"EEHHH,,,,???" Emma terpekik namun segera menutup mulutnya.
"Kenapa kamu seterkejut itu?" sambut Cyrene heran.
"Bukankah seharusnya kamu menyimpan fotonya? Kamu bahkan tidak menunjukan fotonya padaku dan membuatku terlihat bodoh saat menemui dia tanpa tahu seperti apa wajahnya,"
"Dan sekarang kamu membuat masalah di saat seharunya kamu meminta maaf padanya," tegur Cyrene.
Emma segera mengeluarkan ponselnya dan membuka kembali aplikasi kencan yang masih ia simpan. Beberapa kali ia menatap Bernardo, lalu beralih ke ponselnya dan kembali menatap Bernardo lagi.
"Jadi,,,, kamu,,,,"
Emma menelan ludahnya, nyalinya seketika menciut begitu saja saat menyadari kesalahan apa yang telah ia lakukan.
"Ah,,, sekarang aku mengerti," ucap Bernardo yang sejak tadi diam.
"Kamu yang mengobrol denganku melalui pesan,"
"Caramu berbicara terasa sama persis ketika kamu berbicara melalui pesan," imbuhnya.
"Itu,,,, memang aku,,,, aku minta maaf," ucap Emma.
'Aku memang melihat fotonya dan dia terlihat tampan dengan kulit coklatnya. Tapi aku tidak pernah menyangka dia berbadan tinggi dan besar seperti ini,' batin Emma.
'Aku berani bertaruh dia memiliki tinggi sekitar 200 atau 205cm, jika mengingat tingginya hampir menyentuh pintu cafe. Apakah dia seorang atlet atau apa?'
'Gavin saja hanya sampai di batas bawah telinga, apakah sekarang aku akan selamat jika seperti ini? Apakah dia akan memaafkan aku? Padahal tadi aku bisa dengan percaya dirinya mengayunkan gagang sapu padanya,'
Emma merutuk dirinya sendiri di dalam hati sembari berharap Bernardo akan memaafkan dirinya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud untuk menipunya, namun keberaniannya untuk berbicara menguap begitu saja.
"Uhm,,, aku benar-benar minta maaf," sesal Emma menundukan kepalanya.
"Tidak apa-apa," sambut Bernardo tersenyum tipis.
"Cyrene sudah menjelaskannya sekaligus meminta maaf atas namamu, dan aku tidak mempermasalahkan hal itu," imbuhnya.
"Eh,,, sungguh?" sahut Emma segera mengangkat wajahnya.
"Yah,,, setidaknya sekarang aku mengerti mengapa saat aku bertemu dengan Cyrene dia tampak berbeda," jawab Bernardo.
"Dan ternyata kalian memang dua orang yang memiliki sikap yang saling bertolak belakang," imbuhnya.
"Ehmm,,, aku juga minta maaf soal pagi ini," ucap Emma lagi.
"Bukan aku yang seharusnya menerima permintaan maaf," sahut Bernardo.
"Karena bukan aku yang mendapatkan pukulan darimu," lanjutnya.
"Tapi aku menuduh kakak seenaknya tanpa mencoba untuk mendengarkan penjelasan," sanggah Emma.
"Karena kamu mengkhawatirkan Cyrene dan berpikir aku melakukan hal buruk, aku bisa mengerti perasaan itu," balas Bernardo.
Emma tercengang menatap pria di depannya yang masih mempertahankan posisinya berlutut di depan Cyrene, seolah tak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya sendiri dengan bagaimana cara pria itu bersikap.
'Ternyata memang benar cover tidak selamanya mencerminkan sikap seseorang. Dia memang terlihat sedikit menyeramkan, tapi cara dia mengobati kak Ren tadi sangat lembut,' batin Emma.
"Terima kasih," jawab Emma tersenyum.
Bernardo hanya membalas dengan senyuman dan segera kembali beralih menatap Cyrene.
"Apakah masih sakit?" tanya Bernardo khawatir.
"Aku tidak apa-apa," jawab Cyrene.
"Lagi pula, pukulan Emma tidak sesakit itu," imbuhnya.
"Maaf kak, aku benar-benar tidak sengaja," sesal Emma.
"Hooo,,, jadi kekacauan pagi ini di sebabkan olehnya?" sela Gavin menunjuk Emma.
"Diam kau!" sergah Emma.
"Potong saja gajinya untuk mengganti rugi meja yang rusak," celetuk Gavin.
"Lupakan saja! Lebih baik kalian berdua bereskan semuanya," jawab Cyrene.
"Hari ini banyak bahan yang akan datang, dan besok kita akan mulai membuka cafe dengan memberikan menu gratis untuk semua orang yang datang selama satu hari," imbuhnya.
"Biarkan aku membantumu untuk hari ini, juga besok," sela Bernardo.
"Ehh,,? Tidak perlu, kamu termasuk tamu di sini, jadi tidak perlu melakukan apa pun," sambut Cyrene.
"Setidaknya, dengan tambahan satu orang akan meringankan pekerjaan," jawab Bernardo.
"Ah,,, aku juga bisa memanggil temanku untuk membantu," imbuhnya.
"Itu hanya akan merepotkanmu sa_,,,"
"SETUJUUU,,,,,!" seru Gavin dan Emma serempak memotong perkataan Cyrene.
"Heh,,,, kalian ini,,,," tegur Cyrene.
"Ada tiga suara di sini, Ren. Dan kamu sendirian, bukankah suara terbanyak adalah pemenangnya?" sambut Berardo tersenyum.
"Tapi_,,,,"
"Kak,,, ayolah,,, setidaknya pekerjaan kita akan menjadi lebih ringan jika ada tambahan orang," potong Emma.
"Sebagai gantinya, aku akan membuatkan sesuatu untuk di nikmati bersama nanti, dan kakak hanya perlu menghidangkan kopi untuk semua orang," imbuhnya.
"Aku setuju soal itu," sambut Bernardo cepat.
"Lihat,,, kak Bernardo bahkan setuju hanya dengan kopi," celetuk Gavin.
"Haahh,,,, mereka ini,,,," desah Cyrene meletakkan telapak tangan di dahinya.
"Dan kamu juga sudah mengenal temanku," timpal Benardo.
"Temanmu?" ulang Cyrene dengan kening berkerut.
"Theo," jawab Bernardo.
"Dia pernah kemari meski hanya mengantar barang, tapi dia akan dengan senang hati membantu," sambungnya.
"Tapi_,,,"
"Kalau begitu kita sepakat, aku akan menghubunginya," potong Bernardo seraya berdiri dan sedikit menjauh sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Hei,,, jangan seenaknya saja membuat keputusan!" protes Cyrene.
Bernardo hanya menaikan bahunya, sementara Gavin dan Emma mulai membereskan kekacauan yang pagi ini Emma buat. Meski keduanya sering kali bertengkar, namun mereka menjadi kompak ketika berhubungan dengan pekerjaan.
Cyrene menghela nafas panjang, lalu tersenyum kala melihat tiga orang di depannya terlihat akrab dalam waktu singkat.
Beberapa jam kemudian, pintu cafe terbuka di ikuti dengan sosok pria yang tidak asing bagi Cyrene. Pria itu segera di sambut hangat oleh Bernardo dan melakukan perkenalan singkat dengan Gavin dan Emma sebelum memulai pekerjaan.
"Waktunya makan siang!" seru Cyrene setelah selesai menyiapkan beberapa makanan di satu meja.
"Woah,,, ku pikir kamu hanya seorang barista, aku tidak menyangka kau juga seorang koki," puji Theo kala melihat beraneka macam makanan di atas meja.
"Aku hanya bisa membuat beberapa makanan saja," elak Cyrene.
"Padahal masakan kak Ren tidak kalah dengan makanan bintang lima," celetuk Gavin.
"Itu membuatku penasaran," sahut Theo.
"Aromanya bahkan sudah menggugah selera," imbuhnya.
"Jangan berlebihan!" sanggah Cyrene.
"Ini hanya makanan sederhana dimana semua orang bisa membuatnya," imbuhnya.
"Aku meragukan itu benar," jawab Theo.
"Kuharap kau tak menarik kembali ucapanmu," sambut Cyrene tersenyum.
Mereka duduk mengelilingi meja dan mulai menyantap makan siang mereka di selingi obrolan ringan. Kehadiran Theo sedikitpun tidak memunculkan situasi canggung.
Mereka bertiga akrab dalam waktu singkat, bahkan bersekongkol agar Bernardo bisa duduk di samping Cyrene saat makan, memunculkan senyum jahil di bibir Theo, Gavin dan Emma.
Saat Bernardo tengah menyuap makanan ke dalam mulutnya, Theo dengan sengaja menyenggol tangan Bernardo dan sukses membuat noda saus pada wajah Bernardo.
"Oh,,, maaf, aku sengaja, pft,,,," ucap Theo tertawa.
"Kau,,,,," desis Bernardo.
Theo melenggang pergi begitu saja sebelum Bernardo sempat mengeluarkan protesnya. Begitu pula dengan Gavin dan Emma yang turut pergi bersama Theo.
"Tck,,, ada apa dengannya?" decak Bernardo.
"Uhm,,, kamu memiliki noda saus di wajahmu," ucap Cyrene.
"Aaa,,,?" sambut Bernardo bingung.
"Saus? Dimana?" imbuhnya bertanya.
Bernardo meraih serbet di meja dan berniat untuk membersihkan noda saus diwajahnya ketika tiba-tiba Cyrene mendekatkan wajahnya dengan tangan terulur. Dengan gerakan hati-hati, Cyrene menyapukan ibu jarinya di bawah sudut bibir Bernardo.
"Di sini," ujar Cyrene.
Cyrene mengangkat wajahnya hingga membuat tatapan mereka bertemu. Tanpa sadar gerakan jarinya terhenti saat ia menatap Bernardo dari dekat. Jantungnya tiba-tiba berdebar lebih cepat dari biasanya, membuat wajahnya merona dan segera menjauhkan wajahnya.
"Uhm,, maaf,,," ujar Cyrene segera menjauhkan tangannya sekaligus memalingkan wajahnya.
"Kenapa minta maaf?" tanya Bernardo menatap Cyrene yang menghindari tatapannya dengan seringai menghiasi wajahnya.
Bernardo mendaratkan dua jarinya di dagu Cyrene sembari membimbing wanita di sampingnya untuk kembali menatapnya, hingga pandangan mereka kembali bertemu, menciptakan keheningan yang terasa sangat panjang bagi Cyrene dan membuat wajahnya kian memerah.
Secara perlahan, pandangan Bernardo bergerak turun dan terhenti di bibir Cyrene, lalu kembali ke matanya seolah meminta ijin.
. . . .
. . . .
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Birru
diijinkan ayo
2024-06-17
0
Rona Risa
diizinkan 🤭❤️
2024-04-09
1
Rona Risa
waaaaah 😍 kok aku yang salting 🤭🤣
2024-04-09
1