Hari ini adalah hari yang cerah dengan cuaca yang cukup baik. Dian mencoba berdamai walau hatinya tidak menerima sepenuhnya, terkadang Dian masih diam termenung dimalam hari di dalam kamar Mas Darma di rumah kedua orang tua suaminya itu.
Dian benar-benar bersyukur Ibu dan Bapak mertuanya sangat peduli dan sayang kepada dirinya. Bahkan mereka berdua tidak menerima Dian untuk pergi ke rumah lamanya takut akan wanita itu kembali sedih sendirian.
"Rama, makan dulu"
Dian yang sedari tadi menunduk menatap makanan di piringnya sontak mendongakkan kepala saat mendengar suara Bapak mengajak seseorang untuk makan. Dian menoleh melihat ke arah orang tersebut yang mana Dia adalah pria yang sama ditunjuk Mas Darma dan pria yang membawa mobil saat balik di pemakaman. Pria itu baru saja bersiap dengan pakaian rapinya, turun dari tangga.
Dian tersentak pelan saat matanya bersitatap dengan mata coklat terang milik pria itu. Matanya mirip dengan mata Mas Darma, yang membedakanya adalah Mas Darma memiliki bola mata warna hitam pekat sedangkan pria itu memiliki warna mata coklat yang penuh akan teka-teki.
"Baik pak," ujar pria yang bernama Rama itu.
Dian tersentak pelan saat Ibu mertuanya membanting sendok dengan pelan. Wajah Ibu seperti tidak senang saat pria bernama Rama itu duduk di samping Bapak mengambil nasi dan lauk untuk dimakan.
Dian merasa dejavu dengan posisi seperti ini, dirinya ingat bagaimana dulu saat hubungan dirinya dengan Mas Darma dalam masa pdkt Ia sering berkunjung ke rumah ini dan makan bersama dengan Ibu dan Bapak di meja makan ini. Dahulu tawa ria di meja ini dapat terdengar saat Ibu dan Mas Darma melakukan interaksi lelucon konyol bercanda yang membuat tertawa namun sekarang hanya suara dentingan sendok dan garpu yang menemani.
Terasa canggung bagi dirinya
"Dian untuk sementara tinggal di sini dulu ya temani Ibu," seru Raisa menghadap ke Dian dengan senyum penuh pintanya.
Dian tersenyum tipis, dirinya sebenarnya tidak enak untuk berlama-lama tinggal di rumah mertuanya dalam waktu yang lama. Ia segan, Mas Darma sudah tak ada dan juga dirinya sedikit canggung dengan pria bernama Rama itu.
Dian menoleh dengan patah saat mendongakkan kepala ke depan. Ia melihat pria yang bernama Rama itu masih sibuk dengan makananya dan semenit kemudian mendongakkan kepalanya membuat tatapan mereka bertemu kembali, dengan cepat Dian menoleh pandanganya ke arah samping tepat ke arah sang Ibu mertua.
Bapak melihat rasa canggung Dian saat menatap Rama. Dirinya juga tahu akan wasiat yang diberikan oleh Darma saat sebelum anaknya meninggal.
Apa sudah saatnya dirinya membahas ini semua? Sudah satu minggu berlalu.
"Dian," panggil Bram kepada Dian.
Dian mendongakkan kepalanya melihat ke arah sang Bapak mertua yang menatapnya dengan pandanganya yang teduh.
"Iya pak" jawab Dian kepada Bapak mertuanya.
Bram terdiam sejenak memikirkan semuanya, dirinya hanya menyampaikan amanat saja. Ia menoleh ke arah Rama yang sedang sibuk dengan makananya kembali sedangkan Raisa juga ikut menatap dirinya.
"Bapak hanya ingin menyampaikan sebuah pesan dari Darma sebelum Ia meninggal. Sudah satu minggu Bapak menyimpan ini semua dan rasanya ini menjadi beban buat Bapak-"
"Dian, kamu tahu bukan Darma sangat cinta sekali kepadamu? Bahkan dirinya rela menjadi penerus perusahaan agar bisa menikah cepat denganmu. Bahkan tanpa Dian sadari, Darma sudah memindahkan nama rumah dan aset lainya atas nama Dian, Ia juga selalu curhat bahwa Ia sangat cinta sekali kepada Dian-" lanjut Bram dengan suara seraknya. Ia berusaha menahan tangis mengingat terakhir kali Bram datang keruanganya dan cerita kepada dirinya.
Pria itu seakan-akan sudah sangat tahu bahwa waktunya tidak akan lama dan ajalnya sudah mendekat. Ia meninggalkan surat untuk Dian yang dibuka ketika dirinya sudah tidak ada. Bram juga bingung bagaimana Darma sudah menyiapkan ini semua? Apakah ini sebuah perencanaan atau melainkan sebuah firasat yang benar? Batin Bram.
"Ia meinggalkan surat kepada Bapak, surat itu Ia minta buka saat sudah waktunya. Bapak suda membuka surat itu sesuai permintaan Bram, Ia menuliskan surat untuk Ibu dan Dian," lanjut Bram yang sontak membuat Raisa mendongakkan kepala saat mendengar anak kesayanganya membuat surat.
"Termasuk juga dengan Rama. Satu surat yang Darma minta buka oleh Bapak berisi wasiat semua surat aset bernama Dian dan juga-- Darma meminta Dian untuk ikhlas melepaskannya. Ia melepaskan Dian dan meminta Dian untuk turun ranjang atau menikah dengan Rama. Karena Darma percaya Rama bisa menjaga Dian dan membuat Dian bahagia," ujar Bram dengan suara paraunya. Air matanya seketika jatuh saat mengatakan amanat itu semua.
Trang
"Maksud Bapak apa? Dian itu cinta Darma bukan Rama. Ibu tidak percaya apa yang dikatakan Bapak, pasti ini semua rekayasa Bapak saja bukan supaya Rama menikah dengan cepat!! Karena tidak ada yang mau Rama karena dia anak --"
"Stop Raisa!! Cukup! Aku tidak pernah merekayasa ini semua. Satu lagi berhenti menghina Rama bagaimanapun, bukankah kita sudah sepakat bersama? Jangan pernah menghina Rama." Geram Bram kepada Raisa dengan wajah berangnya.
Dian tersentak, dirinya terkejut melihat untuk pertama kalinya Bram terlihat marah seperti itu apalagi kepada Ibuk. Bagi Dian, bapak dan ibu adalah sepasang suami istri yang harmonis.
"Ini suratnya! Cukup Raisa, Rama tidak pernah bersalah apapun," ujar Bram dengan nada mohonya.
Bram memberikan satu persatu surat yang diberikan Darma. Pada sampul amplop tersebut bertuliskan nama untuk diberikan surat ini.
"Aku tidak percaya apa yang Kamu katakan. Tidak mungkin Darma memberikan Dian kepada Rama. Kalaupun terjadi, Aku tidak setuju! Aku tidak mau Dian bersama anak pembawa sial" ujar Raisa dengan memburu.
Dian tersentak pelan saat Raisa menunjuk marah ke arah pria yang bernama Rama itu. Pria itu tampak tenang bahkan dengan sabar mengambil surat yang diberikan Bapak dengan wajah tenangnya. Ia seolah tidak terusik bahkan sakit hati saat Ibu tampak marah kepada pria itu.
"Raisa?!" geram Bram menahan amarah, dirinya masih sabar saat masih mengingat ada Dian di sini termasuk juga Rama di sampingnya.
Rama walau terkesan diam tapi dirinya tahu anak itu sangat rapuh selama ini. Ia anak yang tidak pernah menuntut banyak dan selalu sabar.
Rama merapikan makananya yang sudah habis, Ia berdiri dari kursi sontak membuat semua orang mengalihkan pandanganya menuju suara tersebut.
Rama berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tasnya kemudian merapikan kursi masuk ke dalam meja seperti sebelumnya. Ia tidak peduli dengan tatapan yang mengarahnya, pria itu terlalu fokus.
"Rama harus pergi ke kampus dulu. Sudah cukup perdebatanya kasihan Istri Mas Darma yang tidak tahu apa-apa. Terimakasih Buk masakannya dan juga kata-katanya-" ujar Rama dengan raut yang tenang dan santai.
Pria itu tersenyum tipis ke arah Raisa dan menunduk pelan mengatakan "Rama izin pamit dulu" ujar Rama sebelum pergi keluar dari rumah.
Semua fokus melihat punggung Rama yang perlahan menghilang dibalik pintu.
"Kamu keterlaluan Raisa!" ujar Bram dengan wajah geramnya. Ia kemudian pergi meninggalkan meja makan dengan wajah tidak senang meninggalkan Dian dan Raisa yang menunduk memegang surat Darma yang belum dibuka.
Melihat Raisa yang sedih membuat Dian menatap Raisa dengan iba, Ia tidak tahu permasalahan di keluarga ini. Selama ini Ia tidak pernah dihadapkan dengan situasi seperti ini. Semenjak pria bernama Rama yang merupakan adik Mas Darma datang membuat dirinya bingung.
Ia tahu Mas Darma memiliki adik laki-laki yang berusia berbeda terpaut tiga tahun dengan Mas Darma. Mas Darma juga mengatakan bahwa adiknya sedang menampuh studi di luar negeri dan juga luar kota. Ia jarang pulang bahkan saat pernikahanya dengan Mas Darma pria itu datang namun hanya dua jam karena Ia harus kembali ke asrama dengan segera.
Ia tidak terlalu memperhatikan Rama bagaimana. Dian terlalu fokus pada kesenangan pernikahannya pada saat itu. Ia menunduk pelan, menggenggam surat yang diberikan oleh Bapak kepada dirinya, surat ini akan Ia baca pada malam hari nanti. Ia butuh waktu mempersiapkanya.
Kenapa semua terasa berat? Mas Darma, Dian butuh sandaran Mas, Batin Dian sembari memejamkan mata dengan pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Dwi Winarni Wina
hadiiir dan nyimak thor ceritanya sangat bagus dan saya sangat suka...
2024-04-17
0
Aki
Aku udah rekomendasiin cerita ini ke temen-temen aku. Must read banget!👌🏼
2024-02-09
0