Chapter 6 - Kota Richtenborn (5)

Malam itu, suasana penuh kehangatan dan suka cita memenuhi mansion Count Leony.

Meja-meja penuh dengan hidangan lezat, sementara musik memenuhi udara, menciptakan atmosfer penuh kegembiraan.

Count Leony, mengangkat cangkir anggur, berbicara dengan penuh hormat, "Terima kasih, Pangeran Edward, dan para Ksatria, karena telah menyelamatkan kota kami dari ancaman monster. Ini adalah hari yang patut dirayakan!"

Pangeran Edward, dengan senyum tipisnya, menjawab, "Ini adalah tugas kami untuk melindungi kerajaan dan rakyatnya, Count Leony. Tidak ada yang perlu diterima kasih."

Namun, Count Leony bersikeras, "Namun, prestasi ini patut diapresiasi. Mari kita merayakan bersama!"

Pangeran Edward mengamati kegembiraan yang berkobar di mata orang-orang di sekitarnya.

Sementara itu, beberapa Ksatria berkumpul membicarakan taktik dan pengalaman pertempuran.

Malam itu diisi dengan lagu dan tarian, makanan lezat dan minuman yang mengalir deras.

Akhirnya, ketika malam semakin larut, Pangeran Edward mengumumkan, "kita akan menunda keberangkatan kita hingga besok. Beristirahatlah sekarang dan nikmatilah kemenangan ini. Besok kita akan melanjutkan perjalanan."

Para Ksatria dan penduduk kota bersorak kembali, menyambut keputusan tersebut. Semua orang bersiap untuk merayakan hingga esok hari.

Jorge menatap Tristhan dengan penuh semangat. "Bagaimana jika kita adakan sparring untuk melihat sejauh mana kemampuan kita?" ujarnya dengan penuh semangat.

Tristhan tersenyum, "Baiklah, mari kita tunjukkan pada mereka bagaimana kekuatan seorang Ksatria."

Mereka berdua memilih sebuah lapangan terbuka sebagai arena pertarungan. Seiring mereka bersiap, penduduk kota berkumpul untuk menyaksikan duel antara dua Ksatria terbaik.

"Dilarang menggunakan Aura" ujar Pangeran Edward kepada mereka. "Itu bisa membuat kalian terluka" lanjutnya.

Mereka berdua mengangguk. "Dimengerti" ujar mereka berdua.

Jorge, dengan senyum percaya diri, menantang Tristhan, "Ayo, berikan yang terbaik, Tristhan!"

Tristhan yang tenang, mengangguk dan berdiri dengan posisi siap tempur.

Saat lonceng pertarungan berbunyi, keduanya melangkah maju. Serangan dan blok saling terjadi dengan cepat, menciptakan dentuman keras yang terdengar di seluruh lapangan.

Jorge, dengan kekuatan yang besar, melancarkan serangan bertubi-tubi. Namun, Tristhan terlihat mengantisipasi setiap gerakan, dengan gesit menghindari serangan lawan.

Dalam waktu singkat, arena pertarungan dipenuhi cahaya dan energi yang bersinar-sinar. Penduduk kota takjub melihat kehebatan kedua Ksatria tersebut.

Meskipun Jorge memberikan perlawanan sengit, terlihat jelas bahwa ia mulai kesulitan mengikuti kecepatan dan keahlian Tristhan.

Tristhan, tanpa menunjukkan kelelahan, terus mengimbangi setiap serangan lawan. Gerakannya yang presisi dan cepat menciptakan bentrokan kekuatan yang memukau.

Seiring pertarungan berlanjut, Jorge mulai terengah-engah, sementara Tristhan tetap tenang dan fokus.

Pada satu titik, Tristhan dengan lincahnya menghindari serangan besar dari Jorge dan menyusul dengan serangan balik yang memukau.

Tepat ketika penduduk kota berpikir pertarungan telah selesai, Tristhan dengan lemah lembut menyatakan, "Aku kira itu sudah cukup."

Jorge, masih terengah-engah, mengangguk mengakui keunggulan Tristhan. Meskipun terlihat lelah, dia tersenyum, "Kamu memang Ksatria yang luar biasa."

Tristhan memberikan hormat kepada Jorge. "Terima kasih, Kau juga Ksatria yang tangguh."

Para penonton memberikan tepuk tangan dan sorakan kepada kedua Ksatria yang telah memberikan pertunjukan luar biasa.

Pangeran Edward berjalan menuju Sir Jorge dan Sir Tristhan dengan senyuman mengembang di wajahnya. "Kalian berdua menunjukkan pertarungan yang luar biasa. Itu benar-benar suatu kehormatan untuk memiliki Ksatria sehebat kalian di kerajaan ini," puji Pangeran Edward, diikuti dengan aplaus dan penghargaan dari para penonton.

Sir Jorge dan Sir Tristhan memberikan salam hormat kepada Pangeran Edward. "Terima kasih, Yang Mulia. Kami senang dapat memberikan pertunjukan yang memuaskan," ucap Sir Tristhan.

"Aku merasa bangga memiliki kalian berdua sebagai Ksatria andalan kerajaan," tambah Pangeran Edward.

Tak lama kemudian, beberapa Ksatria lainnya mulai memadati lapangan, menantang satu sama lain dalam sparring yang sengit.

Semangat pertarungan pun memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang penuh semangat dan antusiasme.

Setelah sejenak menyaksikan pertarungan para Ksatria, Pangeran Edward memutuskan untuk pergi dan berbicara dengan Count Leony.

Mereka duduk di teras yang tenang, berdiskusi tentang fenomena aneh yang melibatkan Monster dari ras yang berbeda berkumpul.

Pangeran Edward memandang wajah serius Count Leony, ekspresinya mencerminkan keprihatinan mendalam.

"Count Leony, apakah kau pernah menyaksikan sesuatu seperti ini sebelumnya?" tanya Pangeran Edward dengan nada serius, memecah keheningan malam.

Count Leony meresapi pertanyaan Pangeran Edward, dan setelah sejenak berpikir, ia mengangguk.

"Tidak, Pangeran. Sejak Aku memimpin wilayah ini, monster dari ras yang berbeda selalu saling bertarung untuk wilayah dan sumber daya." Jawab Count Leony.

"Apa yang kita saksikan sebelumnya sunggu tidak normal. Mereka berkumpul, tanpa alasan yang jelas. Aku khawatir ini bisa menjadi pertanda sesuatu yang lebih besar." Lanjut Count Leony khawatir.

Pangeran Edward mengangguk, merenung sejenak. "Count Leony, Aku rasa kita perlu mencari tahu lebih lanjut tentang penyebabnya." Ujar Pangeran Edward dengan serius. "Aku yakin ini bukan hanya kebetulan." Lanjutnya.

"Bisakah kau melakukan penyelidikan lebih lanjut di wilayah ini? Kita perlu mengetahui akar permasalahan ini secepat mungkin." Tambah Pangeran Edward.

Count Leony memberikan janji untuk menyelidiki masalah tersebut lebih dalam. "Aku akan memobilisasi pasukan dan memeriksa wilayah-wilayah terdekat untuk mencari petunjuk lebih lanjut. Ini akan menjadi prioritas utama kami sekarang."

Pangeran Edward kemudian menceritakan pengalamannya saat pertarungan dengan Minotaur. "Saat aku berhadapan dengan Minotaur. aku merasakan kehadiran energy yang sangat gelap namun menghilang begitu Minotaur mati oleh tanganku. Aku mencurigai ini bukan sembarang monster. Ini bisa menjadi perbuatan iblis tingkat bangsawan atau bahkan keterlibatan penyihir hitam."

Count Leony mengangguk mengerti, menyerap informasi yang diberikan oleh Pangeran Edward. "Ini semakin menjadi misteri yang semakin dalam. Kita harus tetap waspada terhadap ancaman yang mungkin ada di balik ini."

Pangeran Edward menyimpulkan diskusi mereka, "Aku yakin Count Leony akan menangani penyelidikan ini dengan baik" ujar pangeran Edward.

Setelah mereka berbincang begitu lama, Pangeran Edward berdiri dan memperbaiki lipatan bajunya.

"Mungkin sampai sini saja" ucap Pangeran Edward kepada Count Leony. "Aku ingin beristirahat untuk melanjutkan perjalanan esok hari" lanjutnya.

Count Leony Mengangguk. "Aku mengerti, semoga anda tidur dengan nyenyak."

Pangeran Edward meninggalkan teras Mansion, menuju kamar pribadinya dengan langkah mantap.

Seiring perjalanan, dia merenung tentang tugas berat yang menantinya, namun pikirannya terpecah ketika melewati lorong yang menuju ruang latihan.

Dalam perjalanannya, dia melihat Viona sedang sibuk mengendalikan energi sihir di ruang latihan.

Langkahnya terhenti sejenak, memperhatikan dengan tajam kepiawaian Viona dalam melibatkan diri dengan mana.

Pangeran Edward mendekati Viona tanpa memberikan peringatan.

Dia memutuskan untuk duduk di depannya, memandangi proses latihan Viona dengan tatapan yang menunjukkan rasa kagum.

Viona, yang tengah berlatih mengendalikan sihirnua, terkejut ketika membuka mata dan melihat Pangeran Edward duduk di depannya.

Wajah cantiknya berubah menjadi merah, menciptakan kontrast yang menawan.

"Yang Mulia, maafkan Aku," ucap Viona dengan cepat sambil berlutut. "Aku tidak menyadari kehadiran Anda."

"Mengapa Pangeran berada di sini?" tanya Viona dengan suara lembut, mencoba menutupi kecanggungannya.

Pangeran Edward tersenyum, "Aku hanya tertarik pada latihan Anda. Aku ingin melihat seberapa jauh kemampuan sihir Anda telah berkembang."

Viona, tanpa disadarinya, salah mengartikan kata-kata Pangeran.

Dalam hati, ia menyimpan harapan tersembunyi, berpikir bahwa Pangeran tertarik padanya secara pribadi.

Sebuah kebingungan muncul di matanya, dan ia mencoba menyembunyikan perasaannya dengan menjawab, "Oh, Aku pikir... Aku pikir Pangeran memiliki urusan lain."

Pangeran Edward tersenyum, dan di dalam hatinya, ia merenung, "Rajin dan berbakat, Viona. Aku benar-benar memilih jalan yang benar mengambilnya sebagai rekan."

"Terima kasih, Yang Mulia," kata Viona, berusaha mengontrol rasa gugupnya. "Aku akan melanjutkan latihan ini dengan sungguh-sungguh, agar tidak menjadi beban anda nanti"

Pangeran Edward terlihat agak bingung, "Beban? apa maksudnya, Viona?." tanya pangeran kepada Viona.

Viona menjelaskan dengan gugup. "Aku sebenarnya melihat pertempuran anda dengan Minotaur tadi siang, Yang mulia"

Pangeran tersenyum kecil. "Ahh, begitu." ucapnya dengan lembut.

Pangeran Edward memandang Viona dengan tatapan yang mendalam, lalu dia bertanya. "Apakah kamu tahu apa itu Mana?" tanya Pangeran dengan nada serius.

Viona memikirkan pertanyaan tersebut sejenak sebelum memberikan jawaban, "Tentu, Mana adalah energi yang dibutuhkan untuk menjalankan sihir."

Pangeran Edward menggeleng sambil tersenyum, "Kamu benar, tapi juga salah," ucap Pangeran Edward. "Mana sebenarnya adalah sumber daya magis yang melimpah di dunia Aeloria," lanjutnya.

"Setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki akses terhadap sumber daya magis ini, namun tingkat dan kemampuan mereka dalam menggunakannya berbeda-beda," jelas Pangeran Edward.

Angin malam bertiup, menyentuh wajah Pangeran Edward. "Mana digunakan untuk sihir, mengaktifkan kemampuan khusus, dan menciptakan keajaiban dalam medan pertempuran," kata Pangeran Edward dengan senyuman.

"Sumber daya magis ini dapat ditemukan di alam liar, kristal khusus, atau bahkan di dalam diri makhluk yang memiliki potensi magis," lanjutnya.

Pangeran Edward tersenyum sambil melanjutkan penjelasannya, "Penggunaan Mana membutuhkan konsentrasi dan latihan intens, sehingga penyihir dan makhluk magis senantiasa mengasah kemampuan mereka dalam mengendalikan energi ini."

Viona agak terkejut. "Pangeran, Anda sungguh mengetahui segalanya dengan detail," ucapnya tersenyum, kagum pada pengetahuan Pangeran Edward yang begitu mendalam.

Pangeran Edward kemudian menepuk-nepuk kepala Viona dengan lembut. "Beristirahatlah, lanjutkan latihannya lain kali. bukankah kau ingin ikut bersamaku" ujar Pangeran Edward pelan.

Wajah Viona yang cantik kembali tersipu merah. "B-baiklah" ucapnya dengan terbata-bata.

Pangeran Edward tertawa. "Hahaha, Kamu benar-benar imut, Viona"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!