Dalam perjalanan melalui kereta istana yang mewah, Pangeran Edward sibuk membaca buku yang dipegangnya.
Viona, yang duduk di sampingnya, tertidur dengan anggun, menambah keindahan dalam kereta yang tenang..
Pangeran Edward melihat Viona yang sedang tertidur, "Viona Richtenborn...." gumam Edward lembut.
Dia meletakkan bukunya dengan hati-hati dan memposisikan dirinya agar Viona bisa lebih nyaman.
Melihat Viona yang terlelap dengan damai, Edward menyenderkan kepala Viona ke bahunya dengan penuh kelembutan.
Sementara Viona yang sedang dalam tidur palsunya, merasa detak jantungnya berdegup kencang.
"Ya Tuhan!!!" pikir Viona, ingin teriak namun tidak bisa.
Wajahnya memanas, dia berusaha mengendalikan rasa malunya yang memuncak.
"Ini beneran? INI BENERAN KAN???" pikir Viona dengan sangat gembira.
Meskipun berusaha mempertahankan pura-puranya, wajah Viona memerah seperti bunga yang baru mekar di pagi hari.
Pangeran Edward mengambil bukunya kembali, dan mulai melihat bukunya lagi. Namun, buku itu terlihat kosong tanpa teks sedikitpun.
Viona, yang sedang dalam tidur palsunya, penasaran dengan buku yang di baca oleh Pangeran Edward.
"Apa yang sebenarnya pangeran baca?" pikir Viona, mencoba melihat isi buku yang tampak kosong.
Ketika Viona melihat buku yang sepertinya tanpa isi, dia terkejut. "Kosong? Buku kosong? Kenapa Pangeran Edward membaca buku itu?" tanya Viona dalam hati, merasa penasaran.
Pangeran Edward tetap fokus pada buku kosong tersebut, lalu mulai menutup matanya.
Di udara, teks-teks berterbangan dan mulai tersusun dalam buku kosong yang dipegang Pangeran Edward.
Viona terkejut dan spontan berdiri, menghentikan tidur palsunya. "ANDA MENCIPTAKAN SENI BELADIRI TINGKAT TINGGI?!" teriaknya, tak bisa menahan kekagumannya.
Pangeran Edward memandang Viona yang berdiri dengan lembut. "Jadi, kamu berpura-pura tidur..." ucap Edward dengan lembut.
Viona sadar bahwa dia sudah ketahuan dan terlihat sangat malu,
Dengan gugup, Viona membungkuk. "Maaf, Pangeran," ujarnya.
Pangeran Edward tersenyum. "Tidak masalah, duduklah," kata Edward dengan penuh keramahan.
Viona kembali duduk, tetap memperlihatkan ekspresi malu-malu yang terlihat sangat imut.
Sir Tristhan, mendengar teriakan Viona sebelumnya, mendekatkan kudanya ke kereta.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, Pangeran?" tanya Tristhan kepada Pangeran.
Edward membuka jendela kereta. "Tidak ada," jawab Edward kepada Tristhan.
Pangeran Edward menjulurkan bukunya ke arah Tristhan. "Tristhan, lihatlah ini. Aku baru saja menciptakan Seni Beladiri tingkat tinggi yang kusebut Aurora Necrosis," ucap Pangeran Edward.
Tristhan mengamati buku yang diulurkan oleh Pangeran Edward. "Apa ini Seni Beladiri yang menggunakan pedang?" tanya Tristhan dengan rasa ingin tahu.
Pangeran Edward menggelengkan kepala, "Tidak, Aurora Necrosis mengandalkan kemampuan 'Aura'. Ini seni beladiri tingkat tinggi dengan kekuatan serangan yang menakutkan. Dengan penguasaan 'Aura', kita bisa menghancurkan organ dalam, menyerang titik vital, memelintir otot, bahkan mampu meledakkan organ dan memanaskan tulang hanya dengan memegang bagian tubuh lawan."
Tristhan menyimak dengan serius. "Tapi pangeran, tidak semua Ksatria memiliki 'Aura'," kata Tristhan mempertanyakan.
Pangeran Edward mengangguk, "Ya, itu benar. Tetapi bagaimana denganmu, Tristhan. kau mampu menguasai 'Aura', bukan? "
Dengan bangga, Tristhan menjawab, "Saya memiliki keahlian mengendalikan 'Aura' lebih baik daripada siapapun yang sedang dalam perjalanan ini, kecuali Anda sendiri, Pangeran."
Pangeran Edward tersenyum puas, "Sangat baik, Tristhan. Saya yakin Aurora Necrosis akan menjadi tambahan yang kuat dalam kemampuanmu."
Tristhan menggelengkan kepalanya dengan lembut, menolak tawaran Pangeran Edward dengan sikap yang sangat menghormati.
"Maaf, Pangeran," ucap Tristhan, "saya adalah seorang pengguna pedang. Kemampuan saya lebih terfokus pada seni bela diri yang menggunakan pedang."
Pangeran Edward mengangguk mengerti, "Ah, saya mengerti, Tristhan. Setiap Ksatria memiliki keahlian uniknya sendiri. Tidak apa-apa jika kau lebih nyaman dengan pedang."
Tristhan memberi hormat pada Pangeran Edward, "Terima kasih atas pengertian anda, Pangeran. Saya akan terus berlatih agar tidak mengecewakan anda."
Pangeran Edward tersenyum dan melanjutkan membaca bukunya, sementara Tristhan kembali menjaga kereta istana yang megah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Vemas Ardian
perasaan genrenya g ada romance deh
2024-02-05
0
firal firal
episode ini kok dikit ya kata katanya /Smile/ sory protes dikir
2024-01-31
4