Pagi yang cerah menyapa Mansion Roderick dengan kehangatan sinar matahari yang memancar dari langit biru.
Adrien, dibimbing oleh Pangeran Edward, telah menghabiskan pagi dalam pelatihan intensif di halaman belakang mansion.
Pengeran Edward mengajarkan Adrien cara mengendalikan Demonic Aura, memberinya panduan yang cermat dan berharga.
Saat matahari mencapai puncaknya, Pangeran Edward menghentikan latihan. "Itu sudah cukup untuk hari ini, Adrien. Kau telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa."
Adrien mengangguk, keringat mengalir di wajahnya. "Terima kasih, Pangeran Edward. Saya akan terus berlatih."
Pangeran Edward tersenyum, "Kamu memiliki potensi yang luar biasa, Adrien. Teruslah bekerja keras."
Setelah itu, Adrien berjalan ke arah halaman depan mansion, menyusuri taman yang dihiasi bunga-bunga berwarna-warni dan pepohonan rindang.
Suasana damai dan keindahan alam menciptakan aura ketenangan di sekitar mansion.
Pangeran Edward mengikuti Adrien dengan langkah-langkah tenangnya.
Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu yang luas dan nyaman di dalam mansion, di mana Ksatria Kerajaan dan penghuni mansion berkumpul.
Saat mereka memasuki ruangan, Viscount Roderick dengan hangat menyambut mereka. "Selamat pagi, Pangeran Edward, Adrien. Bagaimana latihan pagi ini?"
Pangeran Edward tersenyum, "Latihan berjalan baik, Viscount. Adrien menunjukkan kemajuan yang membanggakan."
Viscount Roderick mengangguk mengapresiasi. "Saya senang mendengarnya. Mohon, silahkan bergabung dengan kami."
Ruangan itu dihiasi dengan perabotan mewah, lukisan-lukisan indah, dan hiasan-hiasan seni yang mencerminkan kemewahan dan keanggunan.
Ksatria Kerajaan duduk di meja bundar di tengah ruangan, sedang asyik berbincang-bincang.
"Selamat pagi, Pangeran Edward, Adrien," sapa Ksatria Kerajaan dengan hormat.
Pangeran Edward dan Adrien bergabung dengan meja, duduk di antara Viscount Roderick dan Ksatria Kerajaan.
Viona, yang tengah membaca buku di sofa, juga menyambut mereka dengan senyuman ramah.
Albert, anak muda yang energetik, datang dengan penuh semangat. "Hai, Pangeran Edward, Adrien! Apa yang kalian lakukan pagi ini?"
Pangeran Edward menjawab, "Kami sedang berlatih di halaman belakang. Adrien menunjukkan bakat yang luar biasa."
Mereka melanjutkan suasana penuh kehangatan di sekitar meja yang elegan.
Canda tawa menggema di antara percakapan mereka, menciptakan harmoni yang tak tergantikan.
Cerita-Cerita ringan tentang peristiwa kerajaan dan petualangan mengalir seperti aliran yang mengalir, menyatukan orang-orang yang hadir.
Albert, anak Viscount Roderick, menyelipkan pertanyaan dengan mata berbinar, "Adrien, bagaimana rasanya belajar dari Pangeran Edward?"
Adrien tertawa kecil, "Sangat luar biasa, Albert. Pangeran Edward benar-benar guru yang hebat."
Mereka terus menikmati waktu bersama di ruangan yang hangat.
Namun, Pangeran Edward melihat Viscount Roderick yang tampak terdiam sejenak, mungkin terfokus pada pikiran tertentu.
Tanpa ragu, Pangeran Edward memutuskan untuk berbicara dengan Viscount Roderick.
"Viscount Roderick," ucap Pangeran Edward dengan hormat.
Viscount Roderick menoleh, "Senang bisa bertemu dengan Anda lagi, Pangeran."
Pangeran Edward mengangguk, "Saya ingin meminta maaf sekali lagi, tentang kejadian masa lalu."
Ekspresi serius tampak di wajah Viscount Roderick, namun di dalam matanya terlihat kepedihan yang dalam.
"Tak perlu, Pangeran," ucap Viscount Roderick pelan. "Adik ku, Berliana, pasti tidak ingin Anda meminta maaf setiap kali kita bertemu."
Pangeran Edward berdiri, kesedihan mencuat di mata Viscount Roderick.
Namun, Pangeran Edward tak memutuskan pertemuan ini.
Langkahnya ringan, meninggalkan ruangan dengan perasaan yang sulit diungkapkan.
Viscount Roderick memandangi Pangeran Edward yang pergi, kesendirian tampak terpantul di matanya.
Sejenak, ruangan itu menjadi hening, terisi oleh kesan mendalam dari pertemuan yang penuh dengan berbagai emosi.
Sementara itu, di luar ruangan, Pangeran Edward melangkah dengan mantap menuju taman yang indah.
Pepohonan rindang membentang di atasnya, menciptakan bayangan lembut yang menari-nari di tanah.
Dia duduk di bangku taman, menatap jauh ke arah horizon.
Angin sepoi-sepoi menyapu rambutnya, membawa aroma bunga yang sedang mekar.
Suasana taman memancarkan ketenangan, dan Pangeran Edward membiarkan dirinya terhanyut dalam refleksi.
Pangeran Edward merenung sejenak, lalu melemparkan pandangannya ke langit yang biru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments