Di saat semua orang di rumah sedang bersih-bersih, terlihat paman Ze bersama istrinya, diikuti oleh paman Zhu dan paman Zi, sibuk membawa barang sembari bolak-balik dari satu toko ke toko yang lain. Mereka bahkan sampai menyewa tiga gerobak pembawa barang untuk mengangkut semua belanjaan mereka, baik untuk renovasi maupun untuk bahan memasak.
Di tempat lain, Luo Huang Chen sedang berjalan menyusuri jalanan kota, diikuti paman Za dan paman Zo. Mereka menuju sebuah gedung berbentuk segi delapan yang tertutup di bagian atas. Luo Huang Chen menatap tulisan pada papan kayu di atas gerbang, "Pelelangan Bintang Senja. Mungkinkah ini tempat yang ada di catatan?" gumamnya.
"Heii! Apa yang kalian lakukan di sini? Jika ingin ikut pelelangan, kalian harus menunggu dua tahun lagi!" bentak penjaga gerbang.
"Maaf, kami hanya ingin menawarkan sebuah barang untuk dilelang," jawab Luo Huang Chen.
"Barang apa yang akan kalian lelang? Jika itu tidak berharga, lebih baik kalian bawa pulang," potong penjaga tanpa peduli.
"Padahal, bisa saja harta yang kami tawarkan ini tingkat S. Yasudah, kami jual di tempat lain saja," ujar Luo Huang Chen, seraya akan melangkah pergi.
"Tunggu! Akan aku tanyakan kepala pelelangan," tahan penjaga, lalu segera berlari masuk ke dalam pelelangan setelah mendengar ucapan Luo Huang Chen.
"Tuan muda? Apa benar kamu memiliki harta semacam itu?" tanya paman Za, dengan tatapan penuh kebingungan.
"Kalian lihat saja nanti," sahut Luo Huang Chen sambil menunggu kedatangan penjaga gerbang.
Beberapa waktu berlalu dengan cepat, tiba-tiba penjaga itu datang berlari, diikuti oleh sesosok pria muda yang mengenakan pakaian mewah dan memiliki rambut panjang yang tertata rapi.
"Maaf, apakah tuan muda yang ingin melelang barang?" tanya pria muda itu dengan nada pelan.
"Benar. Jika kalian mau mengambilnya, kalau tidak, aku akan jual di tempat lain, mungkin seharga beberapa platinum sampai puluhan platinum," ujar Luo Huang Chen dengan penuh percaya diri.
"Tenang, tuan muda. Silakan ikuti saya," sahut pria muda itu, sambil berjalan memasuki pelelangan.
Ruangan pelelangan itu sangat besar, memiliki puluhan ruang VIP dan ribuan tempat biasa. Mereka menuju lantai lima yang merupakan tempat khusus negosiasi.
"Silakan masuk lift langsung. Jika lewat tangga, akan memakan waktu yang lama," kata pemuda itu, menekan tombol. Sebuah pintu terbuka, dan mereka berempat masuk.
Pintu tertutup dan lift bergerak perlahan ke atas. Luo Huang Chen, paman Za, dan paman Zo baru pertama kali merasakan sensasi ini.
"Teknologi di pelelangan lebih maju. Meski di kota ini hanya cabang, tetapi teknologi diimpor langsung dari benua Tengah," ujar pemuda itu sambil membuka kipas dari sakunya.
Tak butuh waktu lama, pintu kembali terbuka, dan mereka sudah berada di ruangan yang berbeda. Pemuda itu berjalan lurus hingga ujung, mengambil sebuah kunci, dan membukanya.
"Klik!" Pintu terbuka, memperlihatkan ruangan kedap suara dengan dekorasi indah di mana-mana. Membuat mata mereka terpesona, tetapi dengan cepat mereka tersadar.
"Baiklah, silakan duduk, tuan muda. Saya Ming Hao, pemilik pelelangan cabang di kota ini," ujar pemuda itu dengan nada penuh kesopanan.
"Saya Luo Huang Chen. Jadi tanpa basa-basi, barang yang akan aku lelang adalah ini," Luo Huang Chen mengeluarkan sepotong tanduk dari cincin penyimpanan miliknya.
"Apaa? Harta yang Anda maksud tingkat S adalah tanduk usang ini? Anda bercanda?" sahut Ming Hao, seraya mengambil dan mengecek tanduk yang dibawa Luo Huang Chen.
"Tunggu! Tanduk ini? Bukankah dari hewan tingkat Legendary?" teriak Ming Hao, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bukan tingkat Legendary, tapi tingkat Supreme," jawab Luo Huang Chen dengan santai, mengingat bahwa dia mendapatkan tanduk itu dari hewan iblis yang merupakan musuh kakeknya.
"Bahkan lebih tinggi? Jika boleh tahu, tanduk ini berasal dari hewan iblis apa, tuan muda?" tanya Ming Hao dengan hati-hati, sembari mengembalikan tanduk itu kepada Luo Huang Chen.
"Centicore," balas Luo Huang Chen, sambil mengembalikan tanduk itu ke dalam cincin penyimpanan miliknya.
"Bagaimana mungkin Anda mendapatkan itu?" Ming Hao tidak percaya begitu saja, tetapi bukti sudah ada di depan mata.
"Itu terserah padamu. Jika ingin ambil dan lelang, kalau tidak, aku akan pergi," ujar Luo Huang Chen seakan tak peduli dengan uang, padahal ia sangat mengharapkan harga yang pantas.
"Kami pihak lelang mau, tetapi untuk harganya kami tidak bisa tentukan, karena ini hanya pelelangan cabang. Jika ingin menjual barang tingkat S seperti itu, minimal harus di ibu kota, atau bahkan pusat pelelangan. Bagaimana jika kita buat kesepakatan?" Ming Hao melihat kesempatan ini tidak datang untuk kedua kalinya dan tidak ingin melewatkan.
"Kesepakatan apa itu?" tanya Luo Huang Chen, sedikit tertarik karena ia tahu betul betapa langkanya barang seperti itu.
"Kita buat perjanjian darah, jadi tuan muda bisa mempercayai kami. Pada perjanjian surat ini tertulis, pembagian harta pelelangan adalah 90% bagi pemilik dan 10% pajak untuk pihak pelelangan," jelas Ming Hao.
"Jika ada pelanggaran yang terjadi, si pelanggar akan terkena petir penghukum. Sebut saja ini sumpah kepada langit dan bumi. Namun, jika tuan muda masih tidak percaya, kami akan kasih uang muka untuk barang lelang."
"Berapa harga dasar yang akan kalian berikan untuk sementara?" tanya Luo Huang Chen, sembari mengeluarkan tanduk Centicore lagi.
"Ini 4 platinum. Untuk sisanya, nanti dihitung dengan pengurangan 4 platinum ini. Tuan muda harus bersedia menunggu dua tahun. Anda tahu sendiri betapa langkanya barang seperti ini."
"Jadi kemungkinan kami harus menjual di pusat pelelangan yang ada di benua Tengah. Untuk sisanya, tuan muda bisa ambil, sekalian mengikuti pelelangan yang terjadi di sini tepat dua tahun lagi."
"Ini adalah token tanda pengenal agar bisa mendapatkan ruang VIP nomor satu. Para petugas pelelangan juga akan memperlakukan kalian secara khusus. Bisa kalian pakai di mana pun tempat pelelangan kami." Ming Hao menyerahkan sebuah token dari giok dengan simbol bintang dan awan.
"Baiklah, aku terima ini, dan ini tanduk Centicore. Sebelum itu, cepat taruh darahmu ke atas kertas perjanjian," ujar Luo Huang Chen dengan nada tegas penuh penekanan.
Ming Hao langsung meneteskan darahnya ke atas kertas perjanjian, karena ia tidak akan berani melawan seseorang yang memiliki kekuatan setara level 71-80, sedangkan dia hanya berlevel 56.
Luo Huang Chen juga meneteskan setetes darahnya ke atas kertas perjanjian. Seketika, kertas itu terbakar dan lenyap. Luo Huang Chen tersenyum, lalu berbicara, "Senang bekerja sama dengan Anda. Kalau begitu, aku akan datang dua tahun lagi," sebuah aura hitam bocor, membuat rasa hampa terlintas saat Ming Hao menatap Luo Huang Chen.
"Baik, akan kami tunggu kedatangan Anda, tuan muda Chen," sahut Ming Hao, sambil menutupi ketakutan yang ia rasakan.
Perjanjian selesai, Luo Huang Chen meninggalkan pelelangan tepat saat sore hari, diikuti oleh paman Za dan paman Zo.
Karena mereka memang tidak memahami hal seperti itu, mereka belajar dari keadaan dan situasi di sana. Luo Huang Chen sendiri hanya belajar lewat buku yang dipelajarinya, buku peninggalan almarhum Kakek Wu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Audy Muhinsya
ada jaman dulu lift,bahasa jawa,lalu salmnya juga......bikin genre dan latar belakang yg jelas author........jangan main asala campur aja
2024-11-04
0