Chapter 12 - Demonic Aura (2)

Pangeran Edward dan rombongannya akhirnya tiba di desa yang menjadi tempat tinggal Adrien.

Namun, yang mereka temui membuat hawa sejuk berubah menjadi ketegangan yang tak terbayangkan.

Desa yang seharusnya ramai dan penuh kehidupan, kini hanya dirundung oleh kehancuran dan kematian.

Puing-puing berserakan, dan mayat-mayat berserakan di sepanjang jalan.

Saat mereka berjalan lebih jauh ke dalam desa, gambaran kehancuran semakin jelas.

Rumah-rumah yang dulu menjadi tempat tinggal warga kini tinggal puing-puing.

Monster-monster berkeliaran dengan bebas, meninggalkan jejak kebiadaban di setiap langkah mereka.

Adrien, yang masih kecil, merasakan keputusan atasannya yang mendalam.

Keluarganya telah tiada, warga desanya telah tiada, dan rumahnya telah hancur oleh serangan monster.

Sebuah pemandangan yang begitu mengerikan dan kejam, menciptakan dendam yang membara di dalam dirinya.

Wajahnya yang masih polos menunjukkan ekspresi campuran antara kesedihan, kehilangan, dan kebencian.

Pangeran Edward memandang Adrien dengan perasaan simpati yang mendalam.

"Apakah dia akan menjadi seperti Dion Lionit," pikirnya, merujuk pada sosok Pahlawan Tanpa ampun yang memiliki pandangan serupa pada Monster.

Viona terkejut melihat mayat-mayat yang disayat dan dimakan setengah kepalanya oleh monster.

Dia tidak pernah mengalami hal sekejam ini sebelumnya.

Rasa ngeri dan kejijikan mencampuri perasaannya, namun dia berusaha tetap tegar menghadapi kenyataan yang mengerikan ini.

Melihat keadaan sekitar, Pangeran Edward langsung memiliki kesimpulan bagaimana insiden ini terjadi.

Dia melihat mayat seorang warrior kelas rendah yang tergeletak tak bernyawa.

"Hanya ada beberapa warrior kelas rendah di desa ini," pikirnya, merenung sejenak sambil menyusun puzzle dari petunjuk yang ada di sekitarnya.

Dia melihat puing-puing dan bekas serangan monster yang berbeda.

Pangeran Edward mencari tanda-tanda karakteristik dari serangan monster tersebut dan mencocokkannya dengan pengetahuannya tentang jenis monster yang ada di dunia mereka.

Dari cakaran dan gigitan yang khas, dia dapat mengidentifikasi jenis monster yang menyerang desa ini.

"Segerombolan Wolfshade, monster pemangsa darah yang terkenal dengan serangannya yang cepat dan ganas," ujarnya, menyampaikan temuan kepada rombongannya. "Ini bukan serangan acak. Mereka datang untuk mencari mangsa."

Pangeran Edward melihat Adrien, yang masih terpaku oleh kehancuran di sekelilingnya. "Adrien, apakah kau melihat serangan ini?" tanyanya dengan penuh empati.

Adrien mengangguk pelan, mencoba menahan emosi yang begitu kuat. "Mereka datang tiba-tiba. Keluargaku, teman-temanku... semuanya..."

Pangeran Edward meletakkan tangan di bahu Adrien dengan lembut. "Kita akan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab, dan mereka akan membayar atas perbuatannya. Tapi sekarang, fokuslah pada kelangsungan hidupmu dan desamu."

Segerombolan monster masih berkeliaran di sekitar desa, dan Pangeran Edward merasa perlu untuk melibatkan diri dalam pertempuran melawan ancaman ini.

Pertempuran pun dimulai. Pangeran Edward, menggunakan seni beladiri Aurora Necrosis kembali.

Menggunakan kemampuan 'Aura'Nya dengan cermat untuk menyerang monster-monster tersebut.

Dia mengarahkan serangan yang memanfaatkan kelemahan setiap monster, memanipulasi 'Aura' untuk merusak organ dalam dan merusak struktur tubuh mereka.

Sementara itu, Viona melibatkan diri dalam pertempuran dengan sihir elemennya yang lihai.

Setiap serangannga mengenai sasaran dengan presisi, menghancurkan bagian-bagian tubuh monster yang krusial.

Tristhan, bertempur dengan keberanian dan keuletan di garis depan, melindungi Adrien yang masih terguncang.

Pertempuran sengit berlangsung, dan Pangeran Edward memberikan instruksi dan arahan secara taktis kepada rombongannya.

Monster-monster jatuh satu per satu, tetapi tantangan masih besar karena jumlah mereka yang sangat banyak.

Pangeran Edward melihat Adrien, yang sekarang berdiri tegak dan berusaha membantu dengan pedang kecilnya.

"Adrien, tunjukkan pada monster-monster ini bahwa kau tidak akan menyerah," seru Pangeran Edward, membangkitkan semangat Adrien untuk melawan.

Adrien yang sudah terjerat oleh dendam pada monster melepaskan Demonic Aura yang pekat, suasana sekitarnya berubah drastis.

Udara merah tua dan gelap menciptakan bayangan yang menyeramkan, sementara cahaya terdistorsi menciptakan efek yang mencekam.

Adrien sendiri mengalami transformasi fisik yang mencolok, dengan mata yang memancarkan kilatan merah dan kulitnya terasa lebih dingin.

Aura ini tidak hanya menciptakan perubahan visual, tetapi juga membawa ketidaknyamanan dan rasa takut di antara mereka yang berada di dekatnya.

Getaran di udara dan perasaan ancaman yang sulit dijelaskan memberikan kesan bahwa kekuatan gelap yang tak terlihat telah ditempatkan di tengah-tengah mereka, menciptakan atmosfer yang suram dan menakutkan.

Ksatria kerajaan merasakan sedikit tekanan dari Demonic Aura.

Seakan ada beban yang tak terlihat menekan mereka, membuat perlawanan melawan monster semakin sulit.

Beberapa dari mereka bahkan merasa gemetar di hadapan kekuatan yang begitu gelap.

Sementara Pangeran Edward terlihat baik-baik saja, bahkan langsung melindungi Viona dan Ksatria kerajaan dari tekanan Demonic Aura.

Dia memperkuat 'Aura'-nya, menciptakan lapisan perlindungan tak terlihat yang menghalau pengaruh negatif.

Adrien maju, menghadapi monster-monster di depannya dengan brutal.

Dengan setiap gerakan, Demonic Aura-nya meresap ke dalam tubuh monster, merusak organ dalam mereka dan memanipulasi struktur tubuh yang rapuh.

Dia menghabisi seluruh monster dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, membalaskan dendam pada makhluk-makhluk yang telah merusak desanya.

Pangeran Edward memperhatikan perubahan dalam kemampuan Adrien.

Kekuatan Adrien meningkat drastis, dan ia bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata.

Kecepatannya, kekuatannya, bahkan insting bertarungnya terlihat seperti seseorang yang sudah melewati ribuan pertarungan melawan monster.

"Dia sangat cocok mempelajari Seni Beladiri Aurora Necrosis," pikir Pangeran Edward melihat Adrien. "Pengendalian Aura nya luar biasa. dan, dia juga memiliki Demonic Aura. ."

Viona, yang melihat pertarungan itu dengan kagum, menyuarakan ketidakpercayaannya. "Pangeran, Apa itu Demonic Aura?!"

Pangeran Edward dengan tenang menjawab, "Demonic Aura.. itu adalah bentuk khusus dari Aura yang cenderung gelap dan merusak. Ini memberikan kekuatan yang luar biasa, tetapi seringkali terkait dengan konsekuensi yang mengerikan. Penggunaannya dapat memberikan dampak visual dan fisik yang mencolok, menciptakan atmosfer yang gelap dan menakutkan."

Viona Melanjutkan bertanya. "Bagaimana cara mendapatkannya..?"

Pangeran Edward menatap Viona dengan tajam. "Caranya seringkali melibatkan tindakan yang tak termaafkan dan pengorbanan yang sulit untuk diukur. Prosesnya bisa melibatkan perjanjian dengan kekuatan gelap atau melakukan perbuatan jahat yang tak terlupakan"

Viona terkejut, kemudian dia melanjutkan bertanya lagi. "Jadi, apakah Adrien melakukan hal seperti itu?"

"Aku tidak yakin" Ujar Pangeran Edward. "Demonic Aura ini terlalu aneh, ini tidak bisa di dapatkan degan melakukan hal yang ku sebutkan sebelumnya."

"Sebelumnya dia berkata, bahwa dia membuat sebuah ritual dengan tujuan untuk menyelamatkan desanga dari serangan monster. Namun, dia malah mendapatkan Demonic Aura.." Tambah Pangeran Edward.

Pertempuran berlanjut, dan Adrien, yang kini berada dalam kendali penuh atas Demonic Aura-nya, terus memberikan serangan yang mematikan kepada setiap monster yang mendekat.

Setiap gerakannya dipenuhi dengan ketekunan dan keinginan untuk membasmi kejahatan yang telah merajalela di desanya.

Sementara itu, Pangeran Edward tetap fokus pada melindungi Viona dan ksatria kerajaannya dari efek negatif Demonic Aura.

Dia menstabilkan 'Aura' di sekitarnya, menciptakan keseimbangan yang melindungi mereka dari pengaruh kegelapan.

Pertempuran berkecamuk, dan Adrien, terus mengukir jejak kehancuran di antara monster-monster tersebut.

Pangeran Edward menatap Adrien yang tampak kelelahan setelah pertempuran sengit.

Dengan napas panjang, Edward memutuskan untuk melibatkan dirinya untuk memberikan istirahat yang layak bagi Adrien.

Dalam sekejap, Pangeran Edward bergerak seperti cahaya. muncul di samping Adrien dengan tangannya yang dengan cepat menangkap tangan milik Aidren.

Dengan sekali sentuhan, Pangeran Edward mengarahkan energi sihirnya ke tubuh Adrien, menyelipkan mana lembut untuk membuatnya tertidur dengan tenang.

Adrien pun terlelap dalam tidurnya, melupakan sejenak lelah dan pertempuran yang baru saja dihadapinya.

Tidak lama kemudian, fokus Pangeran Edward beralih ke arah yang berbeda.

Dengan pandangan tajam, dia mengarahkan tangan kanannya ke arah gerombolan monster yang masih berkeliaran.

Suara pelan gumaman sihir keluar dari bibirnya, "Entropy Nova Burst."

Sejenak, atmosfer di sekitar Pangeran Edward berubah. Terlihat aura kacau yang terisi dengan ketidakstabilan muncul di sekelilingnya.

Cahaya berkedip-kedip dengan intensitas yang meningkat, menandakan kedatangan energi entropi yang merusak.

Gelombang energi entropi kemudian melepaskan diri dari Pangeran Edward, menjalar keluar dengan kecepatan yang membingungkan.

Ketika mencapai gerombolan monster, ledakan energi merata menciptakan kehancuran seketika.

Daya hancur Entropy Nova Burst tidak memberi ampun.

Struktur molekuler monster-monster terpengaruh oleh gelombang entropi, menyebabkan kekacauan di tingkat atom dan molekul.

Serangan ini menghasilkan anihilasi materi, membuat monster-monster tampak memudar dan tercerai berai dalam hentakan sihir yang luar biasa.

Pangeran Edward sendiri tetap berdiri dengan tenang di tengah-tengah kekacauan yang dia ciptakan.

Wajahnya yang tanpa ekspresi memberikan kesan bahwa kekuatan ini hanyalah sebagian kecil dari kekuatannya yang sebenarnya.

Pemandangan setelah serangan ini menciptakan suasana hening.

Sisa-sisa energi entropi menghilang perlahan, dan monster-monster yang sebelumnya mengancam sekarang hanya tinggal kenangan.

Adrien masih terlelap dalam tidurnya, tak terpengaruh oleh kehancuran yang baru saja terjadi.

Pangeran Edward mengangkat Adrien dengan lembut, kemudian dia mengeluarkan kereta kerajaan kembali.

Pangeran Edward membatalkan sihir pemanggilan Kuda putihnya, Mogu. membuat kuda putih itu menghilang secara perlahan.

"Ayo lanjutkan perjalanan" ujar Pangeran Edward pada rombongannya.

Viona masuk kedalam kereta kerajaan, mengikuti Pangeran Edward yang sedang menggendong Adrien.

Pangeran Edward duduk dengan tenang di dalam kereta kerajaan, memfokuskan energi sihirnya.

Dengan lembut, dia menciptakan sihir. "Molecular Restoration Field."

Sihir ini tidak hanya menyembuhkan di sekitar Pangeran Edward, tetapi juga secara cermat menjangkau Ksatria Kerajaan, Viona, dan Adrien yang telah mengalami pertempuran.

Seiring dengan kehadiran Molecular Restoration Field, energi penyembuhan merembes keluar, meresapi tubuh para Ksatria dengan cahaya lembut.

Luka-luka yang dihasilkan dari pertempuran segera mulai memudar, dan kelelahan mereka terasa mereda.

Viona, yang semula tampak lelah, merasakan kehangatan penyembuhan yang menyebar di sekelilingnya.

Dia mengangkat pandangannya dengan terkejut saat Mananya di pulihkan oleh Pangeran Edward.

Adrien, yang tidur lelap setelah pertempuran, merasakan sentuhan penyembuhan yang lembut saat tubuhnya terasa segar kembali.

Wajahnya yang tenang tidak lagi terluka, dan energi penyembuhan mengalir ke dalamnya, menekan Demonic Aura miliknya.

Para Ksatria yang berada di dalam aura Molecular Restoration Field merasakan perubahan yang luar biasa.

"Pangeran..." panggil Viona. "Apakah anda adalah dewa?' Tanyanya dengan mata yang bersinar.

Pangeran Edward terdiam sejenak, kemudian bertanya balik. "Apa, Maksudnya..?"

Viona menceritakan masa lalunya. "Kata master ku dulu..."

......................

Viona terlihat sedang kelelahan setelah berlatih sihir bersama masternya.

Dia yang penasaran bertanya kepada masternya karena penasaran. "Master, apakah ada sihir yang mampu memulihkan mana?"

Masternya memandangi Viona dengan senyuman hangat. "Viona..." panggilnya lembut. "Sihir dapat wujudkan menggunakan mana, jadi mana mungkin ada sihir yang dapat memulihkan mana" jelasnya kepada Viona.

"Apakah benar-benar mustahil, master" Viona melanjutkan pertanyaannya.

Masternya menghela napas. "Hmm...." kemudian dia mengatakan. "Itu benar-benar Mustahil, Viona. Kecuali orang itu adalah dewa"

...----------------...

"Dewa, ya?" Pikir Pangeran Edward mendengar cerita Viona. "Itu membuatku teringat ketika kerajaan Maestiammea berperang melawan kerajaan lain untuk meluaskan wilayahnya." lanjutnya merenung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!