Samudra yang luas memantulkan sinar matahari terbenam, menciptakan kilauan emas yang memainkan perannya sebagai saksi bisu di tengah-tengah pemandangan yang damai.
Kapal Pangeran Edward, yang dulu melaju dengan anggun, kini berada dalam bayangan besar yang tercetus oleh sebuah kapal bajak laut raksasa yang tiba-tiba muncul dari ufuk laut.
Kapal bajak laut itu, dikenal sebagai "Majestic Reaper," terlihat menakutkan dengan bendera hitam berkibar di atasnya.
Jalan darah dan kematian yang dikenal oleh bajak laut ini membayangi lautan tempat mereka berlayar.
Perlahan, kapal bajak laut itu menghampiri, memenuhi langit-langit dengan ancaman gelapnya.
"Pangeran, ini kesempatan untuk menumpas kejahatan ini!" seru seorang Ksatria dengan semangat perang.
Pangeran Edward menatap kapal bajak laut yang mendekat dengan ekspresi tanpa emosi. "Kita harus berbicara terlebih dahulu."
Ketika kapal bajak laut mendekat, Pangeran Edward memperhatikan seorang pria yang berdiri di dek kapal bajak laut itu.
Dia memakai mantel merah besar dan menunjukkan senyuman yang merendahkan.
"Pangeran Edward!" seru pria itu, dan suaranya bergema di seluruh lautan. "Apa yang membawa Anda ke wilayah kami?"
Pangeran Edward menjawab dengan tenang, "Kami hanya melewati perairan ini. Tidak ada niat untuk menciptakan konflik."
Namun, tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Ksatria Kerajaan sudah bersiap-siap untuk menyerang.
"Pangeran, izinkan kami menyelesaikan mereka sekarang!" ujar Ksatria dengan pedangnya bersinar.
Pangeran Edward mengangkat tangan kanannya, "Diamlah, kau tahu siapa itu Pedro La Vida, bukan?."
Ksatria kerajaan tak mendengarkan pangeran Edward, dan langsung meluncur ke arah kapal bajak laut itu, pedang mereka siap untuk bertempur.
Namun, Pangeran Edward menghentikan mereka dengan langkah tegas.
"Berhenti!" ujarnya dengan suara yang tenang tetapi kuat.
Ksatria Kerajaan merasa aneh, tetapi mereka menahan diri.
Pangeran Edward berjalan sendirian menuju dek kapal bajak laut, melangkah dengan keyakinan dan keberanian.
Sesampainya di dek, Pangeran Edward menemui seorang pria yang memakai mantel merah besar itu.
"Pedro La Vida," panggilnya dengan tenang.
Pria itu, yang disebut Pedro La Vida, tersenyum merendahkan. "Ah, sang Dewa perang. Apa yang membawa anda ke kawasan kami?"
Pangeran Edward menjawab, "Kami hanya melewati sini dalam perjalanan kami. Tidak perlu ada pertumpahan darah."
Pedro La Vida tertawa dengan keras, menggetarkan seluruh kapal. "HAHAHAH, Dewa perang ingin damai? Sungguh luar biasa! Namun, aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja."
Pangeran Edward mengangkat pedangnya dari sarungnya. "Kau benar-benar menginginkannya..."
Pedro La Vida memegang gada besar di tangannya, dan dalam sekejap, kedua kekuatan luar biasa bertabrakan.
Dalam sekejap, udara di sekitar mereka berubah menjadi tegang, menciptakan efek tegangan yang terasa oleh seluruh kru kapal.
Pangeran Edward dan Pedro La Vida berdiri saling berhadapan, pandangan tajam dan energI yang kuat menyelimuti mereka.
Pangeran Edward mengangkat pedangnya tinggi di atas kepala, sementara Pedro La Vida menyiapkan gada besarnya dengan penuh kekuatan.
Kedua kekuatan itu bertabrakan di udara dengan kekuatan yang tak terduga.
Begitu tabrakan itu terjadi, sebuah gelombang energi muncul, memecah awan di langit malam.
Kilatan cahaya yang sangat terang menyilaukan mata, menciptakan corak unik yang melintas di langit.
Laut di sekitar kapal mereka merespons dengan gegap gempita, ombak besar muncul dan berkecamuk, menciptakan gemuruh yang menggetarkan seluruh kapal.
Sebuah kejutan energi melanda lautan, menciptakan riak-riak air yang terdengar sampai ke ujung-ujung horison.
Gelombang energi tak terlihat terus berputar-putar di sekitar tempat kedua tokoh itu berdiri, menciptakan medan energi yang sangat kuat.
Awan di atas mereka terbelah seolah membiarkan pemandangan langit malam yang cerah menjadi saksi dari kekuatan luar biasa yang terjadi.
Ribuan bintang bersinar di langit, memberikan latar belakang dramatis untuk pertarungan kekuatan ini.
Kru kapal, baik dari kapal Pangeran Edward maupun kapal bajak laut, menyaksikan dengan kagum dan ketakutan.
Energi yang dilepaskan oleh bentrokan itu mengguncang hati mereka, menciptakan keheningan yang tegang di sekitar lautan.
Setelah kekuatan bentrokan mereda, langit kembali menjadi gelap, dan ombak-ombak besar di lautan perlahan mereda.
Namun, jejak-jejak kejadian itu tetap terukir dalam ingatan semua orang yang menyaksikannya.
Pangeran Edward dan Pedro La Vida tetap berdiri di tempat mereka, menunjukkan bahwa mereka belum menunjukkan seluruh kekuatan mereka.
Keberanian dan keteguhan wajah keduanya menciptakan aura kehadiran yang mengesankan di tengah malam yang sunyi.
Pedro La Vida tersenyum, mengangguk pada Pangeran Edward. "Pertarungan ini belum selesai, Dewa perang. Tunggu saja, saat kita bertemu lagi."
Pangeran Edward membalas senyuman. "Aku akan menantikannya, Pedro La Vida."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments