Sepasang pengantin baru itu kini duduk bersebelahan di tepi ranjang, suasana sepi diiringi rasa canggung yang rasanya tak nyaman.
"Ehm... Ehm... Apa pak Satria butuh handuk?"
Tanya Mayang mencoba membuka pembicaraan.
"Handuk? Untuk apa?"
"Bukannya pak Satria mau mandi dulu ya?"
"Kalau udah mandi, terus kita mau ngapain?"
Timpal Satria membuat Mayang tercengang, "Ehmm... Nggak tau!" Fikirannya berkata lain, dia sampai berfikiran kotor soal itu.
"Hehe... " Satria kembali tertawa, "Kenapa pak Satria ketawa? Apa ada yang lucu?" Mayang bertanya dengan wajah polosnya. "Enggak kok! Ohh iya jangan panggil pak Satria dong! Kan kita udah sah jadi suami istri, kalau panggil pak! Rasanya nggak enak di dengar! Ehm... Gimana kalau kamu panggilnya Mas aja! Atau enggak... Kamu bisa panggil sayang kan lebih enak didengarnya!" Tutur Satria.
"I... Iya, mas!" Ucap Mayang dengan kaku.
"Coba panggil sayangnya gimana?"
"Ii... Iya sayang.... " Kata Mayang lagi, dia seketika memalingkan wajahnya setelah mengatakan itu.
"Ehh.. Kenapa?"
Satria heran, lantas ia memegangi pipi Mayang, kedua pipinya benar-benar memerah dan sedikit panas, "Pufhh... Kamu malu ya?"
Mayang menggeleng kuat, "Enggak kok mas!"
"Masa sih? Kalau gitu coba lihat kemari, aku mau lihat wajah kamu!" Kata Satria.
Mayang menoleh, "Lohh kok merem? Buka matamu terus tatap aku!" Pinta Satria yang kemudian di turuti olehnya.
Seketika Mayang membuka matanya lebar-lebar hingga Satria sedikit terkejut karena Mayang yang melotot.
Tapi kemudian Rambut Mayang di elus lagi, "kalau didepan aku nggak usah malu sayang! Kita udah jadi suami istri, asal kamu tau aku jatuh cinta sama kamu itu karena kepolosan kamu, nggak ada yang lain!"
Rasanya mayang ingin meneteskan air mata setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Satria.
"Itu mas! Sebenarnya aku itu nggak bisa tatap mata orang kalau lagi bicara, kayak nggak bisa aja gitu!"
"Emang ada ya orang kayak gitu?"
"He'em... Aku!" Dengan begitu cepat Mayang menjawab.
"Pufh... Iya deh iya! Ehm... Gimana kalau sekarang kita mandi! Aku gerah banget ini!"
"Ha? Kita?" Mayang melongo tak paham.
"Iyaaaa.... "
Fikiran Mayang berubah kotor lagi, "Maksudnya mandi berdua gitu? Di dalam kamar mandi?? Ya ampun! Enggak-enggak aku belum siap!" Mayang serasa ingin menjerit dalam hati.
Melihat istirahat terdiam dengan menggelengkan kepala, Satria heran lantas bertanya, "Kenapa? Kamu nggak mau mandi? Emang kamu bisa tidur biar nggak mandi dulu?"
"Aku... Aku mauu kok mass!" Ucapnya dengan malu-malu, apapun yang suaminya minta ia sudah pasrah sekarang.
"Ya udah! Kamu mau mandi duluan atau aku.... "
"Ha?" Lagi-lagi Mayang tercengang, "maksudnya bukan mandi berdua ya mas?" Katanya ceplas-ceplos.
Satria tertawa terbahak-bahak, "Haha... Ya Ampun May, kamu ini ada-ada aja! Jadi dari tadi kamu kira kita mau mandi bareng? Emangnya kamu mau? Lagian aku emang butuh di sabunin sih! Yokk gasslah kalau gitu!" Kata Satria menggodanya.
Seketika Mayang berdiri tegap, "ehm... Mas duluan aja kalau gitu! Aku... Aku mau... Ehm... Mau minum!"
Dengan secepat kilat dia keluar dari kamar, bersandar sebentar dibalik pintu sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan.
"Aku kenapa sih? Kok aneh banget tiba-tiba mikirnya sampai kesana! Kan jadi malu... Nanti mas Satria mikirnya aku perempuan yang mes*m lagi! Arghh.... " Gumamnya.
"Nyonya?!" Bibi Ris datang, "nyonya kenapa?" Tanyanya.
"Aku nggakpapa kok bi... Bibi udah buat makan malam belum?" Timpal Mayang.
"Saya masih sementara masak nyonya!" Jawabnya.
"Ohh yaudah! Saya mau bantu bibi!"
Mayang bergegas menuju dapur, langkahnya begitu cepat bahkan melampaui bi Risma.
Sampai di dapur, bi Risma menatap Mayang dengan tatapan ragu. "Emangnya nyonya bisa masak?"
Mayang tersenyum tipis, "Saya kalau di rumah udah kayak chef bi... Karena biasanya mama saya sakit jadi saya yg selalu masak!"
"Ohh mungkin gara-gara itu tuan suka sama nyonya!"
Mayang yang semula memotong sawi hijau seketika berhenti dan melirik bi Risma.
Menyadari tatapan itu Bi Risma langsung berkata, "Ma-maaf nyonya! Bukannya saya lancang, tapi jujur aja! Mantan istri tuan itu benar-benar nggak bisa masak! Taunya cuman belanja terus!"
Mayang terdiam, dia tak tau harus berkata apa lagi.
Tiba-tiba ia teringat tentang sesuatu, "ehm... Ohh iya bii... Katanya mas Satria punya anak tapi kok aku belum lihat ya? Apa anak mas Satria nggak tinggal disini?"
"Kalau soal itu.... "
"Bibi... Bibi.... " Terdengar Satria memanggil Bi Risma.
"Iya tuan! Tunggu sebentar, " Sahut bi Risma, "Saya mau kesana dulu ya Nya! Nyonya bisa duduk aja, nggak usah di lanjutin biar nanti saya aja yang lanjutin!"
"Ihh nggakpapa bi... Bibi pergi aja!" Ucapnya.
Bi risma pergi kearah kamar utama, sekitar 10 menit barulah ia kembali dengan wajah yang sedikit pucat.
Mayang menyadari itu tapi dia enggan untuk bertanya, wajah bi Risma juga terlihat begitu gelisah.
"Ada apa mas Satria panggil bibi?" Tanya dengan berat hati karena terlanjur penasaran.
Bi Risma tampak mulai berfikir, "Itu... Tuan tadi suruh saya nanya kenyonya! Katanya nyonya suka makan apa? Biar menu makanan malam ini saya masaknya makanan kesukaan nyonya!"
Mendengar itu mayang malah salah tingkah, "aku orangnya nggak pilih-pilih makanan kok bi... Jadi apapun masakan bibi pasti aku makan!" Ucap Mayang sambil tersenyum semringah.
"Syukur deh! Tapi Nyonya... Sebenarnya saya nggak enak dibantuin masak sama nyonya! Harusnya nyonya duduk aja tungguin saya selesai masak!"
"Nggakpapa bi.. Lagian aku juga nggak punya kesibukan lain!"
Bi Risma tersenyum padanya, dia tampak begitu senang, "makasih Nyonya!"
Mayang yang tengah mengupas kentang, seketika teringat kembali soal pertanyaan tadi yang belum sempat bi Risma jawab.
"Bi... Bibi belum jawab pertanyaan aku tadi loh! Anak mas Satria di mana? Mereka tinggal sama mamanya ya?"
"Yang saya tau si kembar tinggal sama nyonya besar! Kalau anak sulung tuan saya juga kurangtau nya! Tapi kayaknya ikut sama mamanya!" Ucap Bi Risma sambil berbisik-bisik.
"Apa anak-anaknya nggak pernah balik kesini bi?" Tanya Mayang lebih lanjut.
"Kalau itu....
"Ehm... Ehm.... "
Seketika keduanya terlonjak kaget saat mendengar suara itu, mereka berdua berbalik dan melihat sosok Satria tengah memandang keduanya dengan serius di kursi meja makan.
"Ehh sejak kapan mas Satria ada disitu?" Tanya Mayang.
"Sejak tadi! Kalian aja yang serius banget sampai aku datang aja kalian nggak sadar! Ohh iya! Lagian bicarain apa? Jangan-jangan lagi bicarain aku ya?" Terka Satria.
"Enggak kok mas! Aku sama Bi Risma lagu bicarain soal makanan, iya kan bi?"
"Ii... Iya tuan!" Jawab bi Risma dengan gagap sambil menundukkan sedikit pandangan.
Bi Risma tampak begitu takut dengan kedatangan Satria, bahkan tangannya yang memegang pisau pun gemetar.
Lagi-lagi Mayang menyadarinya, dia segera mengambil pisau itu dari tangan bi Risma.
"Bi Risma masak nasi aja! Biar saya yang masak sayurnya!" Kata Mayang yang langsung di anggukan olehnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Milenial
aku kalau jadi mayang juga bakalan berfikiran aneh sih😌 namnya juga baru nikah ya kan pasti gugup banget itu si mayang🤣😀
2024-01-29
1
Yuliana Tunru
ceeita x bagus thor..krn agak beda biasa x sang suami yg arogan cuek judes ke istri baru ini lempeng dan ramah bgt bikin mayang nyaman deh..lanjuttt smoga byk pembqca x ya thor nanti bonus vote klo up x bykkk...
2024-01-28
1