"Assalamu'alaikum" salam Naina dan Ken yang baru saja pulang.
"UNDAAAAA.... YAYAAAAAHHH" teriak Zie yang langsung berdiri dan berlari menghampiri kedua orang tuanya
"Wa'alaikum salam" jawab Hana, Yura, Langit dan Senja
Mereka tengah asyik berkumpul di ruang keluarga, menemani Zie menonton kartun kesukaannya
Ken dan Naina, sepakat membeli mansion yang ada di sebelah mansion Ros. Begitu juga dengan Calvin dan Kinan, membeli mansion yang ada di sebelah Rania. Sam dan Cici juga di paksa untuk tinggal bersama mereka, bila tidak Sam dan Cici akan di coret dari KK. Padahal tanpa di ancam seperti itu pun, mereka berdua memang sudah keluar KK. Karena sudah memiliki KK sendiri, wkwkwk
(Sultan mah bebas, beli mansion juga. Udah kaya beli bala-bala, serebuan)
Ken menangkap tubuh sang putra.
"Jawaban salamnya mana sayang?" tanya Naina
"Wa'alaikum salam" Zie memang cadel, tapi untuk hal-hal seperti ini ia akan lancar.
"MasyaAllah, pintarnya anak bunda dan ayah." Zie bertepuk tangan mendengar pujian dari sang bunda, Ken mencium gemas putranya. Gelak tawa Zie, terdengar memenuhi ruangan.
"Abang sama kak Yura dulu ya, ayah sama bunda mandi dulu. Sebentar lagi shalat maghrib, ade mana?"
"Tama oma Tinan tama oma Lania" jawab Zie, Naina mengangguk paham
"Bu, Naina titip abang sebentar ya" pinta Naina pada Hana
"Pergilah, biarkan Zie bersama kami. Kalian pasti lelah, mau ibu antarkan teh atau kopi?" jawab Hana seraya menawarkan sesuatu
"Tidak usah bu, kalo mau nanti Nai buat sendiri." jawab Naina
Naina dan Ken berlalu pergi ke kamarnya, Zie kembali anteng dengan kakak-kakak nya.
.
"Hubby mandi duluan?" tanya Naina, seraya duduk di sofa dan membuka sepatunya
"Bareng yuk yang, biar cepet" jawab Ken, yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Nai.
"BIYIR CIPIT... prettt... yang ada malah makin lama. Guyang hubby kalo bareng mah ah, duyung juga bukan." jawab Naina, Ken tertawa mendengar jawaban sang istri
Tanpa babibu, Ken langsung mengangkat tubuh Naina
"KYAAA, Hubby. Gimana kalo jatoh?" tegur Naina kesal, namun Ken nampak ta peduli
"Makanya pegangan, biar ga jatuh." jawab Ken santai, ia masuk ke kamar mandi dengan membawa Naina.
Naina hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya, dah tinggalin lah.. Lagi oh yes, oh no.
.
"Mama pulang jam berapa?" tanya Naina yang baru saja ikut bergabung di ruang keluarga, Naina dan Ken shalat berjamaah berdua di kamar. Setelah makan malam yang terlambat, mereka pun kini ikut bergabung dengan yang lain.
Naomi yang merindukan sang bunda, langsung merentangkan kedua tangannya minta di gendong.
"Jam berapa ya?" jawab Kinan balik bertanya
"Pokonya, kita liat Naina naik tangga aja" jawab Rania, Naina mengangguk.
"uluh... uluh... anak ciapa ini yang dudut? Habis jalan-jalan sama oma, iya?" ucap Naina seraya mengangkat tubuh Naomi dari pangkuan mama Rania, ia pun menciumi perut sang putri. Sang putri girang bukan main, tawa riang memenuhi ruang makan.
"Abang Zie, hari ini ngapain aja?" tanya Naina, ia selalu berusaha menjadi ibu yang baik walau sibuk. Dan ia tidak mau Zie merasa tersisihkan, karena tidak di tanya atau kurangnya perhatian.
"Nain banak-banak tama tata Enja, ya ta" jawab Zie, setelah menelan makanannya. Senja hanya menjawab dengan anggukkan, karena tengah menikmati puding kesukaannya.
"Main banyak-banyak, repotin kak Senja dong." ucap Ken
"Inda, ta Enja inda lepot. Ya tan ta?" jawab Zie, seraya menoleh dan bertanya lagi pada Senja. Senja hanya menjawab dengan mencebikan mulutnya, Naina tertawa melihat ekspresi Senja. Ia tau se aktif apa putranya, pasti Senja kewalahan.
"Maaf ya kak Senja, udah di repotin sama abang Zie." ucap Naina, seraya mencium pelipis Senja.
"Tidak apa-apa kok kak, lagian Senja kan belum ada kegiatan. Sekolah masih tahun depan, jadi ga bosen kalo ada abang Zie." jawab Senja tersenyum, memang benar. Walau ia kewalahan menjaga Zie, tapi ia sangat menikmati hal tersebut.
"Sekolah yang lainnya gimana?" tanya Naina pada adik-adik asuhnya yang lain
"Alhamdulillah baik kak" jawab mereka serentak, Naina mengangguk.
Ada beberapa adik asuhnya yang tinggal di asrama dan juga pesantren, itu semua atas permintaan mereka. Naina hanya menyetujui, dengan syarat harus bertanggung jawab dengan keputusan yang di ambil. Termasuk Bobi, Bobi memilih untuk mengambil pesantren, ia sangat ingin menjadi hafiz Qur'an.
Tentu saja Naina sangat mendukungnya, ia sangat senang mendengar alasan Bobi.
"Agar Bobi bisa mengirimkan do'a untuk kedua orang tua, Bobi juga ingin selalu mendo'akan bunda Ros, kak Naina dan semua orang di panti." jawab Bobi dengan binar bahagia, Naina tidak bisa menahan air matanya saat itu. Ia memeluk Bobi dengan erat, Bobi yang di tinggalkan selamanya oleh kedua orang tuanya. Saat Bobi masih berusia 4 tahun, sedangkan keluarganya yang lain. Tidak mau menerima Bobi, karena bagi mereka Bobi merupakan beban.
"Terima kasih sayang, kakak bangga sama Bobi." ucap Naina penuh haru
.
.
"Kamu Yura kan?" tanya salah satu siswi SMP, di lihat dari tingkat yang ada di kerahnya. Siswi itu kelas VIII, itu artinya senior Langit.
Yura hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Ck, apa bagusnya kamu. Kenapa Langit bisa-bisanya menyukai gadis yang masih SD, berapa tahun kamu?"
"9 tahun kak" jawab Yura sopan
"Hah? Kamu masih kelas 3 dong? Si Langit buta apa gimana? Kok mau-maunya sama bocil." ucap siswi itu, Yura hanya tersenyum saja.
"Heh bocil, kamu harus jauhin Langit. Anak masih bau kencur, udah tau pacar-pacaran. Sekolah yang bener!!" ucap Siswi itu
Orang-orang yang ada di sekitar situ, hanya mengernyitkan dahinya. Terutama 2 teman Yura yang kini ada di belakangnya, mereka masih diam. Karena Yura juga masih terlihat santai, tapi beda lagi kalo si senior similikiti ini berani macam-macam sama Yura. Lain lagi ceritanya, mereka sudah di wanti-wanti oleh Langit untuk menjaga Yura, selama ia tak bersamanya.
'Ga sadar diri apa gimana?' bisik Cery
'Dia sendiri kan masih sekolah, ga tau aja kalo Yura cerdas.' jawab Evi
"Kakak senior yang terhormat, mustinya sebelum berbicara itu di pikir dulu. Kakak aja masih sekolah, masih sama-sama bau kencur." ucap Cery
"Kalo mau bandingin sama Yura, kakak tuh jauuuuuh di bawah Yura. Kalo pake perumpaan itu kaya... ah, kaya lautan bersih sama comberan. Yura di ibaratkan kaya lautan, karena wawasan yang luaaassss dan juga sikapnya yang dewasa. Walau masih 9 tahun, Yura sudah kelas 6 SD. Kalo dia mau, dia juga bisa kok loncat kelas jadi seangkatan kakak." sambung Evi
'HAH?! Kelas 6SD?' ucap senior itu terkejut, dalam hati
"Kalo kakak, di ibaratkan kaya comberannya. Udah sempit, kotor lagi. Kaya mulut kakak yang kotor, ngomongnya ga di pilter."
"Pake F Cer, bukan pilter tapi filter." ucap Evi mengkoreksi
"Nah itu..."
"APA?!"
...****************...
...Happy Reading family🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Alejandra
Berarti Ibu Hana yang belum ada pasangan, apakah Bunda Ros masih tinggal barengan mereka...?
Kasian dong Ibu Hana...😂😂😂😂😂
2025-01-16
1
Lina Suwanti
kapok tuh ayah kandungnya Yura,,cuma karena jenis kelamin Yura perempuan ga mau di akui anak.....
2024-05-26
2
Calista
syok kan klu yura kecil" tapi udh kelas 6
2024-03-11
4