NovelToon NovelToon

The Journey Of The Perfect Prince

Chapter 1 - Awal perjalanan

Pada pagi yang cerah di Kerajaan Maestiammea, sinar matahari membelah awan, menyinari istana megah tempat Pangeran Edward Valorian berdiam diri.

Usianya yang masih 19 tahun tak mampu menyamarkan pesonanya yang memikat; tubuhnya yang gagah dan wajah tampannya telah meraih julukan sebagai "Matahari Maestiammea" oleh orang-orang di sekitarnya.

Langkah percaya diri Pangeran Edward memecah keheningan di lorong istana, di mana dinding-dindingnya menjadi saksi bisu sejarah keluarga Valorian yang megah.

Dengan penuh keanggunan, Pangeran Edward dengan rambut hitam legam dan mata birunya yang bersinar berjalan menuju aula utama.

Di sana, Raja Augustus Valorian, ayahnya, tengah duduk di singgasana yang dihiasi dengan hiasan emas.

Sorot mata bijaksana sang raja menyoroti kehadiran sang putra.

"Selamat pagi, Edward. Hari ini adalah hari yang penting bagi keluarga kita," ucap Raja Augustus sambil tersenyum penuh kehangatan.

Pangeran Edward menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan. "Ya, Ayah. Saya siap untuk melaksanakan tugas apapun yang Anda percayakan."

Raja Augustus mengangguk. "Kau akan pergi ke benua Terra Incognita, di barat daya. Di sana, kau akan bertemu dengan pahlawan Dion Lionit dan membahas aliansi melawan makhluk-makhluk non-manusia yang semakin mengancam benua kita."

Pangeran Edward meresapi tanggung jawabnya. Terra Incognita, tempat kelahiran pahlawan bertangan dingin, menjadikan dia sebagai aliansi adalah tugasnya kali ini.

Langit biru menggambarkan perjalanan baru yang menantinya. Dengan perasaan campur aduk di dalam diri, Pangeran Edward melangkah keluar dari aula istana.

Pangeran Edward melangkah ke dalam kamarnya yang luas dengan langkah mantap. Di sudut kamarnya, seorang pelayan setia sudah menyiapkan baju perjalanan yang elegan.

Kain sutra berwarna biru tua dengan hiasan emas mengelilingi kerah dan pergelangan tangan membuatnya terlihat seperti pangeran sejati.

"Terima kasih, Ranald," ucap Pangeran Edward kepada pelayan tersebut, sambil memakai baju perjalanannya.

Ranald hanya mengangguk hormat, memberikan sentuhan terakhir pada jubah sutra sang pangeran.

Baju perjalanan yang dipilihnya bukan hanya sekadar pakaian, melainkan lambang kehormatan dan martabat keluarga Valorian.

Pangeran Edward memeriksa penampilannya di cermin besar, memastikan bahwa setiap lipatan kain dan detailnya tampak sempurna.

Setelah mempersiapkan diri, Pangeran Edward melangkah ke luar kamarnya menuju ruang pertemuan Ksatria kerajaan.

Ruang tersebut dihiasi dengan lambang kehormatan dan perisai yang merefleksikan keberanian dan keadilan para ksatria.

Beberapa Ksatria kerajaan sudah berkumpul di ruangan tersebut, masing-masing mengenakan baju perang mereka yang megah.

Ksatria Tristhan, pemimpin mereka dan dikenal dengan kepandaiannya dalam seni pedang, memberikan hormat pada Pangeran Edward.

"Pangeran Edward, suatu kehormatan besar dapat mengawal Anda dalam perjalanan ini. kami akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi anda," ujar Tristhan dengan penuh semangat.

Pangeran Edward mengangguk menghargai. "Terima kasih, Sepertinya tugas kali ini cukup rumit."

Rombongan mereka melangkah ke halaman istana di mana kereta kuda mewah sudah menunggu.

Ksatria-kasatria tersebut, dipimpin oleh Pangeran Edward, naik ke dalam kereta dengan penuh keanggunan.

Kereta kuda yang dihiasi dengan lambang kerajaan meluncur perlahan, membawa mereka meninggalkan keheningan istana yang megah.

Ibu dan dua adik Edward yang terlambat datang hanya bisa melambaikan tangan kepada Edward yang sudah jalan.

Kereta kuda melaju melewati perbukitan yang hijau subur. Pohon-pohon rindang memberikan teduh di sepanjang jalan, dan aroma bunga-bunga liar mengiringi rombongan mereka.

Udara segar dan dingin memberikan kelegaan seiring dengan perjalanan mereka.

Rombongan tiba di pinggiran kota, di mana hamparan padang rumput terbentang luas. Dalam jarak yang jauh, pegunungan megah menonjol di langit biru.

Pangeran Edward melihat ke sekitar, meresapi keindahan alam yang menyambut mereka.

Kereta kuda bergerak melewati desa-desa kecil dengan arsitektur yang khas. Rakyat desa menyambut rombongan dengan senyuman hangat.

Perjalanan mereka terus berlanjut, menyusuri jalan setapak yang memotong hutan belantara.

Suara riuh rendah alam liar menyatu dengan langkah kaki kuda, menciptakan melodi alam yang menenangkan.

Pangeran Edward menikmati setiap momen perjalanan, mengamati keindahan alam dan merenungkan tugas yang menanti.

Malam pun tiba, dan rombongan beristirahat di perkemahan sederhana di tepi sungai yang tenang.

Api unggun berkobar, menyinari wajah para Ksatria Tinggi yang duduk bersama-sama. Pangeran Edward, duduk di dekat api, merenung dengan tatapan dalam.

Saat seluruh orang telah tidur, Tristhan bangun dari duduknya dan mengambil nafas dalam.

Dalam keheningan malam yang hanya diterangi api unggun, Tristhan bersiap menghadapi ancaman yang muncul secara tiba-tiba.

Keberadaan ratusan monster Orc melintas di balik pepohonan dan semak-semak, menyusup mendekati perkemahan.

Tristhan, dengan sigap dan penuh ketenangan, menarik pedangnya yang bersinar dalam cahaya api.

"Orc, apakah mereka memang biasanya berkelompok?" gumam Tristhan dengan tenang.

Monster Orc, berjumlah ratusan, menerobos dari kegelapan. Tristhan melangkah maju, mengarahkan pandangannya yang tajam pada gerombolan yang mendekat. Dalam sekejap, serangan pertama dilancarkan.

Tristhan melibas pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa, menggunakan Seni pedang utama Kerajaan Maestiammea.

Ribuan serangan pedang tampak seakan berubah menjadi satu, mengiris udara dengan presisi dan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia.

"Silatari Sword Style, Thousand Slash!" serunya, sambil melancarkan serangan bertubi-tubi dalam sekejap mata.

Setiap gerakan pedangnya membelah udara dan menyisakan pancaran cahaya.

Monster-monster Orc, yang semula percaya diri, segera tersadar bahwa mereka menghadapi lawan yang berbeda kali ini.

Tristhan, dengan kepiawaian dalam bela diri yang luar biasa, mampu mengatasi setiap serangan yang dilancarkan oleh monster-monster itu.

Tubuh-tubuh Orc terpental dan terkapar di tanah, menjadi saksi kehebatan Tristhan.

Namun, meskipun ratusan Orc terjatuh, terdengar gemuruh di kejauhan, mengisyaratkan bahwa masih banyak lagi monster yang mendekat.

Tristhan tidak gentar. Dengan kuda-kuda berkelebatan, dia terus melancarkan serangan serangkaian gerakan yang sulit ditebak.

Setiap gerakan pedangnya menghasilkan semburan energi yang memancar dalam lingkaran cahaya.

Pertempuran itu menjadi pertarungan antara kekuatan ksatria yang luar biasa dan gelombang tak berujung dari monster.

Tristhan terus menggempur lawannya, mengayunkan pedangnya dengan penuh semangat.

Cairan hitam dari tubuh Orc yang teriris tercecer di tanah, menciptakan gambaran yang mengerikan.

Namun, Tristhan tidak memberi kesempatan pada monster-monster itu.

Dengan refleks cepat, dia terus menyerang dan bertahan, menjaga api perkemahan tetap berkobar di tengah gelapnya malam.

Pertempuran berlangsung hingga fajar menyingsing di ufuk timur. Ratusan Orc terkapar di tanah, menandakan keberhasilan Tristhan dalam menjaga rombongan Pangeran Edward tetap aman.

Setelah serangan monster mereda, Tristhan berjalan dengan gagah berani ke arah perkemahan yang tenang kembali.

Tatapan sang ksatria tertuju pada Pangeran Edward yang masih duduk di dekat api.

"Apa anda tidur dengan nyenyak, Pangeran?" tanya Tristhan, sambil menyeka darah yang menempel di pedangnya.

Pangeran Edward tersenyum kecil. "Ya, terima kasih" ujar pangeran menjawab Tristhan. "Ngomong-ngomong, mengapa Orc yang sejatinya individual berkumpul pada satu tempat?" ujar Pangeran Edward dengan tatapan serius.

Sir Tristan menyeka darah di pedangnya, mata tajamnya menatap Pangeran Edward. "Pangeran, mungkin ini bukan pertemuan kebetulan. Orc yang berkumpul seperti itu bisa menjadi pertanda bahwa sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di wilayah ini."

Pangeran Edward, tanpa ekspresi wajah berubah, merespon dengan dingin, "Sesuatu yang lebih besar?" Matanya menunjukkan ketajaman intelektual yang tidak tertandingi. "Apa yang bisa menyatukan Orc yang biasanya bersifat individual? Kita perlu mencari tahu lebih lanjut."

Sir Tristan mengangguk setuju, "Saya setuju, Pangeran. Perlu diinvestigasi lebih lanjut. Ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih rumit."

Pangeran Edward bangkit dari duduknya, memperhatikan sekeliling perkemahan yang masih dalam keadaan damai setelah pertempuran sengit.

"segera kirim surat kepada istana, suruh mereka menginvestasi lebih lanjut tentang wilayah ini." ujar Pangeran Edward kepada Tristhan

Tristhan mengangguk dengan hormat, sambil memberikan kode tangan kepada ksatria lainnya untuk mengirim surat kepada istana.

Chapter 2 - Kota Richtenborn

Rombongan Pangeran Edward melanjutkan perjalanan mereka melalui medan yang beragam, dari hutan belantara hingga dataran yang terbentang luas.

Hari berganti malam, dan suasana perjalanan tetap dalam ketenangan, hanya dihiasi dengan suara langkah kaki kuda dan bisikan angin malam.

Setelah berhari-hari melintasi perbukitan dan sungai yang mengalir deras, rombongan akhirnya mencapai Kota Richtenborn.

Kota besar ini dipenuhi dengan cahaya gemerlap dari lentera dan suara riuh rendah dari kehidupan perkotaan.

Count Leony Richtenborn, penguasa setempat, menyambut mereka dengan hangat di gerbang kota.

Dengan pakaian yang megah, Count Leony memberikan penghormatan kepada Pangeran Edward.

"Selamat datang di Kota Richtenborn, Pangeran Edward. Kami senang mendapat kehormatan kehadiran Anda di kota kami," ucap Count Leony dengan ramah.

Pangeran Edward menyapa balik, "Terima kasih, Count Leony. Kami sangat menghargai sambutan hangat Anda. Kami butuh tempat untuk beristirahat sejenak, apakah mansion Anda tersedia?"

Count Leony dengan tulus menjawab, "Tentu saja, Pangeran Edward. Mansion saya selalu terbuka untuk tamu istimewa seperti Anda. Silakan ikuti saya."

Dalam perjalanan menuju Mansion, Pangeran Edward melihat kerumunan orang dari kereta kudanya yang mewah, dia memperhatikan beberapa orang yang mengenakan jubah hitam sedang ngobrol di gang kecil.

Pangeran Edward menjentikkan jarinya. "Mati" gumamnya.

Beberapa orang yang mengenakan jubah hitam tadi tiba-tiba saja menghilang layaknya debu.

Tristhan yang tidak sengaja merasakan sihir sedikit terkejut, dan langsung melihat Pangeran Edward dari luar kereta.

"Di balik wajah indahnya, terdapat sebuah Kekuatan besar yang mengerikan" pikir Tristhan berkeringat dingin.

Pangeran Edward Menoleh kepada Tristhan. "Tristhan" panggil Pangeran Edward menggunakan Telapati.

Tristhan yang mendengar pesan tersebut langsung mendekatkan kudanya kepada kereta kuda.

"hamba disini Pangeran, ada perlu apa" Tanya Tristhan dengan penuh hormat.

Pangeran Edward dengan dingin berkata. "nanti, aku akan mengajak kamu untuk pergi menuju suatu tempat, Tristhan"

Tristhan mengangguk setuju. "Dimengerti, Pangeran"

Mansion Count Leony terletak di pusat kota, sebuah bangunan megah dengan dinding batu yang kokoh dan halaman yang luas.

Di dalamnya, suasana klasik menciptakan nuansa kemewahan dan kehangatan.

Ruang tamu utama dihiasi dengan perabotan yang elegan dan lukisan-lukisan seniman terkenal.

Api unggun di pojok ruangan menyala, memberikan kehangatan di malam yang dingin.

Count Leony mempersilakan rombongan untuk duduk, "Mohon, nikmati kenyamanan mansion saya. Saya akan memerintahkan pelayan untuk menyajikan hidangan malam untuk Anda."

Pangeran Edward mengangguk menghargai, "Terima kasih, Count Leony. Kami berterima kasih atas keramahan Anda."

Sementara para pelayan sibuk menyediakan hidangan, Count Leony duduk bersama Pangeran Edward. "Ada hal apa yang membawa Anda ke Kota Richtenborn? Apakah ini terkait dengan aliansi melawan makhluk non-manusia?"

Pangeran Edward menjawab dengan serius, "Yeah, Count Leony. kami sedang menuju kota Orzon agar bisa menaiki kapal untuk menuju benua terra incognita, Tempat Pahlawan Dion Lionit berada."

Count Leony terlihat mengerti. "Jadi begitu"

"Baru-baru ini, kami menghadapi serangan Orc dalam perjalanan kami. dan anehnya, mereka bergerak secara berkelompok, dan itu bukan jumlah yang kecil, sekitar seratus lebih." Ujar Pangeran Edward kepada Count Leony dengan serius.

Count Leony menunjukkan ekspresi keprihatinan, "Orc berkumpul? Itu bukanlah hal yang lazim. Saya akan membantu Anda dengan segala yang saya bisa untuk menjelaskan situasi ini."

Setelah menyantap hidangan malam yang lezat, rombongan Pangeran Edward beristirahat di mansion Count Leony.

Masing-masing orang mendapatkan fasilitas bagus yang disiapkan dengan baik oleh Count Leony.

Malam itu, di ruang tidurnya yang elegan, Pangeran Edward duduk dengan anggun di tepi jendela, memandangi panorama malam Kota Richtenborn yang mempesona.

Cahaya gemerlap lampu kota menciptakan suasana yang magis di sekelilingnya.

Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar di pintu kamar. "Selamat malam, Pangeran," ujar Tristhan dengan hormat dari luar kamar.

Tanpa memalingkan pandangannya dari jendela, Edward menjawab menggunakan telepati, "Masuklah."

Dengan gesit, Tristhan membuka pintu, melangkah masuk, dan langsung menundukkan diri di depan Pangeran Edward.

"Berdirilah," ucap Edward, suaranya penuh dengan keanggunan.

Tristhan bangkit mengikuti perintah Pangeran. "Apa yang ingin dibicarakan oleh Anda kepada hamba Pangeran?" tanyanya dengan rendah hati.

Edward, masih memandang ke luar jendela, berdiri dan mulai mengenakan jubah hitam yang dipegangnya sejak tadi. "Apa kau tidak merasakan aroma yang menjijikkan di udara malam ini?" ujar Edward kepada Tristhan, suaranya terdengar melalui telepati.

Tristhan tampak sedikit bingung dengan pertanyaan tersebut. "Mohon ampuni, Saya tidak paham perkataan Pangeran," ujarnya dengan rendah hati.

Tanpa berkata banyak, Edward melemparkan sebuah topeng ke arah Tristhan. "Pakai itu lalu ikuti aku." perintahnya sambil memasang topeng misterius di wajahnya sendiri.

Setelah Tristhan memakai topengnya, Edward melompat dengan lincah dari tempat duduknya, diikuti dengan anggun oleh Tristhan yang sudah mengenakan topeng tersebut.

"Pangeran, kita akan ke mana?" tanya Tristhan dengan rasa penasaran.

Dengan tatapan tajam dan misterius, Edward tersenyum kecil. "Menghabisi hama," gumamnya, menyiratkan sesuatu yang akan mereka lakukan malam itu.

Chapter 3 - Kota Richtenborn (2)

Pintu berat bar tersembunyi di Kota Richtenborn terbuka perlahan, membiarkan cahaya gemerlap malam masuk ke dalam ruangan gelap.

Pangeran Edward dan Tristhan memasuki tempat yang dipenuhi asap rokok dan kehadiran orang-orang yang lebih suka bergerak dalam bayang-bayang.

Mereka berdua yang masuk menggunakan topeng, membuat mereka menjadi pusat perhatian

"Siapa itu?" gumam orang-orang di bar.

Di ujung bar, terdapat sosok berwibawa yang dikelilingi oleh para pengikut setianya.

Galio, pemilik bar dan ketua kelompok kriminal yang lumayan terkenal di kota ini, duduk dengan sikap santai sambil memandangi kedatangan Pangeran Edward.

Orang-orang kuat berkumpul di sana, petualang, ksatria, penyihir, dan individu berbagai latar belakang.

Suasana tegang terasa di udara seiring kedatangan Pangeran Edward dengan topeng dan jubah hitamnya.

Edward bergerak dengan percaya diri melintasi kerumunan, sementara Tristhan mengikuti di belakangnya.

Begitu Edward tiba di depan Galio, dia dengan sengaja melepaskan aura kekuatannya, menyebabkan seluruh bar terdiam dalam ketakutan.

"Galio, Kejahatan yang kau buat saat ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan kematianmu hari ini," ucap Edward dengan nada dingin dan tajam.

Galio tersentak, memperlihatkan ekpresi ketakutan. "Siapa kau. Apa yang kau mau?!!" teriaknya kepada Edward.

Pangeran Edward tak menjawab, melainkan melontarkan pandangan tajam yang membuat seisi bar merasa terintimidasi.

Dia berbicara kepada Tristhan dengan telepati, "urus bawahan Galio, tanpa ampun."

Tristhan dengan cepat bergerak menghadapi bawahan-bawahan Galio.

Dalam sekejap, pertarungan brutal terjadi di berbagai sudut bar. Suara benturan senjata dan seruan kepedihan menyelimuti ruangan.

Sementara itu, Edward memusatkan perhatiannya pada Galio.

Dengan kedua matanya yang bersinar tajam, dia mulai mendominasi pikiran dan emosi Galio.

Orang-orang di sekitarnya, tak mampu menghadapi kekuatan sihir Pangeran, merasa terhipnotis.

Pangeran Edward dengan tegas melangkah mendekati Galio yang kini sudah tak berdaya.

Tanpa ragu, Edward mencekiknya, mengendurkan tautan kehidupan dari Galio. Tristhan terus melawan dan mengatasi bawahan-bawahan Galio tanpa ampun.

Setelah memastikan dominasinya terhadap Galio, Pangeran Edward mengambil pedang Galio.

Pangeran Edward melancarkan serangkaian serangan yang mengerikan; menebas salah satu kuping, lalu kuping lainnya, mata kanan, mata kiri, tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri. hingga Pangeran Edward menusukkan pedangnya dengan dingin ke dalam mulut Galio, mengakhiri hidupnya tanpa belas kasihan.

Seiring kekejaman itu berlangsung, darah dan kepingan tubuh berhamburan di sekeliling.

Suara sumpah serapah dan teriakan kepedihan menggema di bar yang kini dipenuhi dengan kengerian.

Setelah membantai tanpa belas kasihan, Pangeran Edward memerintahkan Tristhan untuk mengeluarkan orang-orang yang tak berkepentingan.

Ruangan cepat menjadi lengang, tersisa hanya mayat-mayat yang mengingatkan pada keberadaan kematian.

"Semoga kau di Terima di Sisinya" gumam Pangeran Edward sambil memandang mayat Galio.

Dengan pikirannya saja, Pangeran Edward mengeluarkan kekuatan sihirnya yang kuat. membuat sebuah ledakan dari sebuah api biru besar yang menghancurkan seisi bar.

Ledakan itu melahap semuanya, sedangkan Api biru yang sangat panas menjalar dengan cepat, membakar bar beserta mayat-mayat yang bergelimpangan.

Setelah kobaran api biru membakar habis bar tersembunyi, Tristhan melihat Pangeran Pangeran Edward keluar dari pusaran api tanpa sedikitpun terkena luka bakar.

Dan api biru mereda secara perlahan mengikuti langkah Pangeran Edward, seolah mereka patuh pada perintahnya.

Tristhan memandang Pangeran Edward dengan penuh keterkejutan di matanya.

Kejadian yang baru saja dia saksikan menunjukkan kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh Pangeran.

"Kemampuan Anda sungguh luar biasa, Pangeran. Tidak banyak orang yang bisa mengimbangi kekuatan seperti itu," ujar Tristhan dengan penuh hormat.

"Ya.." gumam Pangeran Edward sambil mengangguk sebagai tanggapan. "Itu hanya sebagian kecil dari kemampuanku" pikirnya dalam hati.

"Saya selalu memahami bahwa Anda adalah Pangeran yang memiliki kekuatan tak lazim, tapi apa yang baru saja terjadi melampaui ekspektasi saya. Itu bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kendali penuh terhadap situasi," lanjut Tristhan, mencoba memahami sisi gelap yang baru saja di saksikan olehnya.

Pangeran Edward menatap mata Tristhan dengan ketajaman. "Kekuatan adalah milik mereka yang mampu menggunakannya dengan bijak. Ini bukan hanya tentang memiliki kekuatan, tetapi bagaimana kita mengelolanya."

Tristhan mengangguk mengerti. Dia lalu berkata. "Orang-orang yang memiliki kekuatan sejati sering kali menempuh perjalanan sulit. Mereka tidak hanya perlu menguasai kekuatan fisik, tetapi juga perlu moral dan etika. Pangeran, kekuatan Anda seperti mereka, dan itu membebani Anda dengan tanggung jawab besar."

Pangeran Edward, tanpa berbicara, meninggalkan tempat tersebut, dan Tristhan dengan patuh mengikuti dari belakang.

Di perjalanan, Tristhan mencoba berbicara dengan Pangeran Edward. "Pangeran, Ledakan sebelumnya itu besar sekali, namun kenapa tidak ada suara sama sekali?"

Pangeran Edward menjelaskan. "Sebelum kita memasuki bar, aku sudah memasang sihir penghalang suara, agar suara ledakan yang ku buat tidak menganggu warga sekitar"

Tristhan kagum dan tersenyum lebar. "Mungkinkah anda telah memprediksi apa yang akan terjadi sebelum itu tiba?" tanya Tristhan dengan penasaran.

"Anggaplah begitu.." Jawab Pangeran Edward.

Ketika mereka sampai di mansion Count Leony Richtenborn, mereka melepaskan topeng yang sebelumnya menutupi identitas mereka.

Ruangan itu entah kenapa tiba-tiba terasa lebih ringan setelah kejadian yang gelap di bar.

Dalam suasana ruang pertemuan yang tenang, Pangeran Edward dan Tristhan melanjutkan perbincangan mereka.

Api perapian menyala dengan lembut, menciptakan suasana hangat di sekitar mereka.

Pangeran Edward duduk di salah satu kursi, sedangkan Tristhan tetap berdiri di hadapannya.

Pangeran Edward menyandarkan tubuhnya dengan anggun ke kursi, matanya menatap jauh seolah merenungkan setiap kata yang akan diungkapkannya.

"Tristhan, beban tanggung jawab keluarga Valorian memang besar. Seorang pemimpin harus kokoh, dan saya harap Anda dapat memahaminya," ujar Pangeran Edward dengan suara yang tenang namun tegas.

Tristhan mengangguk penuh pengertian, "Saya menyadari, Pangeran. Terkadang, kengerian adalah kunci untuk memahami."

Pangeran Edward tersenyum, dan langsung mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana pendapat anda terkait misi yang sedang kita jalankan saat ini?"

Tristhan mengambil waktu sejenak untuk merenung, lalu menjawab, "Misi ini tidak diragukan lagi sulit, Pangeran."

"Anda benar. Mengetahui bahwa kita akan bernegoisasi dengan Dion Lionit, seorang pahlawan yang terkenal dengan pendirian kerasnya, membuatnya menjadi misi yang tidak mudah," ujar Pangeran Edward dengan nada lembut.

Tristhan mengangguk, "Namun, saya dapat meyakinkan Anda, Pangeran, bahwa misi ini akan berhasil. Saya yakin Anda mengetahui reputasi Dion Lionit."

Pangeran Edward mengangguk, "Dion Lionit, pahlawan bertangan dingin. Pertemuan pertamaku dengannya memberikan kesan mendalam."

"Seorang pria yang melihat musuh sebagai ancaman yang tak termaafkan," tambah Tristhan dengan penuh kehormatan. "Tindakannya tanpa belas kasihan terhadap makhluk non-manusia mengukir namanya sebagai pahlawan yang tak kenal ampun."

Mereka melanjutkan percakapan dengan terfokus pada kekuatan dan kebijaksanaan Dion Lionit, seiring dengan rencana-rencana mereka untuk melibatkannya dalam misi mereka.

Setelah perbincangan yang cukup lama. Pangeran Edward, menatap mata Tristhan dengan apresiasi, sambil berkata, "Tristhan, Anda bukan hanya kuat, tetapi juga memiliki pengetahuan yang luas."

Mendengar pujian tersebut, Tristhan memberikan hormat dengan membungkuk.

Pangeran Edward berdiri, meregangkan ototnya, dan dengan sikap yang anggun, ia mengakhiri pertemuan mereka, "Sepertinya pembicaraan kita sampai di sini. Besok, kita masih harus melanjutkan perjalanan."

Tristhan mengangguk mengerti dan berlutut untuk memberikan penghormatan terakhir, sambil melihat Pangeran Edward pergi.

Seiring langkahnya meninggalkan ruangan, Pangeran Edward memancarkan aura yang seakan-akan mewakili kebijaksanaan dan keberanian.

Tristhan, yang tetap berlutut sejenak, mengikuti langkahnya dengan pengabdian yang tak tergoyahkan.

Ruangan itu kembali sunyi, namun bertiup angin membawa getaran perubahan yang akan segera datang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!