The Journey Of The Perfect Prince

The Journey Of The Perfect Prince

Chapter 1 - Awal perjalanan

Pada pagi yang cerah di Kerajaan Maestiammea, sinar matahari membelah awan, menyinari istana megah tempat Pangeran Edward Valorian berdiam diri.

Usianya yang masih 19 tahun tak mampu menyamarkan pesonanya yang memikat; tubuhnya yang gagah dan wajah tampannya telah meraih julukan sebagai "Matahari Maestiammea" oleh orang-orang di sekitarnya.

Langkah percaya diri Pangeran Edward memecah keheningan di lorong istana, di mana dinding-dindingnya menjadi saksi bisu sejarah keluarga Valorian yang megah.

Dengan penuh keanggunan, Pangeran Edward dengan rambut hitam legam dan mata birunya yang bersinar berjalan menuju aula utama.

Di sana, Raja Augustus Valorian, ayahnya, tengah duduk di singgasana yang dihiasi dengan hiasan emas.

Sorot mata bijaksana sang raja menyoroti kehadiran sang putra.

"Selamat pagi, Edward. Hari ini adalah hari yang penting bagi keluarga kita," ucap Raja Augustus sambil tersenyum penuh kehangatan.

Pangeran Edward menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan. "Ya, Ayah. Saya siap untuk melaksanakan tugas apapun yang Anda percayakan."

Raja Augustus mengangguk. "Kau akan pergi ke benua Terra Incognita, di barat daya. Di sana, kau akan bertemu dengan pahlawan Dion Lionit dan membahas aliansi melawan makhluk-makhluk non-manusia yang semakin mengancam benua kita."

Pangeran Edward meresapi tanggung jawabnya. Terra Incognita, tempat kelahiran pahlawan bertangan dingin, menjadikan dia sebagai aliansi adalah tugasnya kali ini.

Langit biru menggambarkan perjalanan baru yang menantinya. Dengan perasaan campur aduk di dalam diri, Pangeran Edward melangkah keluar dari aula istana.

Pangeran Edward melangkah ke dalam kamarnya yang luas dengan langkah mantap. Di sudut kamarnya, seorang pelayan setia sudah menyiapkan baju perjalanan yang elegan.

Kain sutra berwarna biru tua dengan hiasan emas mengelilingi kerah dan pergelangan tangan membuatnya terlihat seperti pangeran sejati.

"Terima kasih, Ranald," ucap Pangeran Edward kepada pelayan tersebut, sambil memakai baju perjalanannya.

Ranald hanya mengangguk hormat, memberikan sentuhan terakhir pada jubah sutra sang pangeran.

Baju perjalanan yang dipilihnya bukan hanya sekadar pakaian, melainkan lambang kehormatan dan martabat keluarga Valorian.

Pangeran Edward memeriksa penampilannya di cermin besar, memastikan bahwa setiap lipatan kain dan detailnya tampak sempurna.

Setelah mempersiapkan diri, Pangeran Edward melangkah ke luar kamarnya menuju ruang pertemuan Ksatria kerajaan.

Ruang tersebut dihiasi dengan lambang kehormatan dan perisai yang merefleksikan keberanian dan keadilan para ksatria.

Beberapa Ksatria kerajaan sudah berkumpul di ruangan tersebut, masing-masing mengenakan baju perang mereka yang megah.

Ksatria Tristhan, pemimpin mereka dan dikenal dengan kepandaiannya dalam seni pedang, memberikan hormat pada Pangeran Edward.

"Pangeran Edward, suatu kehormatan besar dapat mengawal Anda dalam perjalanan ini. kami akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi anda," ujar Tristhan dengan penuh semangat.

Pangeran Edward mengangguk menghargai. "Terima kasih, Sepertinya tugas kali ini cukup rumit."

Rombongan mereka melangkah ke halaman istana di mana kereta kuda mewah sudah menunggu.

Ksatria-kasatria tersebut, dipimpin oleh Pangeran Edward, naik ke dalam kereta dengan penuh keanggunan.

Kereta kuda yang dihiasi dengan lambang kerajaan meluncur perlahan, membawa mereka meninggalkan keheningan istana yang megah.

Ibu dan dua adik Edward yang terlambat datang hanya bisa melambaikan tangan kepada Edward yang sudah jalan.

Kereta kuda melaju melewati perbukitan yang hijau subur. Pohon-pohon rindang memberikan teduh di sepanjang jalan, dan aroma bunga-bunga liar mengiringi rombongan mereka.

Udara segar dan dingin memberikan kelegaan seiring dengan perjalanan mereka.

Rombongan tiba di pinggiran kota, di mana hamparan padang rumput terbentang luas. Dalam jarak yang jauh, pegunungan megah menonjol di langit biru.

Pangeran Edward melihat ke sekitar, meresapi keindahan alam yang menyambut mereka.

Kereta kuda bergerak melewati desa-desa kecil dengan arsitektur yang khas. Rakyat desa menyambut rombongan dengan senyuman hangat.

Perjalanan mereka terus berlanjut, menyusuri jalan setapak yang memotong hutan belantara.

Suara riuh rendah alam liar menyatu dengan langkah kaki kuda, menciptakan melodi alam yang menenangkan.

Pangeran Edward menikmati setiap momen perjalanan, mengamati keindahan alam dan merenungkan tugas yang menanti.

Malam pun tiba, dan rombongan beristirahat di perkemahan sederhana di tepi sungai yang tenang.

Api unggun berkobar, menyinari wajah para Ksatria Tinggi yang duduk bersama-sama. Pangeran Edward, duduk di dekat api, merenung dengan tatapan dalam.

Saat seluruh orang telah tidur, Tristhan bangun dari duduknya dan mengambil nafas dalam.

Dalam keheningan malam yang hanya diterangi api unggun, Tristhan bersiap menghadapi ancaman yang muncul secara tiba-tiba.

Keberadaan ratusan monster Orc melintas di balik pepohonan dan semak-semak, menyusup mendekati perkemahan.

Tristhan, dengan sigap dan penuh ketenangan, menarik pedangnya yang bersinar dalam cahaya api.

"Orc, apakah mereka memang biasanya berkelompok?" gumam Tristhan dengan tenang.

Monster Orc, berjumlah ratusan, menerobos dari kegelapan. Tristhan melangkah maju, mengarahkan pandangannya yang tajam pada gerombolan yang mendekat. Dalam sekejap, serangan pertama dilancarkan.

Tristhan melibas pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa, menggunakan Seni pedang utama Kerajaan Maestiammea.

Ribuan serangan pedang tampak seakan berubah menjadi satu, mengiris udara dengan presisi dan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia.

"Silatari Sword Style, Thousand Slash!" serunya, sambil melancarkan serangan bertubi-tubi dalam sekejap mata.

Setiap gerakan pedangnya membelah udara dan menyisakan pancaran cahaya.

Monster-monster Orc, yang semula percaya diri, segera tersadar bahwa mereka menghadapi lawan yang berbeda kali ini.

Tristhan, dengan kepiawaian dalam bela diri yang luar biasa, mampu mengatasi setiap serangan yang dilancarkan oleh monster-monster itu.

Tubuh-tubuh Orc terpental dan terkapar di tanah, menjadi saksi kehebatan Tristhan.

Namun, meskipun ratusan Orc terjatuh, terdengar gemuruh di kejauhan, mengisyaratkan bahwa masih banyak lagi monster yang mendekat.

Tristhan tidak gentar. Dengan kuda-kuda berkelebatan, dia terus melancarkan serangan serangkaian gerakan yang sulit ditebak.

Setiap gerakan pedangnya menghasilkan semburan energi yang memancar dalam lingkaran cahaya.

Pertempuran itu menjadi pertarungan antara kekuatan ksatria yang luar biasa dan gelombang tak berujung dari monster.

Tristhan terus menggempur lawannya, mengayunkan pedangnya dengan penuh semangat.

Cairan hitam dari tubuh Orc yang teriris tercecer di tanah, menciptakan gambaran yang mengerikan.

Namun, Tristhan tidak memberi kesempatan pada monster-monster itu.

Dengan refleks cepat, dia terus menyerang dan bertahan, menjaga api perkemahan tetap berkobar di tengah gelapnya malam.

Pertempuran berlangsung hingga fajar menyingsing di ufuk timur. Ratusan Orc terkapar di tanah, menandakan keberhasilan Tristhan dalam menjaga rombongan Pangeran Edward tetap aman.

Setelah serangan monster mereda, Tristhan berjalan dengan gagah berani ke arah perkemahan yang tenang kembali.

Tatapan sang ksatria tertuju pada Pangeran Edward yang masih duduk di dekat api.

"Apa anda tidur dengan nyenyak, Pangeran?" tanya Tristhan, sambil menyeka darah yang menempel di pedangnya.

Pangeran Edward tersenyum kecil. "Ya, terima kasih" ujar pangeran menjawab Tristhan. "Ngomong-ngomong, mengapa Orc yang sejatinya individual berkumpul pada satu tempat?" ujar Pangeran Edward dengan tatapan serius.

Sir Tristan menyeka darah di pedangnya, mata tajamnya menatap Pangeran Edward. "Pangeran, mungkin ini bukan pertemuan kebetulan. Orc yang berkumpul seperti itu bisa menjadi pertanda bahwa sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di wilayah ini."

Pangeran Edward, tanpa ekspresi wajah berubah, merespon dengan dingin, "Sesuatu yang lebih besar?" Matanya menunjukkan ketajaman intelektual yang tidak tertandingi. "Apa yang bisa menyatukan Orc yang biasanya bersifat individual? Kita perlu mencari tahu lebih lanjut."

Sir Tristan mengangguk setuju, "Saya setuju, Pangeran. Perlu diinvestigasi lebih lanjut. Ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih rumit."

Pangeran Edward bangkit dari duduknya, memperhatikan sekeliling perkemahan yang masih dalam keadaan damai setelah pertempuran sengit.

"segera kirim surat kepada istana, suruh mereka menginvestasi lebih lanjut tentang wilayah ini." ujar Pangeran Edward kepada Tristhan

Tristhan mengangguk dengan hormat, sambil memberikan kode tangan kepada ksatria lainnya untuk mengirim surat kepada istana.

Terpopuler

Comments

Gryphinne

Gryphinne

Edward? Namanya sama kek MC gua weh wkwk 😂

2024-01-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!