Rama, Adik Mas Darma

Rintik hujan tak membuat Dian berhenti, hujan seakan tahu bahwa dirinya sedang bersedih. Ia dahulu membenci hujan sekarang malah menikmatinya untuk menangis di bawah rintikan air jatuh itu sendiri. Hujan ini seakan tahu akan air mata jatuhnya dan membantu menyamarkan mereka. 

"Dian, sudah dulu Nak. Darma juga pasti sedih melihat Kamu sedih tidak ikhlas seperti ini" 

Dian mengabaikan suara wanita paruh baya yang berusaha menenangkan dirinya. Dirinya hanya ingin menemani Mas Darma disini, Ia tidak akan melepaskan nisan yang bertuliskan nama Mas Darma. 

Kenapa tuhan tega sekali kepada dirinya, kenapa disaat dirinya baru merasakan kebahagiaan berumah tangga selama dua Minggu harus kandas begitu saja. Apa dirinya  tidak pantas bahagia? Batin Dian. 

"Sudah Dian. Kamu harus mengikhlaskan Darma, Allah lebih sayang dia dibanding dengan kita Nak" 

Dian mendongakkan kepalanya, melihat wanita paruh baya yang berusaha menenangkan dirinya. Mama Raisa adalah Mama yang baik selama ini, dirinya selalu mendukung dan menyayangi dirinya tanpa membedakan Mas Darma dengan dirinya sendiri. Setelah semua kejadian ini, apakah Mama Raisa masih bisa Ia katakan Mama mertuanya? Setelah putusnya ikatan dirinya dengan Mas Darma?. 

Dia sudah tidak memiliki siapa-siap sekarang, Mas Darma sudah pergi meninggalkannya sedangkan Ibu sudah meninggalkannya saat Dian berumur satu tahun dan Bapak baru saja pergi dua Minggu lalu tepat satu hari setelah hari pernikahannya bersama Mas Darma dan sekarang? Dirinya harus kehilangan Mas Darma yang juga pergi meninggalkannya. 

"Ayo Dian kita pulang, sudah Nak nanti kamu sakit jika terus terkena hujan seperti ini. Kita sudah seharian di sini" ujar Pria paruh baya yang membantu Dian agar berdiri. 

"Pak, nanti Mas Darma sendirian" lirih Dian kepada pria yang Ia panggil dengan Bapak. 

Bram memejamkan matanya sejenak, dirinya merasa kasihan kepada Dian. Ia juga merasakan kehilangan atas meninggal putra sulungnya. Ia tahu bagaimana perjuangan Darma dan juga Dian selama ini apalagi Dian anak yatim piatu sekarang namun bagaimana lagi ini semua adalah takdir yang diberikan.

"Dian tidak sendiri Nak. Ayo pulang ikut Bapak sama Ibu" ajak Bram kepada Dian yang masih menatap sendu ke arah gundukan tanah bertuliskan nama Darma Pratama. 

Dian mengangguk pelan, melepaskan batu nisan itu dengan tidak rela. Ia berdiri dengan sempoyongan untung saja langsung dibantu oleh Ibu dan Bapak untuk kokoh. Sepertinya untuk saat ini Ia akan kembali ke rumah mertuanya. 

"Mas, Aku pergi dulu yaa. Jangan lupa datang di mimpi Aku" lirih Dian sebelum pergi menoleh ke belakang dan bergumam pelan. 

"Rama, kunci mobil sama kamu kan? Tolong bawa mobil nya" ujar Bram 

Dian menoleh ke samping, dirinya melihat pria yang  ditunjuk oleh Mas Darma saat di rumah sakit itu melihat dirinya, tatapan yang tak bisa Dian jabarkan. 

"Baik pak"  

Suara itu tegas namun terkesan lembut membalas perkataan yang lebih tua. Pada akhirnya, Dian harus pergi meninggalkan Mas Darma selamanya. Ia tidak akan berpaling begitu mudah dari Mas Darma apalagi mereka sudah menjalani hubungan lebih dari enam tahu. 

Dian memejamkan matanya sejenak duduk di kursi mobil yang berjalan dengan pelan berharap ini semua hanyalah mimpi belaka. Ini hanya mimpi buruk dan semua tidak benar. Ia berharap saat membuka mata nanti, Ia dapat melihat senyuman Mas Darma yang menyambutnya. Memujinya yang terlihat sangat cantik saat bangun tidur seperti setiap pagi saat bangun tidur. 

Ia berharap itu semua benar-benar hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang tak akan pernah Dian ulangi kembali.  

Raisa menoleh ke arah samping melihat Dian yang tenang menutup mata. Dirinya benar- benar sedih melihat Dian yang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, Ia yakin jika Darma melihat Dian terpuruk seperti ini akan membuat anak sulungnya kecewa. Membayangkan itu semua membuat air mata Raisa jatuh mengenai pipi, anak sulungnya sudah pergi meninggalkan selama-lamanya. 

"Jangan bersedih seperti itu. Darma akan sedih jika kamu menangis seperti ini, buk" 

Raisa mendongakkan kepalanya melihat ke depan, pria  yang selama ini menjadi pasangan hidupnya. Duduk di samping pengemudi menoleh ke belakang melihat ke arah dirinya. Ia adalah Ayah dari anaknya, pria yang telah menikah dengan dirinya. 

"Tidak bisa pak. Anakku telah pergi, anak yang selama ini Aku sayangi. Anak yang selalu berbakti tidak pernah melukai hatiku dan yang pasti dia adalah anak kandungku pak. Anaku satu-satunya" ujar Raisa menangis dengan terisak. 

Bram terdiam mendengar perkataan Raisa. Ia kenoleh ke samping melihat ke arah anaknya satu lagi yang tampak diam tidak bereaksi apapun. 

"Ibu, jagan seperti itu" Bram berusaha menenangkan Raisa. Dirinya merasa iba kepada Rama yang hanya diam tak membalas. 

"Apa? Bapak tidak terima, sudah cukup Ibu selama ini diam karena permintaan Darma untuk tidak mengatakan semua! Bapak kira Ibu tidak terluka, sakit hah? Bapak bahkan tidak sesedih itu kehilangan Darma" ujar Raisa dengan perasaan yang menggebu-gebu. Wajah terluka dan penuh kehilangannya nampak bersama air mata yang jatuh membasahi pipinya. 

"Cukup! Cukup ibu! Ibuk kira bapak tidak sedih? Aku bahkan lebih sedih Raisa, tanpa Kamu sadari batinku menangis kehilangan. Aku harus berlagak kuat di depanmu dan juga Dian agar kalian tidak semakin terpuruk dan melihatku lemah-" ujar Darma dengan nada pelanya. Ia tidak ingin membuat Dian terbangun mendengar percekcokan antara dirinya dengan Raisa. Sepertinya menantunya sangat kelelahan sehingga tertidur saat menuju pulang. 

"Berhenti, Aku tidak mau Dian terbangun karena mendengar perdebatan kita. Lebih baik kita membahasnya di rumah bukan di depan anak-anak" tambah Bram dengan nada tegasnya. Kemudian membalikkan badan melihat ek arah depan berusaha meredakan emosinya.

" Hahaha. Kamu takut Rama akan tahu semuanya bukan?" Ujar Raisa dengan nada sinisnya. 

Bram mendongakkan bahunya dan menoleh ke belakang dengan cepat. Dirinya benar-benar muak dengan perdebatan seperti ini, apalagi di depan anak dan mantunya. 

"Apa maksudmu Raisa!" Ujar Bram dengan tidak suka. 

Rama yang melihat itu memberhentikan mobilnya ke arah samping dengan pelan. Ia tidak mau berhenti mendadak membuat wanita yang tertidur kelelahan itu terbangun. 

Suasana terasa hening, bingung apa yang dilakukan Rama tiba-tiba memberhentikan mobil. Rama menarik napas panjang dan menghembuskanya

"Tanpa Ibu katakan Aku sudah tahu bahwa aku berbeda. Sudah Ibu Bapak, kasihan Istri Mas Darma terbangun akan perdebatan ini. Cukup perdebatan ini, Aku tahu akan posisiku" ujar Rama menoleh ke arah Bapak dan Ibunya. 

Wajah tidak berekspresi Rama membuat Bram terdiam, dirinya tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia terkejut Rama tahu semua, apakah Raisa yang mengatakan ini semua? Bukankah mereka sudah berjanji untuk tidak boleh Rama maupun Darma tahu ini semua sampai mereka tua nanti? Batin Bram. 

Bram menoleh ke arah Raisa yang sama terkejutnya dengan dirinya. Wanita itu menatap Rama dengan keresahan. Melihat wajah Bram yang menatapnya meminta penjelasan membuat Raisa kebingungan. 

"Bukan Ibu yang mengatakannya. Tidak perlu bereaksi seperti itu" ujar Rama menatap ke arah sang Bapak. 

Ia kembali membalikkan badanya melihat ke arah ke depan. Ia menghela napas panjang dan menghempasnya dengan pelan, menutup mata sejenak dan membukanya. 

Fakta yang selama ini Ia pendam. Fakta yang membuat dirinya mendapatkan perbedaan, fakta yang membuat dirinya harus lari menahan kesakitan. 

Rama membuka matanya kemudian menjalankan kembali mobil yang Ia kendarai menuju arah rumah. Hari ini membuat dirinya benar-benar diambang lumpuh dengan kejutan yang ada. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!