ceklek
Lina sampai rumah sakit pukul 11 malam, karena tadi ia mampir ke toko kue 24 jam. Untuk membeli amunisi, nampaknya ia tidak akan bisa tidur malam ini? Ia merasa rindu dengan bunda, malam ini ia hanya ingin menatap wajah sang bunda.
"Assalamu'alaikum" ucap Lina berbisik, ia lalu ke arah meja di luar ruangan Ros. Lalu ia pun masuk ke ruang ICU, Ezra dan Ros akan di pindahkan besok pagi. Di tempat Ezra, ada Calvin dan Rei yang menjaganya.
ceklek
"Assalamu'alaikum" ucapnya lagi berbisik, air matanya lolos. Bersyukur karena kondisi sang bunda, tidak seperti pertama kali ia lihat. Kabel yang terpasang di tubuh sang bunda, sudah terlepas. Lina segera menghapus air matanya, ia pun melangkah mendekati ranjang Ros dan duduk di kursi samping ranjang. Lina menaikkan selimut sebatas dada, ia menggenggam tangan Ros.
"Terima kasih bunda, terima kasih karena sudah bangun. Lina rindu, tadi Lina sudah melihat baby. Baby semakin gemuk dan gembul, ia sangat tampan seperti ayah Ezra dan bunda Ros. Perpaduan yang sangat pas, itu artinya ayah sama bunda saling cinta. Jadi wajah bunda dan ayah, terpampang sama baby. hehehe" ucapnya pelan, ia pun terkekeh dengan ucapannya sendiri
Ros merasa ada yang menggenggam tangan dan mendengar suara samar-samar, terbangun.
"Maaf bunda, Lina sudah mengganggu tidur bunda." ucapnya pelan, Ros pun melihat wajah tersebut dan tersenyum.
"Sayang, kamu di sini? Dengan siapa?" tanya bunda Ros
"Sendiri bunda, kak Naina tidak bisa meninggalkan Zie dan Naomi. Sedangkan trio kwek-kwek terlihat lelah tadi, jadi Lina yang menemani bunda malam ini. Maaf, Lina sudah mengganggu tidur bunda." jawab Lina
"Tidak, bunda sudah tidur sejak tadi. Tapi belum bisa duduk, rasanya badan bunda remuk semua." ucap Ros
"Tidak apa-apa bunda, sebentar lagi bunda sehat kok. Kan udah di tunggu baby sama ayah Ezra." ucap Lina
"Dimana ayahmu?" tanya Ros
"Ayah ada di ruang sebelah, sedang istirahat. Karena ayah dan bunda membutuhkan waktu istirahat, tanpa memikirkan satu sama lain. Jadi, dokter menyarankan untuk pisah ruangan. Besok baru di pindahkan, menjadi satu ruangan." jawab Lina
"Bagaimana kondisi ayahmu? Dia pasti tidak baik-baik saja, karena waktu kecelakaan. Ayahmu sebisa mungkin, melindungi bunda dan baby." tanya Ros, suaranya mulai bergetar, matanya pun berkaca-kaca. Ia ingat benar, bagaimana saat sang suami melindungi dia dan bayi mereka.
"Ayah baik-baik saja bun, ayah sedang menunggu satu ruangan dengan bunda besok." jawab Lina tersenyum
Lina mengalihkan pembicaraan, ia mengajak Ros membicarakan mengenai dirinya yang menjadi lulusan terbaik. Ros tersenyum bahagia, putrinya yang sempat terpuruk. Kini sudah menjadi gadis cantik, yang tangguh.
"Bunda bangga, jadilah anak yang selalu rendah hati. Tidak boleh arogan, jadikan ilmumu berguna untuk banyak orang." pesan Ros
"Iya bun, Lina akan mengingat pesan bunda. Sudah terlalu malam, bunda sebaiknya kembali beristirahat. Agar besok terbangun lebih segar dan mudah-mudah sudah kuat untuk duduk, supaya bisa gendong baby bukan?" Ros mengangguk, Lina kembali merapihkan selimut dan membenarkan posisi bantal. Agar Ros bisa tidur lebih nyaman, Lina mencium kening sang bunda lama.
Setelah 10 menit, bunda Ros pun terlelap. Lina tersenyum dan memilih untuk keluar, ia merasa lapar. Apalagi tadi ia sudah membeli kue favoritnya, Lina pun memilih membuat kopi.
"Paman yang lain mau buat kopi tidak ya? Sebaiknya aku makan di luar saja, biar bisa barengan dan ada teman." Lina membawa paper bag tersebut keluar dan menawarkan pada yang lain, tak lupa ia juga menawarkan untuk di buatkan kopi. Para penjaga menerimanya dengan senang hati.
.
.
Waktu pun berlalu, Ezra sudah lebih baik. Namun ia harus menggunakan kursi roda, selama 6-12 bulan ke depan. Ezra masih harus melakukan 2x operasi lagi, pada kakinya dan di lanjutkan dengan terapi. Sedangkan Ros, ia sudah bisa menggendong dan menyusui baby nya.
Baby juga sudah keluar dari inkubator, sekarang sang bayi sudah terlihat lebih gemuk. Bahkan saat menyusu sangat kuat, terkadang Ros kewalahan dan merasa kesakitan. Meski sempat terpukul karena ia mendapat kabar buruk, bila rahimnya sudah di angkat. Namun ia tetap bersyukur, karena buah hati mereka baik-baik saja.
Rencanannya mereka semua, akan kembali ke ibu kota hari ini.
Bahkan Lina, Langit dan Yura sudah kembali lebih dulu seminggu yang lalu. Karena Lina yang ada pekerjaan ke luar kota, sedangkan Langit dan Yura mulai ujian semester 1 hari ini. Di susul Hana dan anak-anak, mereka juga sudah pulang keesokan harinya. Karena khawatir meninggalkan Lina, Yura dan Langit.
"Apa pulang akan langsung adakan Aqiqah?" tanya Naina
"Ya, tentu saja." jawab Ros
"Apa sudah ada namanya, yah?" tanya Ken
"Tentu saja sudah, Barra Saputra Utsman" jawab Ezra seraya menatap Ros, Ros tersenyum dan mencium kening Ezra.
"Uuunncchh... so sweet banget sih ayah sama bunda." ucap Naina
"To tiiittt" ucap Zie mengikuti Naina, Rei tertawa kencang mendengar celotehan sang cucu. Ia pun menggelitik perut Zie, yang kini ada di pangkuannya.
ceklek
"Selamat pagi semuaaa, wahhh... sedang berkumpul ternyata." masuklah dokter Salman, dokter Raisa dan dokter Ceril dengan senyuman di wajah mereka. Karena mereka juga akan ikut kembali ke ibu kota, bersama Naina dan yang lain.
"Pagi dokter" jawab semua
"Semua sudah normal dan hasil pemeriksaan sangat bagus, siang ini kalian semua sudah boleh pulang. Dan operasi Ezra, akan di lakukan di rumah sakit ibu kota. Semangat, sekarang kamu sudah mempunyai baby. Semangatmu pasti berkali-kali lipat bukan, Ez?" ucap Salman, Ezra tersenyum dan mengangguk.
Dokter Ceril dan dokter Raisa, juga menjelaskan kondisi Ros dan baby Barra. Semua normal, tak ada kendala apapun.
"Alhamdulillah, terima kasih dok." ucap Kinan
"Dan maaf kan aku, karena menahan kalian selama dua minggu ini. Aku benar-benar minta maaf, tapi aku tidak bisa mempercayai orang lain selain kalian." ucap Rei
"Kalian rekan Ezra yang paling dekat di ibu kota, jadi mau tak mau kami harus menahan kalian." lanjut Calvin
"Tidak apa-apa tuan, walau awalnya kami kesulitan. Karena cukup sulit memberikan pengertian pada anak-anak, tapi lambat laun mereka mau mengerti." jawab Ceril tersenyum
"Kalian tenang saja, kerja keras kalian selama di sini. Tidaklah gratis, aku sudah menyiapkan hadiah untuk kalian. Masing-masing dari kalian, sudah aku belikan 1 unit rumah di perumahan tak jauh dari mansion. Dan masing-masing, mendapatkan 1 unit mobil. Terima kasih..." mendengar ucapan Rei, ketiga dokter tersebut membulatkan kedua bola matanya.
"Tu-tuan... k-kami merawat Ezra dan lainnya, ikhlas. Sungguh..." ucap Raisa bergetar
"Kami pun ikhlas dan tulus, tolong terima pemberian kami. Kalian sudah menyelamatkan, nyawa kedua adik dan keponakan kami. Bahkan kalian sudah mengorbankan waktu berkumpul kalian dengan keluarga, mengorbankan waktu istirahat. Jadi, tolong di terima." ucap Rania, menggenggam tangan Ceril dan Raisa
Air mata kedua wanita itu pun jatuh, tak pernah membayangkan sama sekali mereka akan mendapatkan sebuah rumah mewah. Apalagi di perumahan elit dan satu unit mobil mewah, akhirnya keinginan anak mereka terkabulkan. Mereka bertiga yang memang bekerja tulus membantu orang-orang, tak pernah memberikan tarif tinggi pada pasien. Bahkan mereka akan menggratiskan pengobatan pada pasiennya, yang jelas-jelas tidak mampu.
Dan Ezra, Rei juga Calvin, mengetahui itu semua.
"Terima kasih, terima kasih." ucap mereka bertiga
...****************...
...Happy Reading All💓💓💓...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Zanzan
kira2.,.yg buat beli rumah itu uang semuanya bukan ya...🤭🤭aku nyari seribu buat tambah 10 ribu aja susah...😁😁
2024-06-08
3
Ani Mak NitaAdelia
sultan mah bebas,,hebat sudah ayah rei😍
2024-05-14
1
Calista
wow upah nya gak kaleng" sultan mah bebas ya
2024-03-13
2