Lima bulan berlalu dan selama lima bulan ini Amelia tidak pernah menerima kabar dari Arayan begitupun Bu nensi.
"mungkin om sibuk non,kita doakan saja ya semoga om baik-baik saja"
Hanya itu yang selalu di ucapkan Bu nensi ketika Amelia bertanya tentang Arayan.
Satu tahun sudah Arayan berada di medan perang dan satu tahun sudah mereka kehilangan kabarnya dan setiap kali Amelia bertanya jawaban Bu nensi pun tetap sama.
Kegelisahan Amelia semakin menjadi, membuatnya menangis semalaman dan tidak bisa tidur,Amelia benar-benar takut tidak bisa melihat Arayan lagi.
Hingga pagi menjelang Amelia baru bisa tidur,Amelia tidak perduli jika hari ini dia bolos sekolah,Amelia tidak ingin pikirannya terganggu dan membuatnya tidak fokus belajar karena terus memikirkan Arayan.
"hei.... bangun"
Suara berat yang Amelia kenal "aah,mungkin ini hanya mimpi" gumam Amelia tanpa membuka matanya.
"Amel,bangun"
Amelia mengabaikan karena dia tahu kalau ini semua cuma mimpi.
"Mel...."
Amelia mencoba memicingkan matanya, seorang pria kekar tengah duduk di samping tempat tidurnya "wajah ini?kalau memang cuma mimpi maka jangan biarkan aku bangun" gumam Amelia lagi lalu kembali tidur.
"bro....gimana bangun gak?"
Suara pria yang sangat kencang membuat Amelia membuka seluruh matanya dan....
"om....."
Amelia melonjak dan langsung memeluk Arayan.
"ayo bangun,cuci muka dan sarapan.ini udah jam sembilan" ucap Arayan sambil mencubit hidung Amelia.
Sementara Amelia masih menampar-nampar pipinya seakan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.setelah di rasa sakit Amelia segera turun dari kasur dan pergi mandi.
Amelia melihat pemandangan yang selama ini dia rindukan, yaitu Arayan ada di rumah.tidak henti-hentinya Amelia terus melihat pemandangan yang ada didepannya itu,tiga orang pria kekar sedang bercengkerama sambil makan cemilan dan Bu nensi yang sibuk menyiapkan makanan untuk ketiga monster itu.
Amelia pun segera menghampiri mereka dan memeluk Arayan dari belakang.
"eehh bocil,apa kamu gak mau meluk kita juga?" teriak Lewis membuka kedua tangannya lebar, Amelia segera menghampiri dan memeluk mereka satu persatu.
"udah gede ya bocil kita ini"
"apaan sih om,aku kan udah SMP jadi bukan bocil lagi"
"kamu itu mau kuliah juga tetep aja bocil, sini coba" Harold menarik tangan Amelia hingga menempel didepan tubuh tinggi kekarnya.mengukur tinggi Amelia dengan dirinya yang jelas sangat jauh berbeda.layaknya jempol dengan telunjuk ketika menempel.
"aku kan masih bisa tinggi, memangnya om yang gak bakalan tinggi lagi,bleee....." Amelia berlari dan bersembunyi dibelakang Arayan.
"eehh bocil,ngelunjak...." Lewis mencoba meraih tubuh Amelia tapi Amelia malah kabur hingga aksi kejar-kejaranpun terjadi.bu nensi yang melihat itu ikut tertawa bahagia.
Rumah ini menjadi ramai seketika setelah sekian lama sepi seperti tidak ada kehidupan sama sekali.
"makanannya sudah siap,ayo makan" suara Bu nensi membuat kucing dan tikus itu berhenti saling kejar dan menuju meja makan bersama.
Meja makan kini malah terlihat seperti pasar, seperti pembeli yang sedang berebut harga dengan penjual begitulah yang terjadi sama ketiga orang ini, Amelia,Lewis dan Harold mereka bertiga berebut paha ayam bakar yang memang hanya ada satu.
"kalian bertiga ini udah kaya bocil tahu gak?"
Ucapan Arayan membuat kedua temannya diam.
"lain kali bikin paha ayam yang banyak ya Bu"
"iya tuan,maaf tadi tinggal satu paha ayamnya,biasanya juga cuma non Amel yang makan itu"
"bleee....."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments