Rasa Bersalah Rama

Cahaya bulan bersinar indah menyinari alam semesta dengan senyumanya membuat yang melihat terpana akan keberadaanya  begitu juga dengan Dian yang terpana melihat bulan bersama kawan-kawanya yaitu bintang bersinar bersama menyinari gelap malam. 

Disinilah Dian duduk di samping jendela menatap langit atas memuja akan keindahannya.  Ia menatap bintang itu dengan tatapan penuh sedu mengingat perkataan Ayah saat dirinya sehari sebelum pergi selamanya mengatakan 

...Dian rindu Bunda yah? Itu, coba lihat bintang itu. Bintang yang paling bersinar terang itu adalah Bunda. Dian pernah dengar? Setiap yang pergi bersama Tuhan akan menjadi bintang indah terang jadi kalau Dian kangen sama Bunda, Dian lihat bintang terang dan berdoa kepada Tuhan agar Bunda bahagia di sana. Begitu juga saat Ayah pergi nanti Ayah akan menemani Dian selalu dari atas. ...

Apakah Mas Darma juga telah bersinar bersama Ayah dan Bunda? Apa mereka melihat Dian sekarang? 

Dian Rindu 

Tanpa sadar air mata Dian jatuh membasahi pipi. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana, semua perasaan yang gundah dan membuncah begitu saja. 

Clekk

Dian tersentak pelan saat mendengar suara pintu dibuka dengan pelan. Ia dapat melihat Rama dengan pakaian yang lebih santai sekarang, pria itu telah berganti baju yang lebih santai. 

"Mbak," panggil Rama saat masuk ke dalam

Hari sudah malam hari dan mereka masih berada di rumah Bapak dan Ibu untuk menginap selama sehari. Bapak tidak mengizinkan mereka untuk pindah begitu cepat dan meminta untuk menginap sehari ini saja dan Dian setuju saja akan perkataan Bapak. 

Jika di rumah ini biasanya Dian tidur di kamas Mas Darma maka sekarang berbeda, dirinya sekarang di kamar Rama duduk di samping jendela melihat langit. 

"Ah, maaf saya menganggu waktu Mbak. Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Rama dengan sopan. 

Rama dapat melihat bekas air mata di pipi Dian yang terlihat jelas. Ia merasa tidak enak hati melihat mantan istri dari Abangnya sedih seperti ini, kadang Ia berpikir apa sebenarnya yang telah direncanakan oleh Tuhan sehingga dirinya harus melakukan ini semua? Namun Ia tidak ingin berburuk sangka dan melakukanya dengan sabar dan ikhlas. 

Dian menggelengkan kepalanya, Ia sama sekali tidak merasa terganggu oleh Rama. Ia juga merasa tidak enak hati disaat Rama berusaha membuat dirinya nyaman dan tidak melewati batas namun Ia masih tetep menangis sedih seolah tersiksa menikah dengan Rama "Tidak ganggu sama sekali, mau membicarakan apa?" Tanya Dian kembali kepada Rama. 

Rama berjalan mendekati Dian dan duduk di samping Dian. Kursi ini terbilang cukup besar yang bisa menampung dua manusia dewasa di atasnya, Ia memang sengaja meletakkan kursi panjang ini di samping dekat jendela agar dirinya bisa melihat pemandangan langit dan taman bunga yang telah Ia besarkan sepenuh hati. 

"Mbak maaf karena menikah dengan saya Mbak harus dibenci oleh Ibu," lirih Rama sembari menunduk.

Dian menoleh ke samping melihat Rama yang menunduk merasa bersalah pada dirinya sendiri. Matanya menatap Rama cukup lama, melihat punggung yang menunduk akan terasa berat. 

"Bukan salah kamu Ra-rama, Ibu hanya belum menerima saja," ujar Dian dengan nada pelanya berusaha menyampaikan bahwa ini semua bukan salah Rama. Dirinya masih sedikit gagap saat menyebut nama Rama. 

Terpopuler

Comments

Reni Anjarwani

Reni Anjarwani

doubel up thor

2024-03-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!