Mayang yang seperti diinterogasi oleh mama mertuanya seketika merasa bimbang, dia takut jawabannya akan membuat mertuanya marah.
Matanya mengeliling mencoba berfikir keras.
Dert... Dert.... Dert...
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dengan tangan gemetar Mayang mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
Matanya melebar saat melihat nama suaminya terpampang jelas dilayar ponsel.
Ia melihat mertunya lebih dulu, "Mah... Mas Satria nelfon!" Katanya dengan sopan.
"Ya udah! Angkat aja!"
Mayang bergegas menerima panggilan itu sambil memalingkan sedikit wajahnya.
"Halo mas!" Ucap Mayang dengan nada berbisik.
"Mama udah sampai rumah belum?" balas Satria, Mayang sedikit kecewa mendengarnya dia fikir Satria sudah tau dari jauh-jauh hari sebelumnya namun dia tak diberi tau.
"Iya mas, mama udah datang, gimana meetingnya, Udah selesai?"
"Ini baru mau mulai!"
"Owh iya mas! Kabarin ya kalau mas udah mau pulang!"
Hanya itu, Satria bahkan tak menjelaskan darimana ia tau, Mayang kemudian melamun setelah panggilan berakhir.
"May... May!" Panggil mama mertuanya.
"Eh iya kenapa mah?"
"Ada apa? Satria bicara apa sama kamu?"
"Ohh mas Satria nanyain mama, jadi aku jawabnya kalau mama udah sampai!"
"Itu aja? Nggak ada niatan mau pulang dari kantor? Kan mamanya baru datang sama anak-anaknya masa dia nggak pulang dulu!"
"Dia ada meeting mah!"
"Ya tetap aja dong May! Kan dia bossnya harusnya dia bisa tunda dulu itu meetingnya!"
"Kalau itu aku juga nggak tau mah!"
"Hmph dasar! Bikin mama kesel aja!" Gerutunya.
Mayang tak tau harus berkata apa, melihat mertuanya tampak kesal dia juga semakin takut untuk bicara.
"Ohh iya May... Tadi kamu belum jawab pertanyaan mama loh.... "
"Ahh soal itu! Aku juga belum bisa jelasin gimana perasaan aku sama mas Satria mah! Sebelum menikah aku belum sempat mengenal mas Satria lebih dalam!"
"Apa? Jadi maksud kamu... Kamu nggak cinta sama anak mama? Terus ngapain nikah?"
"Bukannya nggak cinta mah! Mungkin aku yang butuh waktu... Karena aku belum banyak tau soal mas Satria!" Jawab Mayang.
"Tapi kamu udah tau kan kalau anak mama itu punya tiga orang anak!"
"Tau mah!"
"Tau dari mana?"
"Dari orangtua aku sama dari orang-orang juga!"
"Bukan dari Satria?" Timpal mertuanya.
Mayang menggeleng setelah berkata jujur, sepertinya mertuanya itu orangnya cerewet bisa di lihat dari cara bicaranya.
"Terus kenapa kamu menerima lamaran anak mama kalau udah tau dia udah punya banyak anak?"
Mayang menarik nafas dalam-dalam kemudian menjawab, "Awalnya aku juga nggak setuju mah, tapi aku yakin kalau itu udah takdir aku! Aku juga yakin kalau mas Satria itu orangnya baik, meskipun baru ketemu satu kali dan lihat aku yang hidupnya sederhana banget, tapi mas Satria tetap lamar aku!"
Mertuanya tampak terdiam mendengar perkataan Mayang.
Ehkmm...
Terdengar mama mertuanya tiba-tiba berdehem, dia beringsut dari sofa berjalan menjauh dari Mayang, namun langkahnya terhenti saat bi Risma datang.
Tampak pundak bi Risma ditekan lalu dibisikka sesuatu, Mayang penasaran apa yang mama mertuanya bicarakan dengan bi Risma.
Haaahh...
Mayang menghela nafas sambil menyenderkan badannya di sofa itu, dia melamun memikirkan cara mendekati ketiga anak tirinya.
"Shutt... Nyonya!" Bi Risma memanggil dari arah belakang, "Nyonya..... " Panggilnya sekali lagi.
"Iya... Ada apa bi?"
"Nyonya tau caranya bikin nasi goreng nggak? Katanya nona Viona sama si kembar belum makan!"
"Ohh iya tau kok! Biar saya aja bii!"
Ia bergegas sepertinya bi Risma tau apa yang difikirkan oleh Mayang.
Segeralah Mayang bergegas menuju dapur, menyiapkan semua bahan dan mulai membuat 3 porsi nasi goreng.
Setelah selesai, Mayang membawa 3 piring itu dalam satu nampan menuju kamar ketigaanak tirinya.
Mayang membuka pintu setelah di ketuk beberapa kali namun tak ada yang merespon, "Apa mereka tidur karena kecapean ya?"
Dengan perasaan was-was ia membukanya perlahan, tampak si kembar tertidur diatas kasur sementara Viona hanya terduduk dipinggir ranjang sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada.
"Haiii... Viona kenapa nggak tidur juga? atau Viona lapar ya? Ini tante bawain nasi goreng... Siapatau Viona suka nasi goreng buatan tante!" Ucap Mayang dengan sangat ramah
"Siapa bilang Viona lapar? Viona nggak lapar kok! Tante jangan sok tau!" Balas Viona acuh padanya.
Kruuuukk krukkkk
Tiba-tiba perut Viona berbunyi begitu keras, Mayang tertawa kecil mendengarnya. "Kenapa tante ketawa? Itu bukan perut Viona ya! Itu... Itu pasti perutnya Kevin atau Devin!"
"Ihh bukan perutku yang bunyi!" Salah satu dari si kembar terbangun dengan suara yang kecil itu membuat Mayang sedikit kaget sekaligus tertawa.
Sepertinya ketiga anak kecil itu mencoba mengerjai Mayang dengan acting kecilnya.
"Ehh bukannya Kevin tadi tidur ya? Kok bisa dengar pembicaraan tante? Kevin nguping ya?"
"Aku Devin tante... Bukan Kevin! Devin itu bukannya nguping... Suara tante aja yang keras!" Ucap bocah kecil itu.
"Ohh Devin yah! Maaf tante belum bisa bedain kalian, berarti yang tidur itu namanya Kevin? Oke... Lain kali tante nggak bakal salah sebut nama lagi! Ohhiya... Ini tante buatin nasi goreng!"
Kedua bocah itu saling memandang penuh arti, namun Mayang tau apa maksud tatapan mereka.
"Devin lapar nggak?" Tanya Mayang.
"Ehm... Devin lapar sih! Tapi... Tapi bukan perut Devin yang tadi bunyi.... "
Seketika Viona menatap sinis kearah adiknya.
Aww arghh huhuh...
Bukan hanya itu Viona mencubit betis adiknya hingga Devin menangis sesegukan.
"Ehh Viona kenapa cubit Devin? Itu sampai merah! Kan kasihan.... " Lirih Mayang langsung meletakkan nampan berisi 3 porsi nasi goreng itu keatas meja nakas disamping ranjang.
Dia lalu mengambil Devin langsung menggendongnya, "ush... Ushh... Jangan nangis dong! Anak ganteng itu nggak boleh nangis! Nanti gantengnya ilang lohh.... "
"Huwaaa... Sakit tante hikss... Kaka Viona jahat!" Keluh Devin menangis dengan sangat keras.
"Ihk... Berisik!!!" Kevin juga terbangun karena suara tangisan Devin yang keras.
Devin berhenti menangis setelah mendengar Kevin bicara, tetapi bocah kecil itu kini sesegukan dalam pelukan Mayang.
"Ushh ushhh... Udah... Viona, kamu nggak mau minta maaf sama adik kamu?" Ucap Mayang.
"Buat apa? Aku itu kakaknya jadi aku nggak mau minta maaf!"
Mayang menurunkan Devin dari gendongannya, ia lantas membuat Devin dan Viona saling berhadapan.
"Sayang... Mau itu kakak atau adik, ataupun anak pertama yang salah harusnya minta maaf oke... Sekarang ayo berjabak tangan!" Imbuhnya
Viona sama sekali tak peduli dengan ucapan Mayang, malah tangannya kembali menyilang didepan dada sambil membuang muka didepan adiknya.
Mayang menghela nafas menarik tangan Viona untuk berjabak tangan dengan adiknya. "Ihh nggak mau! Tante ini kenapa sih? Viona nggak mau berjabak tangan ahghh..... "
Ia menjerit, "Cuman berjabak tangan Aja Viona!" Bujuknya.
Viona tetap kekeh dan tak mau melakukannya.
Plakkk...
"Lepasin tangan kakakku!" Kevin memukul tangan Mayang hingga wanita itu terdiam.
Dia menatap ketiga bocah itu dihadapannya, "Apa seribet ini mengurus tiga anak kecil? Aku cuman berniat memberi mereka makan tapi ujung-ujungnya malah begini? Ahh aku menyerah! Aku nggak peduli mau mereka makan atau enggak!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments