Pandanganya lurus ke depan melihat tanaman bunga yang banyak di taman belakang rumah. Di sinilah Dirinya biasa duduk merenungkan diri, menenangkan pikiran dari ributnya dunia.
Bunga-bunga di sini adalah kesayangan yang telah Ia tanam sedari lama. Menyiram dan merawatnya agar tetap tumbuh dengan subur nan cantik, melihat bunga bertumbuh indah membuat dirinya bangga seolah telah membesarkan anaknya sendiri.
"Rama!"
Rama menolehkan kepalanya ke samping ke sumber suara yang telah memanggil namanya. Ia melihat pria paruh baya yang berjalan mendekatinya. Rama tidak berkutik, dirinya masih duduk di kursi taman itu dengan secangkir susu panas miliknya.
"Rama," ulang pria itu memanggil namanya.
Rama tersentak pelan, ketika pria itu duduk di samping dirinya. Sudah lama Ia sendiri, duduk di taman belakang ini yang hanya ditemani secangkir susu panasnya. Biasanya tidak ada seorangpun ingin ke taman belakang rumah karena menurut mereka taman belakang adalah tempat yang jelek dan tempat jelek inilah yang menjadi tempat favoritnya.
“Bapak?” Rama melihat dengan wajah bingungnya ke arah Bapak yang duduk di sampingnya.
Bram tersenyum tipis melihat kebingungan Rama yang melihat ke arah dirinya, hatinya merasa sesak melihat Rama yang juga membalas senyumnya. Kenapa dunia sangat tebal hati kepada anak bungsunya, senyuman yang ditampilkannya seolah senyum palsu yang terasa lirih di matanya.
“Ada apa Bapak cari Rama?” tanya Rama dengan lembut kepada Bram
Bram menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Rama. Dirinya ingin Rama juga merasakan bahagia namun dunia terasa berat hati kepada anak bungsunya satu itu.
"Tidak, Bapak hanya bosan dan ngeliat kamu duduk di sini jadi bikin Bapak juga ke sini. Di sini adem ya," ujar Bram dengan wajah senangnya.
Bram tidak menyangka semak belukar di belakang rumah telah berganti menjadi taman bunga yang indah. Taman bunga ini telah di rawat oleh Rama semenjak pria itu masuk sekolah menengah pertama. Tempat ini tempat dimana Rama suka sendiri untuk menenangkan diri.
Pernah suatu hari Rama hilang entah kemana, hari sudah semakin malam sedangkan Rama juga belum pulang. Memang pada hari itu terjadi pertengkaran antara dirinya dan Raisa, pertengkaran yang membahas tentang Rama.
Rama yang baru saja pulang sekolah mendengar pertengkaran antara dirinya dan Raisa yang membahas dirinya sontak merasa sedih. Rama butuh menenangkan diri dan berlari hingga Ia sampai pada taman belakang. Semak belukar yang terasa sejuk mampu membuat Rama tenang hingga sampai akhir Ia memilih merawat taman belakang ini dan membersihkan rumput liar yang panjang menggantinya dengan bunga-bunga yang indah.
"Oh iya Rama. Bapak sudah mendengar jawaban dari Dian," sambung Bram dengan seksama kepada Rama.
Rama mendengar perkataan Bapak sontak langsung menolehkan kepalanya dengan spontan ke arah sang Bapak. Jawaban apa? Dirinya sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud oleh Bapak.
Melihat wajah kebingungan Rama membuat Bram terkejut, dirinya kira Dian sudah mengatakan kepada Rama namun melihat wajah terkejut Rama membuat Bram yakin pasti Dian belum mengatakannya.
"Jadi Dian belum mengatakannya kepadamu?" Tanya Bram kepada Rama yang langsung mendapatkan anggukan dari pria itu.
"Emang Mbak Dian bicara apa ke Bapak?" Tanya Rama dengan wajah bingungnya. Apa ini berhubungan dengan surat wasiat Mas Darma? Dirinya sontak langsung meraih handphone di sakunya dan menghidupkan layar kaca yang menampilkan tanggal dan bulan.
Rama memejamkan matanya sejenak, ternyata sudah satu minggu masa Iddah Mbak Dian. Dirinya terlalu fokus dengan pekerjaannya berusaha menyibukkan diri agar tidak terlalu memikirkan semua yang terjadi hingga melupakan janji dirinya kepada Mbak Dian untuk menagih jawaban atas wasiat itu.
Helaan nafas berat terdengar dari Rama. Dirinya tidak berharap banyak dengan wasiat itu, Ia tahu Mbak Dian sangat mencintai Mas Darma dan pasti sangat sulit untuk menjalankan rumah tangga dengan pria yang tidak dicintainya.
" Ia menerima Kamu sebagai suaminya dan katanya Ia akan membicarakannya kepada kamu nanti. Maaf Bapak jadi yang pertama mengatakan, Bapak kira Dian sudah mengatakanya kepadamu," ucap Bram kepada Rama yang tampak terkejut mendengar perkataannya.
Dirinya sontak melihat kembali ke arah handphone yang menampilkan panggilan tidak terjawab di icon layar layar kunci. Dengan cepat Rama membuka layar kunci dan melihat ke notif atas yang menampilkan panggilan tak terjawab dari Mbak Dian sebanyak dua kali.
Ia mendongakkan kepalanya melihat ke arah Bapak yang menatapnya dengan bingung.
"Kapan Mbak Dian bicara ke Bapak?"
"Tadi siang Dian ke sini tadi, Ia datang mau ketemu Ibuk sekalian mau ketemu kamu cuman kamunya ga ada dari tadi di cari. Mangkanya Dian memilih bicara menyampaikan kepada Bapak dan Ibuk sekalian minta pendapat atau Izin," ujar Bram dengan pelan kepada Rama yang masih dengan wajah terkejutnya.
Rama terdiam sejenak, dirinya tertegun mendengar perkataan Bapak. Bagaimana bisa Mbak Dian mau menerima dirinya dan berani langsung berbicara kepada Bapak dan Ibu sedangkan dirinya perlu memikirkan dua kali kepada Ibu
dengan muka cemasnya Rama menatap sang Bapak.
"Apa Ibu setuju?" Tanya Rama dengan hati-hati.
Bram terdiam mendengar perkataan Rama. Dirinya dapat melihat kecemasan yang di pancarkan oleh Rama apalagi disaat di meja makan pada waktu itu juga dasar membuat putra bungsunya menjadi cemas akan restu istrinya.
"Ibumu sepertinya masih belum bisa menerima, apalagi Dian adalah pasangannya Mas-mu dahulu. Tapi tak apa, seiring berjalanya waktu pasti Ibu akan menerimanya," ujar Bram berusaha menenangkan Rama yang terlihat cemas.
Rama menganggukan kepalanya mendengar perkataan sang Bapak. Dirinya paham apa yang dikatakan oleh Bapak sebenarnya, Ia juga tidak masalah Ibu marah kepada dirinya atau bagaimana.
Namun yang menjadi pikiranya adalah dirinya takut- takut bahwa Ibu akan membenci Mbak Dian karena bersama dirinya. Mbak Dian pasti akan merasa kehilangan kasih sayang dari Ibu nantinya.
Dirinya berharap Ibu tidak membenci Mbak Dian karena bersama dengan dirinya. Setidaknya biarlah Ia saja yang menerima itu semua asal kasih sayang Ibu masih tetap sama ke Mbak Dian.
"Rama"
"Rama?"
Rama terkejut merasakan tepukan di bahunya. Ia mendongakkan kepala melihat Bapak yang menatapnya dengan wajah khawatirnya.
"Bapak, bikin Rama kaget aja" ujar Rama kepada Bapak
Bram tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Ia dapat melihat kecemasan yang ditampilkan oleh Rama. Jika saja dirinya tidak berbuat salah maka Rama pasti tidak akan menerima semua akibatnya. Rama adalah anak baik dan selalu bersikap sopan tidak ingin menyakiti siapapun
"Kamu jangan khawatir. Bapak akan berusaha keras untuk membujuk ibuk dan kamu juga harus bahagia. Maafkan Bapak membuat kamu menjadi sengsara seperti ini" ujar Bram kepada Rama dengan wajah bersalahnya.
Rama menggelengkan kepalanya, memegang bahu sang Bapak dengan pelan. Dirinya tersenyum tipis dengan tulus dan berkata, "Aku sama sekali tidak merasa sengsara. Bapak jangan menunduk seperti itu, Rama baik-baik saja. Bapak doakan saja semoga semua berjalan baik-baik saja"
Sepertinya dirinya harus menemui Mbak Dian untuk menanyakan langsung kepada wanita tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments