BAB 16 : Jujurnya

Ketika mereka semua tengah menyantap hidangan makan malam diatas meja, Suasana terasa begitu mencekam tanpa ada yang mau membuka pembicaraan.

"Kakak, apa papa sama nenek masih marah sama tante Mayang?" Bisik Devin pada Kevin yang duduk bersebelahan.

"Nggak usah ngomong... Makan aja!" Jawabnya.

"Sat! Sepertinya mama harus kembali ke jepang! Bisnis mama disana katanya ada sedikit masalah makanya mama harus pergi besok lusa!" Ucap mama Satria.

"Ya udah! Kalau gitu biar Satria yang urus tiket pesawat mama!"

Mayang yang mendengar itu tak tau harus berkata apa, dia hanya bisa menyimak saja.

"Kalau nenek pergi, terus kita gimana?" Tanya Kevin.

"Kalian bakalan tinggal dirumah ini sayang... Sama papa kalian! Sama mama Mayang juga!" Katanya sembari menyebut nama menantunya itu dengan wajah judes.

"Terus nenek baliknya kapan?" Lanjut Viona.

"Ehm... Nanti nenek kabarin deh!"

Sepanjang mereka makan, Mayang tak pernah mengucapkan satu katapun, bukannya tak mau hanya saja dia seperti tak nyaman untuk membuka topik baru.

...***...

Mayang masuk lebih dulu kedalam kamar, dia duduk diatas kasur sambil menyenderkan badannya dikepala ranjang.

"Kapan mas Satria masuk? Apa dia lupa kalau aku mau bicara serius sama dia?" Ucapnya gelisah.

Rupanya Satria tengah berbicara berdua dengan mamanya di ruang tamu, pembicaraan mereka tampak begitu serius.

"Berarti kamu setuju nggak mau punya anak lagi?!" Kata mamanya.

Satria mengangguk, "kayaknya begitu sih mah! Apalagi Satria udah punya Viona, Kevin dan Devin!"

"Nah makanya itu mama bilang nggak usah nambah lagi! Kamu harus mikirin hal yang lebih penting dulu, biaya hidup sekarang itu sangat mahal loh Sat! Apalagi biaya pendidikan... Kamu pasti nggak mau kan mereka sekolah di sekolah yang biasa aja!"

"Itu udah pasti dong mah! Tapi sekarang aku ragu mah, ternyata Mayang orangnya ceroboh... Takutnya nanti dia bukannya melindungi anak-anak tapi malah menyakiti mereka!"

"Kamu sih yang bodoh pilih istri! Kalau udah kayak gini lahh gimana? Nasi udah jadi bubur!" Geram mamanya.

Satria terdiam, dia mengetuk pahanya dengan jari telunjuk seraya memikirkan semua ucapan mamanya.

"Apa aku bercerai aja ya mah?" Usul Satria.

"Jangan konyol! Kamu baru nikah beberapa hari masa udah mau cerai?"

"Terus gimana? Aku nggak mau punya istri yang ceroboh!"

Mamanya menghela nafas berat, "Haa... Mama malah penasaran sama alasan kamu menikahi Mayang! Padahal kamu udah gagal 1 kali loh Sat... Harusnya kamu udah bisa belajar dari pengalaman pertama kamu tapi kok malah gini...."

Wajah Satria seketika berubah suram, sepertinya dia sangat sensitif saat ada orang yang mengungkit masa lalunya.

"Ahh udah ah mah... Aku mau kekamar ada sesuatu yang mau aku bicarain sama Mayang juga!"

"Mau bicarain apa?"

"Soal sekolah anak-anak mah!"

"Ohh kirain mau bicarain apa!"

Satria lantas masuk kedalam kamar dengan santainya tanpa peduli kalau Mayang sudah sejak tadi menunggunya.

"Belum tidur?" Tanya Satria pada Mayang yang masih bersandar di kepala ranjang.

"Belum ngantuk mas! Mas darimana? Kok lama banget masuknya? Padahal aku udah nungguin mas dari tadi lohh.... "

"Ohh itu... Tadi mama manggil katanya mau cerita sama aku, jadi aku sama mama cerita dulu diruang tamu baru kemari!"

"Cerita apa mas?"

Beberapa detik Satria terdiam tanpa melihat mata Mayang ia berkata, "Nggak terlalu penting juga!"

"Nggak ada yang mas sembunyikan kan dari aku?"

"Nggak ada! Ohh iya, katanya ada yang mau kamu bicarakan, apa itu?"

Mayang menggenggam kuat jari tangannya, jujur saja dia takut, tapi mau tak mau ia harus mempertanyakannya sebelum hal itu membuatnya frustasi.

"Kapan kita pergi bulan madu mas?" Tanyanya dengan mata terpejam sambil tertunduk.

Alis kiri Satria terangkat seraya memandangnya, "jadi yang kamu mau bicarakan dari kemarin itu soal bulan madu?"

Mayang mengangguk cepat, "maaf mas! Bukannya lancang, tapi mas nggak pernah bahas soal bulan madu sama aku pada kita menikah udah beberapa hari yang lalu!" Ungkapnya berani.

"Maaf May... Aku belum sempat memikirkan itu semua, kamu tau kan kalau aku sangat sibuk dikantor?! Apalagi anak-anak tinggal sama kita! Kalau kita pergi berbulan madu, terus siapa yang mau mengurus mereka?"

Sungguh, Mayang kecewa mendengarnya walaupun ia tau apa yang dikatakan suaminya adalah fakta tapi tetap saja Mayang sangat sedih.

"Terus kapan kita bulan madunya mas?"

Satria tiba-tiba mendekatkan dirinya pada Mayang, ia membelai rambutnya dengan lembut sambil tersenyum lalu berkata, "apa kamu nggak bisa sabar lagi?"

Mayang bergidik, entah kenapa sikap Satria yang seperti itu malah membuatnya takut, ia memalingkan wajah, "bu-bukannya gitu mas!"

"Terus apa sayang?"

Mayang saat itu pula seketika lupa untuk berkata apa, lidah begitu keluh malah sekarang Satria mengurung Mayang dengan tangan kekar dan beruratnya dikepala ranjang.

Tatapan matanya menjadi intens, seperti orang yang dipenuhi nafsu.

Mayang bertambah takut padahal dia yang sangat ingin segera disentuh oleh suaminya.

"Mas! Itu... Aku.... "

"Apa kau ingin kita melakukannya sekarang?" Tanyanya int*m.

Mayang meneguk salivanya dengan susah payang, detak jantungnya sangat cepat, bahkan rasanya ia mulai sesak nafas mendengar perkataan Satria.

Ia mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga jarak antara keduanya hanya beberapa senti.

Satria memperhatikan bibir Mayang yang begitu ranum, ia sadar baru kali ini dirinya memperhatikan dengan seksama, rasanya ia segera ingin menggigitnya.

Mayang menahan nafas saat itu juga, tapi kemudian Satria bangkit membuat Mayang kecewa lagi.

"Kenapa mas?" Tanyanya terpelongo.

"Nggakpapa.... Ahh hampir lupa, yang ingin aku bicarakan sama kamu tempo hari itu!"

Sebenarnya Mayang tak ingin mendengarnya sama sekali, yang dia inginkan hanyalah nafkah batin saat ini.

"Apa itu mas?" Dengan wajah malas sekali lagi ia bertanya.

"Ini soal sekolahnya anak-anak! Aku mau kamu yang mengurus mereka?!"

"Bukannya mas nggak percaya sama aku gara-gara kejadian semalam?"

"Sayang... Apa kamu masih marah? Maaf... Aku tau sikapku udah keterlaluan makanya aku kasih kamu kesempatan kedua!"

Terkadang Mayang dibuat pusing dengan sikap Satria, ia adalah pria yang sulit untuk di tebak.

"Aku takut berbuat salah lagi mas?"

"Terus kamu nggak mau merawat mereka? Kamu kan udah jadi istri sekaligus ibu sambung mereka?!" Katanya.

"Aku tau mas!"

"Nahh terus gimana?"

"Ya udah dehh biar aku yang urus mas! Lagian aku nggak tau juga mau ngapain kalau di rumah terus!"

"Baguslah.... Aku mau keluar sebentar yah... Mau cari angin segar dulu... Kalau kamu udah ngantuk, kamu tidur duluan aja!"

Satria melangkah keluar, tapi dengan cepat Mayang berdiri memegang pergelangan tangannya.

"Tunggu mas!"

Satria bingung ada apa dengan istrinya itu.

"Apa ada lagi yang mau kamu bicarakan?"

"Jujur aja... Aku mau punya anak mas!" Katanya dengan tegas.

"Kan kamu udah punya Viona, Kevin dan Devin!"

"Iya aku tau! Tapi aku maunya punya anak dari

rahim aku sendiri mas!"

Mendengar itu Satria sontak terdiam, dia tak tau harus berkata apa padanya. Tidak mungkin juga dia berkata jujur kalau mamanya sudah berkata untuk berhenti menambah anak lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!