Chapter 2 - Kota Richtenborn

Rombongan Pangeran Edward melanjutkan perjalanan mereka melalui medan yang beragam, dari hutan belantara hingga dataran yang terbentang luas.

Hari berganti malam, dan suasana perjalanan tetap dalam ketenangan, hanya dihiasi dengan suara langkah kaki kuda dan bisikan angin malam.

Setelah berhari-hari melintasi perbukitan dan sungai yang mengalir deras, rombongan akhirnya mencapai Kota Richtenborn.

Kota besar ini dipenuhi dengan cahaya gemerlap dari lentera dan suara riuh rendah dari kehidupan perkotaan.

Count Leony Richtenborn, penguasa setempat, menyambut mereka dengan hangat di gerbang kota.

Dengan pakaian yang megah, Count Leony memberikan penghormatan kepada Pangeran Edward.

"Selamat datang di Kota Richtenborn, Pangeran Edward. Kami senang mendapat kehormatan kehadiran Anda di kota kami," ucap Count Leony dengan ramah.

Pangeran Edward menyapa balik, "Terima kasih, Count Leony. Kami sangat menghargai sambutan hangat Anda. Kami butuh tempat untuk beristirahat sejenak, apakah mansion Anda tersedia?"

Count Leony dengan tulus menjawab, "Tentu saja, Pangeran Edward. Mansion saya selalu terbuka untuk tamu istimewa seperti Anda. Silakan ikuti saya."

Dalam perjalanan menuju Mansion, Pangeran Edward melihat kerumunan orang dari kereta kudanya yang mewah, dia memperhatikan beberapa orang yang mengenakan jubah hitam sedang ngobrol di gang kecil.

Pangeran Edward menjentikkan jarinya. "Mati" gumamnya.

Beberapa orang yang mengenakan jubah hitam tadi tiba-tiba saja menghilang layaknya debu.

Tristhan yang tidak sengaja merasakan sihir sedikit terkejut, dan langsung melihat Pangeran Edward dari luar kereta.

"Di balik wajah indahnya, terdapat sebuah Kekuatan besar yang mengerikan" pikir Tristhan berkeringat dingin.

Pangeran Edward Menoleh kepada Tristhan. "Tristhan" panggil Pangeran Edward menggunakan Telapati.

Tristhan yang mendengar pesan tersebut langsung mendekatkan kudanya kepada kereta kuda.

"hamba disini Pangeran, ada perlu apa" Tanya Tristhan dengan penuh hormat.

Pangeran Edward dengan dingin berkata. "nanti, aku akan mengajak kamu untuk pergi menuju suatu tempat, Tristhan"

Tristhan mengangguk setuju. "Dimengerti, Pangeran"

Mansion Count Leony terletak di pusat kota, sebuah bangunan megah dengan dinding batu yang kokoh dan halaman yang luas.

Di dalamnya, suasana klasik menciptakan nuansa kemewahan dan kehangatan.

Ruang tamu utama dihiasi dengan perabotan yang elegan dan lukisan-lukisan seniman terkenal.

Api unggun di pojok ruangan menyala, memberikan kehangatan di malam yang dingin.

Count Leony mempersilakan rombongan untuk duduk, "Mohon, nikmati kenyamanan mansion saya. Saya akan memerintahkan pelayan untuk menyajikan hidangan malam untuk Anda."

Pangeran Edward mengangguk menghargai, "Terima kasih, Count Leony. Kami berterima kasih atas keramahan Anda."

Sementara para pelayan sibuk menyediakan hidangan, Count Leony duduk bersama Pangeran Edward. "Ada hal apa yang membawa Anda ke Kota Richtenborn? Apakah ini terkait dengan aliansi melawan makhluk non-manusia?"

Pangeran Edward menjawab dengan serius, "Yeah, Count Leony. kami sedang menuju kota Orzon agar bisa menaiki kapal untuk menuju benua terra incognita, Tempat Pahlawan Dion Lionit berada."

Count Leony terlihat mengerti. "Jadi begitu"

"Baru-baru ini, kami menghadapi serangan Orc dalam perjalanan kami. dan anehnya, mereka bergerak secara berkelompok, dan itu bukan jumlah yang kecil, sekitar seratus lebih." Ujar Pangeran Edward kepada Count Leony dengan serius.

Count Leony menunjukkan ekspresi keprihatinan, "Orc berkumpul? Itu bukanlah hal yang lazim. Saya akan membantu Anda dengan segala yang saya bisa untuk menjelaskan situasi ini."

Setelah menyantap hidangan malam yang lezat, rombongan Pangeran Edward beristirahat di mansion Count Leony.

Masing-masing orang mendapatkan fasilitas bagus yang disiapkan dengan baik oleh Count Leony.

Malam itu, di ruang tidurnya yang elegan, Pangeran Edward duduk dengan anggun di tepi jendela, memandangi panorama malam Kota Richtenborn yang mempesona.

Cahaya gemerlap lampu kota menciptakan suasana yang magis di sekelilingnya.

Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar di pintu kamar. "Selamat malam, Pangeran," ujar Tristhan dengan hormat dari luar kamar.

Tanpa memalingkan pandangannya dari jendela, Edward menjawab menggunakan telepati, "Masuklah."

Dengan gesit, Tristhan membuka pintu, melangkah masuk, dan langsung menundukkan diri di depan Pangeran Edward.

"Berdirilah," ucap Edward, suaranya penuh dengan keanggunan.

Tristhan bangkit mengikuti perintah Pangeran. "Apa yang ingin dibicarakan oleh Anda kepada hamba Pangeran?" tanyanya dengan rendah hati.

Edward, masih memandang ke luar jendela, berdiri dan mulai mengenakan jubah hitam yang dipegangnya sejak tadi. "Apa kau tidak merasakan aroma yang menjijikkan di udara malam ini?" ujar Edward kepada Tristhan, suaranya terdengar melalui telepati.

Tristhan tampak sedikit bingung dengan pertanyaan tersebut. "Mohon ampuni, Saya tidak paham perkataan Pangeran," ujarnya dengan rendah hati.

Tanpa berkata banyak, Edward melemparkan sebuah topeng ke arah Tristhan. "Pakai itu lalu ikuti aku." perintahnya sambil memasang topeng misterius di wajahnya sendiri.

Setelah Tristhan memakai topengnya, Edward melompat dengan lincah dari tempat duduknya, diikuti dengan anggun oleh Tristhan yang sudah mengenakan topeng tersebut.

"Pangeran, kita akan ke mana?" tanya Tristhan dengan rasa penasaran.

Dengan tatapan tajam dan misterius, Edward tersenyum kecil. "Menghabisi hama," gumamnya, menyiratkan sesuatu yang akan mereka lakukan malam itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!