Pintu berat bar tersembunyi di Kota Richtenborn terbuka perlahan, membiarkan cahaya gemerlap malam masuk ke dalam ruangan gelap.
Pangeran Edward dan Tristhan memasuki tempat yang dipenuhi asap rokok dan kehadiran orang-orang yang lebih suka bergerak dalam bayang-bayang.
Mereka berdua yang masuk menggunakan topeng, membuat mereka menjadi pusat perhatian
"Siapa itu?" gumam orang-orang di bar.
Di ujung bar, terdapat sosok berwibawa yang dikelilingi oleh para pengikut setianya.
Galio, pemilik bar dan ketua kelompok kriminal yang lumayan terkenal di kota ini, duduk dengan sikap santai sambil memandangi kedatangan Pangeran Edward.
Orang-orang kuat berkumpul di sana, petualang, ksatria, penyihir, dan individu berbagai latar belakang.
Suasana tegang terasa di udara seiring kedatangan Pangeran Edward dengan topeng dan jubah hitamnya.
Edward bergerak dengan percaya diri melintasi kerumunan, sementara Tristhan mengikuti di belakangnya.
Begitu Edward tiba di depan Galio, dia dengan sengaja melepaskan aura kekuatannya, menyebabkan seluruh bar terdiam dalam ketakutan.
"Galio, Kejahatan yang kau buat saat ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan kematianmu hari ini," ucap Edward dengan nada dingin dan tajam.
Galio tersentak, memperlihatkan ekpresi ketakutan. "Siapa kau. Apa yang kau mau?!!" teriaknya kepada Edward.
Pangeran Edward tak menjawab, melainkan melontarkan pandangan tajam yang membuat seisi bar merasa terintimidasi.
Dia berbicara kepada Tristhan dengan telepati, "urus bawahan Galio, tanpa ampun."
Tristhan dengan cepat bergerak menghadapi bawahan-bawahan Galio.
Dalam sekejap, pertarungan brutal terjadi di berbagai sudut bar. Suara benturan senjata dan seruan kepedihan menyelimuti ruangan.
Sementara itu, Edward memusatkan perhatiannya pada Galio.
Dengan kedua matanya yang bersinar tajam, dia mulai mendominasi pikiran dan emosi Galio.
Orang-orang di sekitarnya, tak mampu menghadapi kekuatan sihir Pangeran, merasa terhipnotis.
Pangeran Edward dengan tegas melangkah mendekati Galio yang kini sudah tak berdaya.
Tanpa ragu, Edward mencekiknya, mengendurkan tautan kehidupan dari Galio. Tristhan terus melawan dan mengatasi bawahan-bawahan Galio tanpa ampun.
Setelah memastikan dominasinya terhadap Galio, Pangeran Edward mengambil pedang Galio.
Pangeran Edward melancarkan serangkaian serangan yang mengerikan; menebas salah satu kuping, lalu kuping lainnya, mata kanan, mata kiri, tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri. hingga Pangeran Edward menusukkan pedangnya dengan dingin ke dalam mulut Galio, mengakhiri hidupnya tanpa belas kasihan.
Seiring kekejaman itu berlangsung, darah dan kepingan tubuh berhamburan di sekeliling.
Suara sumpah serapah dan teriakan kepedihan menggema di bar yang kini dipenuhi dengan kengerian.
Setelah membantai tanpa belas kasihan, Pangeran Edward memerintahkan Tristhan untuk mengeluarkan orang-orang yang tak berkepentingan.
Ruangan cepat menjadi lengang, tersisa hanya mayat-mayat yang mengingatkan pada keberadaan kematian.
"Semoga kau di Terima di Sisinya" gumam Pangeran Edward sambil memandang mayat Galio.
Dengan pikirannya saja, Pangeran Edward mengeluarkan kekuatan sihirnya yang kuat. membuat sebuah ledakan dari sebuah api biru besar yang menghancurkan seisi bar.
Ledakan itu melahap semuanya, sedangkan Api biru yang sangat panas menjalar dengan cepat, membakar bar beserta mayat-mayat yang bergelimpangan.
Setelah kobaran api biru membakar habis bar tersembunyi, Tristhan melihat Pangeran Pangeran Edward keluar dari pusaran api tanpa sedikitpun terkena luka bakar.
Dan api biru mereda secara perlahan mengikuti langkah Pangeran Edward, seolah mereka patuh pada perintahnya.
Tristhan memandang Pangeran Edward dengan penuh keterkejutan di matanya.
Kejadian yang baru saja dia saksikan menunjukkan kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh Pangeran.
"Kemampuan Anda sungguh luar biasa, Pangeran. Tidak banyak orang yang bisa mengimbangi kekuatan seperti itu," ujar Tristhan dengan penuh hormat.
"Ya.." gumam Pangeran Edward sambil mengangguk sebagai tanggapan. "Itu hanya sebagian kecil dari kemampuanku" pikirnya dalam hati.
"Saya selalu memahami bahwa Anda adalah Pangeran yang memiliki kekuatan tak lazim, tapi apa yang baru saja terjadi melampaui ekspektasi saya. Itu bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kendali penuh terhadap situasi," lanjut Tristhan, mencoba memahami sisi gelap yang baru saja di saksikan olehnya.
Pangeran Edward menatap mata Tristhan dengan ketajaman. "Kekuatan adalah milik mereka yang mampu menggunakannya dengan bijak. Ini bukan hanya tentang memiliki kekuatan, tetapi bagaimana kita mengelolanya."
Tristhan mengangguk mengerti. Dia lalu berkata. "Orang-orang yang memiliki kekuatan sejati sering kali menempuh perjalanan sulit. Mereka tidak hanya perlu menguasai kekuatan fisik, tetapi juga perlu moral dan etika. Pangeran, kekuatan Anda seperti mereka, dan itu membebani Anda dengan tanggung jawab besar."
Pangeran Edward, tanpa berbicara, meninggalkan tempat tersebut, dan Tristhan dengan patuh mengikuti dari belakang.
Di perjalanan, Tristhan mencoba berbicara dengan Pangeran Edward. "Pangeran, Ledakan sebelumnya itu besar sekali, namun kenapa tidak ada suara sama sekali?"
Pangeran Edward menjelaskan. "Sebelum kita memasuki bar, aku sudah memasang sihir penghalang suara, agar suara ledakan yang ku buat tidak menganggu warga sekitar"
Tristhan kagum dan tersenyum lebar. "Mungkinkah anda telah memprediksi apa yang akan terjadi sebelum itu tiba?" tanya Tristhan dengan penasaran.
"Anggaplah begitu.." Jawab Pangeran Edward.
Ketika mereka sampai di mansion Count Leony Richtenborn, mereka melepaskan topeng yang sebelumnya menutupi identitas mereka.
Ruangan itu entah kenapa tiba-tiba terasa lebih ringan setelah kejadian yang gelap di bar.
Dalam suasana ruang pertemuan yang tenang, Pangeran Edward dan Tristhan melanjutkan perbincangan mereka.
Api perapian menyala dengan lembut, menciptakan suasana hangat di sekitar mereka.
Pangeran Edward duduk di salah satu kursi, sedangkan Tristhan tetap berdiri di hadapannya.
Pangeran Edward menyandarkan tubuhnya dengan anggun ke kursi, matanya menatap jauh seolah merenungkan setiap kata yang akan diungkapkannya.
"Tristhan, beban tanggung jawab keluarga Valorian memang besar. Seorang pemimpin harus kokoh, dan saya harap Anda dapat memahaminya," ujar Pangeran Edward dengan suara yang tenang namun tegas.
Tristhan mengangguk penuh pengertian, "Saya menyadari, Pangeran. Terkadang, kengerian adalah kunci untuk memahami."
Pangeran Edward tersenyum, dan langsung mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana pendapat anda terkait misi yang sedang kita jalankan saat ini?"
Tristhan mengambil waktu sejenak untuk merenung, lalu menjawab, "Misi ini tidak diragukan lagi sulit, Pangeran."
"Anda benar. Mengetahui bahwa kita akan bernegoisasi dengan Dion Lionit, seorang pahlawan yang terkenal dengan pendirian kerasnya, membuatnya menjadi misi yang tidak mudah," ujar Pangeran Edward dengan nada lembut.
Tristhan mengangguk, "Namun, saya dapat meyakinkan Anda, Pangeran, bahwa misi ini akan berhasil. Saya yakin Anda mengetahui reputasi Dion Lionit."
Pangeran Edward mengangguk, "Dion Lionit, pahlawan bertangan dingin. Pertemuan pertamaku dengannya memberikan kesan mendalam."
"Seorang pria yang melihat musuh sebagai ancaman yang tak termaafkan," tambah Tristhan dengan penuh kehormatan. "Tindakannya tanpa belas kasihan terhadap makhluk non-manusia mengukir namanya sebagai pahlawan yang tak kenal ampun."
Mereka melanjutkan percakapan dengan terfokus pada kekuatan dan kebijaksanaan Dion Lionit, seiring dengan rencana-rencana mereka untuk melibatkannya dalam misi mereka.
Setelah perbincangan yang cukup lama. Pangeran Edward, menatap mata Tristhan dengan apresiasi, sambil berkata, "Tristhan, Anda bukan hanya kuat, tetapi juga memiliki pengetahuan yang luas."
Mendengar pujian tersebut, Tristhan memberikan hormat dengan membungkuk.
Pangeran Edward berdiri, meregangkan ototnya, dan dengan sikap yang anggun, ia mengakhiri pertemuan mereka, "Sepertinya pembicaraan kita sampai di sini. Besok, kita masih harus melanjutkan perjalanan."
Tristhan mengangguk mengerti dan berlutut untuk memberikan penghormatan terakhir, sambil melihat Pangeran Edward pergi.
Seiring langkahnya meninggalkan ruangan, Pangeran Edward memancarkan aura yang seakan-akan mewakili kebijaksanaan dan keberanian.
Tristhan, yang tetap berlutut sejenak, mengikuti langkahnya dengan pengabdian yang tak tergoyahkan.
Ruangan itu kembali sunyi, namun bertiup angin membawa getaran perubahan yang akan segera datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Callian
Ini maksudnya apa? apakah tentang perlakuan Edward yang kejam kepada musuhnya? cihuyy
2024-01-28
3