Satria ikut tersenyum ketika melihat istrinya itu sangat fokus merapikan dasi yang melingkar dilehernya.
"Mas... Apa aku salah kalau aku yang menggoda mas duluan?" Tanyanya lagi.
Satria mengernyit, "hm? Tentu saja nggak salah... Kenapa kamu bertanya soal itu?"
"Nggakpapa sih mas! Cuman nanya aja!" Balasnya canggung.
Menurutnya, kalau suami tidak bertindak lebih dulu, kenapa bukan istri saja yang melakukannya? Sudah suami istri kenapa harus di tahan-tahan?... Rugi dong!
"Ehm... Mas!"
"Iya... Ada apa lagi May?"
"Kalau mas ingin melakukannya, aku selalu siap kok! Mas nggak usah menahan diri... Karena aku itu istrimu mas! Aku akan melayani mas Satria semampuku!"
Satria tercengang, tanpa sadar dirinya tertegun, tapi setelah tersadar ia segera menjaga jarak darinya.
"May! Nanti kita bahas lagi yahh... Aku harus ke kantor sekarang!" Katanya.
"Ohhiya mas! Maaf aku lupa!"
Mereka berdua pun keluar dari kamar bersamaan, Satria menghampiri mereka untuk pamit kemudian berjalan cepat menuju pintu utama.
"Nyonya... Bekalnya!" Ucap bi Risma memangingatkan.
Barulah ia teringat kalau dia sudah menyiapkan bekal untuk suaminya.
"Ya ampun hampir lupa!"
Dia kemudian lari terbirit-birit sambil membawa rantang bekal tersebut sebelum Satria benar-benar pergi.
Untunh saja Satria baru menyalakan mesin mobilnya.
"Mas... Mas... Tunggu mas! Hufhhh... "Panggil Mayang dengan nafas memburu.
"May... Kamu kenapa lari?"
"Ini... Aku udah buatin mas bekal buat mas bawa kekantor!" Katanya sembari menyodorkan rantang tersebut.
"Kenapa Repot-repot sih May?"
"Nggak repot kok mas!"
Satria menerima tersebut, lagi-lagi Mayang tersenyum bahagia.
"Ya udah makasih yahh... Aku berangkat dulu! Jangain anak-anak juga!"
Mobil Satria mulai melaju kearah gerbang utama, Mayang melambaikan tangan kearahnya sampai mobil Satria benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Hah... Syukur deh... Mas Satria nggak nolak bekal dari aku!" Gumamnya kegirangan.
Mayang kembali masuk kedalam rumah dan mendapati mama mertuanya tengah duduk dengan kaki menyilang disofa ruang tamu.
"Lohh ternyata mama udah bangun?!"
"Hm... Kamu kasih apa ke Satria?" Tanya mertuanya balik.
"Ohh itu mah! Tadi aku siapin bekal buat mas Satria, biar dia bisa sarapan di kantornya!"
"Kenapa harus repot-repot? Asal kamu tau yah... Seumur hidup Satria itu nggak pernah mau bawa bekal, jadi mungkin aja dia bakalan buang bekal dari kamu!" Ungkapnya.
Seketika Mayang menciut, ekspresinya berubah datar, "nggakpapa mahh! Yang penting mas Satria bawa bekalnya, itu udah buat Mayang seneng kok!"
"Kamu nggak marah?"
"Kenapa harus marah mah? Semua orang punya haknya masing-masing, seperti mas Satria... Kalau dia benar-benar nggak suka sama bekal buatanku ya itu hak dia buat apain aja itu bekalnya! Mau dia buang atau kasih keorang juga itu haknya kan mah!" Tuturnya.
Mama mertuanya tak bisa berkutik lagi, Mayang sekilas tersenyum lalu berkata, "aku kebelakang dulu ya mah!"
Mayang berjalan pergi dengan lesu ia mulai membayangkan kalau Satria akan membuang bekal pemberiannya.
Sementara di tengah perjalanan menuju kantornya, Satria menatap rantang bekal yang ada dikursi sampingnya.
Berkali-kali ia menghela nafas, "dari dulu aku malu buat bawa bekal... Tapi sekarang... Duhh gimana ini? Apa kubuang aja? Tapi kalau pas pulang nanti Mayang tanya gimana? Ahh sial.... " Gerutunya kesal.
Alhasil saat tiba di kantor, Satria meninggalkan bekal tersebut didalam mobilnya, dia benar-benar malu untuk membawa bekal itu. Akan tetapi ia gelisah ketika duduk dikursi kerjanya, bukan karena pekerjaan tapi karena bekal dari Mayang yang ia tinggalkan.
Tok... Tok... Tok....
Pintu ruangannya diketuk, datanglah seorang pria dengan begitu gagah berjalan menghampiri Satria, "pak... Ini berkas dari perusahaan X yang ingin berinvestasi keperusahaan kita!" Kata pria itu yang ternyata adalah Soni, sekretarisnya.
Satria membalas dengan sebuah anggukan membuat Soni heran melihat bos yang biasanya angkuh itu kini tampak begitu tidak fokus.
"Apa bos sakit?"
Satria berdecih, "siapa yang sakit? Kamu kali yang sakit!" Ketusnya.
"Terus boss kenapa?"
"Nggakpapa, mana berkasnya? Aku mau lihat, ohhiya... Ada sesuatu di mobilku tapi aku sangat sibuk sekarang!"
Soni meletakkan berkasnya tepat didepan Satria, "Apa itu bos? Biar saya yang ambil!"
Satria melemparkan kunci mobil padanya, tanpa basa-basi lagi Soni pergi menuju parkiran, disana ia hanya mendapati sebuah kotak makan dimobil bossnya itu.
"Apa ini yang boss maksud? Masa sih? Warnanya juga pink... Nggak biasanya bos bawa bekal!" Gumam Soni terheran-heran.
Ia membawa bekal itu menuju ruangan Satria, tak peduli sorot mata karyawan lain melihatnya, Soni tetap berjalan dengan santai.
Ia langsung meletakkan kotak bekal itu dihadapan Satria, "Apa ini yang bos maksud?" Katanya pada Satria yang sedang memejamkan matanya sebentar.
"Hmm.... "
"Dari istri baru boss ya?"
"Hmm... Keluarlahh dan berhentilah jadi orang kepo!" Katanya.
Soni mendesah kemudian keluar dari ruangan itu.
Satria membuka mata dan kembali memperhatikan kotak makan tersebut dengan muka datar. ia mengecap mulai ragu menyentuhnya.
Dert... Dert... Dert....
Panggilan Video masuk dari Mayang, Satria bingung kenapa istrinya itu tiba-tiba mau video call an dengannya.
Satria menerima, namun sebelum itu ia bercermin siapatau ada sesuatu yang bisa merusak wajahnya yang rupawan.
"Haloo mas!"
Dengan tersenyum Satria membalas sapaan Mayang, "Iya... Kenapa sayang?"
"Kamu udah makan?"
"Ehm belum!"
"Lohh kenapa? Kamu nggak suka sama bekal yang aku buat ya?"
"Enggak kok! Ini bekalnya udah mau aku buka!"
Ia bergegas membuka kotak makan itu dengan menggunakan kamera belakang, Satria mempertontonkan semua itu pada Mayang.
"Nihh lihat... Aku baru buka bekalnya! Kamu vc cuman mau tanya aku makan bekalnya atau enggak?"
"Iya mas! Takutnya mas nggak suka!"
"Ya enggaklah, masa aku nggak suka masakan istri sendiri sih!" Katanya dengan manis.
"Ya udah... kalau gitu, mas makan sekarang! Aku mau lihat!"
"Ehh sebenarnya aku mau simpan buat makan siang May.... Tapi karena kamu mau lihat aku makan! Okelah... Aku makan sekarang!"
Satria melakukannya sesuai keinginan Mayang dia bahkan terlihat lahap memakannya.
"Gimana mas, Enak nggak?"
Ia hanya mengangguk, "Pelan-pelan aja makannya mas!" Lirih Mayang terlihat bahagia dari pantulan video call an itu.
Tok.... Tok... Tok....
Soni mengetuk pintu lagi, dia hendak membuka pintu, tetapi Satria mengangkat tangan menberinya kode untuk tidak masuk dulu.
"May udah dulu yahh... Aku lagi banyak pekerjaan sekarang!" Katanya tanpa basa basi lagi langsung mengakhiri panggilan tersebut.
Pada saat Soni masuk, dia membisikkan sesuatu di kuping Satria, sepertinya itu sangat privasi.
Tapi kemudian matanya teralihkan pada bekal dihadapan Satria, Soni tertegun.
"Kelihatannya enak! Kenapa boss nggak habisin?"
Satria meliriknya dengan sinis, "kamu saja yang habiskan!" Katanya.
"Bos serius?"
"Iya makan saja!"
Soni dengan gerakan cepat mengambil bekal itu dan langsung memakannya. Beberapa kali Satria meneguk air liurnya, jujur saja dia tidak ikhlas memberikan makanan itu pada Soni, tapi karena gengsi dan malu akhirnya ia terpaksa melakukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments