Chapter 13 - Kenangan Pangeran Edward.

Perjalanan mereka dari desa itu menuju kota Orzon berlangsung dengan kereta kuda mewah kerajaan yang meluncur begitu mulus di jalanan yang ditutupi oleh sinar rembulan dan bintang-bintang yang bersinar di langit.

Kereta tersebut mengayuh dengan tenang, ditemani oleh gemericik suara kuda yang setia.

Adrien tertidur di satu sudut kereta, meresapi perasaan aman yang dibawanya tidur.

Pangeran Edward duduk di sampingnya, membaca bukunya dengan keterampilan yang hampir seakan otomatis, sementara Viona tertidur di tempat duduknya yang nyaman.

Waktu berjalan dari sore hari hingga tengah malam, menciptakan perjalanan yang damai meskipun dihantui oleh bayangan pertempuran yang baru saja terjadi.

Adrien masih merasa penat dari pertarungan yang berlangsung di desanya, dan tidurnya menjadi tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

Tiba di kota Orzon, kereta kerajaan itu melewati gerbang kota yang megah.

Viscount Roderick pemilik wilayah Orzon sudah menunggu di depan gerbang dengan penuh kehormatan.

Pangeran Edward, Viona, dan Adrien dibawa menuju mansion yang megah dengan pemandangan pantai yang mencengangkan.

Pangeran memutuskan untuk membangunkan Viona dan Adrien.

Adrien terkejut saat menyadari dia berada di kereta kerajaan dan segera membungkuk kepada pangeran.

"Maafkan saya atas perlakuan tidak sopan sebelumnya" teriaknya dari dalam kereta.

Pangeran Edward merespons dengan santai dan menawarkan tawaran tak terduga, "Bagaimana kalau kau menjadi pengawal pribadiku, Adrien?"

Adrien terkejut dan agak enggan. "Tidak, Pangeran, saya bukanlah ksatria yang kuat. Kekuatanku, Demonic Aura, dianggap sebagai kekuatan jahat."

Pangeran Edward hanya tersenyum santai, "Adrien, kekuatan bukan satu-satunya ukuran keberanian atau kemampuan. Aku melihat potensi besar dalam dirimu. Demonic Aura, meskipun gelap, bisa menjadi senjata yang kuat untuk melindungi yang lemah."

Adrien masih merasa ragu, "Tapi ini kekuatan yang berbahaya. Aku takut bisa menyakiti orang-orang di sekitarku."

Pangeran Edward menatapnya dengan tulus, "Adrien, dunia ini penuh dengan kekuatan yang bisa digunakan untuk kebaikan atau kejahatan. Tidak ada kekuatan yang benar-benar jahat jika digunakan dengan bijak. Aku yakin kau bisa mengendalikan kekuatanmu dan menjadikannya alat perlindungan."

Adrien memikirkan kata-kata Pangeran Edward. "Tapi, apakah orang akan menerimaku jika tahu aku memiliki kekuatan seperti ini?"

Pangeran Edward bersikeras, "Kebenaran adalah bahwa keberanian sering kali ditemukan dalam keberanian untuk menjadi diri sendiri. Jangan biarkan pandangan orang lain menghentikanmu. Aku yakin, suatu hari nanti, kau bisa menjadi pahlawan kerajaan yang dihormati oleh semua orang."

Adrien merenung sejenak, terdiam dalam perenungannya.

Kemudian, dia berlutut di depan Pangeran Edward. "Saya, Adrien. Bersumpah setia pada Pangeran kerajaan Maestiammea, Pangeran Edward Valorian" sumpahnya dengan tulus.

Pangeran Edward memberikan senyuman hangatnya. "Keputusan yang bagus, Adrien."

Setelah tiba di mansion Viscount Roderick, Pangeran Edward dan rombongannya disambut dengan kehangatan.

Viscount Roderick sendiri yang menunjukkan mereka menuju kamar-kamar yang telah disiapkan untuk istirahat.

Setiap anggota rombongan diarahkan ke tempat mereka masing-masing untuk beristirahat, termasuk Adrien, yang dengan enggan mengikuti petunjuk dan mendapatkan kamar pribadinya.

Pangeran Edward memilih kamar yang menghadap ke pemandangan laut yang indah dan pelabuhan besar.

Di dalamnya, suasana tenang dan kemewahan terasa begitu mendalam.

Kamar tersebut dirancang dengan indah, dengan sentuhan seni dan kenyamanan yang membuatnya cocok untuk seorang pangeran.

Pangeran Edward duduk di kursi yang nyaman di dekat jendela, memandangi luar sambil merenung.

Pemandangan laut yang tenang dan lampu-lampu pelabuhan yang bersinar memberikan atmosfer yang damai di tengah malam.

Dari jendela, ia bisa melihat perahu-perahu di pelabuhan, menciptakan pemandangan yang menenangkan.

Langit malam yang dipenuhi bintang-bintang memberikan latar belakang yang dramatis bagi pemikiran Pangeran Edward.

Di kesendirian kamarnya, dia merenungkan kenangan lamanya saat berada di wilayah ini.

...----------------...

Zaman Perperangan di Benua Arcadia menciptakan pemandangan yang penuh tantangan dan ketegangan.

Di tengah konflik antar kerajaan, Pangeran Edward menemukan sekutu yang luar biasa.

Seorang Ksatria wanita ahli pedang yang mempesona, Berliana Anandita.

Mereka dipertemukan di wilayah Orzon, tempat di mana nasib mereka terkait erat dengan takdir perang.

Berliana, dengan kepiawaian pedangnya yang memukau, segera mendapatkan pengakuan Pangeran Edward.

Kerja sama mereka untuk melawan musuh bersama, terutama kerajaan Maestiammea, membawa mereka melalui berbagai medan perang dan tantangan yang sulit.

Dalam perjalanan ini, Pangeran Edward tidak hanya memandang Berliana sebagai sekutu, tetapi juga menemukan perasaan aneh yang tumbuh di hatinya, yang baru kali ini dirasakannya.

Pangeran Edward baru berusia lima belas tahun saat perasaan ini tumbuh.

Berliana, dengan keberaniannya dan keahliannya dalam seni bela diri, meraih hati pemuda pangeran.

Namun, keberuntungan tidak berpihak pada cinta mereka.

Saat dalam pertempuran sengit, Berliana terluka parah dan pergi tanpa pernah dapat mengungkapkan perasaannya pada pangeran.

Pangeran Edward berlari menuju Berliana. "Berliana!" Teriak Pangeran Edward sambil berlutut di samping Berliana. "Kau harus bertahan! Kita bisa melalui ini bersama-sama."

Berliana Anandita tersenyum lemah,kemudian berkata. "Pangeran... Aku... Maafkan aku."

"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak bisa kehilanganmu, Berliana." Ujar Pangeran Edward.

Berliana, dengan usaha terakhirnya, menatap Pangeran Edward dengan mata penuh kasih.

Berliana Anandita menyentuh wajah Pangeran Edward dan mengatakan sesuatu. "Pangeran, kau memiliki hati yang luar biasa dan keberanian yang tidak terbandingkan. Jadilah pemimpin yang adil dan bijaksana suatu saat nanti."

Pangeran Edward meraih tangan Berliana. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu, Berliana."

Berliana tersenyum, lalu matanya perlahan ditutup.

Pangeran Edward berteriak. "Tidak! Berliana!"

Pangeran Edward merangkul tubuh Berliana yang terkulai di medan perang.

Air mata bercucuran dari matanya, dan dia merasakan kehilangan yang begitu mendalam.

Pangeran Edward dengan suara gemetar. "Aku... aku tidak bisa kehilanganmu."

Dia menggenggam erat tubuh Berliana "Mengapa... mengapa ini harus terjadi?"

Pangeran Edward, dengan hati yang hancur, memeluk tubuh Berliana yang sudah tak bernyawa.

Tangisannya menciptakan melodi kepedihan di tengah keheningan medan perang yang penuh kepiluan.

Emosi yang melanda hati Pangeran Edward menjadi kekuatan pendorong yang luar biasa.

Dalam kemarahan dan kesedihan, dia memutuskan untuk mengambil alih tanggung jawab sendiri.

Pangeran menghabisi seluruh musuh yang berada di medan perang tersebut.

Kemudian pergi menuju kamp musuh tanpa istirahat sedikitpun.

Pangeran Edward melancarkan serangan ganas di kamp musuh.

Dia menghancurkan segala yang berada di hadapannya, membawa kehancuran dan kematian ke musuhnya.

Dalam setiap gerakan pedangnya, terdapat kekuatan dan kemarahan yang melibas setiap musuh yang berani menghadangnya.

Aksi-aksinya membuatnya dijuluki "God of War" oleh rekan-rekannya yang menyaksikan keganasannya, hingga akhirnya tersebar luas ke seluruh Benua Arcadia.

Inilah alasan kenapa Pangeran akhirnya menciptakan sihir penyembuhan bernama "Molecular Restoration Field"

...----------------...

Pangeran Edward hanya diam mengingat kenangan kelamnya, dia menatap langit dengan bintang-bintang dan bulannya yang indah di malam hari.

"Berliana Anandita...." gumam Pangeran Edward lembut, mengingat wajah Berliana yang penuh dengan senyuman...

Pangeran Edward melangkah dengan langkah ringan menuju tempat peristirahatan.

Sejenak, dalam keheningan malam yang terasa membisu, dia memandang kasurnya yang mewah dengan penuh kerendahan hati.

Merentangkan tubuhnya dengan keanggunan seorang bangsawan, dia meletakkan dirinya dengan lembut di atas seprai yang lembut.

Mata biru dinginnya memandang langit-langit kamar yang dihiasi dengan karya seni yang megah.

Cahaya lembut dari lampu kristal menimbulkan efek gemerlap di seluruh ruangan, menciptakan aura ketenangan yang menyelimuti sekelilingnya.

Sejenak, dia terpaku pada langit-langit, merenung dalam pikirannya yang dalam.

Pangeran Edward menutup mata dengan lambat, membiarkan kelelahan dari perjalanan dan pertempuran merayap perlahan.

Di dalam ruang batinnya yang penuh warna, bayangan Berliana Anandita muncul seperti seni lukisan yang tak pernah pudar dari ingatannya.

Dalam keheningan malam, angin sepoi-sepoi merayap masuk melalui jendela terbuka, mengusap lembut wajah Pangeran Edward yang tampak damai dalam tidurnya.

Suasana kamar yang tenang menjadi latar belakang bagi perjalanan pikirannya yang terus melangkah ke lorong-lorong kenangan yang seolah-olah diputar dalam sorotan kenangan yang lembut.

Kasur yang empuk menyajikan kenyamanan dalam pelukannya, memeluk Pangeran Edward dalam keheningan malam.

Dalam keheningan malam, di bawah langit-langit yang dihiasi dengan gemerlap bintang, Pangeran Edward menutup lembaran hari yang panjang.

Dalam tidurnya, dia merajut mimpi-mimpi yang membawa bayang-bayang kenangan dan harapan.

Seiring dengan detik-detik yang berlalu, dunia penuh warna yang pernah dia rintis dalam perjalanannya menjadi tempat yang tenang di dalam tidurnya yang damai.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!