"Semalam benar tidak, wanita itu datang menuntut?" tanya Evi kepo
"Dia benar datang, tapi malah jadi minta maaf." jawab Yura
"Hah? Minta maaf? Sebenernya kaya gimana sih judulnya?" tanya Narendra
"Judulnya ya... berubah haluan." jawab Yura
"Bisa ngelawak juga nih nona muda" ucap Cery
"Apa sih Cer, nona muda.. nona muda. Ck" Yura paling tidak suka di panggil seperti itu.
"Iya iya, maaf. Jadi tadi malem adem-adem bae? Kak Nai, ga beraksi gitu?" Yura menggelengkan kepalanya
"Gue yakin sih, tante itu diam seribu bahasa. Begitu dia lihat, siapa lawannya. Pasti semua datang dan berkumpul kan?" ucap Kalingga
Langit mengangguk
"Tuhkan , gue bilang juga apa?" ucap Kalingga
"Maaf, Yura. Kamu di panggil sama bu Dewi, katanya mau membicarakan masalah olimpiade." ucap ketua kelas Yura, kini mereka sedang berkumpul di kantin SMP.
"Oh ok... terima kasih Kal." jawab Yura, Haikal pun pergi meninggalkan Yura
"Kalo gitu Yura pamit duluan ya, semuanya. Oya kak, nanti Yura pulang sore. Soalnya mau ada latihan, buat olimpiade minggu depan." ucap Yura
"Oke, kakak tunggu di perpustakaan tengah kalo begitu." jawab Langit
"Siap" Yura pun, pergi meninggalkan tunangan dan keempat sahabatnya.
.
.
"Siang bu" salam Yura
"Ahh.. kamu sudah datang? Mari masuk, nanti kamu akan berpasangan dengannya. Dia dari kelas 9-B, semoga kalian bisa bekerja sama. Dia anak pindahan, baru masuk ke sekolah ini 2 hari yang lalu. Dan dia juga merupakan murid pintar, di sekolahnya dulu." ucap bu Dewi, Yura mengangguk dan tersenyum
"Hai, aku Yura. Semoga kita bisa bekerja sama, di pertandingan nanti," ucap Yura seraya mengulurkan tangan, untuk bersalaman.
Namun wanita itu hanya berdehem, tanpa menerima uluran tangan Yura.
Bu Dewi yang melihatnya merasa tidak enak, apalagi Yura merupakan anak dari pemilik sekolah ini.
"Dia bernama Arabella, panggil saja Ara" ucap bu Dewi, Yura menurunkan tangannya dan mengangguk.
"Kalo begitu, Yura pamit kembali ke kelas ya bu." ucap Yura
"Iya sayang, nanti sepulang sekolah kita akan memulai latihan." jawab bu Dewi, Yura mengangguk dan keluar dari kantor guru. Yura menghembuskan nafasnya pelan, sepertinya akan sulit.
Yura hanya mengedikkan kedua bahunya dan melanjutkan langkahnya ke kelas.
.
.
"Ara, kamu adalah murid baru di sini. Tolong jaga sikapmu di sini, terutama pada Yura." pinta bu Dewi
"Memang siapa dia? Kenapa saya harus menjaga sikap? Saya tidak menyukainya, dia sok ramah dan sok baik. Di Sekolah dulu, aku yang di hormati dan di takuti." ucap Ara
"Maaf, tapi dia memang ramah dan baik. Saya peringatkan, jaga sikapmu. Jangan pernah membuat masalah dengannya, kembali ke kelasmu. Dan ingat satu hal, semua yang kamu dapatkan itu adalah di SE KO LAH MU YANG DU LU. BUKAN DISINI!!!" Ara pun berdecak, ia tidak suka di perintah.
Di sekolahnya semua takut padanya, karena ia adalah anak dari ketua yayasan. Tapi disini, ia hanya murid biasa. Terus, apa alasan kamu pindah ke sekolah ini??? Selain membuat masalah?
.
Waktu pun berlalu, Yura sudah selesai berlatih. Ia menghubungi Langit, untuk menanyakan posisinya.
Padahal posisi Yura sudah ada di samping pintu, tidak menghalangi jalan sama sekali. Namun ternyata, Ara dengan sengaja menyenggol bahu Yura. Sehingga ponselnya terjatuh dan pecah.
"AHH.. ponselku" ucap Yura
"Makanya kalo mau telepon jangan di tengah jalan, jadi rusakkan." ucap Ara, dengan wajah angkuhnya
"Yura, kamu baik-baik saja?" tanya bu Dewi, ia menatap Ara tidak suka. Ara pun langsung pergi, tanpa pamit ataupun meminta maaf.
"Seandainya bukan permintaan kepala sekolah, aku tidak akan membuatnya jadi pasanganmu." ucap bu Dewi bergumam kesal
"Tidak apa-apa bu, ponsel nya bisa di perbaiki. Yura masih bisa bersabar, selama ia tidak membuat masalah lain nantinya." jawab Yura, bu Dewi menghembuskan nafas kasar.
"Pokonya kalo nanti dia macam-macam, jangan sungkan kamu mengadukan hal ini pada keluargamu. Ibu yakin, semua ini ada hubungannya dengan kepala sekolah. Sepertinya ada permainan uang di dalamnya.." ucap bu Dewi
"Jangan su udzon bu, dosa." ucap Yura mengingatkan
"Astaghfirullah, maaf ya. Tapi, ibu yakin tentang hal ini. Ibu akan mengamankan rekaman CCtv kejadian hari ini, saat ia dengan sengaja menabrakmu. Siapa tau nanti di butuhkan" Yura hanya tersenyum dan mengangguk, ia pun berpamitan untuk segera pulang.
.
Sedangkan di pinggir lapang sekolah, ternyata Ara melihat Langit sedang berjalan ke arah kelas Yura latihan. Ia terpana dengan ketampanan Langit, sampai-sampai ia berniat untuk pura-pura bertabrakan dengan Langit.
Tapi sayang, saat sudah dekat. Langit tau gelagat Ara, ia menggeser posisinya. Sehingga membuat Ara menabrak angin dan jatuh tersungkur, sampai ia tertelungkup di lantai.
"ADUH" teriaknya, Langit hanya menoleh dan meneruskan langkahnya, ia malah tersenyum melihat Yura yang tengah jalan ke arahnya.
"Sudah selesai?" tanya Langit
"Ya, baru saja." jawab Yura
"Kakak tadi menghubungimu, tapi tidak aktif. Karena khawatir terjadi sesuatu padamu, makanya kakak menyusul." ucap Langit, Yura tidak menjawab. Tapi menunjukkan ponselnya, Langit mengerutkan dahinya
"Bagaimana bisa?" tanya Langit, seraya mengambil ponsel di tangan Yura. Yura bukan tipe anak yang ceroboh, sampai bisa merusak barangnya.
"Tadi saat akan mengambil ponsel, tangannya licin. Terus jatuh" jawab Yura, namun matanya melihat ke arah Ara. yang kini tengah menatap benci pada Yura
"Aneh" gumamnya pelan, Langit mendengarnya. Lalu ia pun menoleh, Ara langsung merubah ekspresi wajahnya. Menjadi orang yang sedang kesakitan, karena jatuh tadi. Yang mana membuat Yura membulatkan kedua matanya, kok bisa?
"Siapa dia?" tanya Langit
"Murid baru, yang akan jadi pasangan Yura saat olimpiade nanti." jawab Yura menghela nafas malas
"Jangan terlalu dekat dengannya, kakak tidak menyukainya. Terlihat sekali, bila dia licik." ucap Langit
'Kakak tidak tau saja, apa yang sudah di lakukan dia tadi.' ucap Yura dalam hati
"Dengar tidak?" tanya Langit, mengejutkan Yura
"Iya kakakku sayang, Yura mendengarnya." jawab Yura tersenyum
Langit mengacak gemas rambut Yura, membuat Ara semakin kepanasan melihatnya. Lah.. lagian ngapain kamu di situ? Bukannya cepetan pulang.
"Kalian masih di sini?" tanya bu Dewi
"Sudah mau pulang bu." jawab Yura
"Hati-hati di jalan ya" ucap bu Dewi, Yura dan Langit mengangguk
Yura berjalan terlebih dahulu, bu Dewi menyentuh Langit sedikit di bahunya. Langit pun berbalik, bu Dewi memberikan sebuah flashdisk pada Langit.
"Jaga Yura" ucap bu Dewi dan berlalu pergi, Langit terdiam.
"AYO KAK" teriak Yura, Langit pun mengangguk
Yura dan Langit berjalan melewati Ara, tak peduli Ara merintih kesakitan.
"Kenapa dia?" tanya Yura
"Entah, di dorong penunggu sekolah ini mungkin." jawab Langit, Yura pun terkekeh.
"Siapa pria itu, kenapa terlihat sangat dekat dengan wanita sok kecantikan itu? Seorang Ara tidak akan kalah, tidak akan pernah. Lihat saja, aku pasti bisa mendapatkannya." ucap Ara
"Jangan mimpi terlalu tinggi, takutnya saat jatuh. Kamu akan langsung masuk ke comberan, ck ck." ucap bu Dewi mengejutkan Ara
"Jangan ikut campur urusan orang, pikirkan saja karir ibu. Aku bisa membuat anda di keluarkan besok, cukup aku bilang pada ayahku." bu Dewi tersenyum
"Katakan saja, kita lihat nanti. Siapa yang akan keluar? Kamu dan kepala sekolah atau aku, mari saya duluan." ucap Bu Dewi, ia pun pergi meninggalkan Ara
"AAAARRRGGGHHTT... lihat saja"
...****************...
Masalah Alin temen sekelas Langit aja belum selesai. Sekarang malah mikirin pelakor lain, hadeeehhh... jangan ganteng-ganteng atuh Langiiiiit😮💨😮💨😮💨
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nya🥰🥰
...Happy Reading all🥰🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Erna Masliana
🤣🤣🤣🤣🤣🤣nyamos
2024-08-29
1
Calista
rasain tu gimana rasa ny tersungkur ke lantai
2024-03-14
2
Calista
modus mu basi neng
2024-03-14
2