"Pasti mudah banget ya buat kamu, kamu pake ga ada kemaren. Aku jadi ga ada tutor, yang ngajarin aku. hiks." ucap Cery
"Maaf, selama seminggu ini kita akan belajar bersama setiap pulang sekolah. Bagaimana?" ucap Yura, membuat kedua sahabatnya tersenyum
"Setuju, kita belajar di rumahmu saja." saran Evi
"Oke sip"
Bel pelajaran kedua pun berbunyi, semua murid masuk untuk mengerjakan soal ujian.
.
.
"Sudah selesai?" tanya Langit
"Mm" jawab Yura tersenyum, seraya mengangguk
"Hai kak Langit" sapa Cery dan Evi
"Hai, kalian mau kemana?" tanya Langit
"Kita mau ke rumah Yura, kak. Mau belajar buat ujian besok, bolehkan?" Langit mengangguk
"Wahh.. kalo gitu kami juga ikut dong, Lang... ajarin kita." ucap Kalingga, Narendra mengangguk setuju
"Boleh, bukankah akan semakin seru kalo semakin banyak orang? Iyakan kak?" jawab Yura, seraya menatap Langit. Langit hanya menjawabnya dengan tersenyum, hanya pada Yura.
"Aseeeekkkk" Kalingga dan Narendra pun melakukan tos
Ternyata gadis yang menyukai Langit mendengar hal tersebut, ia dan temannya berjalan mendekat.
"Kalian mau belajar bareng, aku boleh gabung?" tanya nya
"Dih, sadar diri dong jadi senior. Situ kelas 8, sedangkan kita kelas 6 dan 7. Ngapain ikut gabung ma anak kicil?" sela Evi tak suka, gadis itu menatap tak suka padanya.
"Apa?" tantang Evi tanpa suara, matanya pun ia pelototkan.
"Karena aku senior kalian, jadi aku bisa mengajarkan kalian." ucap gadis yang bernama Felicia, keempat teman Langit dan Yura memutar malas bola mata mereka.
"Kita mah ga butuh anda, Langit aja udah cukup." ucap Narendra
"Iya, kita juga ga butuh. Kamu sama Yura aja, kalo di adukan kepintaran kalian. Sudah di pastikan, kamu bakalan kalah kak." ucap Cery
Yura menyenggol lengan Cery
"Apa, emang bener kan?" ucap Cery kesal, ia pun melipat kedua tangannya di depan perut. Yura pun menghembuskan nafasnya, ia tak suka temannya menyombongkan dirinya.
tin tin
"Mobilnya datang kak, ayo" ajak Yura pada Langit, Langit hanya mengangguk.
Evi, Cery, Narendra dan Kalingga ikut mobil yang menjemput Langit dan Yura. Mereka sudah bilang pada supir mereka, untuk tidak usah menjemput mereka. Felicia yang tidak di anggap, mengepalkan kedua tangannya. Kesal, entah ada setan apa yang lewat. Saat Yura tengah menunggu teman-temannya naik, Felicia melangkah cepat dan menjambak Yura.
"AAAAAAAAAA" teriak Yura, Langit yang sudah naik di jok depan terkejut. Ia langsung turun, begitu juga dengan teman-temannya.
"Leppass" ucap Yura, Felicia langsung mendorong Yura sampai ia tersungkur. Sehingga beberapa anggota tubuhnya, mengalami luka gesekan dengan tanah.
"AAAAAA" teriak Yura, karena kejadian yang begitu tiba-tiba. Tidak ada yang menahan Yura, Evi dan Cery langsung membantu Yura bangun. Langit yang melihat kekasih hatinya terluka dan tengah meringis kesakitan, langsung menatap tajam pada Felicia.
Felicia pun tersadar, saat melihat Yura yang kini tengah duduk kesakitan. Bodyguard sekaligus Supir yang menjemput Langit dan Yura turun, ia langsung memegangi Felicia. Melihat Langit mendekat dengan tatapan tajam, membuat Felicia menelan saliva nya dengan susah payah. Bahkan tanpa sadar, ia memundurkan langkah. Namun tidak bisa, karena di belakangnya sudah ada bodyguard.
PLAK
"KAKAK" teriak Yura, ia pun meminta temannya untuk bantu bangun dan memapahnya. Ia pun jalan mendekati Langit, terlihat sekali Langit saat ini tengah lepas kontrol. Dan Yura tau apa penyebabnya, begitu juga dengan yang lain.
"Kak" panggil Yura pelan, Langit memalingkan wajahnya. Ia tak ingin kekasihnya melihat wajahnya, yang kini tengah di kuasai amarah.
"Kak" panggil Yura lagi, ia pun mengangkat tangan dan memegang wajah Langit agar menatap matanya.
Terlihat dada Langit yang masih naik turun, belum bisa mengendalikan emosinya.
Yura menurunkan tangannya dan memegang tangan Langit, Yura mencium telapak tangannya. Perlahan amarah Langit pun mereda, kini ia mau menatap Yura.
"Tangan ini, tidak boleh melukai seorang perempuan. Yura seorang perempuan, Senja perempuan, Naomi perempuan, mama Kinan perempuan, kak Naina perempuan dan anggota keluarga kita yang lain juga banyak perempuan. Bagaimana bila ada orang, melakukan hal yang sama dengan kakak pada kami?" Langit meneteskan air matanya, ia merasa gagal melindungi Yura.
Bukan hanya teman-temannya yang terkejut, melihat hal tersebut. Bahkan Felicia pun terkejut melihatnya, karena seorang Langit menangis.
"Maaf, maafkan kakak. Kakak tidak bisa melindungi mu, kamu.... kamu jadi terluka." ucap Langit, sembari balik memegang tangan Yura dan mengangkatnya. Air mata Langit kembali jatuh, saat melihat luka-luka di telapak tangan, lengan dan juga lutut Yura. Belum lagi baju dan rok bagian depan Yura terlihat kotor, Langit yakin dada atau perutnya ada memar.
"Kakak tidak perlu minta maaf, ini bukan salah kaka dan bukan kakak yang harus balas memukulnya. Tapi.... aku." Yura berbalik dan mengangkat tangannya yang terluka, lalu....
PLAK
PLAK
Dua kali Yura menampar wajah Felicia, sampai kedua ujungnya bibirnya pecah dan mengeluarkan sedikit darah.
"AAAA" teriak Felicia
Semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, seorang Yura yang lemah lembut. Bisa melakukan kekerasan seperti ini, menampar?
GLEK
Bahkan wajah Yura saat ini, bukan seperti Yura yang biasanya. Terlihat dingin dan datar, dia bukan Yura.
Sedangkan faktor yang memancing Yura seperti ini, bukanlah karena luka yang ia dapatkan. Namun, karena ia tak suka melihat Langit merasa bersalah dan sampai mengeluarkan air matanya.
Yura maju, ia semakin dekat dengan Felicia.
"Apa aku harus melakukan, apa yang aku ucapkan beberapa minggu yang lalu? Mematahkan tanganmu!!!" Felicia menggelengkan kepalanya, saat ini ia benar-benar takut. Ternyata gadis kecil di depannya ini, benar-benar menakutkan.
Bagaimana bisa hanya, dalam hitungan detik ia berubah menjadi seperti orang lain.
"T-tidak, maaf... m-maafkan aku. A-aku tidak akan mengulangnya lagi, aku tidak akan mengganggumu ataupun Langit lagi. A-aku janji, AKU JANJI. Aku mohon lepaskan aku, hiks... Maaf" Felicia menangis ketakutan, ternyata ia telah salah menyenggol orang. Langit benar-benar mencintai gadisnya, padahal bisa di bilang usia mereka masihlah terlalu dini. Untuk mengenal arti kata cinta yang sebenarnya, namun ia bisa melihat keseriusan di mata sepasang kekasih tersebut.
Mendengar kata maaf, Yura pun tersadar. Yura mengangkat tangannya, Felicia sudah meringkuk dan menutup mata karena ketakutan. Karena ia pikir, ia akan kembali di pukul oleh Yura. Namun, ternyata ia salah. Yura menyentuh pipi Felicia, Felicia membuka mata. Ia terkejut, saat melihat mata Yura berkaca-kaca.
"Maaf, pasti sakit ya. Maaf" ucap Yura, air matanya pun jatuh
Felicia mematung, entah apa yang kini ia rasakan. Hatinya tiba-tiba terasa hangat, air matanya kembali mengalir. Namun, bukan air mata takut. Rasa ini, baru ia rasakan. Hangat... Perasaan apa ini?
"Huuhuuu huhuuu... maaf, maafkan aku. Maaf" Evi dan Cery saling bertatapan, apa yang terjadi?
Bukan hanya mereka, kedua sahabat Langit pun sama bingungnya.
Bukankah tadi peperangan? Kenapa sekarang jadi tangis-tangisan? Selembut apa sebenarnya hati Yura?
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nya🥰🥰
...Happy Reading All💓💓💓...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Nur Kotimah
ya elah kelas 3 SMP gelut sama bocil yang normalnya kelas 3 SD .. ya ampuuun 🤦🤦🤦🤦🤦childis bgt yak .
2024-06-19
1
Calista
rasain tu emang enak kena pukul,maka my jd orang jngn suka cari gara"
2024-03-13
4
Calista
cari penyakit ni cwek,blm tau aja yura seperti apa,apa lg di situ ada langit habis lah qm
2024-03-13
2