Mayang berdiri, helaan nafas berat kembali terdengar, "ya udah! Kalau Viona nggak mau minta maaf nggak usah! Tante juga nggak maksa!"
Tiga bocah itu hanya terdiam, sementara Devin masih sesegukan.
"Nasi gorengnya tante tinggal diatas meja yah! Jadi kalau kalian udah lapar, kalian bisa langsung makan!" Ucapnya lagi.
Mayang keluar dari kamar tersebut, ternyata mama mertuanya sedang berjalan kearah kamar yang baru saja ia datangi.
"Mama mau ke kamar anak-anak ya?" Tanyanya.
"Hm... Kamu dari dalam?"
"Iya mah! Aku bawain mereka nasi goreng!"
"Ohh... terus tadi mama dengar ada yang nangis itu siapa?"
"Devin mah!"
"Kamu yang buat dia nangis?"
"Ehh itu... Biasalah mah anak kecil Bertengkar terus Devinnya nangis!"
"Biasanya mereka bertiga akur kok! Apalagi Viona... Dia itu jagain banget adiknya!"
Mayang tak bicara lagi, wajahnya gusar penuh rasa khawatir.
"Mama mau lihat cucu mama! Biar mama sendiri yang tanya ke mereka!"
Di bukanya pintu yang ada tepat di belakang Mayang, terdengar sautan 'nenek' dari ketiga bocah tadi, perlakuan yang sama sekali berbanding terbalik dengan Mayang.
Ia menggelengkan kepalanya tak percaya, namun Mayang tetap berpositif thingking ya... Mungkin mereka belum terlalu saling mengenal sosok Mayang.
Ia kembali kekamar, menjatuhkan dirinya di tengah-tengah kasur, matanya beberapa kali berkedip mencoba menenangkan fikirannya.
"Kapan mas Satria pulang? Apa aku telfon aja ya? Tapi gimana kalau meetingnya belum selesai? Ahh terserahlah!" Gerutunya.
Mayang menarik sebuah guling kedalam pelukannya, pelan tapi pasti matanya terpejam hingga sepenuhnya ia terlelap dengan rasa khawatir yang berkecamuk dalam fikirannya.
...***...
Satria pulang dengan keranjang buah di tangannya, dia dengan semringah berjalan masuk kedalam rumah yang tampak sepi tanpa adanya pergerakan.
"Papa? Papaaaaa!" Kevin baru saja keluar dari kamar dan melihat Satria, tak lama setelahnya Devin dan Viona juga muncul mereka bertiga berhamburan ke pelukan papanya.
Tapi Satria yang tampak lelah hanya bisa memeluknya sebentar, "umhh... Anak papa akhirnya datang juga! Gimana kabar kalian sehat semua?"
"Kevin sehat pah!"
"Devin juga sehat pah!" Seru si kembar bergantian sementara Viona hanya terdiam memandang papanya.
"Vi... Viona kenapa? Nggak sehat? Atau nggak rindu papa?"
Gadis kecil itu menggeleng, "Kenapa papa nggak pernah telfon Viona biar 1 kalipun nggak pernah, Viona pikir papa udah lupa sama anaknya sendiri!"
"Hehe papa sibuk sayang!" Ucap Satria sambil menarik Viona kedalam pelukannya.
"Bohong! Papa bukan sibuk tapi emang nggak ingat sama Viona kan?" Decaknya memukul kecil pundak papanya.
"Enggaklah... Mana mungkin sih papa lupain gadis yang paling cantik ini.... " Katanya dengan mencubit gemas pipi anak gadisnya.
"Akhirnya kamu pulang juga!" Mamanya datang dengan rauk wajah kesal, Satria kemudian berdiri menyalami ibunya.
"Mama apa kabar?"
"Baru nanyain kabar! Tadi juga bukannya kamu nelfon mama tapi malah nelfon Mayang! Bener-bener nggak ingat orangtua ya kamu!" Omel mamanya.
"Anak-anak masuk kamar dulu! Papa mau bicara berdua sama nenek!" Kata Satria yang langsung di setujui oleh ketiga anaknya.
Kini Satria dan ibunya duduk disofa ruang tamu, Satria melonggarkan dasi yang masih melingkar di kerah bajunya, mengacak sebenar rambutnya yang semula tertata rapi sambil melenguh panjang dengan merentangkan kedua tangannya.
"Humph!" Mamanya masih acuh tak acuh, Satria pindah kesampingnya meraih kedua tangannya sambil berkata, "Maaf Mah! Tadi itu Satria nggak sempat nelfon mama karena ada meeting di kantor! Satria juga fikir kalau mama pasti capek banget habis perjalanan jauh, makanya Satria telfon Mayang!"
"Alasan doang! Bilang aja kamu emang nggak mau bicara sama mama iyakan?"
"Ihh kok mama gitu sih! Mama kan tau sendiri gimana sifat aku!"
"Tau dehh!" Ketus mamanya.
"Mama jangan marah dong! Nanti aku transferin uang sebagai permintaan maaf deh!"
"Mama nggak percaya!"
"Ya udah! Satria bakalan transfer sekarang juga!"
Ia bergegas mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, sesuai janji Satria benar-benar mengirim sejumlah uang pada mamanya disaat itu juga.
"Nih udah! Mama udah percaya kan?"
Pada akhirnya transferan itu membuat mamanya tersenyum, "kamu emang tau banget membujuk mama!"
"Iya dong mah! Kan aku anak mama! Ohh iya, Dari tadi aku belum lihat Mayang... Dia dimana mah?"
"Mana mama tau! Dia tidur kali.... "
"Masa sih dia tidur jam segini!"
Satria berdiri, ia hendak berjalan menuju kamarnya namun langkahnya terhenti saat lengannya di tarik oleh ibunya.
"Jangan pergi dulu, mama masih mau bicara sama kamu!"
Satria akhirnya duduk kembali, "Ada apa mah?"
"Kamu ketemu Mayang dimana? Kok bisa langsung nikah, perasaan waktu itu kamu bilangnya mau nikah eh tau-taunya hari itu hari H pernikahan kamu juga!"
"Namanya juga cinta mah! Maunya cepat-cepat di milikin sebelum keduluan oranglain!" Ungkap Satria membuat mamanya mengerutkan kedua alis.
"Enggak! Mama nggak percaya! Mama paling tau sama sifat kamu! Kamu nggak mungkin buat keputusan yang tiba-tiba, apalagi ini soal pernikahan loh!"
"Anggap aja Satria jatuh cinta lagi mah! Pada pandangan kedua!"
"Mana ada begitu! Yang ada itu cinta pada pandangan pertama Sat! Kamu kira mama ini bodoh! Mama emang udah tua, tapi mama juga tau soal itu!
"Ya faktanya emang gitu kok mah!"
"Ya ampun! Mama ini serius lohh... Kamu dari tadi jawabnya kayak asal-asalan gitu! Mama yakin kamu nikahin Mayang juga karena asal-asalan aja kan?"
"Kalau mama nggak percaya ya udah! Terserah mama aja! Aku mau ke kamar dulu ya mah! Sekalian mau istirahat juga!"
"Ehh tunggu dulu! Kamu jawab dulu pernyataan mama yang bener!"
Mamanya masih mau menahan tapi Satria berjalan cepat menuju kamarnya, dia tau jika dirinya masih duduk di sofa itu, dia akan diserbu oleh banyak pertanyaan.
Satria melihat istrinya terbaring diatas tempat tidur, ia menghampirinya, sesaat tatapannya tenggelam saat melihat wajah Mayang tengah terlelap rasanya ia ingin ikut berbaring dan memeluknya.
Tapi tidak, rupanya Satria malah pergi menuju lemari untuk mengambil sebuah handuk setelah mencium bajunya yang sudah bau keringat.
"Aku harus mandi baru ikut rebahan di sampingnya! Jangan sampai dia bangun karena bau badanku!"
Sesaat setelah mandi, Dengan hanya memakai handuk, perlahan lahan dia terbaring di samping Mayang setelah mengeringkan badannya, mencoba mengambil guling dari pelukan istrinya itu.
Ketika sudah berhasil melepaskan gulingnya, Satria berinisiatif untuk menjadi pengganti guling tersebut, dia semakin mendekatkan badannya dan benar saja Mayang langsung memeluknya.
Satria tersenyum puas setelah tangan kiri istrinya itu kini melingkar di pinggangnya apalagi sekarang pelukan Mayang semakin erat.
"Ayoo ayooo peluk lagi!" harapnya.
Satria ingin membalas pelukannya, tapi takut jika Mayang tiba-tiba terbangun dan kaget setelah menyadari kehadiran Satria apalagi keadaannya yang bertelanjng dada.
Satria menahan nafas sembari mencoba menarik badan Mayang agar lebih dekat lagi, hingga ia bisa rasakan hembusan nafasnya menabrak dada bidang miliknya.
"Apa yang dia lakukan tadi? Kok bisa tidurnya nyenyak begini? Kamar juga nggak dikunci, dia benar-benar Ceroboh!"
Satria mengelus rambut Mayang membuat tidur istrinya itu semakin nyenyak saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments