Mayang mencolek pinggang Satria, ia ingin menegurnya jangan sampai ia kecoplosan lagi dan meninggikan nada bicaranya.
Akhinya Viona mengalah dan masuk ke dalam mobil lalu disusul dengan kedua adiknya, Satria mulai kewelahan karena ulah ketiga anaknya.
"Ya ampun, kita belum berangkat aja tapi aku udah harus marah-marah begini didepan kamu!" Lirihnya pada Mayang.
"Sabar ya mas!"
Satria hanya melenguh panjang sambil membukakan pintu mobil dengan untuk Mayang, "Masuklah!" Ucapnya dengan lembut.
Setelah mereka semua masuk, Satria membunyikan klakson sebelum berangkat.
...***...
Dalam perjalanan itu, Satria tak bisa menghindari macetnya ibu kota, Mayang beberapa kali melirik kebelakang dan mendapati sikembar tengah tertidur, tapi lain halnya dengan Viona yang terlihat sesegukan sambil mengusap air matanya.
Mayang sangat paham soal itu, apalagi anak perempuan sangat sensitif jika dibentak oleh orangtuanya.
Melihat Viona yang menangis tanpa suara membuat Mayang teringat masa kecilnya, dikala itu ibunya Mayang pergi kepasar dan Mayang ingin di belikan boneka, namun sepulangnya dari pasar ibunya Mayang berkata, "enggak ada May! Penjual bonekanya nggak ada tadi dipasar! Mama udah keliling sampai 2 kali tapi nggak ada!"
Mayang sangat tak percaya oleh ucapan ibunya, dia segera berlari sambil menangis dan mengunci dirinya didalam kamar.
Tak hanya itu Mayang sampai berteriak kepada ibunya, "ibu udah nggak sayang lagi sama Mayang! Mayang mau mati aja!" Ancam Mayang kecil dikala itu.
Tak disangka bapaknya Mayang mendengar perkataannya dan seketika jadi murka, bapaknya Mayang langsung menggedor-gedor pintu hingga Mayang kecil membukanya.
Mayang di bentak habis-habisan oleh bapaknya hingga dia tak berdaya dan hanya bisa menangis tanpa suara didalam kamarnya.
Mengingat masa kecilnya itu, Mayang tertawa kecil sambil memalingkan wajahnya kearah kaca jendela mobil agar suami serta anak sambungnya tak melihat.
"Argh... Sial! Kita udah 20 menitan disini! Kok bisa macet banget sih?!" Keluh Satria.
"Sabar mas! Lagian tadi kita udah lewati satu Mall tapi mas maunya yang jauh! Terus sekarang malah ngeluh, padahal kan ini udah jam pulang kantor mas! Jadi wajar kalau macet!" Ucap Mayang mencoba menenangkan.
"Aku nggak tau bakal semacet ini sayang.... "
"Kita nggak tau didepan ada apa mas! Mungki aja ada kecelakaan makanya macet!"
"Iya juga sih!"
Mereka berdua terdiam, Satria yang kesal bebera kali membunyikan klakson, tapi tak menyadari jikalau putrinya tengah menangis sesegukan dibelakangny.
"Mas.... " Mayang memanggil.
"Kenapa?"
Dengan matanya Mayang memberi kode untuk melirik kebelakang, awalnya Satria tidak peka tapi setelah beberapa saat barulah ia menyadari sesuatu yang aneh apalagi ketika mendengar suara ingus yang diisap kembali.
Satria segera mengambil tissue memberikannya pada Mayang, "Kamu aja yang kasih!" Katanya.
"Kok aku sih mas? Mas aja!"
"Nggak bisa! Aku lagi nyetir sayang.... "
Bukan tanpa sebab ia tak mau memberikan tissue itu pada Viona, hanya saja rasanya tak enak jika dia yang melakukannya apalagi Viona menangis karena Satria memarahi anak gadisnya itu karena dirinya.
Mula-mula ia menghela nafas, memasang senyum canggung kemudian menyodorkan beberapa lembar tissue pada Viona.
Akan tetapi gadis kecil yang angkuh itu langsung menolak dan memalingkan wajahnya setelah memberikan tatapan sinis pada Mayang.
"Terima aja! Udah bagus loh kamu dikasi tissue... Nanti ingusmu merembet kemana-mana... " Ucap Satria.
Viona tetap pada pendiriannya, dia menolak tanpa mengucapkan apapun.
"Ambil aja Vii... " Bujuk Mayang sambil tetap tersenyum padanya.
Mayang sekali lagi tak di respon hingga ia kembali keposisi semula dan tertunduk dengan rasa kecewa.
"Kayaknya Viona makin benci sama aku! Apa aku seburuk itu buat jadi ibu sambung mereka?" fikir Mayang.
Satria menyadari itu, segera ia meraih tangan Mayang dan menggenggamnya, dia tau apa yang ada di fikiran Mayang sekarang.
...***...
Setibanya di pusat perbelanjaan, Sikembar dengan cepat menggandeng kedua tangan Satria membuat pria itu pada akhirnya tak bergandengan tangan dengan istrinya.
Viona dan Mayang berjalan beriringan di belakang mereka, Mayang yang baru pertama kali menginjakka kaki di Mall sesekali merasa takjub saat melihat sesuatu yang menurutnya mengesankan.
Pasalnya Mayang yang tinggal di perkampungan hanya tau pasar. Mayang sampai linglung dengan karena pusat perbelanjaannya sangat luas.
Mayang di bawa kesebuah toko yang menjadi langganan Satria dan keluarga, ia disuruh mencoba banyak sekali pakaian atas perintah Satria.
"Semua yang udah di coba, bungkus!!" Katanya dengan enteng hingga membuat mulut Mayang ternganga.
"Mas! Pakaian-pakaian tadi mahal-mahal semua loh... Ngapain buang-buang uang sih?" Bisiknya setelah berlari menghampiri Satria.
"Buang-buang uang gimana? Aku nggak suka ku pakai baju yang sama selama beberapa hari! Makanya aku beli semua yang cocok sama kamu! Uang itu memang untuk dihabiskan sayang... " Ucapnya dengan begitu sombong.
"Kita juga mau belanja pah!" Seru Kevin disamping papanya.
Satria melirik mereka bertiga yang duduk berdampingan, "Masing-masing ambil dua baju aja, nggak boleh lebih... Papa tau pakaian kalian masih banyak didalam lemari!"
"Ihh papa kok pelit? Tapi ke tan.. Umph... " Mulut Kevin di bungkam oleh Viona sebelum ia meneruskan ucapannya.
"Iya pah! Kita mau ambil baju 2 aja!" Ucap Viona ramah berbeda dengan sebelumnya yang sikapnya begitu dingin.
Akhirnya mereka bertiga antusias untuk berbelanja di toko tersebut, Viona memilih pakaian limited edition yang harganya sangat mahal sementara itu Mayang yang kini duduk disamping Satria merasa lelah hanya karena berbelanja.
"Ternyata menghabiskan banyak uang juga cukup melelahkan ya mas! Aku kira mencari uang aja yang bikin capek!"
"Hmm..." Jawab Satria singkat sambil memainkan ponselnya. Dia begitu sibuk sekarang, entah apa yang Satria ketika sampai-sampai Mayang bicarapun matanya tak terelakkan dari layar ponselnya.
Tiba-tiba Viona datang dengan mencengkram baju di bagian pinggangnya.
"Pah... Viona mau pipis!" Katanya dengan suara tertahan.
Mendengar itu, barulah Satria mendonggak dan menatap putrinya, "kamu masih ingat kan arah toilet dimana?"
"Tau kok! Tapi Viona takut kalau sendirian kesana!"
"Ohh yaudah... Kebetulan aku juga pipis, Ayo Vii... Kita ketoilet!" Ajak Mayang, dia sebenarnya hanya berpura-pura melakukannya.
"Aku nggak mau!" Tolaknya.
"Terus kamu mau pipis disini?"
"Aku maunya sama papa aja!"
"Vii... Itu mamamu juga mau ketoilet! Jadi sekalian aja kan?! Apalagi kalian sama-sama perempuan, masa iya papa harus masuk ke toilet wanita!" Kata Satria beralasan.
Viona akhirnya mengalah, kantong kemihnya juga terasa sangat sakit karena menahan pipis.
Ketika didalam toilet, Mayang hanya mencuci tangannya kemudian menunggu Viona selesai, dia terlihat begitu gugup sekarang.
Saat putri sambungnya itu keluar dengan ekspresi wajah cueknya, Mayang langsung berkata, "Vii... Tante mau bicara sama kamu boleh nggak?" Tanya Mayang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments