BAB 14 : Di Salahkan

Mayang yang menyaksikan hal itu, jadi teringat kejadian pada saat tangannya terluka, sikap Satria tak jauh berbeda dengan apa yang disaksikan oleh kedua bola matanya.

"Pah... Lutut Devin cuman kegores dikit! Kenapa harus marah-marah sama bibi?"

"Kamu diamlah... Dari luka sekecil itu nanti bisa infeksi, kalau udah kayak gitu kaki kamu bisa diamputasi terus kamu nggak punya kaki lagi, emangnya kamu mau kayak gitu?" Omel Satria menakut-nakuti anak bungsunya.

Devin bergidik ngeri mendengarnya, "ihh nggak mau! Ya udah... Ya udahh... Papa cepetan obatin luka Devin! Devin nggak mau nggak punya kaki!" Rengeknya kembali menangis dengan keras.

"Jangan lebay Vin!" Tegur Viona.

"Devin... Jangan nangis keras-keras, mungkin aja nenek udah tidur! Nanti kalau bangun gara-gara dengar kamu nangis gimana?" Lanjut Kevin.

"Shut! Jangan seperti itu sama adik kalian! Udah... Kalian berdua masuk kekamar dan langsung tidur!" Suruhnya.

"Viona belum ngantuk pah!"

"Kevin juga!"

Jawab keduanya bergantian.

Satria mengerutkan keningnya, dia melotot pada Viona dan Kevin, "Papa bilang masuk! Ini udah hampir jam 11 loh...!"

"Tapi pah.... "

"Papa bilang masuk ya masuk Vii... Jangan buat papa tambah marah lagi!" Geramnya.

Viona dan Kevin pun berlari kearah kamar mereka dengan cepat. kini hanya ada Mayang yang sejak tadi berdiri disamping sofa tanpa berucap sepatah katapun dari mulutnya.

Satria menoleh memandang Mayang yang ternyata tengah melamun, "May... " Panggilnya tapi Mayang terhanyut dalam lamunannya, "May... " Sekali lagi ia memanggil hingga Mayang tersadar.

"Ahh iya mas, Kenapa?"

"Tolong ambilin baju buat Devin!"

"Ohhiya Mas, tunggu sebentar!"

Segeralah Mayang bergegas kearah kamar anak-anak, kamar yang di rancang khusus untuk ketiga anak Satria.

Didalam sana ada tiga ranjang dan juga 3 lemari untuk masing-masing Anak-anaknya, tapi ranjang Viona terpisah dan di batasi oleh sebuah dinding.

Mayang yang setengah panik pun jadi lupa mengetuk pintu, hingga akhirnya ia mendapati Kevin yang tengah berganti pakaian.

"Ahhh.... " Kevin berteriak keras.

Mayang dengan cepat membungkam mulut bocah itu dengan telapak tangannya jangan sampaj Satria dengar, "Shutt! Jangan berisik dong Vin... Tante kesini cuman mau ambilin Devin pakaian!"

Kevin segera menepis tangan Mayang dan menjaga jarak darinya, dia juga menutupi bagian sesitif agar ibu sambungnya itu tak melihat.

"Tante kenapa nggak ketuk pintu dulu? Tante mes*m! Kevin nggak suka sama tante!"

"Itu... Tante lupa! Maaf yah!" Ucapnya, tapi kemudian mata Mayang tak sengaja melirik area yang ditutupi Kevin.

"Kenapa di tutup Vin?" Tanya Mayang dengan wajah polos, "Asal Kevin tau yah... Tante itu punya banyak sekali ponakan di kampung, terus banyak yang udah tante lihat punyanya, kalau lagi gemes gitu biasanya tante toel-toel punyanya itu heheh.... " Kata Mayang dengan usil.

"Ihh mes*m!" Kevin bergidik semakin menjauhkan diri darinya.

Mayang menghelaa nafas, "Ya ampun Vin! Nggak usah takut kayak gitu! Tante itu nggak suka yang kecil-kecil hehe... Ohh iya lemari Devin yang mana? Tante mau ambil baju.

"Itu... " Kevin memberinya lirikan mata yang menjurus kearah sebuah lemari.

"Makasih! Dan maaf yah soal tadi hehe!" Katanya lagi.

Mayang tertawa kecil sebelum meninggalkan Kevin, dia cukup puas mengusilinya, Mayang lalu kembali ke ruang keluarga memberikan sepasang baju untuk Devin.

Dia melihat lukanya sudah diobati tapi mimik wajah satria masih terlihat kesal. Mayang heran ada apa dengannya? Apa dia mengidap penyakit kecemasan?.

"Udah, kamu masuk kamar sekarang dan langsung tidur! Jangan sampai lukanya kena air!"

"Iya pah!" Jawab Devin setuju.

Dibantu dengan bi Risma, Devin berjalan pelan menuju kamarnya, Satria memperhatikan putranya itu berjalan terpincang-pincang.

"Mas! Aku minta maaf... " Ucap Mayang yang sambil menekuk wajahnya disamping Satria.

Pria itu menoleh sedikit dan melirik Mayang dari ekor matanya, "Kenapa kamu minta maaf?"

"Aku tau mas marah sama aku! Karena aku ceroboh nggak bisa jagain anak-anak sampai Devin terluka!"

"Baguslah, kalau kamu tau diri dan tau kesalahanmu!" Katanya begitu acuh.

Satria berdecak kemudian berjalan meninggalkan Mayang yang masih berdiri dengan rasa bersalah.

Sepertinya Satria kali ini benar-benar marah padanya, tapi Mayang tidak sepenuhnya bersalah bukan?.

Mayang tak tau berbuat apa, bahkan sekarang kakinya begitu enggan untuk melangkah kearah kamar.

Ia justru berjalan terus hingga kedepan kamar bi Risma, jujur saja dia sangat butuh teman untuk cerita sekarang.

Tok... Tok... Tok....

Mayang mengetuk pintu kamar dan tak lama kemudian bi Risma keluar dengan wajah heran menyadari kehadiran Mayang didepan kamarnya.

"Bi... Bibi aku boleh masuk nggak?" Pintanya lirih.

Bi Risma tambah bingung, wanita yang hanya berbeda beberapa tahun dari Mayang itupun tambah bingung, "Lohh... Kenapa nyonya? Apa nyonya bertengkar sama tuan?"

Mayang terdiam dan bi Risma membenarkan dugaannya, "tapi nyonya... Ini sudah tengah malam! Takutnya tuan mencari nyonya!"

Wajah Mayang memelas membuat bi Risma merasa kasihan namun dia tak bisa berbuat apa-apa.

"Gimana kalau besok aja?! Nyonya bisa kok ke kamar saya!"

"Ya udah deh aku kembali aja! Maaf ya bii tengah malam begini aku malah datang gangguin bi Risma!"

Ia merasa sungkan dan berbalik arah berjalan pergi menuju kamarnya, melihat punggung Mayang yang semakin menjauh dari pandangan membuat bi Risma bergumam.

"Apa tuan seperti sebelumnya lagi?"

Bi Risma kemudian menutup pintu kamarnya, sementara Mayang dengan berat hati berjalan masuk kedalam kamar.

Rupanya Satria sudah berganti pakaian dan kini malah duduk disofa dalam kamar itu sambil memainkan ponselnya.

"Belum ngantuk mas?"

Awalnya suasana begitu sepi dan terasa mencekam bagi Mayang hingga membuatnya terpaksa membuka percakapan dengan canggung.

"Hemmm!" Balas Satria.

"Kalau gitu aku tidur duluan!"

Satria barulah mendonggak, "ganti baju dulu, nanti kamu masuk angin!" Katanya sebab pakaian Mayang memang masih agak basah.

"Iya mas!"

Selesai berganti pakaian, Mayang melirik Satria sekali lagi yang bahkan belum berganti posisi, dia langsung saja rebahan diatas kasur.

Hingga tiba-tiba Satria berdiri dan berjalan kearahnya, Mayang seketika takut, tapi ternyata ketakutannya sia-sia pasalnya Satria hanya ingin mengambil remot AC yang ada di atas meja nakas samping tempat tidur.

Tak hanya itu Satria juga ikut berbaring disamping Mayang namun membelakanginya, "jujur saja tadi aku kecewa sama kamu!" Ungkapnya membuat Mayang melebarkan matanya.

"Karena aku nggak bisa jagain anak-anak? Mas... Itu semua di luar kendali aku! Aku mana tau kalau Devin bakalan jatuh!"

"Harusnya kamu pegang tangan mereka sambil berlari! Untung aja lukanya nggak terlalu parah!"

"Maaf mas!" Mayang sekali lagi meminta maaf.

"Sekarang aku jadi ragu buat serahin urusan anak-anak sama kamu! Takutnya nanti bukan hanya Devin yang terluka!"

Mayang sungguh tak menyangka dengan pernyataan Satria, bukankah itu sudah keterlaluan?.

"Aku janji mulai besok aku bakalan hati-hati jagain mereka mas!"

"Nggak usah, lebih baik kita cari pengasuh saja!"

"Enggak mas! Aku aja... Lagian aku mau dekat sama mereka bertiga! Anggap aja kejadian tadi itu karena kelalaian aku dan aku pastikan nggak bakalan kejadian lagi!"

"Kamu yakin?" Tanya Satria.

"Iya mas! Ohhiya... Soal yang tadi, yang mau aku bicarain itu mas! Aku sebenarnya.... "

"Nanti aja, aku mau tidur! Ini juga udah tengah malam! Dan besok pagi aku harus kekantor!"

Bukannya ragu lagi, tapi Satria malah menolaknya sehingga Mayang mengurunhkan niatnya itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!