Pernikahan Sederhana Kedua Mempelai

Hari ini telah tiba, hari dimana dirinya akan menjadi seseorang yang memiliki status kembali dan akan menjalankan fitrah sebagai pasangan dari seseorang. 

Menatap lurus ke depan cermin yang menampilkan dirinya dengan gaun sederhana islami berwarna putih yang sangat selaras dengan tubuhnya dengan tatapan menyelam. 

Apakah ini semua benar? 

Apakah dirinya akan mampu? 

Apakah dirinya akan bahagia?-   bersama seseorang yang tidak Ia cintai? 

Apa akhirnya memang harus seperti ini? 

Itu semua menari dan berkecamuk di dalam kepalanya. Apakah Mas Darma senang jika Ia sudah memenuhi permintaanya sekarang? Rasanya Ia ingin benar-benar menangis namun Ia tidak ingin membuat yang lain khawatir kepada dirinya. 

"SAHH" 

Suara yang dapat Didengar dari luar. 

"Dian apakah kamu sudah siap sekarang? Yang lain sudah menunggu di depan" 

Dian mendongakkan kepalanya menoleh ke arah belakang melihat Karina yang berdiri di dekat pintu dan mulai berjalan mendekati dirinya. Sahabatnya yang satu ini benar-benar sangat peduli kepada dirinya. 

"Hey, jangan bersedih bentar lagi udah ada suami kok," ujar Karina dengan senyum tipisnya berusaha menghibur Dian. 

Dian tersenyum singkat mendengar gurauan Karina. Karina benar, sebentar lagi  dirinya akan memiliki suami dan menjadi pasangan orang lain walau bukan Mas Darma lagi. 

"Sudah siap?" 

Dian menganggukan kepalanya mendengar pertanyaan Karina. Ia memejamkan mata sejenak dan menghembuskan dengan pelan dan mengucapkan dalam hati bahwa semua akan baik- baik saja. 

Karina mengandeng tangan Dian dengan pelan dan menggenggamnya secara lembut seolah menyampaikan bahwa dirinya akan selalu ada untuk Dian. 

Dian dan Karina berjalan keluar dari ruangan Dian make up tadi dengan langkah yang pelan. Dian berusaha menetralkan kegugupan di dalam hatinya, Ia gugup. Bahkan ini bukan kali pertama buat Dian namun tetap saja dirinya akan gugup dengan janji sakral itu. 

"Itu Dian, Rama" 

Rama yang sedari tadi duduk di kursi dan menundukkan kepala seketika mendongak mendengar ucapan Bapak yang mengatakan bahwa Dian sudah ada. 

Mata Rama seketika melihat ke depan melihat dua wanita cantik yang berjalan dengan anggun menuju arah sini. Mereka berdua sama-sama cantik namun mata Rama seolah terkunci melihat ke arah Dian yang sudah keluar dari ruangan make up dengan gaun putih islami yang sangat cocok di depanya. 

Satu kata di pikiran Rama. 

 Cantik 

Dian memutar pandanganya keseluruh ruangan. Dirinya dapat melihat para tamu yang datang, pernikahan ini memang dilakukan secara tertutup hanya kerabat terdekat, sahabat dirinya dan Rama yang datang ke sini. Pernikahan ini sangat berbeda sekali dengan pernikahan yang dilakukan oleh Dian bersama Mas Darma. 

Jika bersama Mas Darma pernikahan yang dilakukan dengan adanya pesta yang besar-besaran maka pernikahan yang dilakukan sekarang dilakukan dengan tertutup dan sederhana dengan hanya mendatangkan penghulu KUA ke rumah. 

"Ayo, duduk di samping Rama" 

Dian mengalihkan pandangannya ke arah Karina yang menarik tanganya secara pelan menuju ke arah meja yang di mana di antaranya sudah ada Bapak penghulu dan Bapak yang menjadi wali dirinya beserta Rama. 

Dian dengan pelan mendudukkan dirinya dengan pelan di samping Rama yang langsung di hadapannya Bapak penghulu yang memberikan senyum tipis ke arahnya. Dian membalas dengan senyum tipis, Ia kemudian menoleh ke samping melihat ke arah Bapak yang tersenyum tulus ke arah dirinya. 

"Ucapan ijab kabul telah dilakukan dan semua saksi sudah mengatakan sah. Sekarang kepada suami silahkan melihat ke arah istrinya dan mengucapkan doa," ujar penghulu kepada kedua mempelai. 

Dian menoleh ke arah samping melihat Rama yang juga melihat dirinya dengan tersenyum ke arah dirinya. Dian mengulurkan tangan kepada Rama layaknya meminta salam kepada Rama yang sekarang sudah menjadi suaminya. 

Rama tersenyum dan memberikan uluran tanganya kepada Dian dan menyambutnya dengan lembut. Dian bersalaman kepada Rama, sekarang dirinya sudah menjadi seorang istri namun bukan istri Mas Darma namun istri dari adiknya yaitu Rama. 

Salaman itupun selesai, Dian mendonggak menatap ke arah Rama yang menatapnya penuh dalam mengulurkan tanganya ke arah Dian yang membuat Dian terpaku ketika Rama membelai kepala Dian dengan pelan dan enuh kasih sayang. 

Rama memejamkan matanya dan bergumam membaca doa yang Dian dapat dengar itu doa yang dilakukan ketika setelah ijab kabul yang dianjurkan sembari memegang ubun-ubun sang istri. 

Dian terdiam menatap muka Rama yang memejamkan matanya dan bergumam mengucapkan doa. Matanya bertemu dengan mata Rama yang sudah terbuka menatap dirinya dengan senyum. 

"Selamat kepada kedua mempelai sekarang sudah menjadi sepasang suami istri yang sah," ujar penghulu kepada Dian dan Darma. 

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Alkhirnya dian dan rama sah menjadi suami istri....

2024-04-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!