Satria tersenyum semringah memandang wajah Mayang yang lagi-lagi tersipu malu di sampingnya.
Dia mengambil piring didepan Mayang, hendak menaruh sesendok nasi, "ehh aku aja mas!"
Mayang ingin mengambil piringnya, "nggakpapa, kamu mau lauk yang mana?"
"Enggak-enggak! Biar aku aja mas!" Kali ini Mayang mengambil paksa piring tersebut.
Mereka kemudian menyantap makanannya, Satria sekali-kali melirik Mayang dari ekor matanya.
Mayang yang menyadari itu jadi salah tingkah hingga cara makannya belepotan.
"Kok mas Satria liatin aku terus sih? Aku jadi nggak nyaman ngunyah nasinya!" Gumamnya dengan begitu canggung melahap nasi yang ada diatas piringnya.
Rasa canggung itu mayang rasakan hingga bulir nasi terakhir dipiringnya, dia berdiri hendak membersihkan, "kamu mau ngapain?" Tanya Satria.
"Mau beresinlah mas!"
"Nggak usah! Panggil bi Risma aja! Tanganmu masih luka, nanti kalau tambah parah gimana? Mending kita ke kamar aja!"
"Lohh untuk apa? Kita-kita baru selesai makan loh mas!"
"Udah ikut aja!"
Satri memegang pergelangan tangan Mayang berjalan menuju kamar, dia juga mengunci pintunya.
"Kok di kunci segala mas? Emangnya kita mau ngapain? Tanya Mayang sekali lagi.
Satria selangkah lebih maju dihadapan Mayang, seketika ia sedikit kaget karena satria sangat dekat dengannya bahkan nafasnya bisa ia rasakan memantul dari kaos oblong yang di pakai suaminya.
Tangan Satria tiba-tiba membelai wajah Mayang, jantungnya kembali berdebar, "Mas Satria sebenarnya mau ngapain ini? Apa udah mau mulai ritual malam pertamanya yah? Duhh gimana ini.... Eh kayaknya ada yang lupa! Ahh ya ampun aku belum cukuran!"
Mayang yang teringat hal itu seperti ingin berteriak, tapi apa daya dia sudah terlambat melakukannya.
Tangan Satria masih membelainya hingga kedua mata mayang berkatub merasakan lembutnya belaian itu.
"Sayang, Sepertinya.... "
"Ehm... Maaf mas, itu aku belum..... "
"Ini.... "
Ia terlonjak kaget dengan mata terbelalak melihat sebuah kartu tersodorkan di hadapannya, "Apa ini mas?" Tanya Mayang heran.
"Pakai aja! Itu kartu no limit kamu bisa pakai buat beli kebutuhan kamu!"
"Aku nggak butuh apa-apa kok mas!"
"Serius? Bukannya tadi maksud kamu... Kamu belum perawatan?"
Mayang melongo dia sampai berfikir, "apa mas Satria ngelus mukaku karena mukaku kusam, terus dia kasih aku kartu buat pergi perawatan ya? Apa mukaku seburuk itu? Tapi tadi dia puji aku pas di makan tadi!"
Satria mengibas-ibaskan tangannya didepan wajah Mayang, "May? Kamu kenapa? Kok diam?"
"Itu... Aku beneran nggak butuh apa-apa mas!"
"Udah! Ambil aja! Aku nggak percaya kalau seorang istri nggak butuh apa-apa! Lagian kartu ini bisa kamu pakai buat belanja bulanan, belanja pakaian, perawatan, apa aja.... " Tutur Mayang.
"Enggak mas!" Tolaknya sekali lagi.
Dia menarik tangan Mayang, menaruh kartu itu tepat di telapak tangannya, "Aku bilang ambil aja!"
"Makasih mas!"
"Jangan makasih terus... kan udah tanggung jawab aku sebagai suami kamu untuk menafkahi!"
Seketika Mayang tertunduk menyembunyikan senyumnya setelah mendengar ucapan tersebut.
"Ohh iya hampir lupa, sebentar aku mau keluar ya! Aku mau ketemu orang penting! Kamu bisa tidur duluan tanpa aku kan?" Ucap Satria lalu melirik kearah jam tangannya.
"Owh... Mas dapat jam tangannya dimana? Bukannya tadi nggak ketemu?"
"Dapat di laci! Sepertinya aku udah harus siap-siap May!"
"Mas butuh bantuan nggak? Atau mas butuh sesuatu gitu?" Tawarnya.
"Enggak! Kamu rebahan aja!"
Mayang terduduk di tepi ranjang, melihat suaminya sibuk mencari pakaian di lemari hingga Satria membuka baju di hadapannya.
Mayang terkesiap melihat punggungnya yang begitu lebar, kulitnya bersih berkilau, tampak sangat terawat.
Satria menyadari tatapan Mayang dari pantulan cermin didepannya, dia berbalik sebentar, "Kenapa sayang? Kamu mau pegang ya?" Goda Satria.
"Apanya yang mau di pegang?"
Mayang bertanya-tanya dalam hati maksud dari perkataan suaminya itu.
Tiba-tiba Satria berjalan mendekat, selangkah demi selangkah jaraknya semakin dekat dengan Mayang hingga kini Satria berdiri tepat didepan Mayang yang masih terduduk di pinggir ranjang sambil memalingkan wajahnya.
"Pegang aja kalau mau!"
"Ma-maksud mas apasih? Aku... Aku nggak ngerti!" Katanya tergagap.
"Yang ada didepanmu sayang.... "
Mayang tak kunjung membalikkan wajahnya, Satria menghela nafas, tangannya memegangi wajah Mayang, membuatnya menoleh, "Lihatlah... Suamimu ini punya roti sobek, apa kamu nggak tertarik buat memeganginya?"
Sontak saja matanya melebar tanpa sadar ia tertegun.
Dengan cepat Mayang melepaskan tangan Satria yang menempel dikedua pipinya, "ini... Ini udah jam berapa mas? Bukannya tadi mas bilang buru-buru mau ketemu orang ya?"
Satria melihat sekali lagi arlojinya, "Ohh iya, hampir lupa!"
"Makanya jangan godain aku terus mas! Nanti mas bisa telat!"
"Ya udahlah... Kamu bisa tidur duluan, nanti aku pulangnya mungkin larut malam!"
Satria bergegas memakai pakaiannya dengan rapi, dia dengan cepat melangkah menuju pintu, namun langkahnya terhenti.
Dia berbalik dan berjalan menuju Mayang.
Cup.... Meninggalkan kecupan manis didahi Mayang dengan penuh kasih sayang, "Aku pergi dulu ya sayang!" Di elusnya rambut mayang sebelum Satria pergi meninggalkannya.
"Hati-hati ya mas!" Ucapnya.
Mayang merasa kesepian sekarang, apalagi kamar yang begitu luas malah membuatnya menghela nafas berat.
"Aku kira malam ini mas Satria nggak bakalan ninggalin aku! Lagian harusnya sebentar malam itu malam pertama kita! Tapi ya sudahlah... Namanya juga orang sibuk!" Fikirnya.
Mayang kemudian merebahkan diri ditengah ranjang, tapi ia teringat sesuatu, "ehh bukannya ini kesempatan aku mencukur ya? Mungkin aja pas mas Satria pulang nanti aku bakal di apa-apain? Tapi kok aku kayak perempuan nggak sabaran gini sih? Ihh ini semua gara-gara Fani... Kenapa juga dia harus tanya aku soal pengantin baru!" Decaknya teringat pesan sahabat kecilnya yang lebih dulu menikah daripada Mayang.
Ia geram dengan dirinya sendiri sebab selalu berfikir yang aneh-aneh semenjak menikah.
...***...
Pagi harinya Mayang terbangun dia menyadari ada sesuatu yang menindih kakinya, matanya seketika terbuka saat menyadari sosok pria tanpa baju terbaring di sampingnya.
Sekejap ingin menjerit, tapi setelah nyawanya terkumpul barulah ia tersadar kalau yang ada di atas ranjang tertidur bersamanya adalah suaminya sendiri.
"Mas Satria nggak pakai baju! Kok bisa? Kamar ini ber AC nggak mungkin mas Satria gerah kan? Atau jangan-jangan semalam aku.... Ahh!"
Ia segera membuka selimut yang menutupi tubuhnya, "Pakaianku nggak kenapa-napa, badanku juga nggak pegal-pegal... Katanya Fani kalau udah di unboxing badan udah kayak remuk banget tapi aku nggakpapa... "
Dia lalu menarik kakinya pelan agar tak membangunkan Satria dari tidur lelapnya.
"Nggak ada darah juga di sprei... Berarti aku belum di apa-apain! Aku kan masih perawan! Hm... Mungkin mas Satria kecapean makanya langsung tidur!" Gumam Mayang menghela nafas lega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments