Chapter 19 - Perdamaian

Setelah sebuah bentrokan serangan berhenti, Pangeran Edward dan Pedro La Vida saling berhadapan di atas kapal bajak laut yang hening.

Keduanya terlihat baik-baik saja, tetapi rasa hormat dan pengakuan terpancar di mata mereka.

"Kau memiliki kekuatan yang mengesankan, Pangeran Edward," ujar Pedro La Vida dengan mengangkat alisnya yang khas. "Sulit dipercaya bahwa seseorang seperti kau menjadi dewa perang. Kau memang berbeda."

Pangeran Edward tersenyum dengan rendah hati, "Terima kasih, Raja Bajak Laut. Kau juga tidak kalah tangguh."

Pedro La Vida tertawa, "HAHAHAH, siapa sangka, aku akan mendapatkan teman yang hebat di tengah lautan seperti ini. Bagaimana kalau kita bersatu dan menjadi kekuatan yang tak terhentikan?"

Pangeran Edward berpikir sejenak, "Aku tak bisa menjadi bajak laut, Pedro. Tetapi, aku percaya kita bisa mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Biarkan kami lewat tanpa hambatan, dan aku akan memberimu pengampunan."

Pedro La Vida mengangguk, "Deal! Aku yakin kita bisa mengatur sesuatu. Aku tak ingin bertarung lagi melawan dewa perang, hehe."

Setelah kesepakatan tercapai, Pangeran Edward mengarahkan pandangannya ke kapal kerajaan yang menunggu di kejauhan.

Dia memanggil rombongannya untuk bersiap-siap berlayar lebih jauh.

"Sekarang, kita akan melanjutkan perjalanan kami, Pedro. Aku berharap ini adalah pertemuan terakhir kita yang bertujuan untuk bertarung," ujar Pangeran Edward dengan tulus.

Pedro La Vida mengangkat cangkir minumannya, "Aku setuju, Pangeran Edward. Mari kita nikmati malam ini sebagai teman, bukan musuh."

Kapal bajak laut dan kapal pangeran Edward berlayar berdampingan, menciptakan pemandangan yang tidak biasa di tengah lautan yang luas.

Pangeran Edward dan Pedro La Vida duduk bersama di geladak kapal bajak laut, menikmati angin laut yang sejuk dan pemandangan bintang yang gemerlapan di langit malam.

Sebuah meja kayu mewah diletakkan di antara mereka, diisi dengan berbagai botol anggur dan minuman keras.

Mereka bertukar cerita, mengenang serangan mereka sebelumnya dengan tawa dan kehangatan.

"Jadi, apa yang membawamu ke Terra Incognita, Pangeran?" tanya Pedro La Vida sambil mengangkat cangkir minumannya.

Pangeran Edward melihat ke kejauhan, "Kami ingin membuat aliansi dengan Pahlawan Tanpa Ampun, Dion Lionit. Kami berusaha menyatukan kekuatan melawan ancaman yang lebih besar."

Pedro La Vida tersenyum, "Dion Lionit, huh? Itu adalah nama yang menggetarkan. Kau memiliki niat yang mulia, Pangeran. Mari kita harap kita semua bisa bekerja sama untuk kebaikan."

Di tengah perbincangan, para kru kapal bajak laut dan kapal kerajaan bergabung, menciptakan suasana yang ramai dan penuh semangat.

Para bajak laut dan ksatria saling bertukar cerita, menciptakan ikatan yang tak terduga di antara kedua kelompok yang sebelumnya saling bermusuhan.

Tetapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi ketika Pedro La Vida mencoba mengenalkan minuman keras khususnya kepada Pangeran Edward.

Pangeran Edward dengan tenang meminum gelas berisi alkohol. namun, kemampuan pasifnya bereaksi langsung, seluruh alkohol di dalam tubuhnya langsung Ternetralisir.

Pangeran Edward tersenyum, "Maafkan aku, Pedro. Kemampuanku tidak memungkinkan aku menikmati minuman keras."

Pedro La Vida tertawa terbahak-bahak, "HAHAHAH, kau memang aneh, Pangeran. Tapi tak apa, kita masih bisa menikmati malam ini tanpa alkohol."

Pangeran Edward Valorian menatap laut yang bergelombang, bayangan sorot mata Pedro La Vida mencerminkan kekhawatiran dan keingintahuannya.

"Dion Lionit, Pahlawan Tanpa Ampun," gumam Pangeran Edward sambil mengangguk. "Sebuah julukan yang cukup mengerikan. Mengapa dia menjadi seperti itu?"

Pedro La Vida menghela nafas, mengingat kembali pengalaman yang telah ia dengar tentang Dion.

"Dion tumbuh di tengah kebencian dan dendam. Tragedi yang ia alami merubahnya menjadi pribadi yang gelap dan kejam. Tetapi, ada saat-saat di mana kehidupannya bisa berubah arah." Ucap Pedro La vida.

Mereka melanjutkan perbincangan mereka di atas kapal yang terombang-ambing di lautan yang luas.

Angin sepoi-sepoi laut membelai wajah mereka, menciptakan suasana haru dan melankolis.

Pangeran Edward berkata, "Dalam hidup ini, terkadang kita dipandu oleh kekuatan yang kita tidak bisa kendalikan. Namun, ada saatnya kita bisa memilih arah yang benar."

Pedro La Vida tersenyum mengerti, "Kekuatan tanpa kendali adalah ancaman bagi diri sendiri dan orang lain. Dan seperti kehidupan yang kita jalani, setiap kekuatan bisa menjadi berkah atau kutukan tergantung pada bagaimana kita mengelolanya."

Keduanya terdiam sejenak, membiarkan kata-kata mereka terbawa oleh gemuruh ombak dan angin yang berhembus.

Hanya bunyi deburan laut yang mendominasi saat itu, menciptakan kesan kedalaman dalam perbincangan mereka.

Pangeran Edward kembali mengangkat topik Dion Lionit, "Saya yakin, di dalam diri Dion, masih ada sisa-sisa kebaikan dan kemanusiaan. Mungkin suatu hari nanti, kita dapat membantunya menemukan jalan pulang ke cahaya."

Pedro La Vida mengangguk setuju, "Setiap orang punya kesempatan untuk memilih perubahan. Dan terkadang, kita harus memberi mereka peluang untuk itu."

Matahari terbenam memancarkan warna-warni yang indah di ufuk barat.

Suasana menjadi lebih tenang dan penuh keharuan, seolah-olah alam sendiri turut meresapi perbincangan yang mendalam ini.

Kapal terus melaju, membawa Pangeran Edward, Pedro La Vida, dan rombongan mereka ke Benua Terra Incognita.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!