Berminggu-minggu perang itu berlangsung,seorang utusan paus tiba-tiba mengirim pesan pada penjaga perbatasan barat bahwa mereka akan menghentikan perang untuk sementara waktu agar kaum muslim bisa memperingati hari besar mereka yaitu idul adha,tapi ternyata itu hanyalah jebakan semata.ketika para penduduk muslim lengah karena sibuk mempersiapkan hari besar dan membeli beberapa keperluan lalu dengan segera paus memerintahkan beberapa warganya untuk bersiap menyerang besar-besaran kaum muslim yang tanpa persiapan tersebut.
Sayangnya desas desus penyerangan dan jebakan paus itu telah sampai ke telinga panglima militer di kota S,tepat ketika Arayan dan para anggota militernya tiba di kota S untuk membahas pertukaran senjata.
Ketika mendengar kabar penyerangan itu,Arayan dan anggotanya menawarkan diri untuk ikut serta dan segera menuju wilayah barat,dengan sigap membuat benteng pertahanan diperbatasan.
Selidik punya selidik , ternyata paus baru gereja tersebut merupakan keturunan dari paus terdahulu yang menjadi salah satu korban sekaligus provokator pada tahun 1618, karena tidak terima jika kakek buyutnya mati sia-sia dia berencana memusnahkan semua penduduk diwilayah barat dan memperluas wilayah timur.
*
Arayan menggendong anak perempuan yang dia selamatkan tadi menuju Ford yang terparkir di belokan jalan.
"komandan,apa yang harus kita lakukan pada anak ini?"
Pria kekar itu melirik sekilas lalu menjalankan mobilnya tanpa jawaban apapun.
Mobil itu melaju menyusuri jalanan yang rusak dan mayat-mayat yang bergelimpangan.
Mata Amelia tertuju pada sosok perempuan dengan kerudung pink tosca
"IBUUUUU......"Amelia meronta dan terus berteriak memanggil ibunya "AKU MAU IBUUU....."
Mobil ford itu berhenti.
Amelia turun dari mobil dan berlari menuju tubuh seorang wanita yang sudah terbujur kaku di pinggir jalan.
BUUG....
Kaki kecil itu tersandung reruntuhan bangun hingga menyebabkan lututnya terluka tapi Amelia tidak memperdulikannya,dia terus berlari.
"IBUUU.....BANGUN....."tangan kecilnya mencoba membangunkan tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi "Amel janji tidak akan nakal lagi,Amel janji tidak akan main sama iza lagi,Amel akan nurut sama ibu,ibuuu.....ayo bangun kita pulang....."airmata anak itu mengalir deras,dia terus mengguncang tubuh ibunya berharap ibunya akan bangun dan pulang bersama.tapi harapannya hanya tinggal harapan tubuh itu masih bergeming diam,seolah menghancurkan perasaannya saat itu.
Arayan langsung menggendong Amelia dan membawanya kembali kedalam mobil, Amelia terus meronta-ronta tapi tenaga bocah berusia tujuh tahun itu tentu bukanlah tandingan bagi Arayan.
"LEPASKAN.....AMEL MAU IBUU..... TURUNKAN AMEL...."
Mobil ford itu melaju kembali meninggalkan wilayah barat yang sudah porak poranda menuju markas militer kota S.
Selama di perjalanan Amelia tertidur pulas dalam gendongan pria kekar itu setelah sekian lama menangis dan meronta.
"terimakasih atas bantuan jendral Arayan,kami sangat menghargainya, mengenai pertukaran senjata akan kami kirim sesegera mungkin.oh ya,apa benar jendral Arayan menyelamatkan seorang anak?"
Arayan hanya mengangguk kecil.
"mengenai anak itu saya serahkan pada jendral Arayan apapun keputusan anda"
Mendengar perkataan itu Arayan merasa jijik,lalu untuk apa peperangan ini? untuk apa panglima menurunkan ribuan militer jika satu warga kecil yang selamat saja dia tidak mau tahu.
Dengan kesal Arayan pamit.
"komandan" Lewis terheran melihat Arayan melewatinya dengan tatapan kosong.
"ada apa yan?" tanya Lewis pelan,dia tidak ingin prajurit yang lain tahu bahwa dirinya memanggil nama Arayan secara langsung.
Lewis, Harold dan Arayan memang berteman baik tapi demi menghormati Arayan yang lebih tinggi jabatannya maka mereka berdua selalu memanggil komandan didepan anggotanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
HARTINMARLIN
astagfirullah allazim gak ada perikemanusiaan mereka
2024-06-13
0