Dian merasa senang akhirnya Ia menemukan kembali rasa makanan yang sangat Ia rindukan bahkan rasa rendang yang dibelikan oleh Rama mengingatkan dirinya pada masakan sang Ayah yang sering kali memasak makanan khas Padang itu. Seperti kata orang bahwa orang Padang adalah orang yang pandai dalam memasak dan Ayah termasuk di dalam salah satu itu.
Dirinya menoleh ke arah samping melihat Rama yang sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Sepertinya Pria itu sedang mengerjakan pekerjaannya, dari kejauhan Dian dapat melihat muka serius Rama yang fokus pada laptop. Ia berjalan mendekati Rama dan duduk di sampingnya.
"Eh, Mbak udah selesai makannya?"
Rama tersentak pelan sadar saat Dian duduk di sampingnya. Ia kira- istrinya? Itu masih fokus dengan makananya. Ia sengaja meninggalkan Dian sendirian untuk memberikan space buat wanita itu untuk bertenang.
"Sudah, terimakasih banyak ya" ujar Dian dengan senyum bahagia
Rama tersenyum tipis mendengar terimakasih Dian. Setidaknya Dian sudah tidak semurung tadi dan sudah mulai mau berbicara.
"Sama-sama, saya sebenarnya takut rendang yang saya beli tidak sesuai selera Mbak tapi syukur deh Mbak suka dengan rendangnya," ujar Rama dengan senyum tipisnya dan kembali fokus pada laptop.
Dian menatap Rama dengan seksama, memperhatikan Rama yang sangat fokus dengan pekerjaannya hingga sampai mengacuhkan dirinya. Dari sinilah Dian menyimpulkan bahwa ternyata Rama adalah seorang profesional. Cukup lama Dian memerhatikan Rama yang sibuk bekerja hingga
"Rama"
Rama terkesiap dari fokus pekerjaanya, Ia baru menyadari bahwa sekarang Ia berada di kamar dan ada orang lain selain dirinya. Biasanya Ia hanya sendiri di kamar dan bisa menghabiskan waktu seharian untuk menyelesaikan pekerjaanya apalagi ini adalah malam hari dan Rama adalah salah satu orang nightperson yang lebih produktif mengerjakan sesuatu di malam hari.
"Eh, maaf Mbak. Iya ada apa?" Tanya Rama kepada Dian dengan lembut.
Dian terdiam sejenak, dirinya memperhatikan Rama dari atas hingga ke bawah. Terkadang dirinya bertanya-tanya kepada diri sendiri, kenapa Rama masih bisa bersikap baik-baik saja setelah semua ini? Dan kemana pria ini dari tadi siang?
"Sebenarnya pekerjaan kamu apa si?"
Pada akhirnya Dian tidak bisa menyampaikan rasa penasarannya dan lebih memilih menanyakan hal lain. Ia hanya tahu bahwa Rama seorang dosen di universitas saja tapi tidak tahu dosen apa dan universitas apa dan itu membuat dirinya sedikit merasa buruk padahal Rama mengetahui segala dirinya.
"Saya seorang Dosen muda di Universitas Negeri Nusa Mbak dengan jurusan Matematika," ujar Rama
Dian berdecak kagum mendengar perkataan Rama, dirinya tahu bahwa menjadi dosen tidaklah mudah apalagi di Universitas ternama negeri yang sangat difavoritkan oleh anak SMA sekarang. Dulu saja dirinya sangat ingin masuk di sana, cuman tuhan berkehendak lain hingga dirinya masuk universitas lain dan pada akhirnya bertemu dengan Mas Darma.
"Wah hebat kamu, pasti kamu hebat ya," ujar Dian dengan antusias
Rama terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya. Dirinya sama sekali tidak merasa pintar bahkan Ia seringkali merasa kurang bahkan bodoh dibanding Abangnya yang selalu dibanggakan oleh Ibu.
Dahulu saat kecil Rama sering kali diacuhkan dan merasa iri melihat Mas Darma selalu diapresiasi dan dipeluk ketika berhasil menang sesuatu, hingga membuat Rama termotivasi dan ingin sama seperti Mas Darma untuk bisa menang dan mendapatkan perhatian Ibu namun ternyata pikiranya salah.
Ternyata dirinya memang berbeda dan tak pernah mendapatkan sama. Saat dirinya membawa piala satu tingkat internasional di depan Ibu, wanita itu tetap saja mengacuhkan dirinya dan menganggapnya tidak ada.
Hanya Mas Darma yang senang akan pencapaianya saat itu.
"Engga kok Mbak, saya masih perlu banyak belajar," ujar Rama dengan nada lirihnya.
Rama menggelengkan kepalanya, berusaha menjauhkan pikiranya yang berkelana kembali pada masa lampau. Ia menatap Dian yang juga menatapnya dengan tatapan tidak terima.
"Mbak, sepertinya kita harus pindah dari sini," ujar Rama kepada Dian.
Dian terdiam sejenak, apa yang dikatakan oleh Rama memang benar. Lebih baik mereka pindah dari sini daripada harus seperti ini. Dian menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rama.
"Iya, sepertinya itu jalan yang terbaik," ujar Dian dengan lirih. Rumah yang dahulu seperti rumah kedua bagi dirinya sekarang menjadi rumah yang harus hindari .
"Ta–tapi kemana kita pindah?" Tanya Dian kepada Rama.
Rama terdiam sejenak dan mengatakan, "Sebenarnya saya–"
"Gimana kita pindah ke rumah Aku sama Mas Darma dulu?" Ujar Dian
Rama tertegun mendengar usulan Dian, sebenarnya dirinya ingin mengatakan bahwa Ia sudah membuat rumah sebelum menikah namun melihat Dian yang tampak serius dan antusias membuat Rama memilih bungkam dan tersenyum tipis.
"Mbak maunya kita pindah ke rumah itu?" Tanya Rama sekali lagi memastikan kepada Dian.
Dengan ragu Dian menganggukan kepalanya, apa Rama tidak mau mereka pindah ke rumah itu? Rumah dimana dirinya dan Mas Darma tinggal dahulu? Batin Dian.
Rama menganggukan kepala dan tersenyum tipis menjawab pernyataan Dian.
"Baiklah, besok pagi kita akan pindah" final Rama
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Reni Anjarwani
dpubel up thor
2024-04-01
0