Di pagi yang cerah, tepat saat sang surya baru muncul, Luo Chen terbangun dari pingsan, masih dalam posisi terlentang. Ia mencoba duduk sambil memegang kepalanya dan bergumam, "Apa yang terjadi kemarin? Kenapa aku bisa di sini? Bukankah kemarin sedang latihan di luar? Aku harus cari kakek." Luo Chen berjalan keluar kamar menuju depan rumah.
"Ternyata kamu sudah bangun, Chen'er. Bagaimana rasanya di tubuhmu? Apa ada yang sakit?" ujar Kakek Wu dengan tenang, sambil duduk di bawah pohon rindang.
"Tubuhku terasa lebih ringan, Kek. Lalu, aku merasa ada aliran energi yang kuat di dalam tubuhku. Apakah ini yang disebut energi Qi ya, Kek?"
"Syukurlah kalau tubuhmu baik-baik saja. Jadi, kamu sudah merasakan aliran energi Qi? Memang benar, itu energi Qi yang berjalan di dalam meridian milikmu."
Sambil cengengesan, Luo Chen bertanya, "Lalu, Kek? Kapan aku bisa melatih energi Qi milikku?" dengan nada penuh semangat.
"Hadeh, mungkin satu minggu lagi aku akan melatihmu cara mengatur, memakai, membuat, menyimpan, dan menstabilkan energi Qi di dalam tubuh," ujar Kakek Wu sambil tersenyum, mengingat kejadian minggu lalu.
"Siap, Kek! Tapi, kenapa aku bisa berada di kamar, Kek? Apakah aku pingsan? Seberapa lama aku pingsan, Kek?" Luo Chen merasa ada sesuatu yang menarik saat ia pingsan.
"Baru sekarang kamu mau bertanya, Chen'er?" sahut Kakek Wu seraya membenarkan tatanan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
"Maaf, Kek, tadi aku lupa mau tanya apa dulu, hehehe," ujar Luo Chen diakhiri dengan kekehan tawa kecil.
"Sudahlah, kamu pingsan saat perbaikan akar Elements selesai. Jadi, Kakek bawa kamu ke kamar. Kamu sudah pingsan selama satu minggu. Memangnya, apa yang kamu rasakan saat itu?" Kakek Wu balik bertanya dengan sorot mata yang tampak menyelidiki sesuatu.
"Buset dah, Kek! Aku kira baru semalam aku pingsan, ternyata sudah cukup lama ya. Yang aku rasakan kemarin, tiba-tiba jiwaku tersedot ke ruang gelap tanpa cahaya."
"Setelah itu, aku dikelilingi oleh 15 cahaya yang berbeda, tapi jaraknya semua sama, seperti membentuk sebuah lingkaran. Lalu, tiba-tiba cahaya itu terbagi."
"Mereka membentuk sebuah rasi bintang, aku ingat beberapa bentuknya persis seperti di buku rasi bintang yang aku pelajari. Formasi cahaya itu selalu berubah setiap kali menjadi salah satu rasi bintang," ujar Luo Chen, terdiam sejenak melihat Kakek Wu yang memejamkan matanya.
"Berarti benar, Chen'er mendapatkan anugerah dari langit," pikir Kakek Wu sambil menutup matanya.
"Kek? Lalu, apa yang terjadi denganku, Kek?" tanya Luo Chen seraya menggoyangkan tubuh Kakek Wu.
"Sabar, Chen'er. Saat kamu mulai perbaikan...," Kakek Wu mulai menjelaskan seluruh kejadian, dari fenomena yang terjadi saat Luo Chen memulai perbaikan hingga saat dia pingsan.
Ketika penjelasan selesai, Luo Chen dan Kakek Wu sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.
"Biarkan jalannya sendiri yang menentukan takdirnya," pikir Kakek Wu sambil memandang Luo Chen yang masih terdiam.
Kakek Wu mengusap kepala Luo Chen sambil berucap, "Chen'er, lebih baik sekarang kita memancing ikan di sungai untuk makan malam nanti," dengan nada lembut.
Luo Chen terlihat antusias, "Ayo, Kek! Aku juga sudah kangen mancing. Tapi alat pancingnya?"
"Ambil di dapur, dalam lemari. Di sana ada alat pancing dengan dua ember tempat wadah ikan. Untuk umpan, cari saja cacing di tanah yang subur di bawah rumput," jawab Kakek Wu sambil berjalan mencari umpan.
Luo Chen segera berlari ke dalam rumah, lalu berteriak, "Oke, aku ambil alat pancing dulu, Kek! Nanti kita kontes mancing!"
"Cepat, atau nanti Kakek tinggal," sahut Kakek Wu sambil mengumpulkan umpan ke dalam wadah daun.
Beberapa menit kemudian, Kakek Wu sudah siap dengan umpannya dan berjalan menuju sungai. Luo Chen segera menyusul dengan cepat.
"Cepat, Kek! Semakin cepat kita mancing, semakin banyak ikan yang kita dapat nanti," ujar Luo Chen sambil berjalan mendahului Kakek Wu.
Perjalanan menuju sungai terasa ringan, seolah mereka sudah terbiasa melaluinya. Saat mereka sampai di tepi sungai, Luo Chen langsung bersiap memancing, begitu juga Kakek Wu yang tampak tenang.
"Kek, bagaimana kalau kita kontes mancing? Siapa yang mendapat ikan lebih banyak, dia harus menuruti pemenang sekali, dengan syarat dilarang menggunakan tenaga dalam atau teknik lainnya."
"Siapa takut, bocah," sahut Kakek Wu sambil tersenyum tipis di balik jenggotnya.Setelah Kakek Wu dan Luo Chen menyepakati aturan kontes, mereka pun mulai fokus menunggu di tepi sungai. Air yang jernih memantulkan sinar matahari, membuat suasana semakin cerah. Beberapa menit berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda ikan yang tertarik dengan umpan mereka.
"Ah, mungkin aku harus mencoba mengubah cara melempar umpan," pikir Luo Chen. Ia mengubah posisi duduknya, menyiapkan mental untuk menarik perhatian ikan. Dengan penuh konsentrasi, ia melemparkan umpan ke arah tengah sungai, berharap mendapatkan tangkapan yang lebih besar.
Setelah beberapa saat menunggu, Luo Chen merasakan sesuatu yang aneh. Pelampungnya bergerak-gerak sedikit, seakan ada sesuatu yang mendekat. "Kek, aku merasa ada yang menggigit umpan!" serunya dengan penuh semangat. Kakek Wu yang melihat reaksi cucunya langsung memperhatikan pelampung di air.
"Tarik pelan-pelan, Chen'er! Jangan terburu-buru," nasihat Kakek Wu sambil bersiap membantu jika diperlukan.
Dengan penuh kehati-hatian, Luo Chen mulai menarik pancingnya. Tarikan di ujung tali terasa semakin kuat. "Hiyaa!" teriaknya, berusaha melawan tarikan ikan yang tak ingin menyerah. Seluruh fokus Luo Chen tertuju pada pancingnya, sementara Kakek Wu menunggu dengan cemas.
"Come on, sedikit lagi!" teriak Luo Chen, semangatnya membara. Setelah berjuang beberapa saat, akhirnya ia melihat sosok ikan yang melompat ke permukaan air. “Kakek! Lihat!” teriaknya, gembira. Ikan berukuran sedang itu berkilau di bawah sinar matahari.
"Keren, Chen'er! Tarik lebih kuat!" dorong Kakek Wu, melihat semangat cucunya semakin membara. Dengan satu tarikan terakhir yang penuh tenaga, Luo Chen berhasil menarik ikan tersebut ke daratan. Ia melompat kegirangan.
"Ikan! Aku dapat ikan!" teriak Luo Chen sambil mengangkat ikan tersebut. Kakek Wu tersenyum bangga. "Bagus sekali, Chen'er! Itu ikan Gudgeon yang cukup besar."
Luo Chen mengamati ikannya dengan takjub. "Rasanya, aku ingin menangkap lebih banyak ikan!" serunya penuh semangat. Kakek Wu mengangguk, "Kalau begitu, ayo lanjutkan, mungkin hari ini adalah hari keberuntunganmu!"
Dengan semangat baru, mereka melanjutkan kontes mancing, bertekad untuk mendapatkan lebih banyak tangkapan sebelum matahari terbenam.
Setelah beberapa saat, Luo Chen kembali merasakan tarikan kuat di pancingnya. “Kek, sepertinya ada ikan besar!” teriaknya antusias.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
absolut
lanjut tor bagusss
2024-02-15
1