"Baiklah semua, kita akan membersihkan rumah ini, termasuk halamannya, lalu segera menuju toko untuk membersihkan tempat itu. Untuk pembagian tugas, para wanita dan anak-anak kecil, silakan bersihkan rumah ini terlebih dahulu."
"Untuk ketiga paman, silakan beli barang-barang yang diperlukan untuk merenovasi rumah maupun toko. Ajak satu wanita untuk sekalian membeli perlengkapan dapur dan bahan-bahan yang dibutuhkan." Luo Chen menatap ketiga paman yang menjaga barisan tengah dan belakang.
"Lalu kami?" tanya paman tertua.
"Paman tertua akan ikut aku ke asosiasi petualang, restoran, dan pelelangan. Untuk Paman Huang Zo, segera cari satu toko makanan atau restoran, dan satu toko penjualan yang dijual."
"Tunggu, Chen'er. Kalian tidak perlu mencari, aku punya tiga kenalan, atau sebut saja teman, yang masing-masing menjual satu toko," sahut kakek pemilik rumah.
"Ah, bagus kalau begitu. Paman Huang Zo ikut kami saja, kakek istirahat saja ya," pinta Luo Chen sambil berjalan pergi meninggalkan rumah.
"Tunggu dulu, kita semua belum kenalan. Kakek jadi bingung mau memanggil kalian," tanya kakek pemilik rumah sambil menahan lengan Luo Chen.
"Benar juga. Aku juga memanggil mereka dengan sebutan urutan, kecuali Paman Huang Zo," pikir Luo Chen sambil berbalik.
"Baiklah, kakek dulu ya? Panggil saja kakek Ma," ujar kakek pemilik rumah.
"Saya Huang Za, kakak tertua dari kami berlima," sahut paman tertua dengan antusias.
"Huang Ze, ini istri saya Huang An. Mereka bertiga anak kami, yang berumur 5 tahun itu Huang Bao, satunya lagi yang cewek berumur 3 tahun, namanya Huang Niu, dan bayi kecil umur 5 bulan di lengan istri saya ini, Huang Xia," ucap paman kedua.
"Ah, saya Huang Zu, istri saya ini Huang Yun. Kami punya dua anak, kembar laki-laki berumur 4 tahun. Jika ingin tahu perbedaan mereka, Huang Jun memiliki tanda lahir di lengan kanan, lalu Huang Yan memiliki tanda lahir di lengan kiri," tutup penjelasan paman ketiga sambil menunjukkan tanda lahir di lengan dekat pundak.
"Perkenalkan, saya Huang Zi, ini istri saya, dia bernama Huang Wan. Anak kami dua, laki-laki berumur 3 tahun bernama Huang Kong, dan perempuan berumur 2 tahun di sampingnya, Huang Hien. Jangan kaget jika melihat mereka selalu berdua," paman keempat menjelaskan terus terang agar tidak terjadi salah faham.
"Namaku Huang Zo, istriku yang lagi hamil ini, bernama Huang Yi. Untuk nama anak kami nanti, sudah berencana kami beri nama Luo Huang Sujia," sahut paman Huang Zo dengan nada tenang.
"Eh? Kenapa memakai nama depanku, paman?" tanya Luo Chen sambil menggaruk rambut panjangnya.
"Apa tidak boleh, tuan muda? Aku beri nama itu karena tuan muda sudah membantu kami, jadi suatu kehormatan bagiku jika anakku memakai nama depan tuan muda," balas paman Huang Zo, seraya tersenyum melihat bayi di kandungan Huang Yi.
"Iya, sudahlah. Perkenalkan, saya Luo Chen," ujar Luo Chen sambil tersenyum ramah, melihat satu persatu wajah yang menjadi keluarganya saat ini.
"Benar juga, karena tuan muda sudah memperbolehkan, maka nama depan kami semua akan memakai nama depan tuan muda. Kayak aku jadi Luo Huang Za," celetuk paman Huang Za yang merupakan paman tertua.
"Kerennn! Kami juga mau, paman, bolehkan ayah? Ibu?" tanya Luo Huang Bao sambil tersenyum bahagia.
"Lagian kita semua keluarga, jadi kenapa tidak? Semua setuju?" teriak Huang Ze dengan semangat.
"SETUJUUUU!!!!" sahut semua orang di situ. Luo Chen sendiri terdiam mendengarkan obrolan mereka sambil tersenyum kecut.
"Kalau begitu, nama kakek juga jadi Luo Huang Ma," ujar kakek Ma yang ikut antusias.
"Berarti aku juga ikut nih?" Luo Chen menggelengkan kepala, lalu berbicara lagi, "Mulai saat ini, namaku Luo Huang Chen," teriak Luo Chen sambil mengangkat genggaman tangan.
"Hahahaha!" Canda tawa memecah keheningan rumah itu, rumah yang harusnya terlihat menyeramkan dan sepi.
Sekarang terlihat ramai dengan suasana hangat. Kakek Ma sendiri tidak menyangka, karena kedatangan bocah keras kepala ini akan merubah situasi dan keadaan rumahnya.
"Baiklah semua, kita lakukan pekerjaan kita masing-masing. Usahakan bersihkan tempat istirahat dulu ya? Aku yakin butuh waktu lebih dari 1 bulan untuk merenovasi dan membersihkan rumah sepenuhnya."
"Paman Huang Ze, ini uang untuk melakukan tugas yang aku beri tadi," Luo Huang Chen memberikan sekantong uang berisi 100 koin emas.
"Tuan muda? Apa ini tidak berlebihan?" tanya Huang Ze sambil melihat uang begitu banyak di tangannya.
"Pakai saja, jika kurang nanti tinggal bilang," sahut Luo Huang Chen seraya tersenyum ramah.
"Aku akan gunakan sebaik mungkin, tuan muda. Lagi pula ini sudah lebih dari cukup. Baiklah, kami berangkat duluan, assalamu'alaikum," ujar paman Ze, berjalan pergi diikuti istrinya, bersama paman Zu dan paman Zi.
"Wa'alaikumsalam," balas semua orang. Setelah kepergian mereka berempat, Luo Huang Chen menatap semua orang yang tersisa dengan tatapan lembut.
"Kalau begitu, aku serahkan bagian sini kepada kalian ya? Jangan terlalu memaksakan diri, okee? Aku akan pergi bersama paman Za dan paman Zo. Mungkin kami pulang agak larut malam, jadi kalian bisa tidur duluan," ujar Luo Huang Chen sambil berjalan meninggalkan rumah.
Sesaat membuka pintu, terdengar suara dari belakang, "Jangan pulang terlalu malam, kak! Kami semua menunggu kalian," teriak Luo Huang Bao sambil melambaikan tangan.
Luo Huang Chen berbalik badan, "Hahahah, iya, sampai jumpa nanti, assalamu'alaikum," sahut Luo Huang Chen sambil pergi meninggalkan rumah diikuti paman Za dan paman Zo.
"Wa'alaikumsalam," balas semua orang yang tersisa di tempat itu sambil melihat kepergian orang yang paling mereka kagumi.
"Ayo, kita bersihkan, supaya kak Chen bangga!" teriak Luo Huang Bao, membangkitkan semangat mereka semua.
Kakek Ma sendiri hanya bisa tersenyum melihat kelakuan anak-anak kecil itu. Dia sangat bersyukur menerima kedatangan Luo Huang Chen; jika tidak, mungkin ia akan sendiri sampai menjelang kematian.
Akhirnya, mereka semua segera melakukan tugas yang ditugaskan. Tidak ada yang bermalasan; baik yang tua maupun yang muda saling membantu. Jika ada yang lelah, mereka akan bergantian.
Semua tampak antusias membersihkan rumah, terutama anak-anak. Walau mereka membersihkan sambil bermain, tetapi tingkat kebersihan yang mereka buat patut diacungi jempol.
Meski hanya baru membersihkan ruang tamu, mereka sudah cukup puas melihat kebersihan yang ada. Ruang tamu itu akan digunakan sementara sebagai tempat istirahat, sesuai pesan Luo Huang Chen.
Setelah selesai membersihkan ruang tamu, mereka memutuskan untuk membuat makanan sederhana sebagai hidangan selamat datang untuk Luo Huang Chen. Kakek Ma mengawasi anak-anak sambil mengingat kenangan indah bersama keluarganya. Dia merasa harapan baru muncul di rumah yang dulunya sepi ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Wang Du
hadeh bahasanya jadi gak cocok...coba bikin novel saja daripada cerita silat
2024-11-09
0
Audy Muhinsya
yang masuk akal lh......kok ada assalamualaikum.......ini genre nya apa......nama karakter nya huaxia........lalu kok aneh..........mending novel bergenre nusantara aja......
2024-11-04
0