Rama menarik nafasnya pelan berusaha menetralkan semua rasa gugup di dalam hatinya. Ia menoleh ke arah samping melihat Dian yang menatap langit. Rama terpana melihat wajah Dian yang bersinar di bawa cahaya bulan, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung dan bibir pink yang tipis adalah bagian sempurna di wajah Dian.
Merasa diperhatikan Dian menoleh ke samping ke arah Rama melihat pria itu yang juga sama menatap dirinya, mata mereka saling bertemu satu sama lain.
Rama terperanjat saat dirinya seolah terciduk menatap lama Dian.
"Ada apa Rama?" Tanya Dian kepada Rama.
Rama memejamkan matanya sejenak berusaha kembali mengontrol rasa detakan jantungnya yang cepat. Dirinya teringat kembali akan tujuanya datang menemui Dian yang berada di kamarnya membuat Rama sadar penuh.
"Oh iya Mbak, tadi saya sudah membicarakanya dengan Bapak–"
"Bicara apa?"
Rama tersenyum tipis saat Dian memotong perkataanya, Ia sama sekali tidak marah ataupun terisnggung.
"Bicara biasa saja, tapi tadi saya sudah izin kepada Bapak-"
"Izin?" Dian kembali memotong perkataan Rama begitu saja, Ia sontak menutup mulutnya dan menatap Rama dengan rasa bersalah.
"Maaf," cicit Dian
Rama kembali menampilkan senyum tipisnya, Ia menggelengkan kepalanya seolah tidak masalah akan yang dilakukan oleh Dian.
"Gapapa Mbak, tadi saya ngomong sama Bapak kalo Mbak boleh kok memakai kamar Mas Darma buat tidur. Saya tahu Mbak pasti merasa asing di kamar ini jadi jika Mbak merasa tidak nyaman Mbak bisa memakai kamar Mas Darma. Bagaimanapun itu dulu juga kamar Mbak dan Mas Darma," ujar Rama
Dian terdiam mendengar perkataan Rama, dirinya menatap Rama yang menatapnya dengan tulus. Kadang Ia berpikir bagaimana Rama tampak begitu baik kepada dirinya.
"Apa tidak apa-apa?" Tanya Dian kepada Rama.
Rama menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Dian.
Dian terdiam sejenak, dirinya melihat Rama yang menatap dirinya tatapan yang sulit Dian jabarkan. Ketulusan, kekecewaan, kebahagiaan dan kesedihan terasa semu di balik senyum tulus pria itu.
Ia merasa tidak enak hati kepada Rama, bagaimanapun Rama adalah suami Dian sekarang namun dirinya juga tidak bisa berbohong bahwa Ia masih mencintai Mas Darma dan merindukanya.
Jika Ia dikamar Mas Darma Ia bisa merasakan kehadiran pria itu dan merasakan harum dan suasana yang hangat dari kenangan dirinya dan Mas Darma.
"Mbak tidak usah mikirin saya, saya tidak masalah sama sekali dengan pilihan Mbak," ucap Rama dengan lunak kepada Dian.
Dian menatap ragu ke arah Rama, apakah dirinya harus di kamar ini? Atau di kamar Mas Darma? Tanya Dian kepada batinya sendiri.
Ia memutar pandanganya ke sekitar melihat seluruh pemandangan isi dalam kamar milik Rama. Dinding yang berwarna candy brown atau warna coklat kayu dengan kasur double bed yang di sandarkan di dinding, di sini hanya ada dua lemari yang ukuran sedang satu untuk baju dan satu untuk piala-piala serta piagam yang bergantungan banyak memenuhi space satu dinding.
Di dinding samping kanan meja belajar yang diatas meja ada rak dinding besar berisi banyak buku berjejer rapi. Setiap dinding ada tempelan kertas coretan sepertinya rangkuman pelajaran. Kemudian satu sofa yang berada dekat jendela yang sekarang Dian dan Rama duduki menatap langit.
Berbeda dengan kamar mas Darma yang berwarna cerah dengan space yang lebih besar, Mas Darma memiliki lemari besar di kamarnya dengan kasur queen bed yang cukup untuk tiga bahkan empat orang. Di dinding-pun juga banyak pajangan yaitu foto keluarga, foto dirinya dan Mas Darma semasa pendekatan hingga foto-foto masa SMA dan kuliah Mas Darma bersama teman-temanya.
Untuk kamar Rama juga ada pajangan selain kertas, Ia juga ada beberapa lukisan yang menggantung di dinding sekitar empat lukisan.
Sangat berbeda jauh dengan kamar Mas Darma. Kamar Raman penuh akan pencapaian dan abstrak sedangkan kamar Mas Darma itu penuh akan momen kenangan.
"Kalo Mbak mau tidur di sini juga tidak apa-apa nanti saya tidur di sofa ini saja," ucap Rama memecahkan keheningan.
Dian tersentak pelan dari lamunannya menjelajah isi kamar, dirinya kembali melihat Rama yang menatap lurus ke depan. Dian sontak menggelengkan kepala, bagaimana mungkin tuan rumah tidur di sofa. Kamar ini adalah kamar Rama tentu Rama harus tidur di kasur.
"Tidak tidak, jangan. Biar Aku tidur di tempat Mas Darma aja," kata Dian dengan spontan.
Rama terdiam sejenak mendengar perkataan Dian. Pandanganya masih lurus ke depan melihat ke arah bunga yang tampak indah, apa yang Ia harapkan?
Ia menarik napas pelan dan menolehkan kepala melihat ke arah Dian menampilkan senyuman tipisnya.
"Baiklah, apa perlu saya antar Mbak? Kamar Mas Darma tidak terkunci nanti Mbak bisa langsung masuk,"
Dian menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rama, Ia merasa semakin tidak enak jika Rama juga harus mengantarkannya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri ta–tapi apa tidak apa-apa?" Tanya Dian kembali kepada Rama.
Rama mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Dian dan untuk pertama kalinya bagi Dian melihat wajah lain dari Rama selain senyuman namun itu semua tidak berlangsung lama, pria itu kembali pada wajah biasanya dan tersenyum kembali kepadanya.
"Tidak apa-apa, saya sudah mengatakannya kok kepada Bapak dan juga kasur di kamar ini kecil lebih baik Mbak di kamar Mas Darma saja," tutur Rama kepada Dian.
Dian menghela napas panjang, dirinya menganggukan kepalanya merespon Rama. Ia berdiri dari tempat duduknya dan melihat ke arah Rama yang menatap dirinya.
"Ak-"
"Iya Mbak, hati-hati ya. Kalo ada apa-apa kabarin saya saja pintu kamar ini tidak saya kunci kok-" ujar Rama memotong perkataan Dian yang tahu akan meminta izin.
Dian menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar Rama menutup pelan pintu kamar pria itu. Sebelum menutup pintu Dian dapat melihat Rama menatap lurus keluar jendela, suasana di dalam kamar Rama dengan ruangan luar sangat berbeda seolah atmosfer satu sama lain tidak bisa bergabung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments