Lama kelamaan Mayang bertambah gugup, pejaman matanya semakin dalam, dia sama sekali tidak tau harus bagaimana.
Tapi tiba-tiba tangan Satria berhenti bergerak membuat Mata Mayang terbuka lebar.
Pelukannya juga lepas membuatnya bisa menarik nafas panjang.
Krekk... Krekk...
Ranjang berbunyi, sepertinya ada pergerakan tak lama kemudian ada cahaya dari arah kamar mandi, Ia menduga Satria terbangun karena ingin buang air kecil.
Syuuur.... Syurrr....
Sepertinya benar, suara dari kran air akhirnya membuat Mayang terduduk diatas kasur, dia mengatur nafasnya yang sempat tak beraturan.
"Tadi itu apa? Mas Satria mau ngapain? Tapi bukannya dia sendiri yang bilang kalau... Ahh enggak-enggak!" Gumamnya mencoba menghalau fikiran negatif dari benaknya.
Satria ternyata sangat lama didalam sana, entah apa yang pria itu lakukan di dalam kamar mandi sementara Mayang sudah sangat mengantuk.
Matanya sudah sangat sulit untuk di buka lagi hingga ia memilih untuk tidur lebih dulu.
...***...
Mayang terbangun lebih awal dari biasanya, bahkan belum orang yang dirumah tersebut belum pada bangun.
"Akhirnya aku bisa buat sarapan untuk mereka! Ayolah May.... Jangan ngantuk lagi...." Gumamnya didepan cermin saat ia tengah mencuci wajahnya.
Mata yang masih bengkak dan sedikit memerah tak membuat tekad Mayang untuk menyiapkan sarapan itu tak pudar.
Ketika di dapur, Mayang terhuyung. Sepertinya ia masih sedikit mengantuk, "Aku mau masak apa ya?" Gumamnya.
Ia membuka lemari es dan melihat bahan-bahan membuat Mayang seketika tercerahkan untuk membuat sesuatu yang enak.
"Ehh pagi yonya... " Sapa bi Risma yang ternyata baru bangun.
"Iya bii.... "
"Tumben nyonya bangunnya sangat pagi? Terus nyonya mau ngapain itu??"
"Aku mau buat sarapan untuk anak-anak, sama mama juga... Kan mas Satria biasanya cuman minum kopi kan bii!"
"Iya Nyonya, kalau begitu nyonya mau masak apa? Biar saya bantuin.... "
"Biar aku aja bii... Bibi bisa kerjain yang lain... Karena saya mau buatin nasi goreng spesial.... "
Bi Risma terheran-heran, apa lagi ketika melihat jam dinding yang ada di ruang dapur itu.
"Apa nggak terlalu cepat nyonya? Ini masih jam setengah 5, nanti nasi gorengnya keburu dingin baru anak-anak bangun!"
Mayang baru menyadarinya, dia memukul dahi, "Ahh ya ampun... Bibi bener juga, terus gimana dong?
"Nyonya sih bangunnya kecepatan!"
"Lahh bibi juga gitu kok!"
"Sebenarnya saya bangun cuman mau pipis nyaa... Tapi denger ada orang didapur makanya kesini ehh ternyata itu nyonya!"
"Ohh gitu ya bii... Tapi jujur, nggak tau kenapa aku emang mau bangun agak pagi, tapi bangunnya malah kecepetan!"
"Ya udah, nyonya siapin aja dulu bahannya biar sebentar langsung di eksekusi!" Canda bi Risma dengan sedikit bersemangat.
Mayang mengangguk dengan cepat, ia menyiapkan semuanya sesuai dengan arahan bi Risma.
Tanpa kedua wanita itu sadari, dari kejauhan mama mertua Mayang melihat dan mendengar semuanya.
Entah apa yang di fikiran ibunda Satria itu sekarang, tapi bukannya menghampiri Mayang dan bi Risma, mertua Mayang itu malah kembali kekamarnya.
Saat matahari sudah perlahan memunculkan sinarnya, makanan juga sudah tersedia rapi di atas meja makan.
Mayang tersenyum pada bi Risma yang membantunya, dia puas dengan hasil yang ia buat.
Tak lama kemudian anak-anak datang, Devin terlihat lebih baik sekarang, "pagi anak-anak... Ayo sarapan dulu... " Kata Mayang.
"Pagi..., Wahh nasi goreng... Pasti buatan tante yah? Yang waktu itu enak banget loh tante, kita bertiga sampai nggak sisain sebutir nasi pun dipiring kita!" Timpal Devin yang membuat kedua kakaknya memberi tatapan tajam.
"Ohhya? Bagus dehh... Ini tante buatin lagi dimakan yahh... " Katanya menyodorkan tiga piring untuk masing-masing bocah kecil itu.
"Papaku mana tante?" Tanya Viona.
"Ahh ya ampun! Mas Satria.... " Mayang baru teringat kalau dia harus membangunkan suaminya untuk pergi bekerja.
"Kalian makan aja dulu yah... Tante mau bangunin papa kalian!"
Ia buru-buru kearah kamar, tapi ternyata Satria sudah tak ada diatas kasur. Terdengar suara air dalam kamar mandi, Mayang menduga kalau Satria tengah mandi.
Mayang duduk dipinggir ranjang sambil memperhatikan pintu kamar mandi, dia sedang berfikir untuk apa Satria menikahinya dengan cepat kalau bukan untuk melayaninya?
Apa untuk menemaninya tidur saja? Atau untuk merawat anak-anaknya? Tapi bukankah itu aneh? Apa dia sudah tidak normal? Semua pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba.
Klekkk...
Pintu kamar mandi terbuka, Satria keluar dengan hanya terlilit handuk selutut, Mayang terpesona saat itu juga.
Matanya melebar saat memperhatikan dada bidang Satria walaupun itu bukanlah yang pertama kalinya tapi tetap saja Mayang terpana.
Satria mengibas rambutnya dan berpose seksi didepan Mayang.
"Kamu dari mana? Pas aku bangun ternyata kamu udah nggak ada.... "
Seketika hayalan Mayang buyar, ternyata pose seksi itu hanyalah halusinasinya saja.
"May...fikiran kamu pasti kotor lagi ya?" Tuduh Satria.
Ekspresi Mayang malu-malu, dia memalingkan wajahnya, "Ihh apasih mas! Enggaklah... "
"Hemm... Aku bisa mengendus kebohongan tau! Jujur aja... "
"Enggak kok!" Ia berdiri mengibaskan kedua tangannya didapan Satria, "aku tadi itu melamun soal semalam!" Ungkapnya.
Satria mengerutkan alis, "semalam? Apa terjadi sesuatu semalam?" Tanyanya.
Mayang tak terheran-heran, bagaimana bisa Satria tak tau kejadian semalam? Apa dia benar-benar bermimpi dan melakukan itu padanya? Tapi Mayang tak langsung percaya begitu saja.
"Apa mas lupa? Tapi nggak mungkin!"
"Mas nggak tau apa-apa loh May... Emangnya ada apasih?" Wajah Satria terlihat sangat meyakinkan.
Mayang sedikit kecewa, jadi ternyata itu hanyalah mimpi?
"Serius?" Tanyanya mulai mengintimidasi.
Mayang mendekatinya tanpa melepaskan pandangan matanya dari Satria, semalam itu ia merasa bahwa suaminya sengaja melakukanya.
"Mas nggak bohong kan sama aku?" Tanyanya sekali lagi.
"Enggak! May... Kamu mau apa?" Satria tak bergerak dia membalas tatapan Mayang dan ingin melihat apa yang mau dia lakukan.
Tak disangka, Mayang menarik tangan Satria dan menempelkannya di salah satu gunung kembarnya.
Satria sontak saja sangat kaget, tindakan itu membuatnya melotot tak percaya, "May... Kamu.... "
"Apa sekarang mas sudah ingat?" Tanyanya menyela ucapan Satria.
Ia ingin menarik tangannya, tapi sekali lagi Mayang menahan dan menempelkannya kembali, "May... Kamu ini apa-apaan sih?"
"Kenapa mas? Lagian aku sama sekali nggak malu kok! Lagian mas kan suami aku sendiri, malah aku bakalan malu kalau kayak gini kesuami orang!" Katanya.
"Udah-udah... Lepaskan May! Kalau kayak gini terus aku bisa telat pergi kerja!"
"Jawab dulu mas! Apa mas udah ingat kejadian semalam?"
Kali ini Satria menarik paksa tangannya, ia kemudian berjalan kearah lemari, "nanti di kantor aku bakalam berusaha buat ingat! Kamu tenang saja!"
Sangat jelas kalau Satria hanya menghindari pertanyaan Mayang.
Ketika Satria tengah bersiap-siap, Mayang bergegas untuk mencari dasi yang akan ia kenakan.
"Mas pake ini aja, biar aku yang pakekan!" Katanya.
Mayang berjinjit untuk bisa meraih leher Satria sebab suaminya itu memang sangat tinggi, dia bahagia ketika melakukan hal-hal kecil untuk suaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Yuliana Tunru
satria laku2 plin plan trus knp jg buru2 nikahi mayang klo tak jelas gmn hati x..bikin mayang galau z..
2024-02-10
0