Chapter 14 - Berjanjilah padaku, Pangeran.

Angin sepoi-sepoi malam membawa aroma laut yang menenangkan saat Pangeran Edward duduk di atas bukit yang menghadap ke lautan yang gelap.

Bulan purnama menerangi sekelilingnya, menciptakan pantulan perak yang memainkan tarian indah di atas ombak.

Langit malam penuh dengan bintang, seakan-akan menyusun kisah-kisah rahasia yang hanya bisa diakses oleh orang-orang yang memiliki hati yang peka.

Dalam keheningan malam, Pangeran Edward merenung, mata biru dinginnya memancarkan kilau kejernihan.

Pangeran Edward merasa jika dia di tenangkan oleh kedamaian yang disuguhkan oleh lautan yang tak pernah berhenti bercerita.

Dia melihat ke kejauhan, mencoba mencari jawaban dalam gerakan ombak yang tak kenal lelah.

Tiba-tiba, suara langkah halus menyentuh telinganya.

Seorang wanita yang dia kenal dengan baik, Berliana Anandita, muncul seperti bayangan bulan di sampingnya.

Pakaian putihnya bersih tak terhingga, seolah-olah menyatu dengan kelembutan malam.

Wajahnya yang cantik dan mata bercahaya menunjukkan keanggunan yang melekat pada jiwa seorang prajurit wanita.

"Pangeran Edward," sapanya hangat, membuat malam semakin terasa hidup.

Pangeran Edward, terkejut dengan kehadiran yang tiba-tiba, memandang Berliana dengan tatapan campuran.

Tapi, alih-alih menunjukkan keheranannya, dia menampilkan senyuman yang sangat tulus, seperti seorang yang telah lama dinanti.

"Berliana," sahutnya, suaranya lembut namun penuh makna.

Mereka duduk bersama di atas bukit itu, menikmati kehadiran satu sama lain di bawah sinar bulan yang memancarkan cahaya pelan.

Pangeran Edward menatap lautan, dan Berliana memandangnya dengan penuh pengertian.

Tidak ada kata yang terucap, namun keheningan itu penuh dengan makna yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.

"Perang telah berakhir," kata Pangeran Edward, suaranya terdengar seperti angin yang lembut, mengelus permukaan air di bawah mereka.

Berliana tersenyum manis. "Tak pernah mudah bagi pemimpin untuk membangun perdamaian. Tetapi kamu melakukan dengan sangat baik, Pangeran..."

Pangeran Edward mengangguk, senyumnya tetap terukir di wajahnya.

"Bagaimana dunia setelah kematian..?" tanya Pangeran Edward, mata birunya memancarkan kesedihan.

Berliana tersenyum lembut, seolah-olah mengingat sesuatu yang indah. "Di tempat itu, ketenangan menggantikan kegelapan. Tidak ada perang, tidak ada penderitaan. Hanya kedamaian yang abadi."

Mereka duduk di bawah cahaya purnama yang memancarkan keindahan.

Langit malam yang tenang seakan menjadi saksi bisu bagi cerita-cerita yang terurai di antara mereka.

Mata Pangeran Edward yang dingin mulai terbuka untuk kedamaian dan kehangatan malam itu.

Berliana yang duduk di sampingnya, memandang lautan yang gemerlap. "Pernahkah kau berpikir untuk membuka hatimu, Pangeran? Memberikannya kepada orang lain yang mungkin telah lama menunggumu?"

Pangeran Edward menatap Berliana, tatapannya terasa hangat. "Hatiku telah mati, Berliana. Kau tahu itu."

Berliana tersenyum lembut, "Hatimu masih hidup, Pangeran. Namun, kau terus memberikannya padaku yang telah tiada. Katakanlah, apakah kau tidak ingin memberikan kebahagiaan itu kepada orang lain?"

Pangeran Edward terdiam sejenak, matanya menyoroti kekosongan laut yang terbentang di depan mereka.

Suara ombak yang tenang seakan menciptakan latar belakang untuk pertimbangan hati Pangeran Edward.

"Berliana, itu sudah cukup," ujarnya dengan suara yang rendah.

Berliana mengangguk dengan pengertian, "Kau menahan diri, Pangeran Edward. Carilah seseorang yang bisa mengisi hatimu dengan cinta dan kebahagiaan yang baru."

Pangeran Edward menoleh ke bawah, berusaha menahan gelisah di dadanya. "aku tak ingin melupakanmu."

Berliana menaruh tangan lembut di pundak Pangeran Edward, mencoba memberikan dukungan. "Aku tak pernah meminta kau melupakan aku, Edward. Aku hanya ingin kau menemukan kebahagiaanmu sendiri di dunia ini."

Pangeran Edward menatap ke dalam mata Berliana, terlihat keraguan yang mendalam di matanya. "Aku..."

"Pangeran, aku tidak ingin kau terus-menerus memendam rasa ini. Aku sudah pergi, dan kamu masih hidup. Ada begitu banyak hal di dunia ini. Jangan terpaku pada kenangan yang menyedihkan," ucap Berliana dengan lembut, sambil menyentuh tangan Pangeran Edward dengan penuh kasih.

Pangeran Edward hanya bisa meresapi kata-kata Berliana dalam diam.

Berliana melepaskan setuhannya di tangan Pangeran Edward, lalu memeluknya erat pangeran Edward.

"Berjanjilah padaku, Pangeran. Janjikan bahwa kau akan mencari kebahagiaan baru, dan melibatkan hatimu dengan orang lain." Ujar Berliana dengan lembut.

Sejenak, angin malam membawa getaran ketenangan, tapi hatinya masih dipenuhi keraguan yang sulit diucapkan.

Meski diminta untuk mencari wanita lain, dia terlihat menahan kesedihan yang dalam.

Pangeran Edward meresapi kehangatan pelukan itu, membalas pelukan Berliana dengan lembut.

Namun, tiba-tiba, sinar matahari mulai menjalar di langit.

Warna gelap malam berganti dengan warna oranye dan merah yang mempesona.

Pangeran Edward terbangun dari lamunan indahnya, menyadari bahwa segalanya hanya mimpi.

Angin pagi membawa aroma bunga yang merekah, memberikan perasaan nyata bahwa malam itu hanya sebatas imajinasi.

Pangeran Edward duduk, melihat dirinya sendiri di sebuah kaca besar di depannya.

"Aku Lelah..." gumam Pangeran Edward dalam hati, melihat sosok dirinya di kaca yang terlihat sangat lesu...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!