Viona seakan ingin memprovokasi papanya, dan sekarang tatapan Satria yang semula hangat kini berubah tajam pada anak gadisnya itu.
Plak!
Dengan keras ia menutup buku menu tersebut, diam-diam Mayang mencoleknya, hingga Satria malah tersenyum menanggapi Viona, "ini juga tempat Favorit papa kok! Sebelum menikah papa udah sering makan disini!" Jawabnya menahan emosi.
"Owh... Berarti papa emang suka sama tempat ini kak!" Devin ikut bicara.
"Kalian juga sudah pernah dibawa kemari pas usia kalian baru 14 bulan!" Timpal Satria masih dengan emosi yang tertahan.
"Berarti hanya aku yang baru pertama kali datang kesini! Apa sebelumnya mas Satria udah sering kemari bersama mantan istrinya? Apa dia juga duduk di kursi ini?" Mayang sampai memikirkan semua itu, pasalnya Saat baru tiba, Satria langsung menarikkan kursi untuknya duduk.
Mayang hanya bisa menghela nafas disela perasaannya yang mulai tak nyaman, dia kemudian berbisik pada Satria, "Mas aku mau ke toilet!"
"Kamu mau ditemani?"
"Nggak usah! Lagian kalau kamu juga pergi, nanti yang temenin anak-anak siapa? Jadi biar aku yang pergi sendiri!"
"Iya juga sih!"
"Hm... Kalau gitu aku ke toilet dulu ya mas! Kamu pesenin buat aku juga yah! Samain aja sama pesenan kamu!" Katanya.
Setelah Mayang pergi, Satria mulai memesan untuknya, Mayang dan si kembar tanpa bertanya pada Viona karena rasa kesalnya itu.
"Papa marah ya?" Viona bertanya dengan wajah angkuhnya itu dia membalas tatapan sinis dari Satria.
"Kenapa kamu harus kayak tadi didepan mamamu?"
"Jadi Viona harus gimana pah? Kan ini emang tempat Favorit mama!" Bela Viona untuk dirinya sendiri.
"Vii... Kamu udah cukup besar untuk tau bedain mana yang baik dan mana yang buruk! Papa tau kok tadi itu kamu sengaja mancing emosi papa kan? Tapi Vii... Ini bukan waktu yang tepat! Masa iya kita harus ribut pada saat mau makan?!"
"Papa sih ngeselin banget makanya tadi aku kayak gitu!" Ketusnya.
Satria mendengus, dia akhirnya bisa meredakan emosinya sendiri, "Untuk kali ini papa maafin kamu! Tapi kalau sampai kamu ungkit mamamu itu didepan mama sambungmu, awas aja! Kamu bakalan papa hukum nggak papa kasi uang jajan!" Ancamnya.
Viona sangat terkejut, bibirnya manyun. Dia sangat tak terima dengan ancaman papanya.
"Kok papa jahat banget sih sama kakak?!" Kata Kevin.
"Iya... Kasihan kak Viona pah!"
Kini tatapan Satria berpindah pada si kembar, "Kalau kalian ikut campur, papa nggak bakalan beliin kalian berdua mainan baru lagi!"
Kini mereka bertiga terpaku dengan ancaman Satria, suasana jadi sunyi karena mereka berempat tak ada yang bicara lagi sampai makanan datang dan Mayang juga sudah kembali dari toilet.
Mayang melihat kesemua orang yang ada di meja tersebut dengan heran, "kalian semua kenapa?"
"Hm? Maksud kamu apa sayang? Kita nggak kenapa-kenapa kok! Iyakan anak-anak?" Tanya Satria dengan setengah melototi anak-anak.
"Iyaa mah! Kita nggak kenapa-kenapa kok!" Jawab Kevin dan Devin kompak.
"Nggak ada apa-apa mah!" Viona ikut menjawab dengan suara lesu.
"Tapi kok suasananya agak beda sebelum a-aku pergi ya? Atau ini perasaanku aja?" Ungkap Mayang dengan kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Satria mencoba mencari alasan, tapi ia tak sempat memikirkannya, "udahlah... Itu mungkin cuman perasaan kamu aja! Mending kita makan sekarang, nanti makananya nggak enak lagi kalau udah dingin!"
Mayang setuju meskipun dia masih penasaran. Sesekali ia mendapati Satria tengah melirik ketiga anaknya disela ia mengunyah makanannya.
Mayang ikut mendonggak dan memperhatikan Viona dan sikembar. Nyatanya ketiga bocah kecil itu sangat lahap memakan makanannya, Viona pun demikian rupanya walaupun Satria tak bertanya pesanan Viona tadi, dia sudah tau makanan favorit putrinya itu.
Mayang sekarang tau, betapa sayangnya Satria pada ketiga anak-anaknya meski ia sudah bercerai dengan ibu kandung mereka.
Ia lalu melanjutkan makannya sambil berfikir, "kalau aku punya anak nanti, apa sikap mas Satria juga kayak gitu?" Mayang sampai tersenyum-senyum membayangkannya.
Selepas makan, akhirnya mereka berlima keluar dari restoran. Mayang sampai kaget ketika ia melihat kelayar ponselnya ternyata sudah jam 10 malam.
"Mas kayaknya kita kelamaan belanja tadi deh... Sekarang udah jam 10, Anak-anak juga kayaknya udah pada ngantuk!" Kata Mayang saat melihat rauk wajah ketiga anak sambungnya sudah ingin terlelap.
"Mau gimana lagi! Namanya orang belanja pastu lupa waktu... Kamu dan anak-anak tunggu disini, biar aku yang keparkiran ambil mobil!"
Mereka berempat berdiri didepan restoran, hingga tiba-tiba hujan pun turun dengan sangat deras.
"Ya ampun hujan, anak-anak ayo kita berteduh dulu!" Ajak Mayang.
Mereka lalu berlari masuk kedalam restoran, "aghh... Aduhh kakak tolong.... " Tanpa diduga ditengah hujan itu, Devin tertinggal di belakang dan tersandung dikakinya sendiri hingga membuatnya terjatuh yang membuat pakaiannya basah, tak hanya itu lutut dan telapak tangannya juga terluka.
"Ehh Devin... Biar tante yang bantuin, kalian berteduh aja!" Kata Mayang pada Viona dan Kevin.
Mayang berlari kearah Devin, ia ikut basah kuyup setelah menggendongnya menuju tempat berteduh.
Tak lama kemudian Satria datang, ia keluar dari mobil sambil membawa payung menghampiri mereka.
"Lohh Devin kenapa? Kok nangis? Kenapa lututnya berdarah? Ini... Ini kenapa?"
"Dia jatuh pas lari tadi mas?" Jawab Mayang.
Kening Satria seketika berkerut dan mengambil paksa Devin dari Mayang yang menggendongnya.
Mayang bengong beberapa saat, dia berfikir kenapa sikap Satria langsung kasar padanya Bahkan saat ia mengambil Devin tubuhnya sampai terhuyung untuk saja Mayang masih bisa menjaga keseimbangannya.
Tapi Satria seperti tak peduli sama sekali.
"Huwaahh... Sakit pah! Lutut Devin sakit... Huhu..." Rintih Devin yang kesakitan.
"Udah jangan nangis terus, itu orang-orang pada lihatin kamu! Kamu nggak malu? Ayo masuk kedalam mobil! Nanti dirumah baru kita obati luka Devin! Ajaknya.
Dalam perjalanan pulang itu, Satria tak peduli dengan jalanan yang licin karena di genangi air hujan.
Suasana kembali hening dengan hanya suara rintik air hujan yang berjatuhan diatas atap mobil, perjalanan sudah sekitar sepuluh menitan tapi baik Mayang maupun Satria tak ada yang bicara.
Mayang masih kaget dengan perlakuan Satria tadi, sementara Satria masih memasang wajah datar.
Anak-anak tak ada yang tidur karena Satria menyuruh kedua kakak Devin itu untuk menjaganya dan membantu mengeringkan badan Devin dengan tissue.
Tiba di rumah Satria menyuruh semua orang keluar dari mobil kecuali Devin, dia mau dirinya yang menggendong Devin masuk kedalam mobil.
"Kenapa nggak aku aja yang gendong Devin mas?" Tawar Mayang
"Nggak usah!"
"Kalau gitu biar aku aja yang bawa barang-barang belanjaan kita tadi!" Katanya lagi.
"Terserah kamu!"
Sikap dingin Satria itu membuat hatinya terasa sakit dia juga bingung kenapa sikap suaminya tiba-tiba berubah padahal semua baik-baik saja ketika di restoran tadi.
"Bi... Bibi... " Baru melewati pintu utama, Satria sudah berteriak dengan keras memanggil bi Risma.
Ia segera mendudukkan putra bungsunya itu disofa ruang keluarga, "iya... Ada apa tuan?" Bi Risma datang dengan terbirit-birit.
"Kamu dari mana aja? Kenapa lama? Ambilin kotak obat sekarang juga... Lutut Devin cedera! Cepat!!!" Katanya.
Devin yang mendengar itu jadi panik, dia tak tau kalau papanya akan menunjukkan sikap yang berlebihan seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Yuliana Tunru
satria labil kadang bela ank kadang bucin pd mwyang hedeh bingung yg lihat yg sabar mayang biatin z terserah mau gm yg penting jamu tdk salah
2024-02-05
0