Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar Mayang, wanita itu terbangun dan kaget mendapati dirinya bangun agak kesiangan.
"Mati aku! Ini udah jam 8... Kok bisa aku bangunnya lama? Lahh Mas Satria juga bangun duluan tapi kok nggak bangunin aku?" Gerutunya saat melihat kesamping dan tidak melihat sosok Satria.
Argh...
Mayang mengacak rambutnya frustasi apalagi dia baru teringat kalau mertuanya ada dirumah itu.
Rasanya ia sangat malu untuk keluar sekarang juga.
Tok... Tok.... Tok...
Pintu kamar di ketuk, Mayang bergegas membukanya, "ehh ternyata nyonya udah bangun?! Ayo nyaa... Sarapan dulu!"
Ternyata itu bi Risma dengan roti dan segelas susu ditangannya.
"Aku bangunnya kesiangan hehe.. Makasih bii! Ohh iya, mamanya mas Satria dimana?"
"Ohh nyonya besar lagi nonton tv sama cucu-cucunya! Ada apa nyonya?"
Mayang menggeleng kuat, setelah menerima nampan berisi segelas susu dan roti dari bi Risma itu, Mayang kembali menutup pintu kamarnya.
Ia menghela nafas, "ahh gimana ini? Pasti mama bakalan marah karena lihat aku bangun jam segini.... "
Dengan buru-buru Mayang melahap roti dan menghabiskan susu dalam gelas tersebut, "Aku harus keluar sekarang!" Tekadnya.
Tidak mungkin kan, Mayang mau mengurung diri didalam kamar sepanjang hari.
Mayang akhirnya keluar setelah membasuh wajahnya dengan air, ia menghampiri mama mertua yang ditemani oleh ketiga cucunya sedang menonton film kartun.
"Pagi mah... Pagi anak-anak!" Sapanya namun tak ada satupun dari mereka berempat membalasnya, Anak-anak mungkin karena terlalu fokus pada apa yang mereka nonton sehingga tak mendengar Mayang namun berberda dengan mertuanya yang melirik tapi na menanggapi.
"Apa kamu selalu bangun kesiangan seperti ini sebelumnya?" Tanya ibu mertuanya to the point.
"Maaf mah, aku kebablasan... Lain kali aku nggak kayak gitu lagi. "
Mertua Mayang itu langsung berdiri tepat didepannya, "Lain kali... Lain kali... Kamu kira mama percaya? Semalam juga mama denger Devin terluka karena kamu nggak becus jagain mereka!"
Mayang hanya bisa tertunduk sembari mendengar ocehan mama mertuanya.
"Aku bakalan berusaha yang terbaik buat mereka kedepannya mah! Jadi please mama kasi kesempatan buat aku!" Pintanya.
Anak-anak ternyata memperhatikan kedua orang dewasa itu berdebat, Devin lalu menghampiri neneknya, "Nek... Jangan marahin tante Mayang terus... Kasihan!"
"Nggak gitu sayang... Nenek itu lagi ngajarin apa yang harus dilakukan supaya masalah yang kayak semalam itu nggak kejadian lagi."
"Tapi nenek tadi kayak orang lagi marah-marah...."
"Enggak kok! Nenek nggak marah-marah! Udah... Devin lanjutin aja nonton tvnya yah... "
Setelah Devin kembali duduk, Mertua Mayang mendengus dan menatap sinis padanya, "kamu ini... Bikin masalah terus! Ini masih pagi tapi udah bikin mama kesal aja!" Gerutunya pada Mayang.
"Maaf mah!"
Ibunda Satria tak peduli dengan permintaan Mayang, dia pergi meninggalkan semua orang menuju kamarnya, didalam kamar itu ia menelfon Satria yang tengah sibuk dengan tumpukan berkas diatas meja kerjanya.
Mamanya terus menelfon hingga Satria mendesah kasar lalu menerima panggilan masuk itu.
"Halo... Mama kenapa nelfon? Satria lagi sibuk ini mah!"
"Mama nggak peduli, istri kamu tuh pagi-pagi udah buat mama kesal aja!" Keluh mamanya.
"Mayang kenapa sih mah?"
"Hahh... Harusnya kamu tuh cari istri yang baik dong... Malah dapat istri yang sukanya bangun kesiangan.... "
"Mayang baru bangun?" Tanya Satria.
"Kamu masih nanya! Untung aja, ada bi Risma yang siapin sarapan buat mama dan anak-anak, kalau nggak ada bi Risma mungkin kamu udah jadi yatim piatu, anak-anakmu juga bakalan kelaparan!"
"Kok mama bilang gitu sih?"
"Kamu kan tau sendiri kalau mama itu punya penyakit lambung! Telat makan sebentar aja penyakit mama bisa kambuh! "
Satria menghela nafasnya, "haaa ya ampun mah! Itu nggak bakalan terjadi, lagian semalam itu aku, Mayang dan anak-anak pulangnya larut malam... Mungkin aja Mayang kecapean terus bangunnya kesiangan, maklumin ajalah mah!"
"Maklumin gimana, kalau sikap kamu gitu terus nanti Mayang jadi semena-mena dirumah ini! Aduhh pusing... Mama nggak bisa bayangin gimana nasib kamu dan anak-anak kalau mama udah nggak ada dirumah ini lagi!"
"Mama tenang aja! Aku yang bakalan jagain mereka!"
"Boro-boro... Kerjaan kantor aja bikin kamu lupa sama anak-anakmu, gimana caranya mau ngurus mereka!"
"Iya mah.. Iya, nanti aku fikirin lagi, masalahnya sekarang ini aku sibuk banget mah... Jadi udah dulu yahh.... "
Tuttt...
Panggilan diakhiri begitu saja padahal mamanya masih ingin bercerita.
Sementara itu Mayang kedapur, ia melihat bi Risma tengah membersihkan piring kotor, Mayang duduk termenung di kursi meja makan membuat bi Risma menatapnya bingung.
Bi Risma mengingat kembali apa yang terjadi semalam, dia pun penasaran dan bertanya pada nyonyanya itu.
"Nyonya sebenarnya kenapa sih?
"Bi... Apa aku seceroboh itu?"
Bi Risma menghentikan aktivitasnya, dia duduk didepan Mayang, "Apa masalah yang semalam itu ya nyonya? Sebenarnya kalau boleh saya berpendapat, itu nggak sepenuhnya salah nyonya karena kita sendiri nggak tau masa depan kita kayak gimana!" Bela Bi Risma.
"Tapi mereka semua nggak terima bii... Seolah-olah aku yang sengaja buat Devin terluka!"
Bi Risma meneguk air ludahnya dengan susah payah, ia terlihat mulai gugup, "saya tau kok perasaan nyonya!"
Mata Mayang mulai berkaca-kaca, "apa ini pernah terjadi sebelumnya bi?"
"Maaf nyonya! Tapi tuan sudah berpesan kalau saya nggak boleh cerita apa-apa soal masalalu dirumah ini sama nyonya!"
Dahi Mayang seketika berkerut, hal itu membuatnya makin penasaran sebenarnya apa ada yang mereka semua sembunyikan darinya?
"Kenapa bi?"
"Karena itu yang terbaik nyonya! Nyonya hanya perlu bertahan saja dirumah ini tanpa tau apa yang terjadi sebelumnya!"
"Please bi.. Bibi kasih tau aku!"
"Itu nggak bisa nyonya! Maaf saya harus melanjutkan pekerjaan saya!"
Bi Risma berdiri, ia lanjut mencuci piring kotor, sementara Mayang pasrah dia hanya bisa pergi kearah kamarnya dengan banyak sekali pertanyaan yang tak bisa ia jawab sendiri.
Dalam kamarnya Mayang terus melamun di sofa pojok ruangan, ia hanya bisa memeluk kakinya sendiri dengan tatapan kosong
...***...
Satria pulang pada saat jam makan malam, terlihat pria itu sangat lelah berjalan kearah kamar.
Mayang yang tengah menata lauk diatas meja kemudian dilirik oleh mertuanya, dia paham akan kode yang diberikan.
"Ehh aku mau kekamar dulu sebentar!" Bisiknya pada bi Risma yang bersamanya menata alat makan.
Saat didalama kamar itu, Mayang membantunya melepas dasi, "Bagaimana kerjaanmu dikantor mas?" Tanyanya mengesampingkan apa yang sepanjang hari tadi ia fikirkan.
"Nggak ada yang berubah! Semua saja aja... Ohhiya gimana luka Devin?"
"Lukanya udah mulai kering mas!" Jawabnya cepat.
Satria kemudian melepaskan pakaian, Mayang pula yang mengambilkan handuk untuknya, "Kamu mandi dulu mas baru keluar, ohhiya setelah makan malam nanti aku mau bicara serius sama kamu!"
Satria mengangguk perlahan, "kebetulan ada yang mau aku bicarain juga sama kamu!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments