Di pagi yang cerah, seperti biasa, Guru Wu selalu mengamati pelatihan yang dilakukan oleh Luo Chen tanpa mengenal rasa lelah.
Guru Wu tersenyum, melihat perkembangan Luo Chen yang akhirnya sesuai dengan umurnya. Tepat hari ini, Luo Chen berusia 12 tahun, dan fisiknya sudah sebanding dengan anak-anak seumurannya, dengan sedikit perbedaan pada otot-otot di tubuhnya yang mulai terbentuk.
“Sudah dua tahun dia berlatih, mungkin sudah saatnya memberikan pelatihan baru,” gumam Guru Wu, melihat kecepatan Luo Chen dalam menjalani latihan yang ia berikan.
Jika dulu Luo Chen mengangkat beban, ia butuh waktu lama dan sering berhenti berulang kali. Namun kini, ia hanya berhenti beberapa kali dengan waktu istirahat yang singkat, hanya dalam hitungan detik.
“Chen'er, letakkan batu itu sekarang, dan segera kemari," panggil Guru Wu sambil tersenyum, bangga melihat murid yang ia latih melebihi ekspektasinya.
"Ada apa, Guru? Apakah aku kena hukuman lagi?" tanya Luo Chen dengan panik, karena terakhir kali ia dihukum dengan push-up 100 kali setelah melampaui batas waktu pelatihan.
"Tenang saja, sekarang ikut aku duduk bersila di bawah pohon itu," ujar Guru Wu sambil berjalan menuju pohon yang rindang, lalu duduk di bawahnya. Tempat itu sejuk, terlindung dari sinar matahari yang menyengat.
"Jadi, Guru? Mengapa mengajak saya ke sini?"
Guru Wu menatap ke langit yang cerah, dengan awan-awan lembut di kejauhan, lalu mulai berbicara, "Kamu dulu ingin tahu tentang kakekmu, bukan? Sekarang dengarkan baik-baik, kakek tidak akan mengulangnya dua kali."
"Tentu, murid akan mendengarkan dengan baik. Terima kasih, Guru, sudah bersedia memenuhi permintaan murid," jawab Luo Chen, memberi salam hormat.
“Chen'er, kamu sudah kakek anggap seperti cucu sendiri. Jadi, panggil saja Kakek Wu, setuju?” ujar Guru Wu, diakhiri dengan senyum khasnya.
“Iya, Kek,” balas Luo Chen sambil tersenyum bahagia, karena kini dia merasa memiliki seseorang yang berarti di dunia ini.
“Anak pintar. Baiklah, kakek mulai. Nama asli kakek adalah Sun Luo Wu. Kakek tinggal di daerah ini karena ada pengkhianatan dari salah satu bawahan kakek.
Seperti yang kamu baca di buku-buku, nama klan kakek adalah klan Sun, salah satu klan kuno yang memiliki banyak pengikut di wilayah Benua Tengah."
"Bahkan, kakek tidak menyangka bahwa pemimpin pemberontakan itu adalah sahabat kakek sendiri, leluhur klan Wang, yang memimpin klan Song, klan Wang, dan menggerakkan seratus pembunuh bayaran."
"Saat itu, jika saja seluruh anggota klan Sun tidak terkena racun yang menghilangkan energi Qi sementara, kami bisa melawan dengan lebih mudah. Namun, apalah daya, kami tertipu oleh pesta perayaan kelahiran cucu dari sahabat kakek.”
“Pembantaian besar pun terjadi. Wanita, anak-anak, dan bayi—semuanya dibunuh tanpa ampun.”
"Anggota klan kakek yang tersisa dipenuhi amarah. Satu-satunya pilihan kami adalah menggunakan teknik terlarang dari klan Sun."
“Namun saat pelaksanaan teknik itu, anggota klan kakek tiba-tiba melindungi kakek dari belakang, dan kata-kata terakhir mereka masih terngiang di telinga kakek.”
"'Patriak, tetaplah hidup demi kami semua. Terima kasih telah menerima kami sebagai bagian dari klan Sun. Kami bangga menjadi pengikutmu.'"
Guru Wu terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan senyum yang pahit, "Itulah pesan mereka, sebelum mengaktifkan jimat teleportasi. Saat kakek terkena racun dari panah beracun yang mengandung Racun 9 Pelangi, tiba-tiba kakek melihat teknik terlarang kami berhasil menghancurkan musuh. Namun sebelum ledakan itu mengenai kakek, kakek sudah dikirim ke Benua Selatan.”
“Kakek merasa terpukul, tapi kakek harus memenuhi permintaan terakhir mereka. Meskipun waktu terus berjalan, racun itu tidak hanya mengikis hidup kakek, tapi juga menggerogoti kultivasi kakek,” Guru Wu menutup ceritanya sambil tersenyum mengingat masa lalu yang penuh kenangan.
“Kakek? Saya punya pertanyaan tentang anggota klan Sun,” tanya Luo Chen, merasa ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
“Anggota klan Sun hanyalah orang-orang yang kakek bantu. Meskipun mereka pembunuh atau penjahat, selama mereka masih memiliki hati yang baik, kakek tidak ragu untuk menolong mereka."
“Menurut kakek, seburuk-buruknya seseorang, jika dia memiliki secercah kebaikan, dia layak diberi kesempatan kedua. Jika dia berubah, bagus. Jika tidak, pedang yang akan bertindak."
"Lagian, kakek lebih suka berteman dengan orang jahat yang mau berubah menjadi baik, daripada dengan orang yang terlihat baik di depan, tapi jahat di belakang."
“Tapi sekarang terbukti, pilihan kakek tidak salah. Meski mereka menjadi bawahan kakek, kakek menganggap mereka sebagai teman, bahkan keluarga.” Guru Wu mengakhiri penjelasannya sambil mengusap kepala Luo Chen.
“Tunggu, Kek. Apakah kakek pernah menikah? Dan bagaimana dengan wanita, anak-anak, dan bayi yang kakek sebutkan tadi?” tanya Luo Chen lagi, dengan rasa penasaran.
“Kakek sudah menikah, tapi istri kakek meninggal saat kami berkelana mencari pengalaman. Sejak itu, kakek berjanji pada almarhumah untuk tidak menikah lagi."
“Wanita, anak-anak, dan bayi itu? Sebagian adalah keluarga dari anggota klan kakek, dan sebagian lagi adalah orang-orang yang kakek selamatkan."
“Kenapa kakek membantu begitu banyak orang yang bahkan tidak ada hubungannya dengan kakek? Bukankah kebanyakan orang hanya memikirkan diri sendiri, Kek?” tanya Luo Chen dengan rasa heran.
“Kakek punya prinsip, bahwa kekuatan besar bukan untuk menindas, tapi untuk melindungi dan menolong sesama. Tidak ada gunanya kekuatan besar jika hanya digunakan untuk menindas yang lemah.”
"Jangan pernah ragu untuk menolong orang yang layak dibantu, tapi juga jangan segan untuk menumpas mereka yang menggunakan kekuatan untuk tujuan jahat.”
"Fahami kata-kata kakek, ini bisa jadi panduanmu di masa depan," ujar Kakek Wu dengan senyum penuh kebijaksanaan, melihat Luo Chen yang mendengarkan dengan seksama.
“Baik, Kek. Terima kasih atas nasihat dan cerita yang kakek bagikan. Maaf jika membuat kakek mengingat masa lalu yang menyedihkan,” ucap Luo Chen sambil menunduk dalam-dalam, merasa bersalah.
“Sudahlah, Chen'er. Jangan pikirkan itu. Cepat atau lambat, kakek pasti akan menceritakan semuanya. Sekarang, ayo kita makan. Setelah istirahat, kakek akan memberikanmu sesuatu.”
“Siap, Kek!” seru Luo Chen, lalu mengikuti Kakek Wu masuk ke dalam rumah.Setelah makan bersama dan istirahat sejenak, Luo Chen duduk dengan perasaan penuh harap. Ia penasaran dengan apa yang akan diberikan oleh Kakek Wu kepadanya.
“Kakek, apa yang akan kakek berikan padaku?” tanya Luo Chen dengan mata berbinar.
Kakek Wu tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam lengan jubahnya. “Ini adalah jimat pelindung yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dalam klan Sun. Kakek merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikannya kepadamu. Jimat ini akan melindungimu dalam situasi berbahaya, tapi ingat, gunakan dengan bijak.”
Luo Chen menerima jimat itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Kakek! Aku berjanji akan menjaga dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Halu
ganti kata mendiang lah biar enak
2024-10-19
1