Pangeran Edward, yang hendak memasuki kereta, tiba-tiba merasakan getaran aneh di sekelilingnya.
Ia menghentikan langkahnya dan mempersiapkan posisi bertarung dengan cepat.
Ksatria kerajaan yang berada di sekitarnya juga merespons dengan sigap, mengangkat senjata mereka dengan sikap siap tempur.
"Demonic Aura," gumam Pangeran Edward, mencoba memahami sumber getaran aneh yang baru saja dirasakannya.
Ekspresi wajahnya menjadi serius, dan langkahnya perlahan mundur.
Ksatria kerajaan, yang mendengar pernyataan Pangeran Edward, merasa gelisah.
Mereka tahu bahwa Demonic Aura adalah sesuatu yang sangat berbahaya dan menandakan kehadiran kekuatan gelap.
Tristhan, yang juga mendengar pernyataan Pangeran Edward, langsung memasang posisi siap tempur dan berjalan menuju arah asal Demonic Aura yang terasa oleh Pangeran Edward.
"Anak kecil?" pikir Tristhan sambil melangkah hati-hati.
Dia melihat sekitar, mencoba menemukan sumber kegelisahan ini.
Setelah mendekati semak-semak di dekatnya, ia melihat seorang pria muda berusia sekitar 15 tahunan yang berdiri dengan pedangnya tersiap.
"Jangan khawatir, pangeran. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat," ucap Tristhan dengan suara lantang, tetapi ketika melihat wajah ketakutan pria muda itu, dia merasa sedikit terguncang.
"Tidak peduli jika dia anak kecil, dia mengancam keselamatan Pangeran," pikir Tristhan, mencoba meyakinkan dirinya untuk mengatasi ini.
Namun, sebelum Tristhan dapat menebas pedangnya, Pangeran Edward dengan sangat cepat menahan pedang Tristhan dengan jarinya yang kuat.
"Tunggu sebentar," ujarnya, sambil tetap memandang pria muda itu yang tampak ketakutan di hadapannya.
Ada ekspresi penuh perhatian dan pertimbangan di wajah Pangeran Edward.
Pria muda itu, yang awalnya siap tempur, kini terlihat semakin cemas.
Dia mencoba menjelaskan, "Saya tidak bermaksud mencelakai Pangeran. Saya hanya tersesat dan mencari bantuan."
Pangeran Edward melepaskan pegangan pada lengan Tristhan, memberi isyarat agar Tristhan tidak melanjutkan serangannya.
"Jangan terlalu cepat mengambil tindakan, Tristhan. Mari kita dengar apa yang dia katakan," ujar Pangeran Edward dengan suara tenang.
Tristhan agak ragu namun akhirnya mengikuti perintah Pangeran Edward dan melepaskan sikap siap tempurnya.
Pangeran Edward kemudian mengajak pria muda itu untuk berbicara, "Siapa namamu? Dan apa yang membawamu ke sini?"
Pria muda itu menjawab dengan penuh ketakutan, "Saya adalah Adrien, seseorang dari desa terdekat. desa kami mendapat serangan dari sekelompok monster, dan saya berusaha menyelamatkan diri. Saya tidak bermaksud mencelakai siapapun."
Pangeran Edward menatap Adrien dengan tajam, mencoba membaca kejujuran di balik kata-katanya.
Tristhan juga tetap waspada, meskipun melihat ekspresi takut yang terpancar dari pria muda itu.
Pangeran Edward menatap Adrien, pemuda yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh pertanyaan. Wajah Adrien tampak lelah dan terluka oleh perjuangan yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.
"Saya hanya ingin hidup," tambah Adrien dengan suara yang gemetar, mencerminkan ketakutannya yang mendalam.
Pangeran Edward merenung sejenak, kemudian bertanya, "Bagaimana kau bisa memiliki demonic Aura?" Tanya itu keluar dari rasa penasaran dan keingintahuan untuk memahami lebih dalam apa yang sedang terjadi.
Adrien menggelengkan kepala, seolah berusaha melepaskan beban yang terlalu berat di pundaknya. "Saya tidak meminta ini. Itu muncul begitu saja setelah saya melakukan ritual yang salah."
Demonic Aura, meresap dalam kesunyian, adalah bentuk khusus dari Aura, sebuah energi yang melibatkan penggunaan kekuatan magis dengan sifat yang cenderung gelap dan merusak.
Dalam konteks yang lebih umum, aura mencirikan perwujudan energi spiritual atau kekuatan yang dimiliki oleh seseorang.
Namun, Demonic Aura menjadi bentuk yang lebih kuat dan lebih gelap, seringkali terkait dengan kekuatan iblis atau entitas supernatural yang bersifat jahat.
Pangeran Edward mencerna informasi tersebut, mencoba menyelami kompleksitas keadaan yang dihadapi Adrien.
"Demonic Aura tidak sembarang muncul begitu saja. Ada sesuatu yang memicu perubahan ini. Bisakah kau memberitahu saya lebih lanjut tentang ritual yang kau lakukan?" tanya Pangeran Edward dengan penuh perhatian.
Adrien mengangkat pandangannya, mata yang penuh penyesalan bertatapan langsung dengan Pangeran Edward. "Saya mencoba melakukan ritual pemanggilan untuk mendapatkan kekuatan yang bisa melindungi desa saya dari serangan makhluk gelap. Namun, sesuatu terjadi, dan demonic Aura muncul sebagai hasilnya."
Pangeran Edward memahami bahwa Adrien mencoba melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan untuk melindungi orang yang berharga baginya.
Namun, hasil yang tidak terduga telah mengubah takdirnya menjadi suatu keadaan yang jauh dari rencana semula.
"Demonic Aura dapat memberikan kekuatan luar biasa, tetapi juga membawa risiko besar," ucap Pangeran Edward, melanjutkan penjelasan.
Adrien mengangguk, memahami bahwa keputusannya yang tampaknya sederhana telah membawanya ke dalam kehidupan yang penuh dengan rintangan dan penderitaan.
Pangeran Edward memandangnya dengan pandangan penuh empati.
Pangeran Edward, dengan keahliannya dalam sihir, membuat sebuah lingkaran di depannya.
Dalam sekejap, seorang kuda putih yang indah dan gagah muncul di dalam lingkaran itu.
Keahlian sihirnya membuat sekitarnya tercengang, dan rasa kagum melintas di mata orang-orang.
"Apa kabar? Mogu" tanyanya, sambil mengelus kuda putih di depannya.
Edward dengan anggun menunggangi kudanya.
Viona, yang keluar dari kereta kerajaan, tidak bisa menahan keinginannya.
Dengan malu-malu, dia bertanya kepada Pangeran Edward, "Pangeran, bolehkah aku menunggangi kuda bersama Anda?"
Pangeran Edward tersenyum ramah. "Baiklah," ujarnya, menunjukkan sikap terbuka terhadap Viona.
Viona memancarkan kegembiraan saat dia mendekati kuda putih yang dinaiki oleh Pangeran Edward.
"Dia benar-benar tak tahu malu, dia menjadi tak sopan pada Pangeran." pikir Tristhan dengan sedikit kesal. "dan, bukankah sebelumnya dia bilang kalau dia tidak bisa menunggangi kuda?"
Pangeran Edward mengarahkan tangannya ke kereta kerajaan, dan dengan kekuatan sihirnya, kereta itu seolah-olah diserap ke dalam dimensi yang tidak terlihat.
Orang-orang yang menyaksikan ajaib ini hanya bisa mengernyitkan dahi, terpesona oleh kekuatan luar biasa pangeran.
"Adrien, tolong jalan di depan. Antar kami ke desamu," pinta Pangeran Edward, mempercayakan arah perjalanan pada pemuda yang telah mereka temui di tengah hutan.
Adrien mengangguk dan Tristhan menarik Adrien kekudanya, memimpin perjalanan di depan.
Perjalanan melintasi jalan setapak dan hutan yang penuh pepohonan memberikan nuansa petualangan yang tak terlupakan.
Pangeran Edward berbicara dengan Adrien, mencari tahu lebih banyak tentang desa dan rakyatnya.
Adrien menceritakan kisah desa yang damai dan hidup harmonis sebelum peristiwa mengerikan yang merubah takdir mereka.
Di tengah perjalanan, Viona yang menunggangi kuda bersama Pangeran Edward menyadari keceriaan dan ketegangan di wajah Adrien.
"Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu desanya, Pangeran?" tanya Viona, menyuarakan keingintahuannya.
Pangeran Edward tersenyum, "Kita akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah demonic Aura Adrien tanpa membahayakan desanya."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan semangat baru, bersiap untuk menghadapi tantangan yang mungkin menanti di desa Adrien.
Kuda-kuda mereka berlari dengan anggun, berjalan menuju desa Adrien.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments