"Ada apa dengan Yura, nak?" tanya Kinan cemas, melihat Yura dalam gendongan Langit.
"Yura hanya tertidur ma, bisa tolong bukakan pintu ma." jawab Langit, Kinan yang memang mengikuti Langit segera membuka pintu kamar yang di sediakan untuk Yura bila menginap di mansion Kinan.
Langit segera merebahkan tubuh Yura dengan perlahan di atas ranjang, ia menghembuskan nafasnya pelan dan Kinan melihat hal itu.
"Ikut mama" titah Kinan, ia merasa putra keduanya itu menyembunyikan sesuatu. Langit hanya pasrah dan mengikuti langkah sang mama, mereka berjalan ke arah ruang keluarga.
"Ada apa?" tanya Kinan
"Yura dapat merasakan firasat buruk pada bunda Ros, ma" jawab Langit dengan suara berat
DEG
"Kita tidak bisa meremehkan firasat yang di rasakan oleh Yura dan kakakmu Naina, karena firasat mereka tak pernah meleset." ucap Kinan, Calvin yang baru keluar dari ruang kerja ikut bergabung.
"Bagaimana pah?" tanya Kinan, Calvin menggelengkan kepalanya.
"Sampai saat ini masih belum ada kabar, sinyalnya benar-benar hilang." jawab Calvin, Kinan semakin khawatir mendengar jawaban sang suami.
Di saat suasana tengah hening, terdengar teriakan Yura. Berbarengan dengan Naina yang masuk dengan wajah pucat bukan main, bahkan nafasnya tak beraturan.
Ia yang juga mendengar teriakan Yura, kembali berlari ke kamar Yura. Langit yang sama cemasnya, ikut berlari di belakang Naina. Di susul Ken, Rania, Rei, Hana, Kinan dan Calvin. Sedangkan anak-anak bersama dengan Lina dan Senja, berada di mansion Rania.
BRAK
"Huhuuuuu... bunda... bunda...." Yura menangis dengan memanggil Ros
"Sayang" ucap Naina seraya naik ke atas ranjang dan segera memeluk tubuh Yura
"Kakak... bunda, bunda berdarah kak. HUWAAAAAA" Yura semakin histeris, tubuhnya terasa bergetar hebat.
"Do'akan bunda baik-baik saja sayang, bunda sebentar lagi pulang." ucap Naina dengan suara bergetar, ia juga sebenarnya tengah merasakan kegelisahan luar biasa dalam dirinya.
Hana hanya bisa diam menyaksikan sang putri menangis, karena memang hanya Naina yang bisa menenangkannya.
Langit ikut merasakan sakit bukan main pada dadanya, rasanya seperti tertusuk ribuan jarum. Ia menengadahkan kepalanya, agar tidak ikut menangis
Rei dan Calvin menepuk pundak Langit pelan, mereka mengerti dengan apa yang di rasakan Langit. Ponsel Rei bergetar, ia pun segera keluar untuk menerima panggilan tersebut.
"Ya"
'Tuan, keberadaan nyonya Ros dan Tuan Ezra terdeteksi. Kini mereka berada di sebuah desa kecil, yang ada di Yogya.'
"Benarkah, Alhamdulillah" jawab Rei bernafas lega
'Tapi tuan...
DEG
"KATAKAN" ucap Rei dengan suara dingin
'Nyonya Ros dalam keadaan koma saat ini, bayi nya terlahir dengan prematur dan dalam penanganan dokter. Sedangkan tuan Ezra kritis, mereka mengalami kecelakaan dan mobilnya masuk ke jurang. Ada yang sengaja mencelakai mereka, dengan membuat remnya blong.'
JEDEEERRR
Jantung Rei terasa berhenti saat itu juga, ponsel dalam genggamannya hampir terlepas.
'Tuan' Rei kembali ke kesadarannya
"Siapkan helikopter, kita berangkat sekarang." ucap Rei
'Siap'
Panggilan pun terputus, kini Rei masih terdiam dengan debaran jantung yang tidak teratur. Terasa sesak, tak lama ia tersadar saat mendapatkan tepukan di bahunya.
"Apa yang terjadi? Apa itu kabar mengenai Ezra?" tanya Calvin, Rei mengangguk pelan
"Aku akan segera terbang menyusul mereka, kondisi mereka sedang tidak baik-baik saja." jawab Rei dengan suara bergetar
"Aku ikut" ucap Calvin
"Kita berangkat sekarang, kirim pesan saja pada istrimu. Kondisi di dalam, sedang tidak baik-baik saja." Calvin mengangguk
Mereka pun keluar dari mansion, Rei mengirim pesan pada Rania. Begitu juga dengan Calvin, yang mengirim pesan pada Kinan.
Di depan sudah ada anak buah Rei, mereka segera menaiki mobil dan bergegas ke tempat helikopter berada.
.
.
Setelah beberapa jam mengudara, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit yang maksud. Namun karena tidak ada tempat untuk landasan, Calvin dan Rei pun turun menggunakan tangga tali.
"Tuan" anak buah Rei menunduk, Calvin rajanya IT. Namun mengenai anak buah, itu semua urusan Rei.
"Bagaimana?" tanya Rei
"Pelaku sudah di amankan oleh yang lain, dia sudah di bawa ke gedung kosong." jawab anak buah Rei
"Antar kami ke ruangan Ezra" ucap Calvin, anak buah Rei berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Rei juga Calvin.
Mereka di antar di depan ruang ICU, di balik pintu itu. Mereka bisa melihat Ezra yang tak sadarkan diri, dengan kondisi mengenaskan. Begitu juga dengan kondisi Ros yang ada di ruangan sebelah Ezra, mata Rei dan Calvin memerah. Kedua tangan mereka mengepal, sampai urat tangannya terlihat sangat jelas.
Sudah di pastikan, orang yang menjadi dalang semua ini. TIDAK AKAN SELAMAT!!!!
Melihat banyaknya alat-alat yang terpasang di tubuh Ezra dan Ros, membuat keduanya ingin menghabisi pelaku itu sekarang juga.
"Dimana anak mereka?" tanya Calvin
"Mari tuan" Calvin dan Rei kembali mengikuti langkah anak buahnya.
Kini mereka berdiri di depan ruang bayi khusus, karena anak Ezra dan Ros terlahir prematur. Sehingga bayi itu ada di dalam inkubator, dengan banyaknya alat yang terpasang pada tubuh si bayi.
Air mata Rei dan Calvin pun lolos...
"Kecil sekali dia" ucap Rei
"Jangan sampai bayi kecil itu kehilangan kedua orang tuanya, aku tak bisa membayangkan bila bayi itu harus jadi yatim piatu." ucap Calvin, yang langsung mendapatkan pukulan di kepalanya
Rei juga sangat takut, apalagi melihat sendiri bagaimana kondisi sahabatnya itu. Tapi, bukankah masih ada yang namanya mukjizat. Bukankah kita tidak di perbolehkan mendahului takdir?
.
"Bagaimana kondisi adik kami dok?" tanya Rei, terlihat jelas dokter tersebut menghembuskan nafas pelan.
"Tuan, kondisi kedua pasien sangat memprihatinkan. Keduanya mengalami cedera yang sangat parah, di bagian kepala dan juga dada. Nampaknya kedua pasien mendapatkan benturan hebat, saat mobil terjerumus ke dalam jurang. Kami sudah melakukan yang terbaik, dan akan terus melakukan yang terbaik. Namun, semuanya kita kembalikan pada yang Maha Pemilik Kehidupan." jawab dokter tersebut
Rei dan Calvin shock mendengar penjelasan dokter, kembali amarah mereka memuncak.
"Apa adik kami bisa pindah rumah sakit?" tanya Calvin
"Untuk kondisi saat ini, saya menyarankan tidak. Karena itu bisa memperparah kondisi pasien, saya juga menyaran..." namun ucapannya terpotong, karena seorang perawat masuk dengan wajah panik.
"Dokter, gawat. Pasien kejang-kejang" Dokter, Rei dan Calvin langsung bangun dari duduknya dan segera keluar dari ruangan
Terjadi kekisruhan di ruangan Ezra maupun Ros, seolah mereka memiliki telepati. Apa yang di rasakan salah satunya, akan terasa oleh yang lainnya. Para dokter sibuk di dua ruangan tersebut, mereka berusaha untuk mengembalikan detak jantung mereka yang terhenti. Sampai...
TIT TIT TIT
Bunyi di monitor kembali normal, para dokter bernafas lega. Namun ini bukan sebuah jaminan, bila ke depannya tidak akan terulang lagi.
"Bagaiman dokter?" tanya Calvin denagn suara bergetar, melihat sendiri sahabatnya meregang nyawa. Ia benar-benar takut, tubuhnya juga langsung lemas. Begitu pula dengan apa yang di rasakan oleh Rei, sesak
...****************...
...Happy Reading all🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Hariyanti
😰😰😰😰😰
2025-03-25
1
Titin Maryati
ya Allah semoga di berikan kesehatan keselamatan semuanya buat bunda Ros dan deba nya suaminya mbak kasih mereka selamat Dan sehat lagi 🙏🙏🙏
2024-06-26
3
Ani Mak NitaAdelia
semoga bunda Ros selamat,,karena dia sangat menginginkan seorang anak 😥
2024-05-14
2