BAB 10 : Mau Berangkat

Satria kini terduduk disofa ruang keluarga, Mamanya masih berdiri memandangi anaknya yang masih dalam lamunan itu.

Tampak Satria masih terus memikirkan perkataan ibundanya.

"Ingat yah mama nggak melarang kamu untuk menikah lagi! Tapi mama nggak suka kamu lebih mentingin istri baru kamu dan malah melupakan ketiga anak-anak kamu itu!"

Satria memijit pelipisnya yang berkerut, baru beberapa jam yang lalu ia disibukkan dengan meeting dikantor dan sekarang ia di nasehati habis-habisan oleh mamanya, rasanya isi dalam kepalanya ingin meluap keluar.

"Mama udah dong... Aku tau aku salah karena membentak mereka, lain kali aku nggak kayak gitu lagi! Jadi please mama stop buat ngomelnya... " Pintanya dengan suara lemah.

"Oke... Kalau gitu mama mau kamu ajak mereka bertiga buat jalan-jalan! Mereka itu rindu sama sosok papanya, jadi buruan kemana aja kek yang penting mereka bahagia!"

"Apa? Sekarang mah? Ehh nggak bisa! Aku mau belanja sama Mayang, sekalian mau dinner juga sama dia!"

"Ya udah! Ajak mereka juga!"

"Nggak bisa mah! Aku maunya sama Mayang aja! BERDUA!" tegasnya.

"Kamu ini apa-apaan! Baru beberapa menit yang lalu mama tanya kamu, jangan mentingin istri baru kamu daripada anak-anak kamu sendiri!"

Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "iya deh iya... Suruh aja mereka siap-siap! Aku juga udah mau siap-siap sama Mayang!"

Akhirnya mamanya Satria tersenyum puas mendengar jawaban putranya, sementara itu dia sendiri masuk kedalam kamar dan melihat Mayang masih terduduk diatas kasur sambil mengigit-gigit kukunya.

Dia benar-benar gelisah, sama seperti si kembar yang khawatir jikalau Satria dan mamanya bertengkar hebat.

"Kamu kenapa?" Tanya Satria pada Mayang yang tampak begitu gusar.

"Nggak mas! Aku nggak kenapa-napa, gimana kamu sama mama?"

Kedua bahu Satria tersentak dengan santai ia menjawab, "Biasa aja!"

Dahi Mayang berkerut tak percaya, "Serius mas? Bukannya tadi mama marah banget ya sama kamu?"

"Iya... Tapi aku ini anaknya, aku tau caranya biar mama nggak marah-marah terus!"

"Gimana caranya mas?" Mayang jadi penasaran akan hal itu, sebab ia harus berjaga-jaga, siapatau suatu saat nanti dirinya bisa menenangkan mama mertuanya ketika marah.

"Kamu nggak usah tau!" Jawab Satria membuat Mayang sedikit kecewa, tapi dia Pura-pura terlihat baik-baik saja.

"Ohh tapi syukur deh kalau mama nggak marah lagi!" Ucapnya.

Seketika suasana berubah hening, Mayang menatap Satria yang termenung, "ada apa mas?"

Tiba-tiba wajah Satria berubah serius kala itu, "Aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi kamu harus jawab jujur!"

"Hmm... Ada apa?"

"Kesan pertama kamu saat anak-anak datang gimana?"

"Gimana ngomongnya ya mas? Mereka itu gemesin... Tapi mungkin karena pertama kali aku sama anak-anak ketemu jadi rasanya benar-benar asing... Tapi aku yakin nanti aku bisa akrab sama mereka!" Kata Mayang dengan penuh keyakinan.

Satria belum merasa puas dengan jawabannya, jujur saja dia sebenarnya takut Mayang akan menyerah suatu hari nanti.

"Kenapa mas? Mas takut ya nanti aku nggak sesuai sama ekspektasinya mas?" Tanya Mayang seperti bisa menebak isi fikiran Satria.

"Tenang aja! Aku bakalan berusaha kok mas!" Ucapnya lagi.

Satria menggigit bibir bawahnya karena mencemaskan hal itu, tapi sepersekian detik kemudian dia tersenyum padanya, "Aku percaya sama kamu! Ohh iya... Shopping... Bukannya kamu mau shopping kan? Ayo sekarang siap-siap! Tapi.... "

Kedua alis Mayang terangkat bersamaan, "tapi? Tapi apa mas?"

"Anak-anak mau ikut... Kamu nggak masalah kan?"

Mayang tertawa kecil mendengarnya, "Haha... Ya ampun mas! Kirain kenapa... Ya nggakpapalah... Justru itu bagus karena aku bisa lebih dekat sama mereka... Iyakan?!"

Satria lega mendengarnya, sebelum masuk kedalam kamar tadinya ia fikir wajah Mayang akan berubah suram ketika mendengar anak-anaknya mau ikut tapi nyatanya Mayang senang, bahkan dia sangat antusias.

Selesai bersiap-siap pasangan pengantin baru itu keluar dari kamar dan melihat ketiga bocah kecil itu sudah sangat siap dengan pakaian yang begitu rapi dan tampak mahal.

Mayang bahkan sempat membandingkan pakaian yang ia kenakan dengan mereka, dalam lubuk hatinya ia meraka sedikit insecure, tapi Satria menyadari itu dari rauk wajah istrinya.

"Pakaian tampak mahal tergantung wajah orang yang memakainya! Kamu cantik... Jadi pakaianmu juga sama cantiknya sama kamu! Aku nggak suka ya kamu rendahin diri kamu cuman gara-gara hal sepele!" Bisik Satria dikupingnya setelah pria itu mengalungkan tangannya di pinggang Mayang.

Ia bahagia mendengarnya, sungguh. Baru kali ini Mayang mendapat perhatian dari seorang pria yang seperti tau segala sesuatu yang ia fikirkan.

"Iya mas!" Katanya tersenyum semringah.

Viona yang melihat kemesraan mereka, membuat dia menatap keduanya dengan tatapan tak suka, sementara neneknya yang tengah asik dengan ponselnya barulah menoleh dan menyadari kedatangan pasangan suami istri itu.

"Kenapa kalian sangat lama? Mama dan anak-anak sampai menunggu kalian berjam-jam loh disini!" Keluh mamanya Satria.

"Banyak yang harus di persiapkan mah!"

"Persiapkan apanya? Tinggal ambil kunci mobil, kartu kredit udah itu aja kan?"

"Iya mamaku sayang... Kita otw sekarang! Ayo anak-anak!"

"Mah! Kita pergi dulu ya!" Pamit Mayang pada mertuanya itu.

"Iya! Hati-hati dijalan dan jaga anak-anak juga!jangan sampai kalian teledor ya..."

"Iya mah!" Balas Mayang.

Mamanya sangat kesal tapi Satria sangat santai menghadapinya, kini mereka menuju mobil, Satria bahkan menggandeng tangan Mayang membuat ketiga anak-anak itu saling memandang, rasanya ia ingin melepaskan gandengan tersebut.

Sebagai papa mereka, Satria membukakan pintu mobil untuk anak-anak di kursi penumpang, "Ayo masuk!" Katanya.

"Viona mau duduk didepan pah!" Ucap Viona.

"Kevin sama Devin juga pah!" Kevin ikut bicara.

"Ha? Gimana caranya? Masa lima orang duduk didepan?! Enggak!! Kalian duduknya dibelakang!" Tegasnya.

"Pokoknya Viona mau duduk didepan!"

"Viona! Jangan keras kepala... "

"Udah mas! Biarin aja, biar aku yang duduk dibelakang!" Kata Mayang pada Satria

"Enggak!" Tolaknya dengan memberi tatapan tajam.

"Kalau kalian tetap mau didepan, ya udah! Kita ke Mall pakai dua mobil, biar pak Surya yang supirin kalian bertiga!" Lanjut Satria menyebut supir pribadi yang sering mengantarnya kekantor.

"Maksudnya nggak satu mobil sama papa dong?" Tanya Devin lebih jelas.

"Kenapa nggak tante Mayang aja yang sama pak Surya?" Usul Viona.

Satria yang mendengarnya berubah kesal, dia ingin memarahi Viona karena masih menyebut tante ke ibu sambungnya namun Satria menyadari kalau mamanya masih berdiri didekat pintu dan memantau mereka.

"Ohhiya... Viona benar juga mas! Biar aku yang di mobil Belakang, jadi kamu bisa satu mobil sama anak-anak!" Sela Mayang yang malah membuat Satria makin kesal.

"Enggak! Kamu nggak boleh kemana-mana! Kamu harus tetap sama aku!" Katanya dengan sangat tegas hingga membuat Kevin dan Devin yang melihat wajah papanya mulai merasa takut.

"Anak-anak masuk kemobil sekarang atau kita nggak jadi pergi! Kamu juga Vi... Kamu harus jadi contoh yang baik buat adik-adik kamu jangan terlalu keras kepala, ayo masuk!"

Mata Viona langsung berkaca-kaca mendapat teguran seperti itu dari papanya, bibirnya sampai bergetar menahan tangis.

"Papa bilang masuk!" Suruhnya sekali lagi tapi dengan suara yang agak kecil agak mamanya tidak mendengarnya dengan jelasjelas untung saja mamanya Satria juga sibuk dengan ponselnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!