatu yang aneh diwajahku?"tanya Bernardo saat menyadari tatapan Cyrene yang tertuju padanya.
Cyrene tersentak saat suara Bernardo mengacaukan pikirannya. Ia mengeleng pelan untuk menutupi keterkejutannya dan tersenyum sebelum menjawab.
"Tidak ada," jawab Cyrene mengelengkan kepalanya.
"Hanya saja, aku tidak menyangka melihatmu memasak," lanjutnya.
"Apakah itu hal aneh?" tanya Bernardo tersenyum lembut.
"Sejujurnya, itu terlihat manis," jawab Cyrene tersenyum lebar.
"Apakah kamu mengolokku, Ren?" tanya Bernardo menaikkan alisnya.
"Tidak,, tidak,, tidak,," jawab Cyrene mengibaskan kedua tangannya.
"Aku mana berani mengolokmu," sanggahnya.
"Tapi melihat orang sepertimu memasak itu adalah hal yang sangat berbeda," sambungnya.
"Orang sepertiku?" Bernardo menaikkan alisnya lagi.
"Jangan salah paham, yang ku maksud adalah_,,, Errr_,,," Cyrene menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap lekat Bernardo.
"Kamu berbadan besar dan tinggi, juga berwajah garang, tapi melakukan hal lembut seperti memasak_,,, ehh tidak bukan begitu maksudku. Aku tidak mengolokmu_,, sungguh," Cyrene berkata dengan panik menyadari apa yang baru saja ia katakan.
Bernardo tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Cyrene yang menurutnya lucu di matanya. Wajah Cyrene yang bersemu merah membuat Bernardo ingin terus menggodanya.
"Jika ada yang melihatmu saat ini, mereka akan berpikir aku mengancammu, Ren," ucap Bernardo setelah tawanya mereda.
"Karena perawakanmu lebih cocok kearah itu_,,, Heempp," Cyrene membekap mulutnya dengan cepat.
"Pft,,,Ha ha ha,,, kau orang yang sangat terus terang, bukankah begitu?" sindir Benardo kembali tertawa.
"Maaf," sesal Cyrene.
"Hei,,, aku tidak mengatakan kamu melakukan hal yang salah," sambut Bernardo kembali tertawa.
"Ishh,,, apa yang membuatmu tertawa sampai seperti itu?" sungut Cyrene memajukan bibirnya.
"Kamu," jawab Bernardo.
"Aku?" Cyrene menunjuk dirinya sendiri dengan kening bekerut.
"Apa yang salah denganku?" sambungnya.
"Yah,,, Kau yang sangat berterus terang mengatakan apa yang ada di pikiranmu," jelas Bernardo.
"Apakah itu buruk?" tanya Cyrene masih cemberut.
"Sejujurnya,,,, tidak semua buruk, namun ada kalanya hal itu bisa menempatkanmu dalam bahaya," jelas Bernardo.
"Apa maksud_,,,"
"Ssshhh,,,," Bernardo memotong ucapan Cyrene dengan meletakkan telunjuk di bibirnya.
Tangannya dengan cekatan mematikan kompor dan meletakkan kain basah di atasnya.
Peralatan yang semula ia gunakan di sembunyikan dibawah peralatan yang masih bersih. Dan makanan yang ia masak di simpan di belakang bahan makanan kering.
Bernardo menghampiri Cyrene setelah lebih dulu menyingkirkan kain basah di atas kompor dan menyimpannya di bawah wastefel.
Tangannya segera meraih tangan Cyrene dan menariknya, memintanya untuk bersembunyi diatap balkon.
"Aahh,,,!" pekiknya saat Bernardo dengan mudah mengangkat tubuh Cyrene hingga mencapai atap.
"Tetap disini! Aku akan segera kembali," perintah Bernardo.
Cyrene hanya mengangguk, memutuskan untuk percaya sepenuhnya atas tindakan Bernardo adalah untuk melindunginya.
Bernardo kembali kekamar Cyrene dan menghilangkan semua jejak bahwa Cyrene kembali pulang. Memberikan kesan bahwa Cyrene pergi dari apartemennya beberapa hari.
Siasat terakhir yang bisa ia lakukan adalah menjatuhkan ponsel Cyrene di dekat meja. Memberikan kesan ponsel itu terjatuh dan rusak di apartemennya, bukan di tangan pemiliknya untuk menghindari pemasangan alat penyadap lain.
Setelah semua selesai, Bernardo keluar menuju balkon dan mengunci pintu lalu naik ke atap, bergabung bersama Cyrene.
"Apakah mereka kembali?" bisik Cyrene mulai gemetar.
"Ya," jawab Bernardo.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" bisiknya lagi.
"Aku memasang sebuah alat yang bisa mendeteksi seseorang akan datang. Dan itu terhubung ke ponselku," jelas Benardo menunjukan ponselnya.
Terlihat di ponsel Bernardo beberapa pria bertubuh besar melangkah memasuki lift dan menuju lantai apartemennya.
"Jadi itu sebabya kamu masih memiliki waktu untuk mengecoh mereka?" tanya Cyrene.
"Benar, aku harus memberi kesan bahwa kau tidak pulang, setidaknya itu akan membuat mereka berpikir ulang untuk mencarimu, alih-alih menunjukan diri mereka secara terus menerus di tempat umum," terang Bernardo.
"Apakah mereka juga orang yang sama dengan mereka malam itu?" tanya Cyrene.
"Aku tidak tahu pasti, tapi dari postur tubuh mereka, kurasa mereka orang yang sama,"
"Aku juga tidak mengenali mereka," tutur Bernando.
Bernardo memasangkan earphone ditelinga Cyrene dan ditelingannya sendiri sembari matanya terus tertuju pada ponsel dan memastikan posisi mereka yang berada di atap balkon tetap aman.
Para Pria itu membuka pintu apartemen Cyrene dengan sangat mudah dan mulai menelusuri seluruh ruangan apartemennya.
Cyrene menutup mulutnya, mencoba agar tidak bersuara. Menyimpan sebaris pertanyaan yang ingin ditujukan kepada Bernardo namun kondisi tidak mendukungnya untuk bertanya.
"Sepertinya wanita itu tidak kembali," ucap salah satu dari mereka.
Cyrene menghitung ada lima orang dengan postur tubuh seperti Bernardo.
"Apakah dia sudah pindah?" tanya yang lain.
"Tidak mungkin. Tempat ini tidak terlihat seperti tempat yang di tinggalkan karena pemiliknya pindah," timpal yang lain.
"Atau dia memang tidak tahu apapun tentang kita?" tanya yang lain lagi.
"Aku ragu. Itulah sebabnya kita harus mencari tahu. Satu hal yang pasti adalah, dia masih datang ke cafe itu," ucapnya.
"Sayangnya kita tidak bisa mendekatinya jika dia berada disana,"
"Disini tidak ada tanda-tanda bahwa dia pulang, dan ponselnya kutemukan rusak di kamarnya," sela salah satu dari mereka yang telah berkeliling.
'Ponsel? Rusak? Sejak kapan? Kenapa ponselku bisa rusak seperti itu?' batin Cyrene ketika melihat di layar ponsel Bernardo mereka menemukan ponsel miliknya yang memiliki retakan.
Cyrene menatap Bernardo penuh tanya. Menyadari itu Bernardo tersenyum meminta maaf dengan wajah memelas.
Cyrene menghembuskan nafasnya dan kembali fokus dengan ponsel Bernardo.
"Kita pergi dulu saja," ucap salah satu dari mereka.
"Benar, akan mencolok jika kita terlalu lama disini,"
"Aku setuju,"
"Jika pagi ini tidak ada, kita bisa kembali lagi nanti malam,"
Mereka saling menimpali ucapan demi ucapan. Hingga setelah tiga puluh menit, mereka pergi meninggalkan apartemen Cyrene tanpa meninggalkan kerusakan apapun.
'Siapa yang memerintahkan mereka? Aku bahkan tidak mengenali satupun dari mereka. Apakah mereka juga yang menghancurkan cafe? Karena berpikir Ren menyembunyikan sesuatu?' batin Bernando penuh tanya.
Bernardo melompat dari atap. Tangannya terulur keatas dengan posisi akan menangkap Cyrene melompat.
"Apa kau gila? Aku harus melompat begitu saja?" sembur Cyrene.
"Aku akan menangkapmu, jangan khawatir," hibur Bernardo.
"Tapi_,,,"
"Percayalah padaku, aku tidak akan membiarkanmu terluka apalagi terjatuh," bujuk Bernardo.
Cyrene menelan ludahnya dan memejamkan matanya. Menekan rasa takutnya dan berkata sebelum melompat.
"Awas saja jika kau tidak menangkapku!" ancam Cyrene.
Walapun ia sendiri sadar, ancamannya hanyalah sebuah ucapan tanpa tindakan. Karena ia tahu tidak bisa melakukan apapun terhadap Bernardo.
Cyrene melompat dan mendarat dengan mulus dipelukan Bernardo.
Cyrene membuka matanya dan bernafas lega menyadari dirinya tidak jatuh karena Bernardo menangkapnya. Untuk sesaat mereka saling menatap satu sama lain ketika Cyrene berada di pelukan Bernando.
"Ah,, maaf," ucap Bernardo tersadar dan segera menurunkan Cyrene.
Wajah Cyrene mulai bersemu merah dan segera memalingkan wajahnya. Ketika Bernardo mencoba membuka kembali pintu balkon, Cyrene mulai membuka suara untuk menghilangkan gemuruh dihatinya.
"Jadi, kau yang sengaja merusak ponselku?" tanya Cyrene.
"Aku minta maaf. Aku hanya tidak ingin mereka menyadap ponselmu lagi. Aku akan menggantinya dengan yang baru," ucap Bernardo.
"Dan sejak kapan kau memasang kamera di apartemenku?" selidik Cyrene.
"Pagi ini sebelum kau bangun," jawab Bernardo cepat.
Cyrene menyipitkan matanya dalam diam.
"Aku bersumpah melakukannya pagi ini, dan hanya di ruangan ini," sambut Bernardo seolah membaca pikiran Cyrene.
"Kenapa kamu sepanik itu? Aku tidak mengatakan apapun," balas Cyrene mulai tertawa.
"Karena dari wajahmu mengatakan aku melakukan hal mesum," jawab Bernardo.
Cyrene tertawa gelak. Tidak lagi merasakan ketakutan seperti sebelumnya hanya dengan kehadiran Bernardo disisinya.
Tiba-tiba Bernardo memasang wajah serius, kedua matanya menatap lekat mata Cyrene lalu berkata.
"KAMU HARUS PINDAH DARI KOTA INI, REN,,!!"
. . . . .
. .. . .
To be continued,,,,,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Vincar
kamu hanya kapas bagi Edo, Ren🤭
🌹 ku tinggalkan.
2024-06-13
1
Birru
pindah aja ren ikuti perkataan bern.. pasti jauh lebih aman...
2024-06-02
0
Jumli
iya, pindah aja, Ren. biar aman
2024-04-23
1