Posisi wanita itu, kini berdiri dengan kedua tangannya terikat terentang.
"Kau tau, akibat kecelakaan yang sengaja kamu buat. Adikku Ros mengalami kerusakan pada rahimnya, sehingga ia harus operasi pengangkatan rahim. Bahkan ini adalah pengalaman pertamanya hamil dan melahirkan, namun ia harus kembali di beri cobaan. Dengan tidak bisa kembali memiliki seorang anak, bila seandainya sampai terjadi sesuatu pada keponakan kami. Aku benar-benar akan mempertemukan mu dengan dewa kematian, saat itu juga." ucap Rei dengan menggenggam erat benda yang ia pegang
Calvin menggelengkan kepalanya melihat Rei seperti dulu, seorang mafia yang di kenal tidak pandang bulu. Tidak peduli itu perempuan atau pun orang tua, selama sudah berani bermain-main dengannya. Itu artinya, orang itu sudah siap untuk kehilangan nyawanya.
Dan kini perempuan di depannya, sudah berani membangunkan singa tidur bertahun-tahun.
BRAK
Belum Rei memberikan hukuman, pintu terbuka secara kasar. Mengejutkan keempat orang yang masih sadar, di ruangan tersebut. Rei menghembuskan nafasnya, pasrah aelah.
"Kenapa papa dan ayah diam saja? Kenapa tidak bilang pada Nai, kalo kalian sudah menangkap dalangnya?" tanya Naina yang baru saja masuk, dengan air mata yang membasahi pipinya
"Tadi kamu kan belum bangun sayang" jawab Rei mengeles, karena memang tadinya tidak mau mengajak Naina
"Cih, alasan klise" ucap Naina, seraya menatap pria yang tidak sadarkan diri di atas kursi
Naina mengalihkan tatapannya pada wanita yang kini tengah menangis kesakitan dan juga ketakutan, tengah terikat di dua tiang tersebut. Ia pun melangkahkan kakinya, menghampiri wanita itu.
Auranya mengalahkan Rei sang papa, bahkan J dan Calvin susah payah menelan saliva nya.
'Aura ini, benar-benar sangat menekan. Tuan Rei saja tidak sekelam dan segelap ini.' ucap J dalam hati
"Kau... kau dalangnya? Seorang wanita? Apa alasanmu?" tanya Naina datar, ia mengambil benda yang sedang di pegang oleh Rei.
"Sayang" panggil Ken yang baru saja masuk, terlihat bila ia terburu-buru. Sepertinya saat Naina pergi, Ken tidak mengetahuinya.
Rei mengangkat tangan, meminta menantunya untuk diam.
Wanita yang di tanya oleh Laras diam, ia sendiri sedang merasakan sakit pada kakinya. Tambah lagi dengan aura kuat, yang di miliki oleh Naina.
"Dia terobsesi pada ayahmu, Ezra." jawab Calvin
Buagh
Aaaaaaaaa
Tanpa banyak bicara, Naina memukul perut wanita itu. Sampai wanita itu, memuntahkan darah dari mulutnya.
"Hanya karena obsesi? Kau telah membuat orang-orang yang aku sayangi sekarat, dan kini ada di antara hidup dan mati?" Air mata Naina luruh
Naina baru mengetahuinya tadi, bahwa sang ibu kesayangannya tidak akan bisa mempunyai anak lagi. Karena rahimnya, yang sudah di angkat.
BUAGH
AAA
Naina kembali memukul pinggang kanan wanita itu
"Aku akan membuat kau, merasakan apa yang di rasakan bunda dan ayahku. Aku akan membuatmu, di antara hidup dan mati. Terbaring lemah, di atas ranjang."
BUAGH
Naina kembali mengayunkan besi itu, ke pinggang kiri wanita tersebut. Wanita itu kembali memuntahkan darah dan langsung tak sadarkan diri
"Siram dia" titah Naina pada J
Rei tersenyum, sedangkan Calvin dan Ken merasa ngeri melihat Naina yang hilang kontrol tersebut.
BYURRR
Wanita itu kembali terbangun, dengan kondisi yang sangat lemah. Naina yang terkenal dengan wanita yang memiliki rasa empati tinggi pada sesama, tidak untuk saat ini.
Melihat kondisi ayah dan ibunya, yang belum sadarkan diri. Di tambah dengan kondisi adiknya, yang masih butuh penanganan. Membuatnya benar-benar gelap mata, tak ada ampun bagi siapapun. Yang sudah berani melukai, anggota keluarganya.
Naina maju, ia menjambak rambut wanita itu. Sampai kepalanya menengadah ke atas, air matanya mengalir. Rasa sakit yang di rasakannya, teramat sangat sakit. Ia sudah benar-benar salah, menargetkan Ezra. Dia menyesal, namun mi instan sudah matang. Tidak bisa di buat mentah lagi, eaaa
"Kau berani sekali menyentuh orang-orang ku, bisa saja aku membunuhmu saat ini. Tapi, itu tidak akan aku lakukan. Karena kau harus merasakan sakit itu, sampai kau menyerah sendiri karena sudah tak bisa menahannya." ucap Naina di telinga wanita itu.
Naina kembali mundur, ia mengangkat tangan yang memegang benda tumpul tersebut. Ia pun mengayunkan benda itu, di perut wanita itu... LAGI.
BUAGH
UGh
KLANG
Naina melempar benda itu, ke asal tempat.
"Bawa mereka ke rumah sakit J, katakan saja mereka terkena begal." titah Rei
"Siap tuan" jawab J menundukkan sedikit kepalanya
"Sudah?" tanya Rei pada sang putri
Naina menatap wajah Rei, tangisannya kembali pecah.
"HUWAAAAAAA.... AAAAAAAAA" Ken ikut meneteskan air matanya, begitu juga dengan Calvin
"Aku sudah jahat pah, aku... aku..."
"Tidak sayang, tidak apa-apa" ucap Rei, ia menarik Naina ke dalam pelukannya. Menepuk pelan, punggung sang putri.
Calvin memeluk pundak Ken, dari samping.
"Maafkan Naina yang sudah lepas kontrol, semua ini di pacu karena rasa sakitnya. Melihat orang tersayangnya terluka, ia tak bisa mengendalikan amarahnya." ucap Calvin, Ken menoleh dan mengangguk
Ya... Ken sudah melihatnya, saat kasus yang menimpa Bulan dulu. Ken melangkahkan kakinya, mendekati sang istri. Rei yang paham melerai pelukannya dan di gantikan oleh Ken, Naina yang hapal wangi parfum sang suami. Langsung mengeratkan pelukannya dan kembali menangis
"Aku.. aku sudah melukai wanita bee, aku jahat." ucap Naina
"Tidak, kamu hanya menghukum orang yang sudah melukai ayah Ezra, bunda Ros dan adik kita. Kamu hanya lepass kontrol, tidak apa-apa. Dia tidak kehilangan nyawanya"
"Benarkah?" tanya Naina
"Ya, ayo kita kembali ke rumah sakit. Kita harus sering mengajak bicara ayah dan bunda, agar mereka bisa segera bangun." ajak Ken, Naina melerai pelukannya dan menatap Ken.
Ken mengangkat tangan dan merapihkan rambut Naina, mata Naina terlihat bengkak. Karena sudah terlalu lama menangis, bahkan hidungnya juga sampai mampet.
"Kasihan Yura dan anak-anak, dia pasti mencari mu." ucap Ken, Naina mengangguk
Mereka pun kini keluar dari gedung kosong tersebut dan akan kembali ke rumah sakit, Ken memapah Naina.
"Putrimu lebih menakutkan." bisik Calvin
"Kamu benar, untung ia di temukan oleh wanita yang tepat. Ros... seandainya bukan Ros, aku tidak tau akan tumbuh seperti apa Naina?" jawab Rei
Karena itu, ia sangat marah. Melihat kondisi Ros seperti ini, tambah lagi sahabatnya pun ikut koma.
.
.
"Bunda, mau sampai kapan bunda tertidur?" tanya Yura dengan suara bergetar, ia mengusap punggung tangan Ros
"Jangan membuat Yura takut bunda, walau di sini ada mama Hana. Tapi, bagi Yura. Bunda adalah segalanya, bunda adalah matahari Yura. Tanpa bunda, Yura pasti sudah tidak ada di dunia ini. Pria yang harusnya menjadi laki-laki pertama yang Yura cintai, bahkan dengan mudahnya membuang Yura. Bangun bunda, Yura mohon. Bunda tidak kasihan pada putra bunda? Dia bahkan terlahir tanpa pelukan bunda, tapi bunda tenang saja. Asik Yura terlahir, dengan baik-baik saja, sekarang sedang menunggu bunda menyusuinya. hiksss..." Tangisan yang ia tahan pun pecah
"Bunda, jangan tinggalin Yura. Jangan tinggalin adik juga, kasihan adik belum melihat wajah bunda. huhuhu..." Yura mencium punggung tangan Ros, dengan sangat lama
Saat Yura menunduk, tiba-tiba Ros kejang-kejang.
"Bu bunda, tidak... DOKTER!!!
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Hariyanti
ngeri yaaa saat jiwa psikopat naina keluar🙈🙈🙈
2025-03-25
1
Rismawati Udink
😭😭 mengandung bawang
2024-12-09
1
Dwi Setyaningrum
adik apa asik Thor hehehe typo dikit Thor😁😁
2024-06-08
1