BAB 09. Merasa Bersalah

Dert... Dert... Dert...

Ponsel Satria bergetar diatas meja, dengan geraka cepat ia meraih ponsel itu, untung saja meja itu dekat jadi ia bisa dengan mudah menjangkaunya.

Ia langsung mematikan panggilan tersebut setelah sekilas melihat nama yang terpampang adalah sekretarisnya.

"Kenapa dia harus menelfon disaat jam segini? Ahh hampir aja gara-gara dia istriku bangun!" Gerutunya.

Ia memeluknya kembali, dalam pelukan itu Satria pelan-pelan menempelkan tangannya di punggung Mayang.

Krekkk....

"Papa! Papa papa.... "

Tiba-tiba pintu terbuka, ternyata ketiga bocah kecilnya datang bersamaan sambil memanggil Satria dengan suara lantang.

Saat itu pula, Satria kaget dan langsung terbangun sementara itu Mayang juga terbangun.

"Ini... Ini ada apa?" Tanya Mayang dengan setengah sadar, merasa bingung dengan keadaan sekitar.

"Loh... Sejak kapan mas Satria ada di sini? Dan... Kenapa mas nggak pake baju?" Tanyanya kebih lanjut.

Satria bangkit dengan desahan kasar menyibak rambutnya kebelakang.

"Argh... Kalian ini sangat tidak sopan! Lain kali kalau buka pintu diketuk dulu!" Tegurnya oada anak-anak tanpa merespon pertanyaan Mayang tadi.

"Maaf! Kita kira tante itu nggak ada disini!" Ucap Kevin dengan menunjuk kecil kearah Mayang.

Dahi Satria berkerut, rauk wajahnya berubah kesal mendengar pernyataan Kevin barusan.

"Apa? Papa tadi dengar apa? Tante itu? Anak-anak mulai sekarang perempuan yang barusan kalian panggil tante itu adalah mama kalian! Jadi untuk kedepannya papa nggak mau dengar kalian panggil tante, tapi harus panggil Mama! Okee.... " Tutur Satria kepada ketiga anaknya.

Ketiga bocah itu terdiam mendengar ucapan Satria, begitu pula dengan Mayang yang menatap sinis kearah suaminya.

"Mas! Kok bilang gitu sih? Mereka masih kecil jadi wajar kalau mereka belum paham!"

"Justru dari kecil mereka harus di ajari!"

"Tapi dia bukan mama kita! Kenapa dia dipanggil mama!" Ciut Devin.

"Dia mama kalian! Jadi papa mau kalian panggil mama bukan tante lagi!" Tegas Satria sekali lagi.

"Enggak! Dia bukan mama!" Sela Kevin dengan suara lantang.

"Anak-anak!!" Tanpa sadar Satria meninggikan suara didepan anak-anaknya.

"Mas!" Seru Mayang

"Ayo keluar! Percuma kita kesini! Papa kayaknya nggak mau lihat kita!" Ucap Viona pada adik-adiknya.

Mereka bertiga keluar tanpa menutup pintu tersebut, diantara ketiganya Devin malah menangis. "Hikss papa udah nggak sayang sama kita! Papa udah punya tante itu hikss.... "

Viona menatap lirih pada adiknya, "Jangan cengeng... Ingat kata mama! Laki-laki itu nggak boleh nangis!"

"Tapi papa....hikshiksss... Umph.... "

Sebelum Devin melanjutkan ucapannya, tangan Kevin mendarat dan membungkam mulut adiknya itu, "usht... Diam! Kakak bilang jangan nangis!"

Devin menepis tangan Kevin, bukannya dia berhenti menangis namun sekarang suara tangisnya semakin keras hingga mengisi ruang keluarga.

"Eh eh eh... Ini ada apa? Viona... Kenapa adikmu menangis?" Neneknya datang langsung memeluk Devin dan bertanya pada kedua kakaknya.

"Itu... Itu papa bentak kita hikss... " Devin dengan sesegukan mengadu pada neneknya.

"Lohh kok bisa? Terus papa kalian dimana?"

"Dia di kamar sama tante itu!" Sela Kevin dengan wajah ketusnya.

"Oke sekarang kalian ke kamar aja, biar nenek yang bicara sama papa kamu!"

"Kita mau ikut!" Kali ini Viona yang menyela.

"Baiklah... "

Mereka berempat sekarang berdiri didepan pintu kamar Satria dan Mayang. Wanita berusia 55 tahun itu hendak membuka pintu tapi ternyata pintu tersebut terkunci dari dalam.

"Satria... Ini mama! Mama mau bicara sama kamu! Buka pintunya!" Teriak ibunya Satria sambil menggedor-gedor pintu kamar.

Brak! Brak!!!

"Satria buka!!" Teriaknya lagi.

Sementara itu didalam kamar, Mayang masih menatap suaminya yang tengah berpakaian dengan santai memakai kaos oblong tanpa rasa bersalah setelah membentak anak-anaknya.

"Mas! Itu mama uda manggil-manggil dari tadi... Aku buka ya pintunya!"

"Udah nggak usah! Palingan mama datang cuman mau ngomel-ngomel sama aku!"

"Ya udah! Kalau gitu mas nyahut aja dulu! Nanti mama makin marah gimana?" Bujuk Mayang, pasalnya wanita itu sejak tadi disuruh diam dan tak boleh meninggalkan kasur.

"Lagian kenapa mas harus ngebentak mereka sih? Mereka kan masih anak-anak mas!"

"Kenapa di bahas lagi sih sayang? Kan tadi aku udah bilang... Justru mereka masih kecil makanya harus diajar mana yang baik mana yang buruk untuk dilakukan!" Turun Satria membuat Mayang menghela nafasnya berat.

Sekilas ia melirik istrinya diatas ranjang, "kamu tetap disini! Biar aku yang bicara sama mama! Kalau kamu masih ngantuk! Kamu bisa tidur lagi!"

"Enggak mas... Aku udah nggak ngantuk! Lagian aku mau keluar loh mas! Kalau dikamar terus rasanya jenuh gitu!"

"Pokoknya tetap dikamar!" Tegas Satria

Ia lalu berjalan menuju pintu, membukanya sedikit kemudian keluar dan menutupnya kembali, ternyata mamanya masih berdiri didepan pintu dengan ketiga cucunya mendampingi.

Satria berdecih, memberi tatapan intens pada ketiga anaknya secara bergantian.

"Ini ada apa lagi sih?"

"Sini kamu!"

Tangan Satria ditarik sampai kedepan TV yang ada di ruang keluarga, wajah kesal mamanya membuat Satria tau harus berbuat apa.

"Kenapa mah? Transferannya nggak cukup? Mama mau Satria tambahin?" Ucapnya.

"Transferan... Transferan... Ini bukan uang! Kamu ini pura-pura nggak tau ya?"

"Iya.. Iya... Ada apa sih mah? Mama nggak boleh marah-marah terus... Nanti penyakit mama kambuh!" Ucap Satria dengan penuh perhatian.

Memang, mamanya Satria mengidap penyakit darah tinggi, namun sekarang emosinya sudah tak bisa di tahan lagi, sudah berapa kali Satria membuatnya marah padahal ia belum cukup 24 jam dirumah itu.

"Nggak usah sok perhatian sama mama! Mama tau kamu cuma mau mengalihkan pembicaraan, mama mau tanya kenapa kamu membentak anak kamu? Kamu lupa kalau mereka itu anak kandung kamu?"

"Satria nggak lupa lah mah! Lagian mereka emang butuhh diajar biar mereka panggil Mayang itu mama bukan tante karena mau bagaimanapun Mayang itu udah jadi istri aku dan ibu sambung mereka!"

Mamanya Satria tampak kurang setuju dengan pernyataan anak semata wayangnya itu, terlihat dari urat di dahinya yang bermunculan agaknya mamanya Itu sangat emosi sekarang.

"Anak-anak kalian masuk kekamar! Nenek mau bicara serius sama papa kalian!"

Ketiga bocah kecil itu sangat penurut pada neneknya, mereka berlari kearah kamar, namun berbeda dengan Kevin dan Devin yang menatap nanar kearah papanya sebelum masuk kedalam kamar mereka.

Tampaknya sikembar takut neneknya dan papa Mereka bertengkar hebat karena mereka bertiga.

Akan tetapi rasa cemas si kembar berhasil di luluhkan oleh Viona yang memeluk mereka.

Saat pintu sudah tertutup, mamanya Satria memelankan suaranya dan berkata, "Apa kamu nggak kasihan sama anak-anakmu sendiri? Mereka masih kecil tapi sudah menyaksikan orangtuanya bercerai dan nggak bisa seperti anak-anak lain yang merasakan keharmonisan keluarganya! Terus kamu dengan entengnya nggak merasa bersalah sama sekali membentak mereka didepan istri kamu?!"

Satria yang mendengar itu seketika terdiam seribu bahasa, barulah mimik wajahnya terlihat merasa bersalah sekarang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!