### Keesokan harinya di Cafe...
Cafe yang sebelumnya telah di kunci, kini terbuka lebar dengan pintu yang terlihat rusak. Cyrene tiba bersamaan dengan Gavin dan terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Mereka bergegas melihat keadaan bagian dalam dengan perasaan was-was. Tubuh Cyrene merosot dan terduduk lemas di lantai ketika melihat keadaan di dalam cafe yang sebagian hancur.
"Apa-apaan ini?" ucapnya dengan suara bergetar.
Meja dan kursi tidak lagi berada pada tempatnya, lantai yang penuh dengan pecahan cangkir dan piring, serta kaca jendela yang pecah.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" gumam Cyrene sedih.
"Siapa yang melakukan ini?" Gavin menggeram kesal.
Gavin mengepalkan tangannya dan menoleh hanya untuk melihat Cyrene yang tertunduk sedih melihat keadaan cafe miliknya. Perlahan ia menghampiri Cyrene berniat menenangkannya. Namun, Cyrene tiba-tiba mendongak menatap Gavin sembari menunjuk meja counter.
"Mesin,,, coba cek mesin kopi kita, Gavin!" pinta Cyrene terbata.
Gavin berlari menghampiri mesin kopi dan memeriksa satu per satu mesin kopi yang mereka miliki. Setelah beberapa saat, Gavin menatap Cyrene seraya menggeleng pelan.
"Semua rusak," ucap Gavin dengan suara pelan.
"Tidak,,,Mungkin,,,!" desisnya tak percaya.
"Kenapa seperti ini?" imbuhnya.
"Kita tidak pernah berurusan dan membuat masalah dengan siapa pun, siapa yang melakukan ini?" Gavin menggeram kesal sembari memukul meja.
Gavin menghampiri Cyrene yang masih duduk di lantai dan membimbingnya untuk duduk di kursi yang dia bersihkan.
"Kakak duduk saja, aku akan membersihkan ini," saran Gavin mengusap bahu Cyrene.
Cyrene menggeleng lemah dan mengatur nafasnya.
"Bukan kamu, tapi kita!" tolak Cyrene berdiri dari duduknya.
"Tapi,,,"
"Akan lebih cepat jika kita mengerjakannya bersama, Gavin!" potong Cyrene.
Cyrene mulai membereskan kursi yang terbalik dan menggeser meja ke tempatnya semula. Meski terlihat jelas muram di wajahnya, namun ia tidak ingin terlalu menunjukkan rasa terpukul yang amat dalam di hatinya.
Hal itu membuat Gavin segera membantu mengeluarkan barang-barang yang tidak bisa di perbaiki ke samping cafe.
Cyrene berjongkok untuk memungut pecahan cangkir dan piring yang berserakan di lantai lalu memasukkannya kedalam wadah yang telah di siapkan sebelumnya, dan berniat membersihkan pecahan kecil menggunakan sapu. Sementara Gavin mengambil alih pekerjaan lain.
Ketika Gavin mendorong lemari kaca yang telah pecah, tiba-tiba pintu terbuka dengan wajah Bernardo muncul di baliknya.
"Apakah aku datang terlalu pagi? Kenapa cafe nya belum bu_,,," kalimat Bernardo terhenti dan matanya membelalak kaget melihat keadaan cafe.
"Maaf tuan, kami tutup untuk hari ini," sambut Gavin yang berpapasan dengan Bernardo saat hendak mendorong lemari keluar.
"Apa yang terjadi?" tanya Bernardo menatap Gavin sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada Cyrene yang sedang membersihkan pecahan cangkir.
Mendengar suara orang yang di kenalnya, Cyrene menoleh saat tangannya sudah menyentuh pecahan cangkir dan berakhir dengan menggores jarinya sendiri.
"Aaww,,,!" rintihnya pelan sembari menarik tangannya dengan cepat dan menjatuhkan lagi pecahan cangkir yang baru saja ia ambil, meninggalkan tetesan darah di atasnya.
Bernardo bergegas menghampiri Cyrene, lalu meraih tangannya yang terluka dengan hati-hati.
Tanpa peringatan, Bernardo memasukkan jari Cyrene yang terluka ke dalam mulutnya, sedikit menghisap darahnya agar lebih cepat berhenti. Setelah merasa darahnya telah berhenti, Bernardo menutup luka Cyrene menggunkan plester luka yang selalu dia bawa di saku jaketnya.
Cyrene tertegun melihat tindakan Bernardo yang di luar dugaannya, tidak tau bagaimana harus bereaksi. Ia bahkan tidak menarik tangannya saat Bernardo melakukan itu, matanya hanya lurus menatap Bernardo yang terlihat khawatir hanya karena goresan kecil di jarinya.
"Tolong, jangan ceroboh, Ren!" pinta Bernardo setelah selesai menempelkan plester.
"Kamu baik-baik saja bukan?" tanyanya dengan kening berkerut melihat Cyrene menatapnya.
"Aku baik-baik saja," jawab Cyrene lalu menunduk dan menarik tangannya, berniat melanjutkan lagi pekerjaannya untuk mengalihkan pikirannya.
Namun, tangan Bernardo bergerak lebih cepat menghentikan tangannya.
"Apa yang kau pikir akan kau lakukan?" tanya Bernardo.
"Membersihkan kekacauan ini tentu saja, apa lagi?" jawab Cyrene.
"Setelah kau terluka? Yang benar saja!" sergah Bernardo tak senang.
"Ini hanya goresan kecil," sanggah Cyrene.
"Jangan menganggap remeh luka kecil, Ren!" tukas Bernardo.
"Itu bukan urusanmu! Pergilah!" sentak Cyrene lalu menarik kasar tangannya.
Cyrene kembali membersihkan pecahan piring dan mengabaikan Bernardo yang mematung di depannya karena reaksinya.
Sampai sebuah tepukan pelan mendarat di bahu Bernardo membuat ia menoleh dan melihat Gavin memberi isyarat untuk mengikutinya.
Mereka sedikit menjauh dari Cyrene dengan berdiri di balik meja counter.
"Saya baru ingat, anda teman kak Ren yang datang kemarin bukan?" tanya Gavin.
"Bicara santai saja padaku, aku Bernardo," jawab Bernardo.
"Baiklah,,, Uhm,,, Tolong jangan tersinggung atas sikap kak Ren tadi," harap Gavin.
"Aku sama sekali tidak tersinggung, aku hanya khawatir padanya," sanggah Bernardo.
"Cafe ini adalah jerih payah kak Ren selama bertahun-tahun. Semua kerja keras kak Ren juga di kerahkan ke cafe ini. Melihat kekacauan ini membuatnya terpukul," terang Gavin.
"Tapi bagaimana ini terjadi? Siapa yang melakukannya?" tanya Bernardo.
"Saat kami datang pagi ini, tempat ini sudah seperti ini. Pintu rusak pada bagian lubang kunci dan dalam keadaan terbuka. Meja kursi yang berantakan dan tidak pada tempatnya,
"Pecahan gelas, cangkir dan piring, juga dinding kaca tersebar di lantai. Bahkan semua lemari kaca tempat menyimpan makanan juga pecah,"
"Semua mesin kopi memang masih terlihat utuh, namun tidak berfungsi. Semua rusak," ungkap Gavin.
"Mesin kopi?" ulang Bernardo mengerutkan kening.
Gavin mengangguk pelan sembari menunjuk mesin kopi yang ada di sana.Tanpa bicara sepatah katapun, Bernardo mendekati mesin kopi itu dan memeriksanya. Seolah ingin memastikan pikirannya, Bernardo mengangkat mesin kopi dan menurunkannya dari meja.
"Apakah di sini ada obeng?" tanya Bernardo.
"Ada, tunggu sebentar," jawab Gavin segera berlari mencari apa yang di minta Bernardo.
Tak lama, Gavin kembali dengan sebuah kotak di tangannya dan memberikannya pada Bernardo.
"Aku akan mengurus ini, kau bisa pergi melakukan yang lain," ucap Bernardo.
"Baiklah, kalau begitu aku akan meneruskan yang tadi," jawab Gavin.
Setelah Gavin pergi, Bernardo mulai membongkar mesin kopi yang sudah ia turunkan dari meja. Ia melihat bagian dalam mesin dan mengingat apa saja yang di perlukan sebelum beranjak memeriksa mesin lain.Tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang yang di minta untuk membelikan semua yang di perlukan.
Cyrene menoleh pada Bernardo, menatapnya dengan tatapan bertanya, namun segera memalingkan wajahnya ketika Bernardo memergoki Cyrene menatapnya, menghadirkan senyum tipis di sudut bibir Bernardo.
'Akan ku lakukan apa pun untuk mengembalikan senyum itu di bibirmu, Ren,' bisik hatinya.
Perlu waktu beberapa jam hingga semua yang di minta Bernardo tiba di cafe. Cyrene menatap bingung ketika seseorang datang dengan kotak besar yang berisi barang-barang yang sebagian tidak asing baginya.
"Tapi, aku tidak memesan apa pun," ucap Cyrene bingung pada orang yang mengantar barang.
"Alamatnya sesuai dengan yang di kirimkan pada saya, nona," jawabnya.
"Aku yang memesannya," sela Bernardo seraya melangkah keluar menemui orang yang mengantarkan barang.
Bernardo menghampiri Cyrene, dan menerima kotak dari orang itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya sebelum berkata.
"Terima kasih, aku sangat terbantu," sambut Bernardo.
"Bukan masalah," tuturnya santai lalu melirik Cyrene dan tersenyum penuh arti.
"Diakah orangnya?" tanyanya.
Bernardo hanya tersenyum lebar menanggapi pertanyaannya, dan pria itu mengangguk mengerti.
"Menarik," ucapnya seraya beralih pada Cyrene.
"Bolehkah saya mengetahui nama anda nona?" tanyanya sopan dengan tangan terulur.
Cyrene tersenyum ramah menyambut uluran tangan pria asing itu.
"Cyrene," ungkapnya.
"Manis sekali," komentar pria itu.
"Kamu bisa memanggilku, Theo," lanjutnya.
Theo menggenggam tangan Cyrene erat serta menatap matanya. Namun, ia segera melepaskan tangan Cyrene saat tatapannya bertemu Bernardo yang menatap tajam padanya.
"Sayang sekali, aku tidak bisa ikut membantu, aku masih memiiki pekerjaan yang harus ku kerjakan," ucap Theo.
"Tak masalah, aku sudah sangat berterima kasih kau sudah membantuku dengan barang-barang ini," jawab Bernardo menujuk barang yang di bawa Theo tadi.
"Itu bukan hal besar," sambut Theo.
"Baiklah, aku pergi dulu, senang bertemu denganmu, Cyrene," ucap Theo.
"Senang bertemu denganmu, Theo," balas Cyrene.
Bernardo membawa kotak itu kedalam setelah Theo pergi dari hadapan mereka.
"Kenapa kau melakukan ini, Edo?" tanya Cyrene menatap punggung Bernardo.
"Karena aku ingin melakukannya," jawab Bernardo tersenyum tipis tanpa berbalik.
"Adakah alasan yang lebih spesifik dari itu?" tanya Cyrene lagi.
"Ada, tapi aku tidak harus mengatakannya sekarang!" jawab bernardo.
Cyrene menatap punggung Bernardo yang kembali ke dalam cafe untuk memperbaiki mesin kopi yang rusak.
Waktu terus berjalan hingga langit berubah gelap. Memaksa mereka mengakhiri pekerjaan mereka.
"Aku pulang ya, kak," pamit Gavin saat mereka berdiri di depan cafe.
"Terima kasih untuk hari ini, Gavin," ucap Cyrene.
"Kakak tidak perlu sungkan padaku. Lagi pula kak Bernardo juga banyak membantu, bahkan membeli suku cadang mesin yang rusak dan memperbaiki semuanya," ungkap Gavin.
Gavin tersenyum lembut saat melihat Bernardo yang berada di samping Cyrene. Entah kenapa hatinya merasa lega ketika melihat seseorang memiliki kepedulian pada sosok wanita yang menjadi atasannya sekaligus telah ia anggap sebagai kakak.
"Selamat malam kak," pamit Gavin.
"Besok aku usahakan datang lebih pagi," ucap Gavin lalu meninggalkan Cyrene dan Bernardo
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Bernardo memecah keheningan.
Bernardo mulai melangkah mendahului Cyrene untuk mencari taksi, namun tangan Cyrene menahan Bernardo dengan menarik ujung jaketnya.
"Apakah kamu melupakan sesuatu di dalam cafe?" tanya Bernardo.
"Maaf," sesal Cyrene.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanyanya bingung.
"Aku sudah bersikap kasar padamu, bahkan sampai membentakmu di saat kamu berniat untuk membantuku," jawab Cyrene pelan dengan kepala tertunduk.
"Kamu tidak melakukan hal yang salah, Ren," sambut Bernardo.
"Ah benar juga, aku sudah seenaknya menggunakan nama itu lagi tanpa ijin, maaf. Kurasa, aku melakukannya tanpa sadar," terang Bernardo.
"Aku tidak keberatan kamu menggunakan nama itu, bukankah aku sudah pernah mengatakannya? Aku bahkan melakukan hal yang sama bahkan lebih buruk," balas Cyrene.
"Dan aku menyukainya," sambut Bernardo tersenyum.
"Edo,,, aku menyukainya,"
"Setidaknya nama itu tidak terdengar seperti nama seorang brandalan dan hanya kamu yang menggunakan nama itu untukku," sambung Bernando.
"Tapi, aku masih tidak mengerti, kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Cyrene menutupi rona merah di pipinya.
"Apa yang akan kau lakukan jika kau tau pelaku di balik semua kekacauan ini, Ren?" tanya Bernardo.
"Entahlah," jawab Cyrene menaikan bahunya.
"Dilihat dari cara mereka menghancurkan cafe-ku, itu sudah jelas mereka tidak akan memberikan ganti rugi meskipun aku memiliki buktinya,"
"Akan tetapi, aku ingin tau kenapa harus melakukan ini," sambungnya.
"Bagaimana jika yang melakukan ini adalah mereka? Yang berhubungan denganku?" tanya Bernardo.
"Dan kamu mau bilang bahwa kamu melakukan semua ini karena rasa bersalah?" tanya Cyrene.
Bernardo berbalik dan melangkah lebih dekat. Mengikis jarak diantara dirinya dengan wanita di depannya, dan menatap lekat ke dalam matanya.
"Bukan, tapi aku ingin mengembalikan senyum itu di bibirmu,"
"Bukan karena rasa bersalahku,"
"Tapi, karena aku mencintaimu," ungkap Bernardo.
. . . .
. . . .
To be continued,,,,,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Vincar
Siapa juga yang gak hancur ketika usaha yang di perjuangkannya selama ini di rusakkin oleh orang lain!!!
2024-06-13
1
Birru
langsung to the point ya bern😂😂
2024-06-01
0
Jumli
meluncur 4 iklan ya Thor, semangat trus untuk Author 💪🤗
2024-04-06
1