Satria malah menarik tangannya lalu menggenggamnya erat, dia menatap Mayang begitu dalam, "nanti aja ya sayang... kita urus dulu kebutuhan anak-anak!"
"Tapi aku juga mau merasakan yang namanya hamil, melahirkan, menyusui seperti ibu-ibu diluar sana mas!"
Satria mendonggakkan kepalanya sambil menghela nafas panjang, "sayang... Kamu tau kan, akhir-akhir ini aku banyak sekali pekerjaan... Itu saja buat aku langsung stress sampai rasanya aku nggak pernah bernafsu lagi... Maaf!"
"Kan mas bisa berusaha, ya... Salah satunya kita bulan madu mas! Quality time.... "
"Kalau kamu mau bulan madu, kamu bisa pergi sendiri... Nanti biar aku yang urus semua keperluan keberangkatan kamu!"
"Mas! Dimana-mana yang namanya bulan madu itu nggak pergi sendiri tapi berdua sama pasangannya!" Tegas Mayang yang mulai kesal.
Satria belum menyerah, dia sejujurnya menahan diri agar tidak keceplosan kalau dia sudah tidak ingin punya anak lagi.
"Kalau gitu nanti aja kita bahasnya! Urusan anak-anak lebih penting May!" Ucap Satria dengan mengelus punggung tangan istrinya.
Dia memberinya senyuman, membelai rambutnya sebelum keluar dari kamar tersebut.
Mayang menatap dirinya dari pantulan cermin dia kemudian teringat pada sahabatnya Fani.
Segera ia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas kasur, buru-buru mencari kontak Fani untuk menelfonnya.
"Halooo bestiee... Tumben nelfon? Ada apanih? Mau pamer yahh gimana jadi orang kaya?" Kata Fani setelah menerima panggilan tersebut.
"Enggak kok! gimana kabar kamu?" Jawab Mayang dengan santai.
"Baik! Kalau kamu gimana? Ohh iya... Gimana? Lancar nggak?"
Mayang langsung mengerti maksud Fani, namanya juga sahabatan pasti otaknya juga hampir sama isinya, "Nggak Fan... Gimana ini, kayaknya suami aku ada kelainan dehh!" Firasat Mayang.
"Kelainan gimana? Punyanya pendek banget atau panjang banget?" Balas Fani.
"Mau itu pendek, panjang... Aku nggak tau Fan... Lahh lihat aja belum.... " Kata Mayang dengan mimik sedih.
"Lohh kok gitu?"
"Mungkin gara-gara dia sibuk kerja terus kecapean makanya dia nggak nafsu lihat aku... Gimana dong Fan... " Keluh Mayang.
"Biasanya sih kalau laki-laki capek pasti butuh melampiaskan h*srat s*xnya tapi kok suami kamu beda sih May?"
"Makanya aku tanya ke kamu... Gimana caranya?"
"Ya... Mana aku tau May... Suami kita aja beda kok! Atau kamu kurang menggoda kali? Kamu udah berusaha nggak? Misalnya kamu pake baju dinas kek.... " Usulnya.
"Ha? Baju dinas? Baju yang buat kerja itu ya?" Tanya Mayang yang sama sekali tak tau soal itu.
"Bukan May... Baju dinas buat menggoda suami pas didalam kamar itulohh.... "
Mayang langsung paham.
"Aku nggak punya baju yang kayak gitu Fan.... "
"Kamu beli online aja... Banyak kok yang jual! Pilih yang paling seksi ya May!"
"Aku nggak tau apa-apa soal itu Fan... Tolong dong bantuin aku, belinya di toko mana? Atau ka?"
"Ya udah! Aku bantuin kamu cari, nanti aku share aja linknya yahh biar kamu yang pesan pake alamat rumahmu!"
"Bereslah... "
"Pokoknya coba terus May... Udah nikah rugi kalau nggak ngerasain begituan hehe.... " Godanya.
"Apasih Fan... Aku itu serius loh! Aku takut mas Satria beneran nggak mau sentuh aku.... "
"Coba aja dulu... Semangat bestieenya aku... Muah muah.... " ucap Fani dengan gaya lebaynya.
Mayang sama sekali tak merasa jijik atau bagaimana sebab dia sangat tau kalau sifat Fani memang begitu, dia sosok yang manis dan manja padanya.
Mereka banyak mengobrol, dan Mayang merasa lega setelah bercerita keluh kesahnya, memang yang dibutuhkan Mayang adalah sosok pendengar yang baik tapi sepertinya tak ada yang seperti itu dirumah yang ia tinggali.
Tak lama kemudian Satria masuk kedalam kamar dan mendapati Mayang masih bercerita dengan Fani lewat telfon.
"Siapa itu?" Tanya Satria.
"Sahabat aku mas!"
"Cewek atau cowok?"
"Cewek mas!" Jawab Mayang cepat yang di balas dengan anggukan sesaat oleh Satria.
"Ohh itu suami kamu May? Titip salam yah... "
"Iya Fan... Udah dulu yahh... Nanti aku telfon lagi!" Katanya.
Panggilan mereka pun berakhir, Satria masih meliriknya, "kalian bahas apa?"
"Biasalah mas! Bahasnya random... Tapi masalah cewek semua kok!"
"Ohh... Berapa jam telfonannya?"
Mayang sesaat terperangah mendengarnya, dia seperti diinterogasi oleh suaminya sendiri, "Ehh tunggu mas! Aku lihat dulu!" Mayang membuka draf panggilan untuk melihat detailnya, "satu jam lebih mas!" Katanya.
"Lama yah!"
Mayan mengangguk, "Iya mas hehe... Aku kalau curhat sama dia, biasanya sampai lupa waktu!"
"Ohh!" Ketus Satria.
Satria lalu pergi kekamar mandi, sepertinya dia tengah membersihkan wajahnya terdengar dari percikan air dari dalam sana, sementara Mayang terus melamun memikirkan pakaian yang Fani maksud, ia sampai linglung saat mencari di toko online yang ternyata ada banyak sekali dan pakaian itu membuat Mayang sempat mengernyitkan alisnya.
"Kenapa pakaiannya sangat kekurangan bahan? Apa itu nggak terlalu terbuka? Gimana kalau aku yang pakai terus tiba-tiba masuk angin? Bukannya melakukan itu tapi malah harus dirawat! Fani ihh ada-ada aja!" Gerutunya sembari membayangkan.
Satria pun datang, Mayang dengan cepat keluar dari aplikasi tersebut dan menyembunyikannya dibawah bantal.
Satria tak menaruh curiga, dia kemudian merebahkan dirinya disamping Mayang, entah apa yang dia fikirkan saat ini sampai membuat Mayang heran melihatnya.
"Mas kenapa? Kayak lagi banyak beban fikiran!"
"Nggak ada apa-apa! Tolong dong matiin lampunya, aku mau tidur!"
Semula pria itu tidur telentang namun saat menjawab pertanyaan Mayang dia malah mengubah posisi membelakanginya.
"Iya, kebetulan aku juga udah mulai ngantuk!"
Ctak!...
Mayang menekan saklar lampu, dan seketika ruangan menjadi gelap gulita. Awalnya ia memunggungi Satria sambil memejamkan mata, tapi Mayang memilih untuk bersikap berani dalam bertindak.
Kali ini ia mengubah posisi, menghadap kearah Satria, tanpa di duga dalam kegelapan malam itu, mereka saling berhadapan.
Satria saat itu belum terlelap, tadinya dia hanya beralasan kalau dirinya sudah mengantuk, tapi faktanya kedua matanya masih sangat segar.
Begitu pula dengan Mayang, justru dia ingin sekali memeluk Satria, tangannya bahkan mulai terangkat namun dia ragu dan takut.
"Enggak May! Besok malam aja... Suamimu kecapekan, jadi jangan ganggu dia!" katanya pada diri sendiri.
Mayang yang gelisah lantas berbalik badan lagi dan kini membelakangi Satria, dia mengerutu dalam hati terhadap sikapnya yang pengecut.
"Aku nggak seharusnya bersikap seperti wanita nakal, tapi dia suamiku... Aku udahh disahkan jadi istrinya bukankah itu wajar menggoda suami sendiri?"
Memikirkan hal itu, Mayang ingin membalikkan badannya lagi tapi tiba-tiba dia membatu saat sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang.
Apa dia sedang bermimpi? Tidak! Dia bahkan belum tertidur sedetikpun.
Mayang rasanya takut untuk bergerak, "Apa mas Satria mimpi dan ngira aku itu guling? Ahh pasti begitu!" Fikirnya dalam hati.
"Aku nggakpapa dianggap guling, yang penting tidurnya mas Satria nyenyak!" Lanjutnya lagii.
Tapi siapa sangka tangan Satria bergerak keatas dan semakin keatas hingga menyentuh gunung k*mbar Mayang.
Ia sontak kaget tapi tak bisa bergerak sama sekali karena tangan Satria yang terus menjelahi tubuhnya.
Mayang menggigit bibirnya, dia lantas memejamkan mata saat tubuh Satria dari belakang semakin lengket padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments